
Makan malam selesai, keduanya langsung kembali menuju kamar. Sampai di kamar, hal mengejutkan membuat Kiran sangat senang sekaligus kaget.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanyanya pada saat menemukan kamar hotel yang mereka sewa sudah dirias dengan lilin dan bunga mawar.
"Tentu saja aku, ini adalah malam milik kita. Aku tidak akan membiarkan kamar ini biasa saja pada saat semua berlangsung." Kiran tersenyum, dan langsung memeluk Sid.
"Terima kasih, aku sangat mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu, cintaku tidak ada batasnya untukmu." Sid menarik Kiran menuju tempat tidur, ia mendudukkan Kiran di atas tempat tidur.
Sid berjongkok ala ksatria yang akan melamar putri. Lalu merogoh saku jasnya, dan mengeluarkan kotak berisi sepasang cincin.
"Aku ingin memberikan ini padamu, di hari aku ditusuk oleh wanita j*l*ng itu. Tapi, kalian malah langsung bersandiwara jadi aku melupakannya. Hari ini, aku ingin memasangkannya di jarimu. Cincin ini simbol ikatan cinta kita, jangan pernah melepaskannya. Apalagi menjual dan membuangnya. Aku ingin cincin ini selalu terpasang di jari manismu." Sid meraih tangan kiri Kiran, dan memasang cincin itu di jari manis Kiran. Ukurannya sangat pas.
"Tapi, bagaimana bisa pas dengan jariku?" Sid menunjukan jari kelingkingnya.
"Lihat ini, jari manismu sama dengan ukuran jari kelingkingku." Sambil menyamakan jari kelingkingnya dan jari manis Kiran.
"Kau benar, dan aku akan memasangkan cincin ini di jarimu juga." Sambil mengambil cincin lainnya dan memasangkannya di jari manis Sid.
Keduanya saling memandang penuh cinta, Sid berdiri dan duduk di samping Kiran. Menyandarkan kepala Kiran di bahunya.
"Tetaplah bersamaku selamanya, aku tidak ingin kehilangan dirimu."
"Tentu saja, aku juga hanya ingin bersamamu saja sampi akhir hidupku." Kiran mencium pipi Sid.
"Wah, kau membuatku ingin ya!" Sid langsung membalikkan tubuhnya, sesegera mungkin melakukan apa yang sudah dia tunda selama tiga malam kemarin.
"Hari ini, aku menyerahkan hal paling berharga dalam diriku yang sudah aku jaga dari kecil sampai saat ini padamu. Aku mohon, setelah ini jangan pernah meninggalkan aku." Ucap Kiran dengan wajah tegang.
"Kiran, jangan pernah berpikir aku akan pergi meninggalkanmu. Kau sudah berkorban untukku, dan menjaga kesucian hati serta dirimu untukku. Maka aku siap berkorban apapun demi dirimu. Terima kasih, kau sudah menerimaku apa adanya. Bahkan kau menerima masa laluku yang begitu pahit tanpa banyak syarat." Kiran mengangguk. "Mari, kita lakukan kewajiban kita sebagai pasangan suami istri." Kiran mengangguk lagi.
Sentuhan demi sentuhan mulai Sid berikan pada tubuh Kiran, bibir sudah tidak bisa dikondisikan. Begitu juga dengan tangan, sudah berada di atas gunung Kiran.
Karena merasa kurang nyaman, akhirnya Sid membuka seluruh benang yang menutupi kulit putih nan mulus itu.
__ADS_1
"Sid!" Kiran menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Kiran, aku suamimu! Disini hanya ada kita berdua, tidak ada yang akan mengganggu lagi." Sid menyingkirkan tangan Kiran yang menutupi pemandangannya.
Hasratnya sudah meninggi, tidak mampu ditunda lagi. Begitu juga Kiran, dia juga seorang wanita dewasa yang ada di puncak hasratnya.
Sid melepaskan seluruh benang penutupnya. Lalu dia naik ke atas ranjang. Kiran sudah tak bersuara lagi, dia hanya bisa merasakan tangan suaminya. Pada saat merasakan ada yang menonjol di tubuh suaminya, Kiran menjadi sangat tegang.
"Apakah akan sakit?" Sid menghentikan kegiatannya.
"Aku tidak tahu, tapi tolong jangan tegang. Jika sakit kau harus bilang." Sid membelai wajah istrinya, lalu mencium kedua kelopak matanya.
Pada saat Sid memasukan kerisnya kedalam cerangkanya. Tapi berusaha menahannya, ia tak ingin membuat Sid menahannya lagi.
"Aaahh..." Rintih Kiran, sehingga membuat Sid menghentikan kegiatannya.
Dilihatnya Kiran, dengan air mata yang sudah mengalir. Merasa iba, tapi dia sudah tidak mungkin lagi menahannya.
"Maaf, Kiran. Apa terasa sangat sakit? Jika ya, aku akan berhenti saja." Kiran menggeleng.
"Tidak, hanya sedikit saja." Sid membelai lagi wajah Kiran, lalu menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah istrinya itu.
Suara decitan ranjang memenuhi ruangan kamar hotel itu, keringat sudah bercucuran di tubuh keduanya. Namun, kedua insan yang sedang melakukan olahraga malam itu enggan menghentikkannya sampai mereka sudah berhasil mencapai puncaknya.
Hingga Sid berhasil menanam benihnya. Setelah itu, Sid ambruk dengan napas yang tersengal-sengal.
Dia melirik Kiran, wajah istrinya itu begitu meneduhkan hatinya. Kemudian Sid mencium istrinya itu dengan sangat lembut, dan menurunkan tubuhnya. Lalu membaringkan dirinya di samping Kiran.
"Terima kasih, kau sudah memberikan hal yang paling berhagamu itu padaku." Kiran mengangguk, lalu memeluk suaminya dan memejamkan matanya untuk tertidur, karena dia sudah sangat lelah dengan olahraga malam yang mereka lakukan.
Begitu juga Sid, dia sudah sangat lelah. Akhirnya diapun menyusul istrinya yang sudah tertidur. Tubuh mereka yang kedinginan tak mereka hiraukan lagi, bagi Sid istrinya sudah bisa menghilangkan dinginnya udara malam.
...----------------...
Pagi sudah tiba, Sid dan Kiran masih belum terbangun. Keduanya masih sangat lelah dengan olahraga panas yang semalam mereka lakukan. Suara dering ponsel tidak membuat mereka bangun.
__ADS_1
Sebanyak tiga kali ponsel itu berdering, akhirnya keduanya bangun. Walaupun dengan tubuh yang masih lelah.
Ponsel yang berbunyi adalah ponsel milik Sid, Sid pun mengambilnya dan melihat siapa yang meneleponnya di pagi-pagi buta begini. Pagi buta? Dia tidak sadar, bahwa pagi sudah akan lewat dan siang sudah akan datang.
"Siapa yang mengganggu tidurku? Sialan sekali!" Gerutu Sid.
"Angkat saja, mungkin telepon itu sangat penting." Sid mengangkatnya dengan terpaksa, dilihatnya layar ponsel. Ayah Deva yang meneleponnya.
"Ya, hallo ayah. Ada apa?" Tanya Sid dengan suara malas.
"Ada apa kau bilang? Kalian sudah sampai atau belum? Kenapa dari kemarin ayah menunggu, kalian tidak memberi kabar bahwa kalian sudah sampai disana!"
Sid terlonjat, dan langsung bangun dari tempat tidur dalam keadaan tak memakai apapun. Dia lupa, bahwa dari semalam tidak memakai pakaiannya lagi selepas olahraga. Kiran tergelak, namun ditahan.
"Ada apa?" Bisik Sid yang heran melihat Kiran tertawa.
"Sid, pakaianmu!" Teriak Kiran.
"Sid! Kau sedang apa? Kenapa tidak menjawabku! Tunggu, tadi Kiran bilang apa? Pakaian? Apa kau telanjang? Sudah! Lanjutkan saja, ayah senang kau sudah sampai disana bersama menantuku dengan selamat!" Ayah Deva langsung menutup teleponnya, saat tahu bahwa putranya dalam keadaan telanjang.
"Astaga! Memalukan, kenapa aku bisa lupa?!" Gumam Sid sambil terkekeh.
"Kau ini, karena terlalu lelah jadi lupa pakaianmu pakaianmu sendiri!" Wajah Kiran bersemu malu.
"Ayo kita mandi!" Sid menyimpan ponselnya, dan langsung menggendong Kiran yang masih duduk di atas tempat tidur dengan keadaan yang sama.
"Turunkan! Aku akan berjalan sendiri ke kamar mandi!"
"Cobalah, jika kau bisa!" Sid menurunkan Kiran, Kiran langsung berjalan. Namun dilangkah pertama, dia merasa kesakitan. Bagian intinya terasa sangat sakit.
"Sudah ku bilang, kemarilah biar aku menggendongmu!" Sid menggendong kembali Kiran, dan membawanya ke kamar mandi.
Cukup lama mereka mandi, sampai mereka keluar dengan ciri khas pengantin baru jika sudah mandi. Dengan rambut yang basah.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa jejak ya guys. Like, coment, dan Vote!