
"Ibumu..." Ayah Deva menarik napas dalam-dalam.
"Bunda? Kenapa dengannya? Dia sudah lama pergi, ayah!"
"Aku tahu, tapi sepertinya kita salah menduga bahwa dia sudah tiada."
"Maksud ayah?" Sid memasang wajah tak percaya. "Bukankah kita sendiri yang melihat dia dimakamkan dulu? Lalu jika dia masih hidup, siapa yang dimakamkan itu?"
"Sid, ayah benar-benar serius! Saat kau pergi kemarin, dan saat kejadian dimana Kiran hampir terjatuh dari lantai paling atas gedung rumah sakit ini ayah melihat ibumu di ruangan itu." Sambil menunjuk ruang paling atas rumah sakit.
"Apa? Ayah, jika kau yakin itu adalah bunda dan Kiran juga melihatnya mari kita buktikan dan kita periksa ke ruang itu, bagaimana?" Ayah Deva mengangguk.
"Aku akan ikut." Kiran menyahut.
"Baiklah, ayo berjalan dengan pelan-pelan saja." Sid merangkul Kiran.
Ketiganya memasuki rumah sakit lagi untuk membuktikan apakah yang dilihatnya memang ibu Aisha, atau bukan.
"Suster, apa aku bisa meminta data-data pasien yang mengalami gangguan jiwa di rumah sakit ini? Aku sangat membutuhkannya." Sid meminta pada suster yang berjaga di meja resepsionis rumah sakit.
"Tidak bisa, pak. Itu harus meminta izin dulu dari manager rumah sakit ini."
"Apa kau tahu siapa aku?" Suster menggeleng. "Aku Siddharth Adeva Rafandi, dan ini ayahku!" Sambil menunjuk ayah Deva. "Slaven Adeva Rafandi!" Suster itu terkejut, lalu menunduk.
"Maafkan aku, pak. Aku tidak tahu."
"Cepat! Berikan data pasien gangguan jiwa dari dua puluh enam tahun yang lalu!" Perintah Sid tegas.
"Baik pak, anda bisa menunggu disana saja. Setelah datanya siap, kami akan mengantarkannya." Sid, Kiran, dan ayah Deva duduk di kursi yang ditunjukkan suster itu.
Hampir satu jam mereka menunggu, akhirnya suster itu mengantarkan data-data yang diminta Sid.
"Pak, ini data yang anda minta." Sambil menyerahkan sebuah map tebal, lalu diterima oleh Sid.
"Terima kasih, kembalilah bekerja!" Mengangguk, lalu kembali ke tempat asalnya bekerja.
"Ayo, masing-masing memeriksa satu-persatu data-data ini!" Kiran dan ayah Deva mengambil satu lembar kertas itu, lalu membacanya dengan teliti.
"Anaya Khaira, Aisha Sathiya Hasan Rafandi..." Kiran menelusuri seluruh daftar itu, ia tak mengetahui nama lengkap mertuanya.
"Tunggu! Coba ulangi!" Perintah ayah Deva.
"Anaya Khaira, Aisha Sathiya Hasan Rafandi. Ada apa, ayah?" Ayah Deva meraba dadanya, bergetar hebat. Nama itu, nama sosok yang sangat dicintainya dan dirindukannya selama duapuluh enam tahun ini terdaftar sebagai pasien gangguan jiwa di rumah sakit ini.
__ADS_1
"Ayah, apa artinya bunda memang masih hidup?" Sid merangkul bahu ayahnya. Ayah Deva hanya terdiam, air mata sudah mengalir di pipinya.
Apa artinya ini? Lalu, siapa yang dulu... Aisha masih hidup! Istriku tidak mati!
Ayah Deva berdiri, tanpa memperdulikan putra dan menantunya yang terus berbicara padanya. Kakinya melangkah menyusuri rumah sakit, lalu menaiki lift menuju ruang perawatan pasien yang terkena gangguan jiwa.
"Ayah, tunggu! Kita harus menanyakan dulu apa ibu masih dirawat disini atau tidak!" Teriak Sid. Namun ayah Deva tak menghiraukannya, ia terus melangkah. Ia ingin segera menemui Aisha.
"Ayah tunggu!" Kiran menyusul ayah Deva bersama Sid.
"Sid, ayah harus menemuinya sekarang juga!" Ayah Deva kembali berjalan menuju lift.
Ia memasuki lift, diikuti Kiran da Sid. Sepanjang di dalam lift ayah Deva hanya terdiam. Hatinya senang campur haru, namun ia sedih kenapa bisa baru sekarang ia mengetahui bahwa istri tercintanya masih hidup. Ah, takdir sudah mempermainkannya dengan permainan besar seperti ini.
"Ya Tuhan, bantulah aku, kuatkanlah aku." Doa terus digumamkan oleh bibir ayah Deva, Sid dan Kiran memeluk tangan ayah Deva.
Keduanya mencoba menenangkan sang ayah yang terlihat tegang.
"Ayah, semoga ini benar." Sahut Sid memulai pembicaraan.
"Iya, ayah sangat berharap ini benar."
Ayah Deva memeluk Sid dan Kiran, kini kebahagiaannya akan lengkap kembali jika memang Aishanya memang masih hidup dan berada disini.
"Sid, ayah juga tidak mengerti."
"Ayah, Sid, untuk lebih jelasnya kita harus menanyakan semua ini pada pihak rumah sakit. Tentunya menanyakan juga siapa yang membawa ibu Aisha sampai kesini." Sid dan ayah Deva mengangguk setuju.
Sampai di depan pintu ruangan yang disebutkan sebagai ruangan tempat tidur para pasien yang terganggu jiwanya, hati ayah Deva tambah bergetar. Kakinya terasa lemas, terlebih saat melihat sospk yang dicarinya sedang duduk di depan ruangan itu sambil memainkan boneka bayi.
"Bunda." Lirih Sid pelan, namun yang disebut tetap memainkan boneka bayi di tangannya.
"Deva, ayo main bayi denganku. Huu... Deva... Deva nakal, Deva dimana?" Ucap bunda Aisha sambil cemberut.
Ayah Deva berjalan pelan, mencoba agar kakinya tidak tersandung dan jatuh. Ia mendekati bunda Aisha, lalu merangkul bahunya.
"Aisha." Ayah Deva memeluk bunda Aisha, lalu mengelus kepalanya pelan.
"Ya, aku Aisha. Aku adalah Aisha, kau siapa? Apa kau melihat Deva? Dia temanku, dia marah padaku, tidak mau main denganku." Bunda Aisha terus bertanya pada Ayah Deva.
Tuhan, apa ini? Dia Aishaku! Bagaimana bisa? Lalu siapa yang tiada waktu itu?
"Ini Deva, aku disini." Bunda Aisha tiba-tiba tertawa, lalu menunjuk ayah Deva dengan jarinya.
__ADS_1
"Deva?" Ayah Deva mengangguk. "Ayo main! Jangan marah lagi padaku, hah? Kau selalu marah tanpa sebab padaku, aku jadi tidak punya teman main." Bunda Aisha memukul tangan ayah Deva.
Tiba-tiba bunda Aisha menarik lengan baju ayah Deva, dan membawanya duduk di lantai. Ayah Deva hanya menurut, tak bicara ataupun memberikan reaksi apa-apa.
"Ayo main!" Bunda Aisha memukul lagi tangan ayah Deva.
"Iya, ayo kita main." Ucap ayah Deva terisak.
Sid dan Kiran hanya terdiam, air mata sudah mengalir dari pipi keduanya. Sid menangis sesenggukan, Kiran meliriknya lalu memeluknya untuk menenangkannya.
"Sid, temui ibumu. Pasti kau sangat merindukannya, kan?" Sid menggeleng, ia mengeratkan pelukannya pada Kiran.
"Aku tak percaya, apa benarkah itu adalah bundaku?" Kiran mengangguk.
"Dia ibumu, dia masih hidup." Kiran meyakinkan Sid.
Kiran menarik Sid, mendekati bunda Aisha dan duduk disampingnya.
"Bunda." Lirih Sid sambil menepuk bahu Bunda Aisha.
Bunda Aisha menoleh, lalu mengerutkan dahinya. "Siapa kau?" Tanyanya sambil meraba dagu Sid.
"Ini aku, putramu." Sid meraih tangan bunda Aisha, dan menciumnya.
"Putra? Aku masih kecil, mana mungkin punya anak."
Deg...
Hati Sid terasa sakit, ibunyatak mengingatnya. Sid melirik ayah Deva, ayah Deva menatapnya dan mengangguk. Memberi isyarat agar tenang dulu.
Sid mengangguk, lalu berdiri dan membawa Kiran pergi dari area itu.
Ayah Deva tetap bersama bunda Aisha, dan menemaninya, dia sangat merindukan istrinya. Wanita yang selama ini menjadi satu-satunya pengisi hatinya, dan pemilik hatinya.
"Sid, kenapa kita pergi dari sini?" Sid berhenti melangkah dan membawa Kiran duduk di kursi yang berada disana.
"Kita biarkan dulu bunda bersama ayah, dia tidak mengingatku. Kau lihat sendiri, kan? Bagaimana tadi dia bertanya aku siapa?!" Kiran mengangguk, lalu memeluk Sid.
"Jangan bersedih, ia pasti akan mengingatmu. Ayo, kita istirahat saja. Kau pasti lelah, iya kan?" Sid mengangguk.
Ada aku disini, jangan khawatir.
Kiran sangat mengerti perasaan suaminya itu saat ini, hatinya pasti sakit ketika mendengar dan melihat ibunya dalam keadaan seperti itu. Bahkan, ia tak bisa mengingatnya sedikitpun.
__ADS_1
Bersambung...