
Sid mengetuk pintu kamar Kiran, namun tak ada jawaban dari dalam. Bahkan pelayan mengatakan bahwa sejak tadi tidak ada yang keluar rumah ataupun masuk rumah.
"Kemana dia?" Sid pun menggunakan jalan satu-satunya untuk membuka pintu kamar Kiran. Yaitu dengan mendobraknya.
Beberapa kali ia menghantamkan tubuhnya pada pintu, akhirnya terbuka juga. Menampilkan kamar yang kosong melompong dan saat memeriksa lemaripun tidak ada satu helai pakaianpun yang tersimpan didalam lemari.
"Apa dia pergi?!" Teriak Sid dengan nada suara panik.
Sid memeriksa kamar mandi, berharap istriny ada disana namun tidak ada. Hingga matanya menatap sesuatu berwarna putih diatas meja yang biasa Sid gunakan untuk bekerja di dalam kamar.
Secarik kertas putih dengan beberapa baris yang sudah dituliskan sesuatu diatasnya.
*Sampai bertemu di pengadilan nanti jika bayi ini sudah lahir, aku pergi agar kau bisa berbahagia dengan wanita itu dan anakmu.
Salam dari Kiran*
"Kiranaaaaa....!!!" Teriak Sid hingga menggema ke seluruh penjuru ruangan.
Tak dapat dibayangkan, betapa hancurnya hati Sid saat ini. Istrinya telah pergi bersama dengan anak-anaknya entah kemana.
Sid mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Kiran, akan tetapi nomornya sudah tidak bisa dihubungi lagi. Mungkin Kiran sudah mengganti sim-cardnya.
Hati Sid mulai hancur, ia tak bisa jika Kiran pergi seperti itu.
Pikirannya sudah tak mampu berpikir jernih lagi. Tujuan hidupnya mulai berubah untuk mencari Kiran.
Dimanapun kau berada aku akan menemukanmu, itu pasti!
Tekad Sid sudah membulat. Kini ia mulai menelepon seseorang meminta bantuan untuk mencari Kiran.
Dirinya sendiri tak tinggal diam, mengabari orang rumah dan meminta mereka untuk mencoba menghubungi Kiran. Sid sudah menghubungi putra dan kedua putrinya ternyata ponselnya mereka tinggalkan di rumah.
Hingga jalan terakhir menghubungi keluarga ibu Rhea, berharap semoga Kiran pulang kesana.
Akan tetapi, tak ada satupun yang mengangkat teleponnya sehingga membuat Sid semakin yakin bahwa Kiran pergi ke rumah ibu Rhea.
Dengan cepat Sid bergegas pergi ke rumah bu Rhea.
Sampai disana Sid kembali dihadapkan pada kenyataan pahit. Kiran dan anak-anaknya sudah pergi dari rumah ibu Rhea. Terlihat ibu Rhea dan ayah Andra juga sedang menangisi Kiran yang berpamitan pergi entah kemana tujuannya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa semua ini terjadi?" Ucap ibu Rhea dalam isakannya.
Sid menjelaskan segalanya, ibu Rhea bertambah keras menangis. Ayah Andra langsung merangkul dan memeluk ibu Rhea.
"Apa dia tidak mengatakan akan pergi kemana?" Ibu Rhea menggeleng.
Sid merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan surat jejak terakhir dari Kiran.
"Dia bilang akan kembali setelah sembilan bulan, dia ingin kami bercerai." Lirih Sid dengan suara bergetar.
"Aku sudah melakukan tes DNA, sedang menunggu hasilnya. Aku yakn jika Rana bukanlah anakku." Sambung Sid masih dengan suara bergetar.
Ibu Rhea mengelus punggung menantunya itu dan mencoba menenangkannya.
"Sid, cari dia! Bawa putri ibu pulang, jangan pernah turuti apa yang dia minta apalagi perceraian." Lirih ibu Rhea sambil merangkul Sid.
Sid mengangguk dan berpamitan untuk pulang namun ibu Rhea menahannya dan menyuruhnya menginap di kamar bekas Kiran.
Sid memasuki kamar bekas Kiran dengan langkah gontai. Peristiwa hari ini membuatnya sangat kehilangan semangat hidupnya dan batinnya terguncang.
Flashback
Begitu juga dengan Kal yang masih remaja namun paham dengan keadaan ikut mendukung keputusan ibunya untuk pergi. Si kembar bahkan ikut meski tak mengerti apa inti permasalahan yang membuat ibu dan ayahnya menjad renggang tersebut.
Setelah selesai mengemasi barangnya, Kiran menuliska sepucuk surat dan pergi dengan koper dibawakan Kal.
Mereka menuju rumah ibu Rhea. Bukan untuk tinggal disana, akan tetapi untuk berpamitan juga.
"Tidak, Kiran! Ibu tidak bisa mendukung keputusanmu ini. Pikirkan dengan baik-baik lagi! Sid tidak mungkin membohongimu, meskipun ibu tidak tahu apa yang membuat kalian seperti ini!" Larang ibu Rhea sambil menahan Kiran yang akan sudah keluar dari rumah.
"Bu, aku akan tetap pergi. Meski kebenarannya Sid tidak salah dan anak itu..." Kiran tidak melanjutkan ucapannya.
Bibirnya sudah tak mampu lagi menjelaskan apapun tentang masalahnya dengan Sid. Tak menghiraukan lagi teriakan ibu dan ayahnya, ia menyeret kopernya keluar rumah bersama anak-anaknya.
Flashback off
Sid menatap foto Kiran yang diletakan dimeja samping tempat tidur dengan tatapan sendu.
Hatinya merasa bagaikan diremukan setelah apa yang membuat Kiran pergi. Hanya satu harapan Sid saat ini, segera menerima surat hasil tes DNA dan menemukan Kiran untuk menjelaskan kebenarannya.
__ADS_1
Sid menelepon dokter Ema, meminta pihak rumah sakit segera mempercepat hasil tes DNA.
Akan tetapi sia-sia karena hasil tes keluar paling cepat bisa keluar dalam waktu empat hari lagi.
Ia berusaha menegarkan diri dan menyabarkan hatinya menunggu surat itu.
...****************...
Di sisi lain, Kiran sudah berada di kota Bandung. Di rumah keluarga ibunya. Nenek dan kakeknya Kiran menyambut Kiran dengan pelukan hangat.
Mereka telah mengetahui bahwa Kiran sedang berada dalam masalah rumah tangga yang besar karena saat Kiran dalam perjalanan mengabari mereka terlebih dahulu.
"Masuk sayang, anak-anak biar pembantu yang menunjukan kamarnya!" Ucap neneknya Kiran dengan sangat lembut sambil merangkul Kiran.
Nenek lalu mengajak Kiran duduk karena tahu keadaan Kiran yang sedang hamil muda lagi.
"Bi, tolong ambilkan air hangat untuk merendam kaki Kiran dan untuk minumnya juga!" Perintah nenek pada pembantunya.
Tak lama pembantu kembali membawa air hangat sudah lengkap dengan aroma wangi yang berasal dari ramuan di air untuk merendam kaki Kiran.
Nenek terus mengelus perut Kiran dengan lembut. Kiran merasa nyaman dengan perlakuan neneknya tersebut.
Beberapa saat, hal itu mampu membuat Kiran melupakan masalahnya sejenak dan membuat dirinya nyaman serta tenang.
...****************...
Beberapa hari menunggu, Sid tidak bisa sabar lagi menunggu hasil tes keluar. Hari ini Sid mendatangi rumah sakit lebih cepat demi ingin melihat hasil tes itu keluar.
"Dokter Ema, aku mohon! Tidak ada waktu lagi, aku harus mencari Kiran secepatnya sebelum semuanya semakin terlambat!" Dokter Ema mengangguk, lalu berusaha mengeluarkan hasil tes secepatnya.
Setelah dapat, dokter Ema tampak sangat terpukul setelah membaca hasil tes yang keluar.
"Sid, ini hasilnya. Aku harap kau selalu baik-baik saja!" Sid mengambil surat itu dengan pikiran yang telah melayang kemana-mana.
Sid membuka surat itu. Dari atas ke bawah Sid membacanya, hingga pada saat membaca hasilnya mata Sid membelalak.
Air matanya menetes. Tubuhnya melemah, hingga berdiripun ia tak bisa dan telah kehilangan kekuatannya. Lututnya sudah beradu dengan lantai dan wajahnya sudah berubah menjadi penuh kesenduan serta amarah.
"Tidak mungkin!"
__ADS_1
Bersambung...