Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Berkunjung ke Rumah Kiran


__ADS_3

Pukul lima sore, Kiran dan Sid keluar dari sebuah kafe di daerah XX.


"Kau bisa lembur lagi seperti biasa?" Tanya Sid begitu mereka memasuki mobil-Siran.


"Bisa, pak tapi boleh aku pulang dulu ke rumah?"


"Memangnya ada apa?"


"Aku tadi membelikan makanan untuk keluargaku, aku takut makanannya dingin jika mengantarkannya nanti."


"Rumahmu dimana?"


"Di komplek XX."


"Tidak jauh dari sini, ya sudah kita antarkan sekarang."


"Nanti saja, pak."


"Sayang bensin, Kiran! Ayo cepat!' Perintah Sid tegas.


Setelah sampai di rumah Kiran, mereka berdua bergegas turun.


"Eh, pak Sid, anda mau kemana?" Tanya Kiran yang bingung melihat Sid turun.


"Aku akan menunggumu disana, sambil melihat bunga-bunga itu." Sid menunjuk bangku di halaman rumah Kiran.


"Ooo... Baik, pak. Tunggu sebentar, saya akan memberikan makanan ini dulu pada ibu." Sid mengangguk.


Ketika asyik mencium dan meraba-raba kelopak bunga mawar putih, Sid tersentak. Seorang gadis muda tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Sedang apa?" Tanya Mira.


"Oh, melihat bunga mawar ini." Jawab Sid sambil menunjuk bunga mawar tersebut.


Mira mengamatinya beberapa detik, sebelum menjentikkan ibu jari dan telunjuknya. "Bapak bos nya kak Kiran ya?"


Sid mengangguk. "Siddharth." Sid menyodorkan tangannya, yang disambut oleh Mira.


"Saya Mira, adiknya kak Kiran. Adik satu-satunya yang paling cantik."


"Jelas paling cantik, kau kan adik satu-satunya."


Tawa Mira meledak. "Bapak tahu saja. Pintar sekali."


"Panggil kakak saja, aku belum setua itu."


"Benar kata kak Kiran, kakak ini memang sangat tampan." Puji Mira.


Oh jadi dia suka membicarakanku ya.


Sid meringis. "Biasa saja. Jangan berlebihan jika memuji. Tidak enak."


"Tapi kata kak Kiran benar, kakak tampan sekali."


"Sepertinya Kiran suka membicarakanku ya?"


"Tidak usah kakak tanyakan lagi, setiap pulang kerja, kak Kiran pasti bercerita tentang kakak. Apalagi saat dia pertama masuk kerja, dia sering pulang dalam keadaan menangis." Mira terkikik.


Sid yang sejak tadi memerhatikan tanaman menoleh.


"Menangis? Maksudnya?"

__ADS_1


"Iya, kak Kiran selalu cerita, dia bilang kakak sering mengomelinya di kantor. Maaf, pak maklum kak Kiran memang cengeng."


Sid tercenung. Tak menyangka bahwa Kiran sering menangis karena ulahnya.


"Kiran menceritakan apalagi tentangku?"


...----------------...


Kiran memberikan bungkusan makanan yang tadi belinya pada ibunya.


"Bu, malam ini aku lembur, ya? Mungkin pulang agak larut."


"Tidak apa-apa. Hati-hati ya!" Rhea menyentuh bahu putri sulungnya itu lembut.


"Iya, bu. Sepertinya aku harus kembali sekarang. Pak Sid menungguku di luar."


"Ya sudah, ayo ibu akan mengantarmu sampai ke depan."


Ketika di ambang pintu, Kiran bingung. Telinganya menangkap suara dua orang yang sedang tertawa gembira. Tawa ngakak cempreng itu Kiran hafal, milik Mira. Tapi suara tawa yang lembut dan tegas itu milik?


Kiran mempercepat langkahnya. Celingak-celinguk mencari sumber suara tawa itu. Pada saat sampai, Kiran tertegun Mira sedang mengobrol dengan Sid. Bahkan Sid tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan adiknya. Sampai wajah Sid berubah merah, seperti kepiting rebus.


Kiran belum pernah melihat Sid tertawa selepas itu.


"Itu dia, oknumnya datang." Mira menunjuk Kiran yang berjalan menghampirinya.


"Kalian sepertinya asyik sekali mengobrol, membahas apa?" Kiran berjalan mendekat.


"Apalagi jika bukan membahas kakak?" Mira tertawa. "Lebih tepatnya aib kak Kiran!"


"Heeeeh... Kau pasti memfitnahku lagi! Apa yang kau katakan pada pak Sid?" Kiran memelototi adiknya gemas.


"Aku hanya menceritakan fakta saja." Mira tertawa lagi.


Sid tersenyum. Ia melirik Kiran yang masih cemberut, lalu mencubit pipinya.


"Kau menggemaskan, ya?" Sambil berdiri dari duduknya.


"Ibu?" Sid melirik Kiran. Gadis itu mengangguk. "Perkenalkan, saya Siddharth Adeva Rafandi." Sid menyodorkan tangannya.


"Siddharth? Putranya Slaven Adeva Rafandi? Dan putranya mendiang Aisha?"


"Ibu kenal ayah dan ibuku?" Rhea mengangguk.


"Ibumu sahabatku. Nama ibu Rhea." Sid tercengang, ternyata wanita dihadapannya ini adalah sahabat ibunya.


"Jadi, Kiran putrinya ibu?" Rhea mengangguk lagi.


"Ibu tahu, kau pasti tidak ingat Kiran karena kecelakaan itu kan? Tapi suatu saat kau akan mengingatnya."


"Maksud ibu?" Tanya Kiran yang ikut bingung.


"Nanti kalian berdua pasti tahu." Sid dan Kiran saling berpandangan kebingungan.


"Pak Sid ternyata orangnya baik dan lucu sekali." Mira menimbrung. "Tidak galak seperti yang dikatakan kakak."


Lagi, Kiran memelototi adiknya.


"Jika pak Sid sering memarahi kakak berarti kakak yang kerjanya tidak benar!" Cibir Mira.


"Mira!!! Kapan mulutmu itu berbicara benar?"

__ADS_1


"Sudah, jangan bertengkar lagi!" Sid menengahi.


"Kita berangkat sekarang, pak? Disini panas sekali!"


Mira sudah akan membalas, ketika Sid meraih lengannya.


"Aku senang sekali bisa bertemu denganmu, Mira. Keren!" Sid tertawa.


"Besok-besok kakak main kemari lagi, ya? Kita lanjutkan gosip yang tertunda."


"Iya, tentu. Nanti aku akan membawa ayah juga." Sid mengedipkan mata. Mereka lalu tertawa, kecuali Kiran.


"Untuk apa membawa ayahmu, pak?"


"Untuk melamarmu."


"Hah?!"


"Sudah, Kiran ayo kita pergi!" Sid menarik tangan Kiran yang masih terpaku. Lalu berpamitan pada Rhea dan Mira.


Sesampainya di kantor, seperti biasa Sis langsung menyalakan laptopnya.


"Kiran, mendekatlah." Ucap Sid dengan mata tertuju pada laptopnya.


"Eh, i.. Iya, pak." Kiran mendekat, dan berdiri di samping Sid.


"Menurutmu, brosur mana yang cocok untuk daftar harga produk kita?" Sid menarik Kiran untuk lebih dekat lagi dengannya.


"Yang ini, pak. Ini sangat cocok, karena nama perusahaan anda terpampang jelas disana." Kiran menunjuk layar laptop Sid.


Sid menoleh, dan membuat wajahnya berdekatan dengan wajah Kiran.


Deg...


Jantung Sid kembali berpacu lebih cepat dari biasanya, ia bisa melihat wajah Kiran dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan Sid bisa mencium aroma parfum Kiran yang sangat menyegarkan hidungnya.


Sid menggelengkan kepalanya, lalu sedikit menjauhkan wajahnya dari Kiran.


"Baiklah, terima kasih. Kau boleh kembali ke ruanganmu." Perintah Sid.


Kiran keluar dari ruangan Sid dan memasuki ruangannya, lalu duduk di kursi kerjanya mulai mengerjakan pekerjaannya kembali.


Sementara Sid di ruangannya, ia meraba dadanya.


"Ya Tuhan, ada apa ini? Kenapa jantungku berdebar kencang seperti ini? Dulu, saat aku berdekatan dengan Kanaya tidak pernah seperti ini." Gumam Sid sambil memegangi dadanya.


Apa yang terjadi padaku? Tidak biasanya aku seperti ini.


Sid mulai memfokuskan dirinya pada laptopnya, mencoba menghilangkan Kiran dari bayangannya. Namun bayangan itu tidak kunjung menghilang juga.


Di hatinya, mulai tumbuh rasa kagum pada Kiran. Mungkin, Sid mulai bisa menerima kehadiran Kiran dihidupnya.


Detik berikutnya, ia mulai mengingat kata-kata ayahnya.


Lupakanlah Kanaya, dan mulailah kehidupan barumu dengan wanita yang kau cintai yang menerimamu apa adanya, bukan ada apanya.


Benarkah dia mulai menyukai Kiran? Tapi, mengapa bisa secepat itu? Baru beberapa bulan Kiran masuk ke kehidupannya. Tapi, anehnya walaupun belum lama, tapi Kiran sudah bisa mengerti dan merasakan isi hatinya.


Bukan hanya itu, tapi Kiran juga bisa mencium luka yang sangat besar di hatinya.


Aaarrrrgggghhhh....! Apa ini? Kenapa pikiranku menjadi terganggu seperti ini?

__ADS_1


**Bersambung...


Cieee... ada yang udah mulai saling suka nih**...


__ADS_2