
Empat bulan berlalu, kini usia kandungan Kiran sudah menginjak usia ke enam bulan. Namun, perutnya terlihat besar karena ada dua janin yang hidup didalam perutnya.
Setiap malam Sid selalu mengelus-ngelus perutnya sebelum tidur.
"Perutmu besar sekali, seperti balon yang akan meledak." Sid terkekeh, sambil terus mengelus perut Kiran.
"Tentu saja, ada dua malaikat kecil kita didalamnya." Kiran meraih tangan Sid, dan membawanya ke bagian yang ditendang bayinya.
"Kira-kira apa ya jenis kelamin mereka?" Kiran menggeleng.
"Tidak tahu, kenapa penasaran sekali?"
"Tidak apa-apa, aku harap perempuan agar aku bisa mendandaninya." Kiran menggelengkan kepalanya, lalu menghela napas kasar.
"Jangankan mendandani anak perempuan, anak laki-laki saja kau membuatnya seperti donat ditaburi gula pasir." Cibir Kiran.
"Kiraaann!!" Sid pura-pura merajuk.
"Iyaa,, Sid sayaaanggg... Aku hanya bercanda!" Kiran menarik kedua pipi Sid, lalu mengecupnya dengan kecupan gemas.
"Kita ke dokter saja?"
Kiran mengerutkan dahinya. "Untuk apa? Jadwal cek kandungan satu minggu lagi."
"USG, aku tidak sabar ingin melihat dan mengetahui jenis kelamin bayi kembar kita." Sid menarik tangan Kiran untuk berdiri, Kiran hanya bisa pasrah dengan tindakan suaminya yang selalu konyol itu.
"Tunggu, tunggu!" Cegah Kiran. Sid menatap Kiran penasaran. "Aku harus ganti baju dulu!" Sid mengangguk, lalu lebih dulu keluar dari kamarnya.
Setelah mengganti baju, Kiran dan Sid langsung berangkat menuju rumah sakit tempat Kiran selalu mengecek kandungannya.
Di tengah perjalanan, hal konyol kembali terjadi ketika Sid melewati sebuah toko buah-buahan yang berada di pinggir jalan, dengan didepannya menampilkan buah pisang yang begitu menggiurkan.
Sid menghentikan mobilnya di parkiran toko itu, sedangkan Kiran kebingungan. Kiran tambah bingung lagi ketika Sid turun dari mobil dan tak lama kembali membawa satu kantong kresek buah pisang.
"Apa itu?" Tanya Kiran sambil menunjuk kantong kresek yang ditenteng Sid.
"Pisang, kau mau?" Sid duduk di samping Kiran, lalu mengambil salah satu pisangnya dan memakannya dengan lahap.
Kiran terus memperhatikan Sid, tak sadar air liurnya hampir menetes melihat Sid memakan pisang.
"Sid, berikan aku sedikit pisang itu." Pinta Kiran. Sid memberikan satu buah pisang itu.
Kiran segera mencoba buah pisang itu, namun ekspresinya justru berbeda seperti Sid.
Jika Sid terlihat sangat menikmati buah pisang itu, justru Kiran hampir muntah saat mencobanya.
__ADS_1
"Pisang apa ini? Kenapa rasanya tidak enak, hambar!"
"Pisang Nangka, tidak hambar! Ini sangat lezat!" Sid mengambil pisang yang sudah digigit Kiran, lalu menghabiskannya.
"Kau ini kenapa? Tiba-tiba rakus sekali!" Ketus Kiran.
"Sepertinya aku.... Ngidam." Kiran menganga, ternyata benar kata dokter Ema dulu, bahwa Sid yang terkena ngidam. Buktinya, tiba-tiba Sid memakan pisang dengan lahap, sedangkan sejak kecil Sid tidak menyukai buah pisang.
"Ya sudah, setelah ini kita kemana? Pulang atau..."
"Ke rumah sakit! Aku ingin melihat bayiku dulu!" Potong Sid cepat.
Ternyata dia tidak mudah lupa ya, pantas saja dulu selalu menyebut otakku cekak!
"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang!" Sid menyimpan sisa buah pisangnya, lalu mulai melajukan mobilnya kembali menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit kekonyolan Sid kembali datang, ia berjalan sambil melompat-lompat dan bernyanyi di sepanjang lorong menuju ruangan dokter Ema.
"Sid, berhenti! Lihat, apa kau tidak malu diperhatikan semua orang yang berada di rumah sakit ini?" Kiran menarik tangan Sid dan memelototinya.
"Biarkan saja, aku tidak malu!" Ucap Sid percaya diri.
Namun, tiba-tiba keduanya berhenti berjalan saat melihat sesosok manusia yang dikenalnya.
"Paman Aryan? Sedang apa disini?" Paman Aryan tampak gelagapan, salah tingkah.
"Aku mengantar Kiran mengecek kandungannya, paman sedang apa disini?" Sid kembali pada pertanyaan pertamanya.
"Paman.... Eh... Itu, eum..."
"Aryan, ayo!" Tiba-tiba seorang wanita muncul menarik tangan paman Aryan memasuki ruangan dokter Ema.
"Siapa wanita itu? Apa... Hahahahaha! Akhirnya!" Sid tertawa terbahak-bahak.
"Sid, kau kenapa?!" Kiran yang tak mengerti kenapa suaminya tiba-tiba tertawa menjadi bingung dan penasaran.
"Akhirnya, Kiran! Akhirnya perjaka tua di keluarga kita akan menikah juga!" Mulut Kiran menganga lebar.
"Apa?!" Sid mengangguk, lalu tertawa. "Kau serius? Sepertinya itu sedikit gila! Pamanmu itu sudah hampir berusia lima puluh tahun dan dia akan melepas masa lajangnya bersama seorang gadis muda?!" Kiran lalu ikut tertawa bersama Sid.
"Sssttt... Jangan bicara terlalu keras, nanti dia mendengarnya!" Bisik Sid. "Ayo, kita masuk juga ke ruangan dokter Ema." Kiran mengangguk, lalu mengikuti Sid melangkah menuju ruangan dokter Ema.
Di dalam tampak paman Aryan sekaligus wanita yang tadi bersamanya, mereka terlihat sedang membicarakan hal yang cukup serius.
"Oh, Sid dan Kiran sudah datang ya? Bukankah jadwal cek kandungan masih lama?" Paman Aryan dan wanita itu terdiam saat mengetahui Sid dan Kiran memasuki ruangan dokter Ema juga.
__ADS_1
"Aku ingin mengetahui jenis kelamin bayiku, apakah bisa dilakukan USG sekarang?"
"Tentu, sebentar ya setelah mereka selesai." Menunjuk paman Aryan dan wanita itu. "Kalian duduk saja disana, terutama Kiran agar kakimu tidak pegal." Kiran mengangguk.
"Jadi, bagaimana? Apakah bisa?" Tanya paman Aryan pada dokter Ema.
"Tentu, kau masih sehat. Harapan kalian mendapatkan keturunan setelah menikah sangat besar." Sid dan Kiran tercengang mendengar apa yang dikatakan dokter Ema pada paman Aryan.
"Keturunan? Jadi paman akan menikah dengannya?!" Sid berdiri, lalu mendekati paman Aryan.
"Iya." Paman Aryan menyengir kuda.
"Syukurlah, akhirnya perjaka tua di keluargaku menikah juga!" Lalu Sid tertawa terbahak-bahak, hingga perutnya terasa sakit.
"Sudahlah! Lanjutkan tujuanmu kesini! Paman akan pergi dulu bersama Janya!" Ketus paman Aryan.
"Janya?" Ulang Sid.
"Iya, Janya." Menunjuk wanita yang duduk di sebelahnya.
Setelah itu, paman Aryan membawa calon istrinya yang bernama Janya itu keluar dari ruangan.
"Ayo, Kiran berbaringlah disana. Aku akan segera melakukan USG nya."
Setelah berbaring, dokter Ema segera melakukan USG pada Kiran. Tampak di layar sudah terlihat dua janin yang dikandung Kiran.
"Wow!" Seru dokter Ema.
"Bagaimana?" Sid tampak antusias, berbeda dengan Kiran yang tampak kebingungan.
"Kalian punya dua gadis kembar!"
"Apa?! Ma... Maksudnya?"
"Jenis kelamin bayi kembar kalian adalah perempuan! Dua bayi perempuan!" Senyuman mengembang dari bibir Sid dan Kiran.
"Terima kasih, dokter Ema!" Seru Sid sambil tersenyum gembira. "Harapanku memiliki dua anak perempuan yang kembar akhirnya terkabul! Terima kasih ya Tuhan, ini adalah kejutan teristimewa bagi keluargaku."
Sid bersujud di lantai, membuat kedua wanita di hadapannya hanya menganga kebingungan.
"Sid! Bangun!" Ucap Kiran menahan rasa malu. Sid berdiri, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ia jadi salah tingkah saat tersadar bahwa sedang melakukan hal konyol dihadapan istrinya dan dokter Ema.
"Ah, iya. Aku terlalu senang, ayo kita pulang!" Sid menarik tangan Kiran keluar, dengan wajah yang merah menahan malu.
__ADS_1
**Bonus pertama, jangan lupa tunggu bonus episode selanjutnya yaaa...!!!
Salam manis dari author 😂❣**