
Hari minggu pagi yang cerah diiringi drama dari dua orang yang sedang bersandiwara menangis.
"Kak, Sid aku mohon jangan biarkan kami pulang!" Pinta Elina dengan tangis yang dibuat-buat. Akan tetapi Sanya segera menarik Elina keluar dari rumah Sid.
Elina meronta-ronta dan mencoba menarik pakaian Sid agar dirinya tidak jadi pergi dari rumah Sid yang mewah tersebut.
Setelah Elis dan Elina keluar, Sanya kini masuk kembali kedalam rumah dan berpamitan pada semuanya.
"Sid dan Kira-"
"Hmm, Rana!" Potong Sid yang membuat Kiran menyikut perutnya. Kemudian Sid membalasnya dengan lirikan tajam.
Ibu Aisha dan Ayah Deva tertawa melihat tingkah dua orang yang baru berbaikan tersebut.
"Ah, iya, maksudku Kak Rana maaf jika selama kami disini kau jadi kesal dan kami membuat banyak masalah." Kiran tersenyum samar kemudian mengangguk.
"Kali ini permintaan maafmu tepat pada tempatnya." Ucap Sid dengan ketus.
Sebelum Sanya keluar dari rumah Sid, tiba-tiba ponselnya berdering. Sanya langsung mengangkatnya dan tersenyum bahagia saat berbicara di telepon.
"Benarkah? Ada, tentu saja! Baik, besok aku akan kesana langsung." Telepon sudah ditutup. Kebahagiaan Sanya tentu saja membuat tanda tanya bagi Sid dan keluarga.
Sanya menatap ibu Aisha dan ayah Deva dengan tatapan ragu. Elina dan Elis yang masih menunggu diluar rumah kini masuk kembali dengan wajah masam.
"Sanya, ayo pulang! Pesawat akan terbang sebentar lagi!" Ajak Elis sambil menarik tangan Sanya.
"Bi, sepertinya aku tidak ikut pulang bersama kalian. Produser disini memanggilku untuk kontrak sebuah film, jadi kalian pulanglah lebih dulu. Mungkin aku akan tinggal di apartemen besok." Sid dan Kiran membelalakan matanya, merasa gagal membuat Sanya pergi dari rumahnya.
Elis tersenyum bahagia bersama Elina.
"Kalau begitu, kami akan tetap disini juga!" Seru Elina bahagia.
"Tidak!" Tolak Sanya cepat.
"Tidak bisa, lebih baik kalian pulang saja karena aku tidak akan tinggal tetap. Mungkin, akan berpindah-pindah karena shooting yang panjang."
Elina kembali cemberut dan dengan terpaksa mengangguki ucapan Sanya.
Setelah Elis dan Elina pergi, Sanya kini kembali memohon pada Sid dan keluarga untul mengizinkannya tinggal di rumah mereka satu malam lagi.
"Bibi Aisha, mungkin kalian akan menolak, tapi tolong beri aku izin untuk tinggal satu malam lagi disini. Besok aku akan pergi, jangan khawatir." Mohon Sanya.
__ADS_1
Ibu Aisha melirik ayah Deva dan Sid serta Kiran. Ketiganya menyerahkan keputusan pada ibu Aisha.
"Hanya satu malam, setelah itu pergilah dan jangan pernah kembali ke rumah ini lagi." Tegas Ibu Aisha.
Sanya bersorak ria, akhirnya karirnya akan kembali melejit setelah lima belas tahun hancur karena suaminya yang meninggalkannya pergi bersama wanita lain.
...****************...
Di malam hari, Kiran terus bertanya pada Sid tentang Sanya dan dirinya. Akan tetapi Sid terus menghindar tak ingin menjawab apalagi menceritakan tentang Sanya.
"Diam, aku tidak suka menceritakan wanita itu!" Ketus Sid dengan bibir cemberut.
Kiran merasa gemas, lalu mencuri ciuman dari bibir Sid. Sial tentu saja menimpa Kiran, karena kecupannya itu membuat Sid menjadi nakal dan menahan ciuman itu.
Dengan nakalnya lagi, Sid mengubah ciuman itu menjadi ciuman panas yang membuat napas Kiran terengah-engah saat dilepaskan.
"Manusia menyebalkan!" Umpat Kiran yang ditertawakan Sid.
"Kau sudah mencuri ciuman dariku, sekarang kau harus membalasnya dengan cerita!" Pinta Kiran.
Sid dengan santainya berjalan menuju meja kerja dan mengambil sebuah buku cerita.
"Mau cerita?" Kiran mengangguk dengan mata berbinar.
"Baik, aku akan menceritakannya!" Seru Sid dengan senyuman jahilnya.
Sid membuka buku cerita yang diambilnya. Kiran mengerutkan dahinya dan menatap Sid bingung.
"Pada zaman dahulu ada seorang putri yang bernama..."
"Cukup!" Teriak Kiran. Kiran mengambil bantal dan memukulkannya pada Sid. Sid tertawa terbahak-bahak, keduanya tak menyadari bahwa sejak tadi pintu terbuka dan Sanya yang tak sengaja melewati kamar Sid menyaksikan adegan lucu keduanya itu dengan mata yang sudah berair.
Jika saja dulu aku tidak memilih pergi, mungkin aku yang saat ini ada di posisi Kirana.
Sanya menghampus air matanya dan bermaksud pergi kekamarnya. Saat berbalik Ayah Deva sudah berdiri disana.
"Paman," ucap Sanya.
"Masuk ke kamarmu, ini sudah malam!" Perintah Ayah Deva dengan nada datar.
Sanya mengangguk dan langsung pergi memasuki kamarnya. Didalam kamar hatinya sudah sangat hancur, melihat segala yang tadi dilihatnya.
__ADS_1
Sanya menangis terisak sambil menghadap cermin. Ditengah tangisannya ponselnya kembali berdering.
Saat melihat siapa yang meneleponnya Sanya langsung menghapus air matanya dan menenangkan dirinya. Setelah itu baru mengangkat teleponnya.
"Hallo, sayang? Iya, mungkin masih lama ibu pulang. Kau akan kesini? Baik, sayang! Ibu menunggumu ya, nanti ibu akan menjemputmu di bandara!"
Sanya kembali menangis setelah selesai berbicara dengan seseorang yang memanggilnya ibu di telepon.
...****************...
Sid dan Kiran masih duduk berhadapan, Sid telah menceritakan segalanya tentang Sanya. Bukan lain tentu semuanya atas desakan Kiran yang terus meminta Sid menceritakan hubungannya dengan Sanya dulu.
"Jadi, Sanya pergi meninggalkanmu?" Sid mengangguki pertanyaan Kiran.
"Kanaya dan Sanya ternyata sama-sama menyakitimu, maaf jika karena aku kau jadi mengingat lagi masa lalu yang menyakitkan ini." Sid mengangguk samar sambil tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa, sekarang aku mendapatkan pengganti yang selalu membuatku tersenyum. Meskipun terkadang kau seperti Singa jika sedang marah." Kiran memukul lagi Sid dengan bantal.
Lagi-lagi Sanya menyaksikan kedua insan yang masih seperti anak kecil itu.
Flashback
"Sid, aku harus pergi. Hubungan kita aku akhiri, karena aku ingin mengejar mimpiku." Sanya menatap Sid yang menggenggam tangannya, memohon agar Sanya tidak pergi.
"Sanya, ini balasanmu setelah ayah membantumu untuk mencapai mimpimu? Dia tidak meminta uang, tapi dia hanya ingin kau jadi menantunya. Bahkan, kau juga mencintaiku dan aku mencintaimu, tapi kenapa hari ini kau egois sekali?" Sanya berdiri dari duduknya dan melepaskan tangan Sid.
Ia meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop warna kuning yang berukuran besar.
"Semua yang Paman Deva berikan untuk membantuku, aku mengembalikannya dengan jumlah yang lebih besar."
"Untuk cinta kita, semua tidak bisa aku lanjutkan. Hubungan kita berasal dari bisnis, tidak akan baik jika kita melanjutkannya." Sanya memberikan uang itu pada Sid.
Setelah itu Sanya pergi entah kemana, dengan sebuah koper yang ditariknya.
Sid memukul meja dengan sangat keras. Lalu berteriak memanggil nama Sanya.
Satu minggu setelah kepergian Sanya, sebuah berita muncul. Berita tentang pernikahan yang mengejutkan Sid dan sekeluarga.
"Pernikahan seorang aktris papan atas dengan sebuah produser film ternama, Sanya Arina digelar disebuah hotel mewah dengan nuansa emas..."
Flashback off
__ADS_1
Kiran memeluk Sid mengecupi keningnya. Hatinya merasa bersalah karena terus mendesak Sid menceritakan masa lalunya dengan Sanya.