
Sid jatuh tersungkur ke lantai dengan pukulan ayah Deva yang bertubi-tubi. Sementara Kiran dan ibu Aisha menahan ayah Deva agar tidak memukuli Sid lagi.
"Tidak, suamiku cukup!" Tahan ibu Aisha dengan memegangi tubuh ayah Deva.
Ayah Deva menarik napas panjang lalu melepaskan Sid dan membiarkannya berdiri dengan sisa kekuatannya.
Kiran kini tidak diam lagi. Dia mengambil sebuah koper dan memasukan beberapa pakaian kedalamnya. Pakaian yang dimasukan bukan pakaian miliknya melainkan pakaian milik Sid. Ibu Aisha membantunya dan melemparkan koper itu pada Sid.
"Apa ini, Kiran?" Tanya Sid dengan suara bergetar dan lemah karena tubuhnya merasa sangat kesakitan.
Kiran tak bicara sepatah katapun. Ia melemparkan koper itu kembali pada Sid dan menunjuknya dengan jari telunjuknya.
"Pergi dari hadapanku, jangan pernah masuk ke kamar ini lagi!" Usir Kiran dengan suara bergetar serta tubuh gemetar.
Ibu Aisha terus menenangkan Kiran. Ayah Deva membalikan tubuhnya ke arah dinding, tak ingin menatap putranya.
"Pengkhianat sepertimu tidak pantas disebut sebagai suami Kiran! Pergi dari hadapanku, masuklah ke kamar lain jangan mencoba untuk menemui kami walau hanya sebentar!" Usir ayah Deva.
Akan tetapi, dibalik kemarahan itu ada sebuah rasa tak tega di hati Kiran.
Aku tidak tega, akan tetapi buktinya cukup terlihat sejauh ini kau mengkhianatiku belasan tahun lamanya.
"Kiran, aku mohon jangan lakukan ini." Sid memelas pada Kiran dan memeluk kakinya karena tubuhnya sudah tak bisa berdiri akibat hantama ayah Deva.
Kiran menjauhkan diri daru Sid, melepaskan pelukan Sid pada kakinya.
Ibu Aisha membangunkan Sid, turun tangan dan memeluknya.
"Pergilah Nak, menjauhlah! Jangan sampai Kiran lebih dari seperti ini. Renungkan segalanya dan coba cari kebenaran tentang dirimu dan anak itu!" Ucap ibu Aisha sambil memeluk putranya dan mengelus bahunya.
Ibu Aisha membantu Sid berjalan menuju kamar lain. Kebetulan Sanya ternyata sudah berdiri didepan kamarnya bersama Rana.
Matanya menatap kebingungan melihat Sid yang seperti habis dipukuli.
"Sid, kau kenapa?" Ucap Sanya sambil membantu ibu Aisha memapah Sid.
Dengan sisa tenaganya Sid menepis tangan Sanya dan memegangkan kedua tangannya pada ibu Aisha.
Kiran yang melihat adegan itu semakin teriris hatinya, perasaannya sangat sakit hingga tak tahu harus diungkapkan dengan cara seperti apa.
...****************...
*Bertahun-tahun lamanya,
kau khianatiku
Bertahun-tahun lamanya,
__ADS_1
kau membohongiku...
Duhai sayang,
tidakkah kau melihatnya?
Sayangku,
kini bukan hanya air mata kesedihan,
tapi air mata kekecewaan...
Kau yang membangun hubungan ini...
Nyatanya kau juga yang menciptakan jarak diantara kita...
Apakah ini cinta?
Inikah yang dinamakan cinta sejati*?
^^^Kirana Adiwijaya ^^^
...****************...
Ibu Aisha kembali ke kamar Kiran. Terlihat menantunya sedang duduk diatas ranjang dengan kepala bersandar ke kepala ranjang. Tatapannya lurus kedepan dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
"Putraku tidak sempurna, karena kesempurnaan milik Tuhan semata. Tapi, kami tidam pernah menduga bahwa ada rahasia sebesar ini yang belum terungkap selama belasan tahun yang kalian lalui tersebut." Ucap Ibu Aisha sambil melepaskan pelukannya lalu menggenggam tangan Kiran.
"Maaf, kami belum bisa mendidik putra kami dengan baik hingga semua ini terjadi. Akan tetapi, sudikah kalian masih bersama? Tepatilah janji yang diucap ketika pernikahan kalian berlangsung."
Kiran masih menatap lurus kedepan.
Ibu Aisha menangis lagi terisak. Ayah Deva menghampiri dua wanita yang menjadi kehormatannya lalu mengelus kepala keduanya dengan lembut.
"Kirana, pulanglah jika kau kamu. Kami tidak berhak menahanmu disini jika kau sudah tidak ingin berada disini." Ayah Deva berucap dengan suara yang bergetar. Ibu Aisha melirik ayah Deva dan menggeleng.
"Apa yang kau katakan? Apa kau akan membiarkan anak kita hancur?"
Ayah Deva membuang pandang ke arah lain, ia sebenarnya tak bisa melihat rumah tangga putranya hancur. Akan tetapi ayah Deva juga tak ingin jika Kiran terus tersakiti.
"Meski bertahan, aku tidak tahu kedepannya akan seperti apa. Aku belum bisa memutuskan, tapi aku ingin menenangkan diriku dirumah kami." Kiran menjawab dengan suara serak. Lalu turun dari ranjang dan memasukan beberapa pakaian kedalam koper.
Yang dimaksud rumah kami oleh Kiran adalah rumah Sid yang sudah lama tidak ditempati.
"Tapi bagaimana dengan anak-anak? Dia akan sangat membutuhkanmu dalam suasana seperti ini, kau ibunya!"
Kiran terdiam. Teringat pada sosok putranya yang begitu manja padanya jika sedang sakit. Apalagi, Kal selalu sakit jika sudah berada jauh dari ibunya. Seperti saat pertengkaran antara dirinya dan Sid karena Rian waktu itu, Kal langsung sakit karena Sid membawanya pergi dari Kiran.
__ADS_1
"Anak-anak akan bersamaku, sampai waktunya tiba untuk kembali."
Dengan terpaksa keduanya mengangguk setuju. Kiran kembali membereskan pakaiannya dan memasukannya kedalam koper.
Kemudian setelah selesai Kiran bergegas ke kamar anak-anaknya. Ditengah perjalanan, Kiran berpapasan dengan Sanya yang sedang berbicara dengan Rana sambil berjalan. Tentunya didepan kamar yang Sid tempati.
"Kiran, kau akan kemana membawa koper seperti itu?" Tanya Sanya dengan senyuman manis.
Kiran berhenti berjalan dan melirik Sanya sekilas. Matanya menatap tajam Sanya, hingga selanjutnya kembali berjalan tanpa menjawab pertanyaan Sanya.
"Kiran!" Panggil Sanya lagi. Kiran menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Sanya masih dengan tatapan tajam.
Kemudian melangkah mendekat pada Sanya. Sekilas Kiran melirik pada Rana yang menatap keduanya bingung.
"Kau dengar baik-baik, Sanya!" Kiran berbicara dengan suara datar.
"Kau sangat tidak tahu diri! Kau pikir hadirmu disini ada yang menginginkan dan ada yang senang? Coba kau lihat baik-baik, yang kau lakukan telah membuat kekacauan dalam keluarga ini! Kemarin kau bilang hari ini akan pergi, tapi kau masih tetap disini dan membawa putri hasil dari suamiku tinggal disini!"
"Selamat, kau telah berhasil menghancurkan keluargaku!" Nada suara Kiran meninggi air matanya keluar tak tertahankan. Suaranya bergetar, beserta seluruh tubuhnya.
Keringat dingin telah membasahi tubuhnya. Matanya merasa pandangannya kabur hingga suara seorang laki-laki memanggil namanya dan meraih tubuhnya yang hampir saja jatuh membentur lantai.
"Kiran, bangun!" Sid menepuk-nepuk pipi Kiran dan berusaha membangunkannya.
"Apa yang kau lakukan pada Kiran?!" Teriak Sid pada Sanya hingga Sanya memeluk Rana yang sangat ketakutan.
"Apa kau tidak puas sudah membuat kami seperti ini? Sekarang kau ingin membunuh istriku secara perlahan, hah?!" Teriak Sid yang berhasil mengundang perhatian seluruh penghuni rumah.
Sid menggendong Kiran menuju ke kamar. Ayah Deva langsung menelepon dokter dan ibu Aisha membangunkan Kiran.
Sudah hampir setengah jam, Kiran masih belum bangun. Hingga dokter Ema datang dan memeriksa Kiran dengan teliti.
"Apa Kiran memiliki riwayat darah rendah?" Tanya dokter Ema.
"Kami tidak tahu, tapi tiba-tiba dia pingsan setelah keluar dari kamar dalam keadaan emosi."
"Baik, bawa dia ke rumah sakit, dia butuh perawatan yang sangat serius!" Dengan segera ayah Deva dan Sid membawa Kira menuju rumah sakit.
Didalam perjalanan Kiran terbangun dengan suara yang sangat lemah, ia meminta Sid dijauhkan darinya.
"Kiran, untuk saat ini aku mohon izinkan aku bersamamu!"
Tiba-tiba Kiran memejamkan matanya lagi, dengan napas yang seperti sesak dan tercekik.
"Kiran!"
Bersambung...
__ADS_1
Ada apa dengan Kiran? ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜