
Setelah menyelesaikan olahraga pagi, keduanya langsung membersihkan diri. Kiran lebih dulu mandi karena harus membantu sang ibu mertua untuk membereskan kamarnya.
Setelah itu, barulah Sid mandi. Akan tetapi, tak lama Sid berteriak-teria memanggil Kiran karena lupa tidak membawa handuk ke kamar mandi.
"Kiran, tolong ambilkan handukku!" Teriaknya.
Beberapa kali berteriak, tak ada yang mendengarnya karena Kiran sudah pergi ke kamar ibu Aisha.
"Kiran!" Teriaknya lagi. Namun masih saja tak ada yang membantunya.
Hingga terdengar gerutuan dari dalam kamar mandi.
"Kemana dia? Apa pura-pura tidak mendengar?" Gerutu Sid.
Hingga sebuah ide tiba-tiba muncul didalam kepalanya, membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
"Rana?! Rana sayang, cepat ambilkan handukku!" Ucapnya sambik terkekeh.
Diluar kamar, Sanya sedang berjalan melewati kamar Sid. Namun, saat melewati kamar Sid ia mendengar sebuah teriakan yang meminta diambilkan handuk.
Sanyapun memasuki kamar Sid dan melihat kesana-kemari mencari keberadaan Kiran namun tak ditemukan. Sedangkan dari dalam kamar mandi Sid berteriak-teriak terus meminta diambilkan handuk.
Sanya mulai memikirkan untuk mengambilkan handuk untuk Sid, iapun mengambil handuk yang terletak di atas kursi dan membawanya ke depan pintu kamar mandi.
Di depan pintu Sanya kebingungan harus bagaimana memberikan handuk itu pada Sid.
"Rana!" Sid terdengar berteriak lagi.
Dengan segera Sanya mengetuk pintu kamar mandi. Dan mengulurkan handuk itu ketika pintu terbuka.
Namun, tak dapat diduga Sid malah menarik handuk itu bersama tangan Sanya hingga Sanya ikut masuk kedalam kamar mandi.
"Hanya bo-..." Sid membelalakan matanya ketika melihat siapa yang dia tarik.
Sanya sendiri ikut terkejut saat melihat Sid sudah terbalut handuk.
"Sedang apa kau dikamarku?!" Teriak Sid sambil keluar dari kamar mandi dan menyeret Sanya juga keluar.
Tak diduga lagi, Kiran juga sudah berada di ambang pintu dengan tatapan terkejut.
"Sid, aku pikir..."
"Aku tanya sedang apa kau dikamarku?" Pungkas Sid cepat.
__ADS_1
Keduanya masih belum sadar Kiran ada diambang pintu dengan tatapan mata yang tak percaya.
Kiran melangkah mendekati keduanya, dengan hati yang sangat sakit.
"Kalian..." Ucapnya terbata-bata, membuat Sid dan Sanya menoleh bersamaan. Sid membelalakan matanya, lalu mendekati Kiran.
"Kiran, kau kemana saja? Dari tadi aku..."
"Demi Tuhan apa ini, Sid?!" Teriak Kiran dengan penuh emosi.
"Apa yang apa? Tidak ada apa-apa, kenapa kau berteriak begini seolah melihatku selingkuh!" Jawab Sid dengan nada lembut.
Kiran menatap Sanya, Sanya langsung menunduk tak berani berbicara.
"Jelaskan, apa ini? Kenapa kau keluar dari dalam kamar mandi bersamanya?!" Teriak Kiran sambil menunjuk Sanya.
Sid tercengang, menyadari bahwa Kiran telah salah paham dan pasti melihatnya saat menyeret Sanya keluar dari dalam kamar mandi.
"Tunggu, pasti kau salah paham. Tadi itu aku...-"
"Cukup! Aku telah melihatnya sendiri, kau keluar bersamanya dari dalam kamar mandi. Pantas saja jika aku bertanya tentangnya kau selalu tidak mau menjawab dan menceritakan apa hubungan kalian!" Hardik Kiran dengan air mata yang sudah meleleh membasahi wajahnya.
"Apa?!" Sid semakin panik, karena pasti Kiran akan menjadi sangat marah setelahnya. "Bukan begitu, aku tidak suka jika membahas tentang masa lalu, itu saja!" Tegas Sid yang justru membuat Kiran semakin curiga dan salah paham.
"Sid, aku tidak percaya ternyata kau tega mengkhianatiku!" Ucap Kiran sambil berlalu pergi dari hadapan Sid.
Dengan sigap Sid menahannya dan menarik tangan Kiran.
"Lepaskan!" Sentak Kiran sambil menepis tangan Kiran.
"Tidak! Dengarkan penjelasanku dulu, semua salah paham! Tadi aku memintamu mengambilkan handuk, hanya untuk bercanda denganmu. Aku pikir kau juga bercanda dan ada di kamar, jadi aku..."
"Aku tidak percaya!" Potong Kiran sambil mendorong Sid hingga terjatuh.
"Kiran, Sid benar. Dia tidak bohong, aku mendengarnya berteriak memanggilmu dan minta diambilkan handuk, jadi..-"
"Bohong!" Pungkas Kiran. "Jangan berbohong, Sanya! Beberapa kali kau mencoba mendekati suamiku, mungkin kemarin Sid diam dan tidak menanggapimu. Tapi, hari ini aku melihat segalanya!" Hardik Kiran sambil berlalu pergi dan berlari keluar kamar.
Sid mengacak rambutnya kesal, ia ingin mengejar Kiran tapi sadar bahwa tubuhnya masih hanya terbalut handuk saja.
Sid melirik Sanya dengan tatapan sinis, sementara Sanya masih diam dan menunduk.
"Keluar!" Bentak Sid hingga Sanya terperanjat.
__ADS_1
Sanya berjalan pelan keluar kamar, hingga sampai di depan pintu Sanya berhenti dan menoleh lagi pada Sid yang masih terlihat sangat kesal.
"Sid, aku minta maaf, semua karena aku jadi kalian... bertengkar."
Sid kembali menatap Sanya sinis.
"Bisakah kau keluar dari kamarku? Sudah cukup membuatku kesal dengan tinggal disini, hari ini kau bahkan membuat Kiran dan aku bertengkar!" Hardik Sid.
Sanya menunduk, air mata sudah menggenang didalam pelupuk matanya. Dengan segera Sanya keluar dari kamar Sid.
Kini Sid mengunci pintu kamarnya dan bergegas menggunakan pakaiannya. Setelah berpakaian lengkap Sid bermaksud untuk mencari Kiran. Ia keluar lewat balkon yang terhubung dengan tangga keluar.
Hampir setengah jam Sid mencari keberadaan Kiran di dalam rumah, namun tak bisa menemukannya. Hingga pencarian terakhir di kamar ibu dan ayahnya sendiri.
Begitu yakinnya Sid, ia mengetuk pintu kamar ibunya yang tertutup dengan pelan.
"Bunda, ini aku!" Serunya masih dengan mengetuk pintu.
"Jangan sekarang, pergilah ke kantor dulu! Kami sangat sibuk!" Seru ibu Aisha dari dalam.
Hati Sid sedikit menghangat, ternyata Kiran bersama dengan ibunya. Meski, ibunya tidak mengatakan Kiran bersamanya tapi Sid tahu bahwa Kiran berada didalam.
"Bunda, katakan pada istriku semua tidak seperti yang dilihatnya." Ucap Sid lagi dengan suara bergetar menahan tangis.
Tak lama, pintu dibuka oleh ibu Aisha. Cukup lebar, hingga memperlihatkan suasana dalam kamarnya yang tampak hening. Di ujung ranjang,dekat kepalanya terlihat seorang wanita tengah menangis dengan memeluk lututnya.
Tangisnya tanpa suara, hanya terlihat air mata yang terus meluncur keluar membasahi pipinya. Pandangan wanita itu kosong entah kemana pikirannya.
"Apa yang kalian lakukan dalam kamr mandi?" Tanya ibu Aisha sambil keluar dari kamar.
Sid menoleh pada ibunya, lalu menoleh lagi pada Kiran yang masih tetap dalam posisi sama.
"Tidak seperti yang dia lihat, tdi aku sedang bercanda saat sedang mandi memintanya mengambilkan handuk untukku. Beberapa kali Kiran seperti tidak berada dikamar, aku pikir dia juga bercanda padaku. Sampai seseorang mengetuk pintu dan mengulurkan handuk dengan tangannya. Aku pikir itu dia, saat aku tarik masuk kedalam ternyata itu Sanya." Jelas Sid yang membuat ibu Aisha menggeleng tak percaya.
"Apa aku boleh masuk kedalam untuk menemuinya sebentar saja?" Ibu Aisha langsung menggeleng, menahan Sid yang sudah akan masuk.
"Hentikan, pergilah ke kantor. Datanglah kesini nanti siang jika suasana hatinya sudah membaik." Sid terpaksa mengangguk, lalu pergi untuk berangkat ke kantor.
Saat menuruni tangga, Sid kembali berpapasan dengan Sanya. Sanya tersenyum pada Sid namun Sid membalas Sanya dengan tatapan sinis dan segera bergegas menuju kantor.
Selama perjalanan Sid tak henti-hentinya memikirkan Kiran. Takut jika Kiran tidak berhasil dibujuk dan pergi kemana saja yang dia mau.
Bersambung...
__ADS_1