Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Hari Pertama Menghabiskan Waktu Bersama


__ADS_3

Hari pertama, Sid menjemput Kiran ke rumahnya untuk menghabiskan waktu bersama.


"Kau sudah siap?" Sambil memandang Kiran takjub. Tanpa kacamata, rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja, make up sedikt tebal dan gaun berwarna biru sebatas bawah lutut. Tak lupa, high heels setinggi lima sentimeter.


Kiran mengangguk.


Deva menuntunnya memasuki mobil, terlihat serasi ketika mereka berdiri bersama.


Dunia bahkan menilai kita serasi, tapi kenapa kau malah tidak ingin bersamaku? Ah, aku tau kau pasti menilai bahwa serasi tak menjamin kita akan bersama bukan?


Pikiran Sid melayang jauh, hatinya sangat ingin Kiran bersamanya, menemani sisa-sisa hidupnya dengan penuh cinta. Tapi Sid juga tak bisa egois, ia tak bisa memaksa Kiran untuk bersamanya jika Kiran sendiri tak merasa bahagia.


Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang menemani, keduanya tak bicara sepatah katapun. Hanya deruman mesin mobil yang terdengar. Sesekali kiran mencuri pandang pada Sid.


"Siapa Kiran? Siapa namanya?" Sid memulai pembicaraan.


"Siapa namanya, maksudmu?" Kiran mengerutkan dahi tak mengerti.


"Laki-laki pilihan orang tuamu, siapa namanya?"


Kau, Siddharth Adeva Rafandi.


"Sudahlah, kenapa kau malah menanyakan laki-laki itu di sela-sela waktu kebersamaan kita?" Kiran menatap Sid. Sid memalingkan wajahnya, dan fokus menyetir mobilnya.


"Hmm." Sid berdeham, Kiran meliriknya.


"Kita akan kemana?" Kali ini Kiran yang membulai pembicaraan antara mereka.


"Nanti kau akan tahu, semoga kau menyukainya." Jawab Sid tanpa menatap Kiran.


"Baiklah." Angguk Kiran.


Sid, asal kau tahu saja, aku lelah bersandiwara seperti ini. Ini menyiksaku dan membuatmu kembali menjadi bos galakku. Kisah kita pantas dijadikan novel dengan judul Bos Galak IdamanKu. Kiran tersenyum kikuk.


Sid mengerutkan dahinya, melihat Kiran yang tersenyum sendiri.


"Kau gila? Atau kehabisan obat?" Ceplos Sid, tanpa dipikir terlebih dahulu.


"Eh.. Hmmm... Kau tanya apa?" Kiran gelagapan.


"Kenapa kau tersenyum sendiri seperti orang gila? Memikirkan apa? Ah, pasti kau memikirkan calon suamimu ya?" Sid memasang bibir cemberutnya.


"Memikirkanmu." Gumam Kiran pelan, namun masih terdengar oleh Sis.


"Syukurlah." Balas Sid.

__ADS_1


Merekapun lalu tertawa berdua, merasa lucu dengan sifat masing-masing.


"Sudah sampai!" Seru Sid sambil menghentikkan mobilnya dan memarkirkannya di parkiran sebuah restoran besar.


"Kenapa kita kesini?" Kiran merasa heran.


"Dulu, ayah sering mengajak bunda makan di restoran ini. Ayah bilang ini adalah restoran favoritnya. Aku ingin mengenangnya bersamamu, Kiran. Kau bersedia kan?" Kiran mengangguk, penuh semangat.


"Ayo, kita masuk." Sid meraih tangan Kiran, dan menggenggamnya. "Katakan pada calon suamimu, jangan marah. Ini hanya untuk beberapa hari." Merasa tidak enak.


Tenang saja, dia tidak akan marah. Dia sangat senang dengan hal ini.


"Tentu, aku sudah minta izin padanya." Balas Kiran.


"Oh ya? Dia mengizinkannya?" Kiran mengangguk cepat. "Wah, hatinya lapang sekali ya? Tidak marah melihat calon istrinya akan bermesraan bersama pria lain selama satu minggu." Sid sedikit merasa aneh.


Mana ada, calon suami yang suka calon istrinya di pegang laki-laki lain? Jangan-jangan calon suaminya itu...? Shit! Kenapa aku malah ingat pada si culun dan bodoh itu?


Sid mengedikkan bahunya, tidak ingin memikirkan hal-hal negatif lagi selama bersama Kiran.


Mereka memasuki restoran, nampak kosong. Tidak ada pelanggan.


"Sid, kemana pengunjung restoran ini? Kenapa sepi sekali?" Tanya Kiran sambil memandang sekeliling restoran.


Hmmm.... Ternyata bos galak ini bisa romantis juga ya... Aku memang beruntung, bisa bersama denganmu, Sid.


"Duduklah." Sid menyiapkan kursi untuk Kiran. Kiran langsung duduk.


Aku semakin mencintaimu saja, jika seperti ini. Untung saja, drama perjodohan ini hanya satu minggu, jika satu tahun pasti aku sudah mati karena menahan cinta padamu, Sid.


Sid duduk di depan Kiran. Lalu pelayan restoran menghampiri kedua insan yang saling sedang jatuh cinta itu.


"Aku ingin makan ini, dan minum ini." Tunjuk Sid pada pelayan itu yang langsung menuliskan pesanannya.


"Lalu nona?" Pelayan itu beralih pada Kiran.


"Aku sama dengannya." Sambil menunjuk Sid.


"Baiklah, kami akan segera membawakannya untuk kalian. Saya permisi." Pelayan itu undur diri, meninggalkan Sid dan Kiran berdua.


Suasana kembali hening, Sid dan Kiran kembali sama-sama diam. Sid meraih tangan Kiran yang berada diatas meja, menggenggamnya penuh kehangatan. Karena suasana di ruangan itu dingin akibat alat pendingin ruangan.


Kiran merasa sedikit kedinginan, karena pakaiannya sedikit terbuka. Sid yang mengerti melepaskan jasnya, dan memakaikannya pada Kiran.


"Kau pasti kedinginan, pakailah." Kiran mengangguk. Tiba-tiba, sebuah alunan musik merdu dimainkan oleh sekelompok orang di atas panggung yang sudah di sediakan.

__ADS_1


Sid berdiri dari duduknya, lalu berlutut di hadapan Kiran. Seperti adegan seorang pria melamar wanitanya.


"Kau mau kan berdansa denganku?" Sambil mengulurkan tangannya. Kiran menyambut uluran itu, Sid membawanya ke area dansa.


Merekapun berdansa, dengan sangat indahnya.


Beuh so sweet, author kapan Sid?


Sid:Diem thor! Jangan ganggu, semua ini gara-gara author bikin sandiwara, jadi kurang so sweet! 🙄


Beberapa menit berdansa, mereka berhenti. Sid mengajak Kiran duduk lagi di tempat yang mereka tempati tadi.


Tak lama, pelayan menghidangkan makanan pesanan Kiran dan Sid.


"Silahkan dinikmati, tuan dan nona." Ucap pelayan itu ramah.


"Terima kasih." Ucap Kiran dan Sid ramah. Pelayan itu membalas dengan senyuman, lalu pergi meninggalkan Sid dan Kiran berdua kembali.


"Makanlah, setelah ini kita masih harus pergi ke suatu tempat." Kiran mengangguk, lalu mereka berdua mulai memakan makanan masing-masing.


Saat itu juga, Kiran dan Sid saling menyuapi, menambah indahnya suasana di ruangan restoran itu. Dunia serasa bagaikan milik berdua, yang lain hanya menumpang.


Selesai makan, mereka berdiam diri terlebih dulu. Kiran menatap Sid yang sedang sibuk membersihkan bibirnya, namun bukannya bersih malah membuatnya terlihat lucu. Karena di bibirnya terdapat bekas makanan yang tidak terbersihkan.


"Sid, dibibirmu ada bekas makanan." Kiran menunjuk bibirnya sendiri, untuk menunjukkan letak bekas makanan itu di bibir Sid.


Sid berusaha membersihkannya, namun tetap tidak bersih.


"Disini." Kiran membersihkan bibir Sid dengan jarinya. Sid terdiam, dan tersenyum.


Aku mencintaimu, dan hari ini cinta itu bertambah.


"Terima kasih." Ucap Sid sambil tersenyum manis, lalu meraih jemari Kiran dan mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku celananya, dan membersihkan jari Kiran yang tadi membersihkan bibirnya.


"Kita pergi sekarang?" Kiran mengangguk.


Setelah membayar makanan yang mereka makan tadi, Sid dan Kiran bergegas menunu tempat lain. Tempat yang sudah disiapkan Sid tentunya.


Sid menyiapkan tempat-tempat tersebut, karena memiliki makna tersendiri di dalam kehidupannya. Apalagi jika bukan tempat wanita yang sangat ia cintai dalam hidupnya. Wanita pertama yang sangat ia cinta, dan tidak akan pernah bisa melupakannya hingga saat ini. Yaitu Aisha, ibunya sendiri.


Kali ini, Sid melajukan mobilnya bukan menuju Restoran, cafe, ataupun tempat khusus lainnya. Tetapi mereka melaju ke arah sebuah tempat umum, taman umum yang sangat disukai ibunya.


Tempat yang dijadikan ibunya sebagai tempat pelarian ketika dulu ibunya dan ayahnya bertengkar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2