
Jam istirahat sedang berlangsung, teman-teman sekelas Kal sudah berada di kantin. Berbeda dengan Kal dan Keyra, keduanya lebih memilih duduk di bangku yang berada di depan kelasnya.
"Siran, kau tidak ke kantin bersama yang lainnya?" Tanya Keyra setelah lama diam.
"Oh, tidak. Aku merasa risih jika makan di tempat ramai." Jawab Kal sambil tersenyum tipis pada Keyra.
"Kenapa?" Keyra mengernyitkan dahinya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak terbiasa, di sekolahku yang sebelum aku pindah ke asrama ini aku selalu menghabiskan waktu di perpustakaan. Tapi disini aku belum tahu dimana letak perpustakaannya."
"Perpustakaan?" Kal mengangguk. "Ayo! Aku akan menunjukannya, kita habiskan waktu istirahat bersama disana!" Tanpa berkata-kata lagi pada Kal, Keyra tiba-tiba sudah menarik tangan Kal dan membawanya menuju perpustakaan.
"Eh, Key!" Keyra berhenti berjalan, dan menoleh pada Kal. "Berjalanlah dengan pelan! Aku takut jika nanti kita menabrak orang lain."
"Ah, sudah ayo!" Keyra menarik tangan Kal lagi, sementara Kal merasa risih karena beberapa siswa lainnya memperhatikan mereka.
Keyra dan Kal sampai di perpustakaan. Sepi, karena anak-anak lainnya lebih memilih makan di kantin daripada membaca buku di perpustakaan.
"Ayo! Pilih bukunya." Keyra menunjuk lemari besar berisi buku-buku. Kal mengangguk, lalu mulai menelusuri satu-persatu buku.
Matanya terhenti pada sebuah buku yang berisi materi tentang musik, ia mengambilnya dan membawanya ke sebuah bangku dimana Keyra juga sudah duduk disana sambil membaca buku novel.
"Sudah menemukan bukunya?" Kal mengangguk. "Ayo, duduklah dan baca."
"Eh, buku apa yang kau baca itu?" Sambil menunjuk buku novel yang berada di tangan Keyra.
"Ini buku novel."
"Oh, kisahnya tentang apa?"
"Tentang rumah horor, kau mau membacanya?" Kal menggeleng, pasalnya ia memang tidak terlalu suka dengan kisah-kisah atau apapun itu yang berhubungan dengan sesuatu yang horor.
"Tidak, terima kasih."
Lalu Keyra kembali memusatkan matanya pada novel yang dibacanya, sedangkan Kal mulai membaca juga buku musik yang diambilnya.
Hingga bel berbunyi, pertanda bahwa kelas akan dimulai kembali.
"Ayo! Jika kau ingin meminjamnya bilang dulu pada penjaga perpustakaan, setelah itu kita kembali ke kelas." Kal mengangguk, lalu mengikuti Keyra yang sudah melangkah menuju penjaga perpustakaan.
Setelah selesai meminjam buku, keduanya kembali ke kelas untuk belajar.
Sampai di depan kelas, Kal merasa ada yang aneh karena kelas tampak kosong.
"Kemana mereka? Bukankah harusnya mereka sudah duduk untuk belajar?" Keyra menggeleng.
"Ya sudah, kita masuk saja lebih dulu mungkin mereka nanti datang."
Kal memasuki kelas, lalu tiba-tiba...
Byuurrr....
Entah siapa yang menyiapkannya, air tumpah dari atas pintu dan menyiram Kal. Bukan hanya Kal, yang tersiram air. Tetapi juga Keyra.
__ADS_1
Baju keduanya basah, membuat Keyra menggigil kedinginan dan terisak.
"Apa ini? Siapa yang melakukan ini?" Ujar Kal dengan nada marah. Lalu melirik Keyra yang tampak terisak.
"Keyra, sudah jangan menangis!" Kal menghapus air mata Keyra.
Tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara tawa terbahak-bahak. Kal dan Keyra menoleh, tampak beberapa anak menertawakan mereka.
"Lihat itu! Mereka basah kuyup, pekerjaan kita berhasil!" Ujarnya dilanjutkan tawa keras.
"Farid! Apa yang kau lakukan? Kenapa melakukan ini pada Siran dan aku?" Teriak Keyra pada anak laki-laki yang baru saja menertawakan mereka.
"Haha anak sepertimu dan siapa namanya? Jiran? Pantas mendapatkan itu!" Sinisnya. "Kalian anak miskin, tidak pantas sekolah di tempat ini!" Sambungnya lagi dengan nada sombong.
Kal mencoba tidak terpancing emosi, ia mengepalkan tangannya dan menatap Farid dengan tatapan tajam. Jika tidak ingat nasehat dan pesan dari ayah serta ibunya ia pasti sudah melawan Farid.
Tenang, Kal! Ayah dan ibu akan kecewa jika kau melakukan ini!
Kal menarik napas, lalu mengeluarkannya dan melakukannya beberapa kali. Lalu ia menghitung dari satu sampai sepuluh.
"Key, ayo ganti baju saja!" Kal menarik tangan Key menuju kamar masing-masing.
Setelah mengganti bajunya, keduanya kembali ke kelas.
"Darimana kalian? Kenapa baru masuk kelas?" Tanya guru yang sedang mengajar di kelas mereka.
"Maaf, bu. Tadi aku mengantar Keyra ke UKS." Keyra melirik Kal, lalu Kal mengangguk.
Farid dan teman-temannya menatap tajam pada Kal dan Keyra.
...----------------...
Kiran dan Sid sedang menonton televisi, ketika ponsel Sid berdering dan mengalihkan perhatian mereka.
"Sid, telepon." Kiran mengambil ponsel Sid dan memberikannya pada Sid.
"Dari siapa?" Tanya Sid.
"Tidak tahu, kau angkat saja dan lihat!"
Sid mengambilnya, lalu melihat nama yang tertera di layar.
"Paman Reihan? Ada apa malam-malam begini dia menelepon." Gumamnya, lalu mengangkatnya.
"Hallo?"
"Hallo, tuan. Aku ingin melaporkan tentang tuan muda Kal."
"Ya, ada apa dengan Kal? Apa dia membuat ulah di sekolahnya?"
Kiran langsung mendekatkan telinganya pada ponsel Sid, ketika mendengar nama Kal.
Sid melirik Kiran, lalu mengeraskan suara teleponnya. Kiran menyengir kuda.
__ADS_1
"Tidak, tuan. Justru tuan muda Kal sangat baik disekolahnya, dia berteman dengan putrinya nona Ami dan tuan Rafa. Namanya Keyra Alisha Adinata." Kiran tersenyum bangga, ternyata putranya berteman dengan anak dari kakak tirinya.
"Tapi tuan, tadi ada beberapa anak yang menjahili tuan muda Kal."
"Apa?!" Sid membelalak.
"Ya tuan, mereka membuat tuan muda Kal tersiram air di kelasnya sendiri sehingga membuat tuan muda Kal dan nona Keyra basah kuyup."
"Cari tahu, anak siapa dia!"
"Baik tuan, aku akan menyuruh pengawas tuan muda Kal untuk mencari tahu tentang anak yang sudah membuat tuan muda basah kuyup."
Sid mematikan teleponnya, lalu mengepalkan tangannya emosi.
"Sid, sudah jangan marah! Mereka masih anak-anak, mungkin hanya iseng saja."
"Tidak bisa begitu, Kiran! Justru karena masih anak-anak jadi seharusnya mereka tidak berbuat seperti itu!" Geram Sid.
"Baik-baik, tapi jangan langsung melakukan tindakan, kita lihat mereka akan terus melakukan hal-hal buruk pada Kal atau tidak? Jika itu terulang, baru kita lakukan tindakan." Sid mengangguk, lalu mendekap Kiran.
"Tapi aku bangga, karena Kal lebih memilih diam dan tidak melawan."
"Tandanya dia tidak ingin mengecewakan kita."
Saat sedang asyik mengobrol, si kembar datang dari arah kamarnya dengan berlarian dan langsung duduk di pangkuan Sid.
"Pelan-pelan, Ira dan Ima!"
"Maaf ayah." Ira dan Ima mengusap kaki Sid.
"Ada apa? Kenapa berlarian?"
"Ayah, ayah! Aku tadi melihat tikus di kamar, aku takut ayah tolong cari dan tangkap tikusnya!" Ucap Ira sambil menunjuk-nunjuk kamarnya.
Ima terkikik sendiri, padahal keduanya hanya ingin menjahili Sid dan Kiran saja.
"Ayo, kita lihat! Apa tikusnya memang ada atau hanya akal-akalan kalian saja!" Sid menggendong Ira, Kiran menggendong Ima menuju kamarnya.
"Turunkan kami! Kami mau jalan saja!" Ucap Ima sambil tersenyum polos.
Sid dan Kiran menurunkan keduanya, lalu Ira dan Ima mendorong Sid dan Kiran memasuki kamar.
Sid membuka pintu kamar, lalu terkejut ketika entah darimana asalnya setoples tepung jatuh dari atas pintu dan tumpah mengenai Sid dan Kiran.
Dari belakang terdengar suara Ayah Deva dan Ibu Aisha tertawa terbahak-bahak.
"Kena kalian!" Seru ibu Aisha.
"Bunda dan Ayah! Kalian pasti bekerja sama dengan Ira dan Ima untuk mengerjai kami, iya kan?"
Detik berikutnya, terjadilah saling melempar tepung hingga kamar si kembar dipenuhi tepung dan membuat keluarga tersebut menjadi seperti adonan kue.
Hmmm.. Si kembar berulah lagi... 😌🙄😱😂🤣
__ADS_1