Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Akhir dari Kanaya


__ADS_3

Kanaya lari, setelah menembak ayah Deva. Sid mengejarnya, sedangkan Kiran dan Lakshmi segera membawa ayah Deva ke rumah sakit.


"Berhenti, Kanaya! Atau aku akan menghabisimu sekarang juga!" Teriak Sid sambil mengacungkan pistol yang sebenarnya dia bawa di dalam mobil.


"Tidak, aku tidak akan pernah berhenti!" Kanaya terus berlari, dia sudah sampai di depan jalan besar.


"Kanaya, berhenti! Serahkan dirimu!" Sid masih mengejar Kanaya. Kanaya berlari menyeberangi jalan. Dia tak memperdulikan banyaknya kendaraan berlalu-lalang, hingga sebuah mobil sedan melintas dengan sangat cepat.


"Aaaaaa...."


Brak..


Mobil itu menghantam tubuh Kanaya, hingga terpental jauh dari tempatnya tertabrak.


"Kanaya!" Teriak Sid, yang langsung menghampiri Kanaya yang sudah tergeletak tak berdaya dengan tubuh berlumuran darah.


"S..S...Sid, ma... Maaf..Kan...A..Ku..." Kanaya langsung tak sadarkan diri, ambulan sudah datang. Salah seorang perawat yang turun dari ambulan langsung memeriksa apakah Kanaya masih hidup, atau sudah tiada.


"Apa dia masih hidup?" Tanya Sid.


Perawat itu menggeleng. Sid sangat sedih, bukan karena Kanaya mati. Akan tetapi, karena Kanaya mati dengan cara yang sangat mudah.


Kau beruntung, Kanaya! Tuhan menghindarkanmu dari penderitaan yang belum sempat aku berikan padamu.


"Tolong urus dia, dia sudah tak memiliki siapapun di dunia ini." Ucap Sid sambil mengambil uang dari dompetnya, dan menyerahkan uang itu pada perawat tersebut.


...----------------...


Di rumah sakit, keadaan sangat genting. Lakshmi tak berhentin menangisi ayahnya, begitupun Kiran yang sangat sedih karena ayah mertuanya sedang sekarat. Bagi Kiran, dia sudah seperti ayahnya sendiri.


Tapi, keadaan itu bertambah genting ketika Sid datang dengan pakaian yang berlumuran darah.


"Sid, apa yang terjadi? Apa kau terluka?" Kiran panik setengah mati.


Sid menggeleng, saat ini dia tidak bisa menjawab pertanyaan Kiran. Dia senang, Kanaya si wanita pengganggu itu sudah tiada dan di hukum oleh Tuhan. Tapi, disisi lain walau bagaimanapun Kanaya juga pernah menjadi bagian hidupnya, bukan?


Maaf, Kiran walau bagaimanapun dia juga pernah menjadi bagian dalam hidupku.


"Lalu, apa ini? Bagaimana bisa ada darah sebanyak ini di bajumu? Apa yang terjadi, Sid? Katakanlah!" Kiran tak berhenti bertanya.


"Dia sudah mati, Tuhan sudah menghukumnya dengan kematian." Jawab Sid sekenanya.


"Apa?!" Lakshmi dan Kiran mengucapkannya bersamaan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa, kak?" Tanya Lakshmi penasaran.


"Saat aku mengejarnya, dia menyeberang dan tak sengaja tertabrak mobil dengan sangat keras." Jelas Sid dengan wajah sedih.


Melihat kesedihan yang memancar di mata suaminya, Kiran sedikit kecewa.


Sid, tanpa mengatakannya pun aku bisa melihatmu bersedih atas kematian Kanaya. Masih ada cinta untuknya dihatimu.


Hati Kiran sedikit sakit dan kecewa.


"Sid, aku pulang dulu. Aku akan kembali membawa bajumu." Sid menoleh, dia mengerti. Pasti Kiran kecewa dengan sikapnya yang bersedih atas kematian Kanaya.


"Kiran, tunggu." Sid menahan lengan Kiran dan memeluknya.


Air mata sudah tak tertahankan, meluncur deras membanjiri pipinya begitu saja. Tanpa seizin dari pemiliknya.


"Maaf, aku tak bermaksud..."


"Aku mengerti, aku tahu. Kau sangat mencintainya, tak akan semudah itu melupakannya bukan?" Kiran menghapus air matanya, dan mencoba menampilkan senyum terbaik dalam dirinya. Meskipun, ia tak pandai menyembunyikan perasaannya.


"Tidak, jangan salah paham. Aku hanya..."


"Cukup, aku tidak ingin mendengar apapun saat ini. Duduklah disana, aku akan pulang dan kembali membawa pakaianmu." Sid tak menghalangi Kiran lagi, karena ia tahu semua akan percuma. Mungkin Kiran butuh waktu untuk semuanya ini.


"Lakshmi, tunggu disini bersama paman Reihan dan Ridan. Aku ingin menyusul Kirana, dia sudah lama pulang tapi entah kenapa belum kembali juga sampai sekarang." Lakshmi mengangguk.


"Hati-hati, kak. Semoga kakak ipar baik-baik saja." Sid mengangguk, memeluk adiknya sebentar. Pada saat berbalik, sudah tampak Kiran sedang melangkah menghampirinya.


"Itu dia, sudah datang." Lakshmi menunjuk Kiran yang baru saja datang.


"Kau kemana saja? Baru saja aku akan menyusulmu!" Protes Sid dengan wajah cemberut, yang mampu membuat Kiran tersenyum lagi.


"Maaf, tadi aku hanya sedikit pusing."


"Kau sakit? Ayo, karena kita sedang di rumah sakit, kita akan memeriksamu juga." Tangan Sid langsung menarik Kiran.


"Kau ini, apa-apaan? Aku hanya pusing karena kurang istirahat, itu saja!" Sid mangut-mangut, dan langsung mengajak Kiran duduk di kursi tunggu.


"Bagaimana keadaan ayah?" Tanya Sid, yang sedari tadi sebenarnya sangat mengkhawatirkan ayahnya.


"Dokter bilang, pelurunya sudah berhasil di keluarkan. Hanya tinggal menunggu ayah melewati masa kritisnya." Jelas Kiran.


"Syukurlah, aku sudah sangat takut jika harus melihat ayah seperti itu. Aku takut, dia meninggalkanku seperti ibuku dulu." Ucap Sid dengan suara bergetar, menahan tangis membayangkan kematian tragis sang ibunda dua puluh tiga tahun yang lalu, disaat dirinya baru berumur enam tahun.

__ADS_1


"Sid, percayalah pada Tuhan. Dia tidak akan mengambil ayahmu darimu jika belum waktunya. Ayah pasti akan baik-baik saja, dia orang yang kuat bukan?" Sid mengangguk, lalu memeluk istrinya.


Sungguh beruntung, Sid memiliki Kiran disaat-saat seperti ini.


Ayah, aku sangat beruntung memiliki Kiran. Disaat seperti ini dia selalu berusaha membuatku bahagia. Aku bodoh, telah membuatnya sedih dan kecewa tadi.


Sid menyesali sikapnya tadi, yang bersedih atas kematian Kanaya.


"Kiran."


"Hmm.."


"Terima kasih, kau sudah mengerti diriku." Sid memeluk Kiran lagi, dengan penuh kelembutan.


"Sid, seseorang yang kau maki dan hina, bisa jadi dia adalah orang yang paling mengerti dirimu."


"Kau benar, dulu aku sangat galak. Sering membuatmu menangis karena kata-kata tajamku yang tajamnya melebih pedang samurai, sekarang ternyata kau adalah orang yang paling mengerti diriku. Aku bangga, padamu. Yang senantiasa menjaga cinta dan kesetiaanmu untukku. Maaf, jika aku sering membuatmu terluka, bersedih, bahkan kecewa. Aku memohon maaf yang sedalam-dalamnya dari hatiku, atas sikap burukku padamu." Sid mengatupkan tangannya, meminta maaf pada Kiran.


Kiran menggenggam tangan Sid, dan mengangguk.


"Sid, sebelum kau minta maaf aku sudah memaafkanmu. Tiada yang lebih indah, dibanding saling memaafkan kesalahan masing-masing. Semoga setelah ini ujian kita segera berakhir, dan keluarga kita bahagia selamanya." Sid tersenyum, lalu mengecup kening Kiran bangga.


"Semoga, ditengah semua ini Tuhan memberikan hadiah yang sangat besar untuk kita. Semoga Tuhan juga mengabulkan doaku."


"Sudah, sudah! Kalian jangan beradegan romantis dihadapanku, membuat iri saja!" Protes Lakshmi, membuat adegan romantis itu bubar dan ambyar.


"Kau mengganggu saja, cepatlah menikah! Agar kau tahu bagaimana rasanya jatuh cinta pada pasangan resmimu seperti aku pada Kiran!" Cibir Sid.


"Kalian mulai lagi, setelah tiga hari tidak berdebat, sekarang pasti setiap harinya akan ada perdebatan lagi!" Protes Kiran.


"Kiran, dia yang lebih dulu berulah! Aku kesal, dia selalu saja menghalalkan segala cara untuk mengganggu kita!"


"Sudah, cukup! Ini rumah sakit, kalian jangan mulai lagi! Atau keadaan ayah tidak akan mengalami kemajuan, akibat perdebatan kalian yang tiada akhir!" Kiran melerai Sid dan Lakshmi.


"Dengar, Lakshmi! Mungkin ayah juga akan lebih memilih tinggal sendiri daripada ditemanimu!"


"Sid, cukup!" Kiran menjewer telinga Sid.


"Iya, iya!" Sid mengalah. Akhirnya, semuanya kembali diam. Menunggu ayah Deva sadar dan sehat kembali.


Bersambung...


Jangan lupa like, coment dan vote yaa.. author butuh dukungan kalian biar makin semangat terusin ceritanya... Yang baca, please jangan baca aja usahakan like yaa karena like gratis. yang udah klik novel ini ke Favorit dan belum dibaca, mari baca yuk!

__ADS_1


__ADS_2