
"Tidak! Tolong dokter, tolong lakukan apapun agar bayiku baik-baik saja!" Kiran histeris sebelum dokter mengatakan keadaan bayinya.
Hal itu membuat ayah Deva dan Sid melirik kearahnya secara bersamaan.
"Bayi kalian baik-baik saja, kami tidak melihat apapun yang bermasalah dalam tubuhnya." Tak lama berselang, seorang suster membawa bayi Arsya keluar.
"Lain kali jangan menyimpan cairan berwarna merah sembarangan, agar tidak membuat panik!" Peringat perawat itu.
Kiran sedikit terkejut, kemudian mengingat-ingat saat dia meninggalkan bayi Arsya sebentar.
Flashback
"Nona, ini jus buah naga nya. Aku simpan disini!" Ucap pelayan sambil menyimpannya di sebelah box bayi.
Kiran mengangguk, kemudian meminum jus itu dan meletakan sisanya dengan posisi yang tidak benar sehingga tumpah sebagian mengenai bayi Arsya.
Ia tak sadar, bahwa jus itu mengenai bayi Arsya. Yang kiran lakukan terus membersihkan pecahan kaca di lantai.
Hingga pada saat ia akan mengambil bayinya yang tiba-tiba menangis, Kiran membelalakan matanya melihat noda merah di bibir dan pakaiannya.
Flashback off
Setelah terbukti tidak terjadi apa-apa pada bayinya, keempatnya sudah pulang kembali ke rumah utama.
Disana tampak Sanya yang sudah mondar-mandir berpura-pura ikut cemas dengan keadaan bayi Arsya.
__ADS_1
"Kalian sudah pulang? Apa Arsya baik-baik saja?" Sambil mendekati Kiran yang menggendong bayi Arsya.
Kiran langsung menjauhkannya dari Sanya, kemudian menutupinya dengan kain.
"Menjauhlah, jangan pernah mencoba mendekati anakku!" Sanya menjauh, kemudian Kiran membawa Arsya masuk kedalam kamar.
Ayah Deva ikut masuk kedalam kamarnya juga. Kini hanya tinggal Sid dan Sanya berdua di ruangan utama.
"Jangan sekali-kali mendekati apalagi menyentuh bayiku! Atau pernikahan kita tidak akan terjadi!" Ancaman lolos diucapkan dari mulut Sid. Membuat Sanya sedikit takut.
Sid bergegas, meninggalkan Sanya. Ia masuk kedalam kamar si kembar yang didalamnya terlihat si kembar sedang belajar bersama Siran kakaknya.
Diperhatikannya ketiga anaknya itu dengan teliti, Sid merasa bangga karena mereka inisiatif dan rajin belajar tanpa harus disuruh olehnya.
"Boleh ayah masuk?" Suara Sid langsung mengalihkan perhatian ketiganya. Mereka mengangguk secara bersamaan.
"Ayah, kenapa ayah memberikan itu sebelum waktunya?" Si sulung bertanya, membuat Sid terdiam seketika. Bingung harus mengatakan apa.
"Itu hak kalian, kita tidak tahu ayah kapan akan meninggal. Selain itu, kalian tahu bukan masalah yang menimpa kita."
"Tidak ayah, tidak!" Ira memeluk Sid dan menangis dengan tersedu-sedu.
"Ayah akan hidup, selalu hidup bersama kami. Ayah tidak akan kemana-mana!" Timpal Ima. Sementara si sulung Siran hanya tersedu-sedu di pelukan ayahnya.
Sid terharu, anak-anaknya sangat menyayanginya dengan tulus meski mereka tahu kesalahan Sid.
__ADS_1
"Aku yakin, ayah dan ibu juga tidak akan terpisahkan. Mengenai masalah itu... Ada orang yang sengaja ingin pisahkan kalian." Siran mulai mengeluarkan apa yang selama ini ia pendam di benaknya.
"Aku lihat sendiri, ayah. Bibi Sanya... Dia..."
"Sudah cukup, Nak. Katakan itu disaat yang tepat!" Sid membungkam mulut Siran dan memeluknya.
"Cukup berdoalah yang terbaik untuk ayah, bagi ayah itu sangat indah." Lalu Sid keluar dari kamar, meninggalkan ketiga anaknya itu yang masih menangis terisak.
Di luar kamar ia juga ikut menangis. Menghapus air mata itu tidak akan menghapus kesedihannya juga.
Nasi sudah jadi bubur. Kebodohannya dengan Sanya puluhan tahun lalu tidak dapat diulang dan dihapus dari masa lalu Sid.
Kini, ia harus menerima hukumannya. Dipisahkan dari orang-orang yang sangat ia sayang. Istri, anak, serta orang tuanya.
Untuk harta, Sid sudah merasa sangat tenang telah memberikan hartanya pada istri dan anak-anaknya.
Ia merasa tenang, karena hak-hak anaknya sudah ia penuhi. Mungkin kini sudah saatnya Sid mulai membalas Sanya dengan ketamakannya. Membuatnya menyesal ingin mengikat Sid.
Tidak, masih lama! Masih dua minggu lagi!
Dua minggu rencananya akan Sid gunakan untuk memanjakan Sanya terlebih dahulu dengan sisa-sisa tabungannya yang hanya senilai tiga puluh juta rupiah lagi.
Saat perceraiannya dengan Kiran, barulah Sid akan tertawa sambil menangis sepuas mungkin.
Tertawa karena menertawakan Sanya yang akan menangis mengetahui Sid tidak punya apa-apa lagi. Menangis karena ia dan Kirananya akan resmi berpisah di hari itu juga.
__ADS_1
Bersambung...
Meskipun up sedikit-sedikit, tapi aku sudah berjuang menyelesaikan novel itu. Aku engga meninggalkan tanggung jawab dengan tidak meneruskan novel ini. Meskipun upnya lama banget. Tapi kalo pembacanya setia selama apapun pasti bakal nunggu aku up, sudah ada beberapa nama masuk dalam list pembaca setiaku dan sudah pernah disebutkan. Oh iya, jangan lupa mampir di novel terbaru aku yaa judulnya "Istri Simpanan Sang Mafia Kejam".