Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Mengantar ke Asrama


__ADS_3

Satu minggu terlewati dengan kebersamaan antara Kal dengan keluarganya, hari ini Kal akan diantarkan ke sekolah asrama.


Hari ini Kiran agak murung, karena akan berpisah dengan putra kesayangannya dalam jangka waktu yang lama.


"Ibu, jangan sedih!" Kal mencubit pipi Kiran.


"Ah, Kal, ibu tidak bisa jauh darimu." Sid yang berdiri di samping Kiran menghela napas pelan.


"Dia sudah besar, lebih baik kita dukung saja apa yang menjadi pilihannya. Jangan malah bersedih, harusnya kita senang Kal bisa mandiri!" Sid menasehati Kiran.


"Ini tidak adil, seorang ibu harus berpisah dari putranya!" Kiran cemberut.


"Lalu?"


"Apa? Lalu apa?" Kiran menatap Sid tajam.


"Tidak ada." Sid meringis ketakutan mendapat tatapan tajam Kiran.


"Ayo kita berangkat!" Ketus Kiran.


Sid melirik Kal, lalu mendapat gelengan kepala dari Kal.


"Ayo!" Kal mengangguk.


Ketiganya memasuki mobil, setelah semua barang yang akan dibawa Kal sudah dimasukan ke bagasi mobil, mobil segera melaju menuju asrama yang dituju.


Sepanjang perjalanan Kiran terus mendekap Kal didadanya.


"Kiran, dia pasti sesak!"


"Tidak apa, ayah. Mungkin aku akan rindu pelukan ini nanti, pelukan hangat seorang ibu." Kiran tersenyum haru mendengar penuturan putranya.


"Hmm... Tidak apa-apa, biar pelukan hangat itu hanya milik ayah selama kau di asrama." Ujar Sid sambil mengedip-ngedipkan sebelah matanya genit pada Kiran.


"Tetap saja tidak ada Kal kau juga tidak bisa mendapatkan pelukan ini!" Lalu tertawa geli.


"Kenapa?"


"Ira dan Ima kan ada!" Sid langsung cemberut, lalu mencebikkan bibirnya.


Kiran dan Kal tertawa puas.


"Dulu saja dia tidak mau tidur jika tidak memelukku!" Gerutu Sid pelan, namun masih bisa didengar oleh Kiran dan Kal.


"Dulu belum ada si kembar!"


"Terserah!" Ketus Sid sambil memalingkan wajahnya ke samping.

__ADS_1


"Ayah." Panggil Kal pelan.


"Ya?"


"Dimana ayah bertemu ibu untuk pertama kalinya?"


"Kenapa memangnya, sayang?" Kiran mengerutkan dahinya.


"Tidak, hanya ingin tahu saja."


"Ayah bertemu ibu pertama kali waktu kecil, dia teman bibimu tapi teman ayah juga. Lalu ayah hilang ingatan, tidak bisa mengenali siapapun termasuk kakekmu. Kami dipertemukan kembali di kantor ayah, waktu itu ibumu melamar kerja jadi sekretaris pribadi ayah." Cerita Sid sambil tersenyum mengingat kenangan ketika dia sering memarahi Kiran.


"Lalu kau tahu, Kal? Ayahmu itu dulu sangat galak, setiap bulan selalu berganti-ganti sekretaris!" Timpal Kiran sambil tertawa renyah. "Hanya ibu yang bisa bertahan lama jadi sekretarisnya." Sambungnya diiringi tawa renyahnya lagi.


"Tapi, ayah sadar dibalik bertahannya ibumu itu ternyata dialah yang paling bisa mengerti isi hati ayah saat itu, menghapus masa lalu kelam ayah dan menggantinya dengan kebahagiaan yang berlipat-lipat. Bahkan, disaat kami terpisah kami masih saling terikat dan percaya bahwa pasti kami akan kembali bersama.


Kal, jangan remehkan wanita seperti ibumu ini. Apalagi jika kau menemukannya nanti, bisa jadi dia yang paling bisa mengerti dirimu." Jelas Sid sambil menasehati Kal.


"Ayah, menyakiti wanita bukankah sama saja dengan menyakiti ibu dan adik-adikku serta seluruh wanita yang ada di keluargaku, iya kan?" Sid mengangguk. "Aku berjanji, aku tidak akan pernah menyakiti wanita. Jika ada yang tersakiti, biarlah aku daripada ibuku." Sid mengangguk lagi.


"Dan jika ada yang menyakiti putra ayah, dia harus tahu konsekuensinya." Sid memeluk Kal, dan mengecup keningnya.


Aku bangga, memiliki putra sepertimu. Aku bangga, aku tidak akan khawatir sekarang bila kau harus jauh dariku.


"Kau lihat, Kiran? Tidak perlu khawatir lagi membiarkannya hidup sendiri di asrama! Kenyataannya ada di depan mata kita sendiri, meskipun Kal masih kecil tapi tidak dengan sikapnya. Dewasa, mandiri, berwibawa, tentunya bertanggung jawab juga ada di dalam dirinya. Jadi, sekarang jangan khawatir lagi! Dia akan selalu baik-baik saja, seiring dengan sikap dan sifatnya." Kiran mengangguk penuh keyakinan.


"Sekarang ibu yakin untuk melepasmu disana. Tapi, ingat pesan ibu dan ayah, ya? Jangan sampai kau salah arah dan hilang arah. Ingat baik-baik, ada kami disini yang menyayangimu dan menunggumu."


Tiga puluh menit, barulah mereka sampai di asrama yang dituju. Kiran dan Kal turun lebih dulu dari mobil.


Sid turun dengan membawakan barang-barang milik Kal.


"Selamat datang, pak Siddharth dan Ibu Kirana di asrama musik kami." Sambut kepala sekolah asrama tersebut ramah.


"Terima kasih bu, sesuai dengan pemberitahuan maksud kedatangan kami hari ini, kami datang untuk mengantarkan Kal yang akan bersekolah di asrama ini. Perkenalkan, ini putra kami." Sid menunjuk Kal.


"Siapa namanya?"


"Siran Kallandra Adeva Rafandi, kami biasa memanggilnya Kal. Dia adalah putra pertama kami, kami harap dengan menyekolahkannya di asrama ini dia bisa mencapai apa yang diharapkannya." Ucao Sid penuh harap.


"Baiklah, Kal semoga kau nyaman bersekolah disini. Untuk hari ini kau boleh istirahat dulu bersama ibu dan ayahmu, besok kau baru bisa memulai sekolahmu."


Setelah berbicara banyak dengan kepala sekolah asrama musik tersebut, Sid beserta Kiran dan Kal menuju hotel yang berada di sekitar area asrama.


Ketiganya istirahat terlebih dahulu.


Esoknya baru Kiran dan Sid mengantarkan lagi Kal ke asrama untuk terakhir kalinya, lalu berpamitan untuk pulang.

__ADS_1


"Ibu, ayah, hati-hati di jalan. Aku pasti akan merindukan kalian, jangan lupa datang mengunjungiku!"


"Iya, Kal. Kami pasti akan datang mengunjungimu nanti. Kau baik-baik, ya disini? Ingat nasehat ibu dan ayahmu!" Kal mengangguk.


Kiran dan Sid memasuki mobil, lalu mobil melaju menjauh dari asrama. Kal melambaikan tangannya hingga mobil ibu dan ayahnya menghilang.


Setelah itu, Kal memasuki ruangan kelasnya yang sudah terdapat beberapa teman-teman sekelasnya yang masih asing di mata Kal.


"Selamat pagi." Sapa Kal pada beberapa anak seumurannya dengan nada ramah.


Salah seorang anak perempuan menoleh, lalu membalas sapaan Kal.


"Selamat pagi, sepertinya kau baru disini?"


"Iya, aku murid baru disini. Panggil aku Kal." Kal menjulurkan tangannya, untuk mengajak anak perempuan itu bersalaman.


Dengan ramahnya juga anak perempuan itu membalas uluran tangan Kal.


"Keyra. Panggil aku Key atau Ra."


"Terima kasih, sudah mau berkenalan denganku."


"Terima kasih kembali, ayo duduklah disebelahku. Tempatnya masih kosong, tapi sekarang kau boleh menempatinya dan duduk bersamaku." Ujar Keyra sambil menggeser duduknya dan mempersilahkan Kal duduk disampingnya.


Berikutnya, terdengar bel berbunyi tanda bahwa kelas sudah akan dimulai.


Jika tadi kelas masih sepi, kini sudah dipenuhi murid-murid yang sudah duduk rapi untuk belajar.


Banyak yang menatap Kal dengan tatapan bingung, mungkin karena baru melihat Kal ada di kelas mereka. Namun, ada juga beberapa orang anak laki-laki dan perempuan memandang Kal sinis.


Kepala sekolah memasuki ruang kelas Kal, lalu memperkenalkan Kal pada teman-teman sekelasnya.


"Anak-anak, hari ini ibu akan memperkenalkan seseorang pada kalian." Ucapnya lembut. "Kal, kemarilah perkenalkan dirimu."


Kal berdiri dari tempat duduknya, lalu maju ke depan dan memperkenalkan dirinya.


"Hallo teman-teman, namaku Siran Kallandra Adeva Rafandi ayah dan ibuku biasa memanggilku Kal, aku murid baru disini. Aku harap kalian mau berteman denganku." Ucap Kal dengan ramahnya.


"Dia baru disini, kemarin ayah dan ibunya baru mengantarkannya. Ibu harap kalian mau membantunya jika dia kesusahan dan belum paham aturan di sekolah ini. Baik, sekarang belajarlah dengan tenang ya."


Setelah memperkenalkan Kal, kepala sekolah keluar dari kelas Kal. Kal duduk kembali disamping Keyra.


"Kal, boleh kan aku memanggimu Siran?" Kal mengangguk.


"Tentu." Sambil tersenyum ramah.


Tapi, beberapa anak lainnya memperhatikan Kal dengan wajah sinis.

__ADS_1


**Votenya guys jangan lupa, hatiah juga boleh.


Untuk cerita Siran akan muncul nanti di bulan april, jangan dulu dicari karena gk akan ketemu 😂**


__ADS_2