Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Makan Siang Bersama


__ADS_3

"Kiran."


"Ya, pak." Sid menoleh, dan memelototi Kiran.


"Ma... Maaf. Maksudku Sid."


"Kau sudah makan?" Kiran menggeleng.


"Jawab, atau aku akan memecatmu!" Kiran terperanjat.


"Belum, pa... Eh Sid."


Gila! Dia bilang jangan seperti di kantor, tapi dia sendiri mengancam akan memecatku!


"Ayo!" Sid meraih lengan Kiran, membuat Kiran kembali terperanjat.


"Kemana, pa... Eh Sid." Takut dipelototi lagi.


"Makan siang bersamaku, kau mau kan?" Terdiam, bingung antara mau tapi malu. 😁


"Kiraaan, jawab!" Sid menghela napas kasar.


"Iya, ayo." Sid menggenggam jemari Kiran, membuat yang di genggam panik setengah mati. Ingin lepas tapi nyaman.


Aaa... Kenapa ini? Kenapa tangannya nyaman sekali digenggam? Sid, bodoh! Jangan bersikap bodoh di depannya!


"Aku tidak bodoh." Tanpa sengaja Sid bergumam sendiri. Kiran berhenti.


"Sid, kenapa? Apa dan siapa yang bodoh." Sid tersadar.


"Tidak ada. Ayo kita masuk kesana, kita makan disana." Sid menunjuk sebuah restoran kecil di ujung jalan. Tanpa menunggu jawaban Kiran, ia menarik lengan Kiran kembali menuju restoran itu.


Ini manusia kenapa? Sepertinya dia suka sekali menarik-narik lenganku belakangan ini!


Sampai di restoran, keduanya duduk di meja paling ujung dekat jendela. Sid memang paling menyukai tempat yang bisa memperlihatkan pemandangan di luar.


"Kau ingin makan apa?" Sambil menyerahkan buku menu yang sudah tersedia di meja. Kiran meraihnya, dengan tangan sedikit gemetar.


"Aku ingin nasi goreng saja." Kiran meletakkan buku menu di meja.


"Baiklah." Sid melambaikan tangan memberi kode pada pelayan agar menghampirinya.


"Tolong bawakan aku dua porsi nasi goreng, dan minumnya..." Sid melirik Kiran.


"Lemon tea." Mengerti lirikkan Sid.


"Baik, dua gelas lemon tea." Pelayan itu menuliskan pesanan Sid dan Kiran, sambil sesekali mencuri pandang pada Sid.


Kiran yang melihatnya merasa kesal.


"Sid." Menggenggam tangan Sid. Sid sendiri merasa shock, mendapat sentuhan Kiran. Ini kali pertama Kiran yang menyentuh tangannya.


Pelayan yang sedang menuliskan pesanan mulai kesal, ia cemberut. Setelah selesai ia berbasa-basi pada Sid.


"Silahkan ditunggu, tuan dan nona." Sambil membungkukkan badan, lalu pergi dengan bibir cemberut.


Kiran terkekeh melihat ekspresi pelayan itu. Semantara Sid kebingungan.

__ADS_1


"Kiran, kau kenapa?" Mengerutkan dahinya.


Kiran menggeleng. Sid semakin bingung.


Pelit sekali, kelihatannya lucu. Kau licik juga ya? Menemukan yang lucu tapi tidak mau membaginya denganku.


Sid cemberut. Meskipun kesal, ia tetap memerhatikan Kiran dan penampilannya saat ini. Kagum? Tentu saja kagum. Dia memang terlihat sederhana dan culun.


Namun saat ini, berbanding terbalik. Tanpa pakaian kerja, yang saat ini dipakainya adalah celana jeans panjang dan juga tunik yang panjang, hingga paha. Rambut lurus hitam pekat, terurai begitu saja. Tanpa kamacata tebal, dengan sedikit polesan make up natural.


Cantik, bolehkah aku mengakuinya sekarang? Ah, tidak. Ini terlalu cepat! Tapi... Benarkah saat ini hatiku sudah mencair lagi, dan terbuka lagi? Akan kupikirkan.


Asyik berdebat dengan pikirannya sendiri, Sid tidak sadar bahwa makanan sedang dihidangkan di hadapannya.


"Sid, ayo makan." Kiran menyadarkan lamunan Sid.


"Hah? Eh, iya ayo. Ternyata sudah datang ya." Sid mulai mengambil sendok, dan menyendok makanannya, lalu di masukkan ke mulutnya. Begitu juga dengan gadis dihadapannya.


Bolehkah aku mencintainya, Tuhan? Tapi, berjanjilah! Bahwa gadis dihadapanku ini akan menjadi milikku, selamanya. Berjanjilah padaku, bahwa gadis dihadapanku ini yang kau takdirkan masuk ke dalam hidupku ini adalah gadis terakhir, yang akan menemaniku dengan setia hingga akhir hidupku.


"Siddharth." Tiba-tiba sebuah suara muncul dari belakang punggung Sid, membuat aktivitas keduanya terhenti.


Kiran menengadah, mencari sumber suara. Memastikan memang ada orang yang memanggil pria di hadapannya.


Uhuk...uhuk...


(Maaf ya, author uhuk dipinjam dulu kata uhuknya 😁😂🤣)


Kiran tersedak makanan, Sid cepat-cepat memberi Kiran air minum.


"Sayang, kau baik-baik saja kan?" Mengetahui siapa pemilik suara di belakangnya. Kiran tambah terbatuk-batuk, pada saat Kiran menoleh, Sid menganggukkan kepalanya.


Kiran mengangguk.


"Tidak sayang, aku hanya terkejut. Aku baik-baik saja." Sid tersenyum, mengetahui Kiran mengerti isyaratnya.


Wanita yang dibelakang Sid memasang wajah terkejut, ia berjalan kali ini berhenti di samping Sid, dan duduk tanpa disuruh.


"Siapa yang menyuruh orang asing ini duduk, sayang?" Tanpa menoleh, malah meraih jemari Kiran dan menggenggamnya.


Kiran bingung, harus menjawab apa. Ia menggelengkan kepala.


"Siddharth, Aku mohon! Dengarkan aku dulu!" Kanaya, iya Kanaya lah yang tadi memanggil Sid.


Sid menoleh, memasang senyum sinis.


"Lima menit!" Ucapnya.


"Siddharth, aku masih mencintaimu, tolong maafkan aku. Waktu itu aku khilaf, aku mohon aku tidak bisa hidup tanpa dirimu. Lagipula, aku tahu kau pasti masih sangat mencintaiku, bukan?" Kanaya terus mengulang kata maaf.


"Lima."


"Maaf, Siddharth!"


"Empat."


"Siddharth." Mulai mengeluarkan air mata buaya.

__ADS_1


"Tiga." Air mata buaya bertambah deras. Kiran yang menyaksikan itu sedikit iba.


"Dua." Sid mengacungkan jari telunjuknya. "Satu." Menghela napas panjang, lalu melirik Kiran.


Sid menarik lengan Kiran, dan menyentakkannya hingga tubuh Kiran menempel padanya. Sid melingkarkan lengannya di pinggang Kiran.


Deg...


Jantung keduanya kembali berdebar sangat kencang.


"Cukup Kanaya! Kanaya Atmajaya! Aku bukan orang bodoh, yang bisa terkena tipu dayamu! Kau hanya berpura-pura mencintaiku karena uang, kan? Kau pikir aku tidak tahu, begitu?" Sid berkata dengan suara lantang, sehingga membuat beberapa pengunjung restoran lainnya menoleh padanya.


"Bukan begitu, Sidd..."


"Kanaya, kau tidak sadar diri ya? Aku tidak sudi bersama denganmu! Jangankan membangun cinta, aku bahkan saat ini tidak sudi lagi melihat batang hidungmu! Aku tidak ingin kembali bersamamu, Siddharth tidak pernah memungut barang bekas! Bahkan kau lebih dari bekas, kau bagiku hanya sampah! Sampah sisa orang lain, aku jijik padamu!" Sid melepaskan rangkulannya pada Kiran, lalu mengeluarkan dompet dari saku celananya.


Sid mengeluarkan sebuah kertas 'cek' lalu mengeluarkan bolpoin dari dalam sakunya, dan menulis di atas cek itu.


"Makan ini! Kau menginginkan ini bukan?" Sid melemparkan cek itu ke wajah Kanaya.


Kiran hanya diam, menyaksikan adegan itu. Dia merasa antara iba dan kesal pada Kanaya.


"Kiran, ayo kita pulang saja! Aku merasa gerah berada disini." Sid menarik lengan Kiran menuju kasir, lalu membayar makanannya tadi, yang baru dimakan sedikit.


Akibat ulah Kanaya, Sid dan Kiran jadi tidak berselera makan lagi.


Kanaya masih terduduk di lantai restoran. Ia menatap cek yang di lemparkan Sid tadi. Kanaya mengambilnya, dan membaca angka yang tertera di cek.


seratus juta.


Kanaya menangis, memasukkan cek itu kedalam tasnya, lalu pergi meninggalkan restoram itu. Dengan perasaan malu, sedih, menyesal.


Di dalam mobil, Sid dan Kiran tidak berbicara sepatah katapun. Wajah Sid terlihat gelisah, tangannya mencengkram setir kuat-kuat. Kiran ingin menghiburnya, tapi takut kemarahan Sid bertambah.


Di tengah perjalanan, Kiran terkejut.


"Hah?!" Sid menginjak pedal rem, terkejut mendengar teriakan Kiran.


"Ada apa?" Sid ikut terkejut.


"Mobilku!" Seru Kiran dengan mata melotot.


"Biarkan, aku sudah mengirim pesan pada supir agar mengantarkannya ke rumahmu." Sedikit tenang.


"Lalu kuncinya?"


"Siapa yang memberikan mobil itu padamu?"


"Kau." Kiran menunjuk Sid.


"Jadi, tenang saja. Semua kunci mobil yang ku beli, supirku memiliki duplikatnya." Kiran menghela napas lega.


"Bisa aku lanjutkan?" Kiran mengangguk cepat. Sid melajukan mobilnya kembali.


Cerewet, bodoh, aneh! Kesalku jadi hilang karenamu!


Sid tersenyum sendiri, membuat Kiran merinding sendiri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2