Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ke-9 (Season 2)


__ADS_3

Ponsel Kiran terjatuh ke atas lantai, hatinya begitu hancur atas kabar yang baru saja disampaikan paman Reihan.


Tiba-tiba lututnya terasa lemas, hingga terbentur keatas lantai dengan mata yang tak mampu lagi mengekspresikan kesedihannya lagi hanya dengan air mata.


Ayah Deva yang baru pulang dari kantor langsung memburu menantunya yang sudah membatu seperti patung.


Ibu Aisha sejak tadi mencoba bertanya pada Kiran tentang apa yang terjadi. Namun Kiran hanya membatu saja. Jangankan air mata, mulutnya tertutup.


Kal yang baru pulang dari les sekolahnya dan mengetahui apa yang diberitahukan Reihan pada ibunya pulang dengan wajah yang terlihat kuyu dan mata sembab akibat menangis.


"Ada apa? Kenapa ibumu dan juga dirimu menangis?"


"Baba, ayah kecelakaan di perjalanan pulang. Sekarang dirumah sakit dibawa paman Reihan!" Lirih Kal dengan suara serak.


Mata ayah Deva dan ibu Aisha membelalak terkejut. Keduanya hampir saja membatu seperti Kiran jika tidak ingat bahwa harus segera kerumah sakit untuk melihat keadaan Sid.


...****************...


Flashback


Kal baru saja pulang dari les sekolah, ketika melihat sebuah mobil sedan berwarna putih melintas tepat dihadapannya dengan kecepatan tinggi dan terlihat oleng.


"Ayah!" Teriak Kal saat memastikan bahwa itu memang benar mobil ayahnya. "Hei, kenapa mobil ayah melaju sangat kencang?"


Kal berlari mengikuti kemana arah mobil itu pergi, hingga diujung jalan mobil itu berhenti dengan menabrak sebuah truk hingga terguling dan terbalik.


"Ayaaaahhhhh!" Teriak Kal sambil menghampiri mobil yang sudah terbalik itu.


Didalamnya terlihat Sid dengan mata yang hampir terpejam dan tangan yang berusaha meraih tangan Kal, namun kesadarannya mungkin hampir hilang, hingga akhirnya Sid tak sadarkan diri dengan wajah berlumuran darah dari keningnya.


"Ayaaahh!!!" Kal meronta-ronta ingin menghampiri ayahnya, namun dihalangi beberapa orang yang berada disekitar area kecelakaan itu.


"Jangan, nak! Biarkan petugas polisi dan rumah sakit yang menolongnya!"


Percikan api mulai keluar dari mobil Sid, untung saja Sid sudah berhasil dikeluarkan dari dalam mobil dan segera dibawa menuju kerumah sakit.


Sebelum api semakin membesar, Kal mendekati mobil Sid karena melihat sesuatu didalamnya. Sebuah kotak perhiasan berwarna merah dan berbentuk hati, Kal mengambilnya dan membukanya.


Didalamnya terdapat sepasang cincin yang bisa dipastikan ini untuk ibunya dan juga ayahnya sendiri.


"Apa yang terjadi, tuan muda kecil?" Paman Reihan yang baru sampai di tempat kecelakaan segera memburu Kal takut anak dari majikannya tersebut kenapa-kenapa.


"Ayah kecelakaan, sekarang sedang dibawa kerumah sakit."


"Apa?!" Pekik Reihan terkejut.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang masuk kedalam mobil paman! Paman akan menelepon orang rumah dulu." Kal memasuki mobil Reihan dengan menggenggam kotak cincin itu.


Ayah pasti ingin memberikan ini pada ibu, tapi kenapa bisa sampai seperti ini? Apa penyebab kecelakaan ini sebenarnya?


Flashback off


...****************...


Sekeluarga itu sudah sampai dirumah sakit, hanya putri kembar mereka yang tidak ikut.


Kiran masih saja membatu seperti patung saat sampai dirumah sakit, lalu pada saat dokter keluar dari ruang penanganan barulah Kiran membuka suara.


"Keluarga pasien atas nama Siddharth, yang mengalami kecelakaan?" Ayah Deva mengangguk.


"Pasien kehilangan banyak darah, kepalanya juga mengalami benturan yang cukup keras. Golongan darah pasien sangat langka, dan bank darah di rumah sakit kami tidak memilikinya. Apakah disini ada yang bisa mendonorkan darahnya agar kami bisa melakukan operasi?"


Ayah Deva mengelus dadanya, sangat terkejut dengan hal yang menimpa Sid.


"Aku, aku ibunya dan golongan darah kami sama." Ibu Aisha menghampiri dokter.


"Apa anda memiliki riwayat penyakit yang bersangkutan dengan darah?" Ibu Aisha menggeleng.


"Baik, ayo ikut keruangan donor darah." Ibu Aisha segera mengikuti dokter ke ruang pendonoran darah, tapi tak lama ia kembali dengan wajah yang sangat sedih.


"Darahku tidak bisa,"


Tanpa disadari, Kal pergi ke ruangan pendonoran darah dan masuk kedalamnya.


Kiran, Ayah Deva, serta ibu Aisha hanya menangis tak menyadaru bahwa Kal masuk kedalam ruangan itu.


Cukup lama, hingga ia kembali dengan sebuah kapas dan plester tertempel di lengannya.


Kiran yang melihat dan menyadar bahwa putranya yang telah mendonorkan darah untuk ayahnya langsung memeluk Kal.


"Sayang, kenapa tidak meminta izin pada ibu?" Ucap Kiran lalu menciumi putranya penuh kasih sayang.


"Aku ingin menolong ayah, aku tidak bisa melihat kalian bersedih." Ucap Kal sambil memegang tangan ibunya.


Ketiga orang tua itu menangis terharu, tindakan Kal sungguh diluar dugaan mereka. Bahkan ia berani berkorban demi keluarganya.


Selama hampir tiga jam menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruang operasi.


"Dokter, bagaimana suamiku?" Tanya Kiran masih dengan tangisannya.


"Operasi sudah berhasil, kita hanya perlu menunggu pasien siuman."

__ADS_1


Kiran dan yang lainnya menarik napas lega. Kal tersenyum, sambil menahan tubuhnya yang terasa lemas hingga akhirnya jatuh pingsan. Ayah Deva segera meraih Kal dan membawanya untuk dirawat.


"Jangan menangis, dia hanya lemas karena mendonorkan darahnya. Nanti dia akan pulih lagi." Ibu Aisha menegarkan Kiran.


...****************...


Satu hari Sid berada dirumah sakit, keadaannya mulai stabil. Kal juga sudah kembali sehat.


Sore harinya ia telah sadar namun keanehan terjadi saat Sid membuka matanya. Seperti manusia yang kehilangan suara, Sid belum mampu berbicara kembali.


"Kenapa?" Tanya Kiran saat melihat Sid seperti menahan sakit.


Seperti mengerti apa yang Sid ingin lakukan, Kal menghampirinya dan duduk disebelah ranjang Sid.


"Ayah mencari ini?" Sambil menunjukan kotak perhiasan berbentuk hati itu.


Sid tersenyum, lalu meraih kotak perhiasan itu dan memberi isyarat pada Kiran untuk mendekat padanya. Kiran tak mengerti, sehingga membuat Kal yang menarik tangannya mendekat.


"Ayah ingin ibu mendekat."


Kiran duduk disamping ranjang Sid dan meraih tangan Sid lalu menggenggamnya lembut.


"Ada apa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" Sid mengangguk, lalu membuka kotak cincin itu dan menunjukannya pada Kiran.


Kiran menatap kotak cincin itu sambil tersenyum.


Kemudian Sid memasangkannya di jari manis Kiran dengan Kiran yang juga memasangkan cincin satunya lagi ke jari manis Sid.


Ayah Deva dan ibu Aisha dari luar ruangan memperhatikan putra dan menantunya itu.


Keduanya tampak terharu menyaksikan semua adegan itu. Dimana sang putra yang selalu mengerti dengan keadaan Sid dan juga Kiran dan Sid yang semakin hari semakin harmonis saja meski kadang pertengkaran mereka sering membuat satu keluarga menjadi repot untuk mendamaikan mereka lagi.


Ah, sudahlah pertengkaran dalam keluarga itu biasa. Asalkan tidak ada kata "Perpisahan" didalam pertengkaran itu.


Akan tetapi, masalah masih belum selesai sampai disini. Ayah Deva sedang berusaha menyelidiki penyebab kecelakaan putranya tersebut.


Saat mendengar kabar bahwa rem kendaraan yang dikendarai Sid rusak, Ayah Deva merasa janggal dengan fakta atau info tersebut.


Sebab Sid selalu rutin menservise kendaraannya dan tidak pernah teledor dalam hal seperti keamanan.


Sepertinya ada yang ingin mencelakai Sid, aku harus mencari tahu!


Bersambung...


Makin seru apa bosan nih sama ceritanya??? Insya Allah kapan-kapan author crazy up, kalo engga lagi sibuk.

__ADS_1


__ADS_2