
Seorang wanita tengah sibuk mendandani seorang anak perempuan kecil, wajahnya sangat cantik dan menggemaskan.
"Sayang, kau cantik sekali." Puji sang ibu sambil terus mendandani putrinya yang berpipi chubby itu.
Anak itu tersenyum, lalu mengecup pipi ibunya singkat.
"Wah, anak ibu menggemaskan sekali." Pujinya lagi sambil membalas kecupan putrinya.
"Seperti ibunya." Sahut seorang pria dari arah belakang sambil menenteng dua tas khas mall terkenal.
"Rafa, kau ini pandai sekali merayu!" Ketusnya saat menyadari siapa yang datang.
"Ami, itu fakta! Keyra sangat mirip denganmu, bahkan semenggemaskan dirimu." Puji Rafa sambil mengecup pipi Ami singkat.
"Sudah, sudah! Jangan merayuku, aku jadi malu." Ami memalingkan wajahnya.
"Kemarilah sayang." Rafa meraih Keyra putrinya, dan menggendongnya.
"Apa itu?" Ami menunjuk tas yang ditenteng Rafa.
"Bukalah." Ami mengambil tas itu, dan membukanya.
"Kau suka?" Tanya Rafa saat Ami sudah membuka tas itu.
Kotak perhiasan berisi sepasang cincin yang sangat indah isinya. Ami kebingungan, tidak mengerti apa maksud Rafa memberinya cincin.
"Kenapa diam saja?" Rafa mengerutkan dahinya.
"Cincin ini... Untuk siapa?" Ami menunjukkan cincinya.
Rafa terkekeh, ternyata Ami tidak tahu apa maksudnya.
"Amira, istriku sayang itu untukmu!" Rafa menurunkan Keyra diatas ranjang, lalu mengambil salah satu cincin didalam kotak cincin itu dan meraih tangan kiri Ami.
Setelah itu, Rafa memasangkan cincinnya di jari manis Ami.
"Apa aku bermimpi?" Ami mencubit tangannya, lalu kesakitan sendiri. "Tidak, ternyata ini bukan mimpi!" Gumam Ami.
"Maaf, maafkan kesalahanku tempo hari. Aku sudah menjadi bodoh dengan meninggalkanmu dan memilih j*l*ng seperti wanita itu." Rafa mencium kedua tangan Ami.
"Rafa, aku sudah memaafkanmu. Semua juga salahku, yang terlalu egois dan mengekangmu." Ami kemudian mengambil satu cincin lagi dan dipasangkannya ke jari manis Rafa.
"Terima kasih, kau sudah bertahan menjadi istriku. Meski banyak sekali penderitaan yang aku beri, tapi kau tetap memaafkanku." Rafa memeluk Ami, lalu melepasnya dan menggendong kembali Keyra putri mereka.
...----------------...
Pagi hari tiba, membuat sepasang insan yang sedang tertidur nyenyak saling berpelukan merasa silau dan terganggu tidurnya karena terkena pancaran sinar matahari pagi yang menembus lewat tirai jendelanya yang tipis.
"Hmm..." Sid hanya berdeham, sementara Kiran di dalam pelukannya tersenyum-senyum sendiri melihat kelakuan suaminya saat tidur.
"Sid, bangun ini sudah pagi!" Sambil membelai pipi Sid.
"Hmmm... Iya." Jawab Sid setengah mengingau. "Jika kau terus membelai pipiku, jangan salahkan tidurku tambah nyenyak." Sambungnya masih dengan nada setengah mengigau.
"Ya sudah, bangun cepat!" Kini berganti mencubit pipi Sid.
__ADS_1
"Aw! Iya, iya!" Sid terlonjat, lalu turun dari ranjang.
"Tidak sopan!" Kiran menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya. Sid hanya tersenyum sinis melihat kelakuan istrinya.
"Kenapa ditutup? Bukankah setiap malam kau puas melihatnya?" Tanya Sid disertai senyum sinisnya lagi.
"Diam! Cepat, masuk ke kamar mandi dan bersihkan tubuhmu! Kau bau sekali!" Ketus Kiran sambil melemparkan handuk pada Sid.
"Bau? Semalam kau menempel di ketekku!" Sid tak terima dikatakan bau, jika dia memang bau mungkin dari semalam Kiran tidak akan menempel padanya.
Sid menundukkan kepalanya, lalu mencoba mencium keteknya.
Bahkan sangat harum, harumnya pun bercampur. Antara wangi tubuhnya dan tubuhku! Aneh!
"Kau tidak tahu malu, ya? Sudah tidak memakai apapun dan terus berdiri disana! Beruntung Kal masih tidur, jika tidak pasti matanya akan ternodai!" Gerutu Kiran yang membuat Sid sontak tertawa terbahak-bahak.
"Ternodai?" Tawanya kembali pecah. "Memangnya kenapa? Kami sama-sama punya pesawat, kan?"
"Sid, jangan mulai lagi! Cepat mandi!" Kiran mendorong Sid menuju kamar mandi. Pada saat akan keluar, Sid menahannya dan langsung menutup pintunya serta menguncinya.
"Kau tidak akan ikut mandi bersamaku?" Sid menundukkan kepalanya, sampai bibirnya berada sangat dekat dengan lehernya Kiran.
"Sid, kau ini..." Kiran menunduk, dia merasa malu sendiri jika sudah dihadapkan dalam posisi seperti ini jika sedang bersama Sid.
"Sudah dua tahun kita menikah, tapi kau masih saja seperti yang baru dua hari menikah." Bisik Sid ke telinga Kiran.
Sid menghidupkan shower air, membuat tubuh mereka berdua basah kuyup dan menambah kemesraan keduanya.
"Memangnya aku harus apa? Aku malu." Kiran menunduk, Sid juga membuat kepalanya lebih menunduk lagi.
"Melakukan apa yang harus kita lakukan." Ucap Sid setengah berbisik.
"Kal, kemana ibu dan ayahmu? Sampai kau dibiarkan sendiri disini?" Ayah Deva menggerutu, kesal karena cucunya menangis di atas ranjang sendirian.
"Sid! Kiran!" Teriak ayah Deva.
Hiss! Kemana mereka? Sudahlah, aku akan membawanya kebawah!
Yang berada di dalam kamar mandi sudah cekikikan berdua, mereka menertawakan ayah Deva yang pasti sedang kebingungan mencari mereka.
"Diam, nanti ayah mendengarnya." Kiran mencubit pinggang Sid.
"Iya, aku diam." Sid pura-pura merajuk.
"Sudah, ya? Aku keluar, kau cepat mandi!" Ujar Kiran sambil membakut tubuhnya dengan handuk.
Setelah bersiap-siap, keduanya turun menuju ruang makan.
"Kalian darimana saja?" Tanya ayah Deva dengan tatapan curiga.
"Kami?" Sid menunjuk dirinya dan Kiran.
"Siapa lagi?" Timpal Lakshmi.
"Kami tadi di balkon." Jawab Kiran berbohong.
__ADS_1
"Apa tidak dengar Kal menangis?" Ayah Deva beralih menatap Kiran.
"Maaf, ayah aku tadi sedang mandi dan Sid berada di balkon dengan telinga tertutup earphone." Ayah Deva dan Lakshmi mangut-mangut.
"Aku pikir sedang membuatkanku keponakan lagi." Ujar Lakshmi.
"Iya memang... Eh, apa?!" Sid membelalak.
"Sudah, jangan memulai perdebatan di pagi buta begini!" Ayah Deva melerai perdebatan antar kakak dan adik yang belum dimulai.
...----------------...
"Rafa, dimana Keyra?" Ami melirik ke belakang Rafa.
"Bersama neneknya, aku menitipkannya pada ibumu." Jawab Rafa sambil tersenyum manis.
"Tapi kenapa?" Ami mengerutkan dahinya.
"Kau memangnya tidak ingin berduaan denganku seharian ini ya? Padahal aku sudah menyiapkan semuanya." Rafa cemberut.
Ami langsung tersenyum malu, dia senang tapi kesal juga.
"Jika tidak mau tidak apa-apa, aku akan membereskan semuanya lagi."
"Eh, tidak! Aku mau." Ami menundukkan kepalanya, pipinya sudah bersemu merah.
"Ayo, kita pergi sekarang!" Rafa menarik tangan Ami menaiki mobil.
Perjalanan cukup lama, hingga mereka tiba di sebuah restoran yang dibangun oleh Sid atas nama Kiran.
"Kenapa kita kesini?" Tanya Ami bingung.
"Ini restoran temanmu, dan suaminya menyuruh kita mengurus restoran ini. Apa kau mau?" Ami langsung berfikit.
"Iya, aku mau." Jawab Ami cepat, karena dia tak mungkin menolak. "Lalu? Apa hanya ini?" Tanya Ami menduga-duga.
"Tidak, masih ada yang lainnya yang ingin aku tunjukkan padamu." Rafa menarik tangan Ami lagi menaiki mobil.
Keduanya sampai di sebuah pantai yang menjadi destinasi wisata Jawa Barat, Ami tersenyum sumringah.
"Kau senang?" Ami mengangguk antusias, akhirnya cita-citanya mengunjungi tempat tersebut tercapai.
"Bagaimana bisa kau..."
"Tentu saja." Potong Rafa sambil merangkul Ami. "Kau dari dulu ingin mihat matahari terbenam di pantai ini iya, kan?" Ami mengangguk.
"Iya, aku sangat ingin kesini."
"Ayo, kita bersenang-senang haru ini. Aku ingin melihatmu bahagia, tolong jangan pernah bersedih lagi. Jika aku pegi lagi, kau tersenyumlah dan tertawalah. Jangan tangisi laki-laki bodoh sepertiku." Ujar Rafa sambil mengeratkan rangkulannya.
"Apa maksudmu? Apa kau akan meninggalkan aku lagi?" Ami memasang wajah sedihnya.
"Iya, jika Tuhan yang membuatku pergi darimu aku bisa apa?" Rafa tersenyum sendu, benaknya sudah tidak kuat lagi ingin mengeluarkan yang sudah lama ia pendam di hatinya.
Namun, bibirnya tidak mampu berucap. Rafa takut Ami sedih. Rafa juga takut Ami menjadi repot akibat keadaannya saat ini.
__ADS_1
Bersambung...
Wah ada apa dengan Rafa ya? Hmm... Penasaran nih. Author mau maksa nih, jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya yaaa!!!