
Rasa mual dan muntah sudah mulai berkurang, seiring dengan bertambahnya usia kandungan Kirana. Namun, ngidam yang sangat aneh masih sering terjadi setiap harinya.
Seperti hari ini, di pagi hari yang cerah sekali sudah terjadi perdebatan antara calon ayah dan ibu tersebut.
"Kiran! Jangan keras kepala, aku ke kantor untuk bekerja bukan untuk mencari selingkuhan! Kau cemburu tanpa alasan!" Ucap Sid dengan nada suara tenang. Lebih tepatnya berusaha untuk ditenangkan.
"Sid, kau bohong! Aku tidak mau tahu, aku akan ikut denganmu hari ini!" Tegas Kiran sambil memasangkan dasi pada Sid.
"Ya Tuhan, kau sadar dengan permintaanmu?" Kiran mengangguk. "Jika sadar kenapa seperti itu?!" Kiran menggeleng sambil menyengir kuda.
"Aku mohon, jika tidak makan tidak ada jatah sampai satu bulan setelah aku melahirkan!" Ancam Kiran yang membuat mata Sid membulat sempurna.
"Apa?! Aku bisa mati jika seperti itu caranya!" Protes Sid dengan nada kesal.
"Tidak apa-apa, pergi sana!" Usir Kiran.
"Ah tidak, kau ikut denganku, ayo! Kau ingin ikut ke kantor kan hari ini? Akan ku buktikan bahwa prasangka burukmu itu tidak benar, aku hanya mencintaimu, Kirana sayangku!"
His! Aku jadi lebay seperti ini hanya karena pesawatku ini!
"Tidak, kau pergi saja!" Kiran berpura-pura mengusir Sid lagi.
"Tidak, ayo kita pergi bersama-sama." Sid meraih tangan Kiran dan menarik Kiran keluar dari kamar.
"Begitulah jadi suami! Kau harus mengerti dengan permintaanku!" Kiran tersenyum bangga.
"Baik, baik!" Jawab Sid dengan nada suara pasrah. Pasrah karena setiap harinya Kiran akan meminta hal-hal di luar nalarnya.
Cepatlah lahir, atau ayahmu ini akan mati muda karena permintaan ibumu yang mengatasnamakan dirimu, nak!
Sepanjang perjalanan menuju ke kantor Kiran tak berhenti bernyanyi. Hal itu membuat Sid merasa takut, lantaran ia belum pernah melihat ataupun mendengar Kiran menyanyi seperti itu.
Bulu kudukku merinding sekali! Nyanyiannya seram sekali!
Sid sesekali menoleh pada Kiran, tapi Kiran terus saja bernyanyi tanpa memperdulikan ataupun melirik pada Sid yang sudah menatapnya dengan tatapan ketakutan.
"Sid, kenapa kau melihatku seperti itu? Apa ada yang aneh?" Tanya Kiran pada saat sadar bahwa sedari tadi Sid menatapnya dengan tatapan ketakutan.
Sid menggeleng cepat, begitupun dengan mobil yang dikendarainya. Ia mempercepat laju mobilnya, karena merasa takut sendiri melihat dan mendengar Kiran bernyanyi.
Kiran yang tidak mengerti sikap Sid hanya terus bernyanyi dengan begitu santainya.
Sampai di kantor, keduanya segera memasuki ruangan Sid.
__ADS_1
"Sid, ruanganmu polos sekali. Apa tidak ada bunga disini?" Tanya Kiran sambil memperhatikan sekeliling ruangan Sid.
"Bunga? Biasanya ada, mungkin mereka lupa menaruhnya." Jawab Sid sambil membuka laptopnya dan menghidupkannya. Yang di maksud mereka adalah tukang bersih-bersih kantor.
"Bagaimana jika aku yang akan membeli bunga dan menaruhnya disini untuk hari ini?" Tawar Kiran yang langsung membuat mata Sid terfokus padanya.
"Kau akan pergi membeli bunga sendiri, begitu?" Kiran mengangguk. "Kita baru sampai di kantor setengah jam yang lalu, apa kau tidak lelah?" Kiran menggeleng cepat.
"Jika kau tidak ingin ikut pergi denganku tidak apa-apa, aku akan pergi sendiri!" Sid berdiri, dan melangkah mendekati Kiran yang berdiri tidak jauh dari mejanya.
"Jangan harap kau akan pergi sendiri, ayo kita pergi bersama saja!" Sid menarik tangan Kiran keluar dari ruangan.
Mereka kembali memasuki mobil. Kali ini Sid melajukannya menuju toko bunga terdekat dari kantornya, sampai disana Kiran langsung memilih bunga-bunga indah di toko itu.
Semua bunga yang dipilih Kiran membuat Sid menjadi kembali takut, seperti pada saat tadi mendengar Kiran bernyanyi di dalam mobil.
"Kiran, kau serius akan membeli bunga itu dan meletakannya di ruanganku?" Tanya Sid sambil menunjuk bunga yang dipilih Kiran.
Bunga yang dipilih Kiran adalah bunga melati. Kiran mengangguk cepat, sambil menciumi bunga melati tersebut.
Ada apa dengannya? Membuatku ketakutan saja, bagaimana bisa dia ingin meletakkan bunga makam itu di ruanganku? Apa dia sudah tidak waras?!
Sid bergidik ngeri, membayangkan ruangannya akan dihiasi bunga melati. Bukankah sedikit merinding? Bukan sedikit, tapi sangat merinding!
Apa dia kerasukan? Ah, tidak mungkin! Kenapa aku harus percaya hak seperti itu? Ini zaman modern, mana mungkin ada orang kerasukan!
Sid mencoba menepis pikirannya, karena malas berdebat iapun membayar bunga melati itu.
"Sid, bunganya wangi sekali coba kau cium. Ruanganmu akan wangi jika ada bunga ini!" Seru Kiran dengan wajah berseri-seri.
"Kiran, tapi bukankah bunga lain bisa? Jika bisa, kenapa harus bunga melati? Bukankah itu sedikit mengerikan?" Sid kembali bergidik ngeri.
"Tidak, aku suka wanginya. Membuatku segar!" Kiran mencium bunga melati itu, sementara Sid menjadi tambah ketakutan.
"Baiklah, tapi hanya hari ini saja, kan?"
"Apanya?" Tanya Kiran tak mengerti.
"Bunga itu hanya untuk hari ini saja kan menghiasi ruanganku?" Kiran mengangguk cepat.
Syukurlah, jika tidak aku tidak akan bisa bekerja. Yang ada mungkin hanya ketakutan!
"Sid, kemarilah. Dekatkan telingamu padaku!" Perintah Kiran.
__ADS_1
"Sebentar, aku sedang mengemudi!" Kiran mengangguk cepat.
Sampai di parkiran kantor, Kiran menahan Sid yang akan turun dari mobil.
"Apa?" Tanya Sid tak mengerti dengan tindakan Kiran yang menahannya.
"Dekatkan telingamu!" Sid menurut, lalu mendekatkan telinganya pada Kiran.
Kiran segera melakukan aksinya, dengan menggigit telinga Sid dengan gigitan pelan namun terkesan nakal. Hal itu membuat Sid memanas, dan langsung meraih dagu Kiran.
Selama beberapa menit keduanya saling menyatukan bibir mereka. Hingga saat hampir kehabisan napas, mereka baru berhenti.
"Sudah, ayo kita turun!" Ajak Kiran sambil membuka pintu mobil dan turun dari mobil.
"Iya, sebentar." Sid membenarkan kemeja dan jasnya terlebih dahulu, karena terlihat berantakan akibat kenakalan Kiran tadi. Setelah itu barulah ia keluar dari mobil. Sesaat, ia melupakan perihal bunga melati yang tadi membuatnya takut.
Sampai di ruangan, rasa takut kembali menyerang Sid. Terlebih saat Kiran meletakan bunga melati itu di atas meja kerja Sid.
"Kiran, jangan letakan itu disana, letakanlah disana saja!" Sid menunjuk meja yang berada di tengah sofa yang berada di ruangannya.
"Disini saja, agar kau bisa mencium betapa wanginya bunga melati ini!" Kiran meletakan bunga itu diatas meja Sid.
Setelah itu, tanpa diduga Kiran duduk di pangkuan Sid dengan posisi berhadapan dan tangan sudah melingkar di leher Sid.
"Apa yang kau lakukan? Kau akan membuat pesawatku bangun!" Bisik Sid.
"Tidak, aku hanya ingin seperti ini!" Jawab Kiran dengan bisikan manjanya. Tentu saja, mengundang sesuatu yang berada di dalam diri Sid.
"Turun, atau lakukan." Ucap Sid dengan tangan yang sudah tidak bisa disebutkan posisinya ada dimana. 😌🙏🏻
"Lakukanlah, jika kau ingin!" Tak dapat dipungkiri, Kiran memang rindu sentuhan suaminya itu.
Sid menurunkan Kiran dari pangkuannya, lalu menggendong Kiran dan membawanya memasuki sebuah ruangan dibalik lemari besar. Ternyata ruangan itu adalah sebuah kamar.
"Kiran, sekarang kau harus membayar apa yang sudah kau pancing!" Kembali lupa dengan topik bunga melati.
"Aku akan membayarnya!" Jawab Kiran sambil tersenyum menggoda untuk Sid..
Tak membuang waktu, Sid segera melepaskan seluruh kain yang menempel di tubuhnya dan menyerang Kiran dengan sentuhannya yang menggairahkan.
Sampai napas keduanya tersengal-sengal, akhirnya tertidur tanpa peduli bahwa mereka sedang berada di kantor.
Bersambung...
__ADS_1
Maaf ya author belum bisa feedback ke karya kalian. Soalnya lagi sibuk, buat para pembaca jangan lupa like, coment, dan vote...