Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Akhir Kisah Dendi


__ADS_3

Ibu Aisha mencengkeram bahu paman Dendi dengan sangat kuat, kemudian melepaskan salah satu tangannya dan mengambil sesuatu di dalam saku baju yang ia kenakan.


Semua yang memperhatikan hanya kebingungan, dengan apa yang dilakukan ibu Aisha saat ini.


Ibu Aisha mengambil pistol, lalu memeluk paman Dendi.


Dor...


Pistol ditembakan tepat di dada paman Dendi, membuat paman Dendi kehilangan keseimbangannya. Namun tangannya memegang erat tangan ibu Aisha.


"Mati kau, aku tidak sudi hidup dengan penjahat sepertimu!" Ibu Aisha mendorong paman Dendi, namun karena paman Dendi memegang tangannya dengan sangat erat akhirnya ia ikut terbawa jatuh kebawah tebing.


"Aishaaaaaa....!" Ayah Deva berlari ke pinggir tebing, dan secepat mungkin meraih tangan ibu Aisha.


"Bunda!" Sid ikut berlari, meskipun kakinya terpincang-pincang akibat tembakan yang mengenai kakinya.


"Lepaskan! Lepaskan saja, Deva!" Ucap ibu Aisha.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu!" Sambil menahan ibu Aisha.


Di bawah paman Dendi sudah terjatuh, Kiran dan ibu Rhea menuruni tebing da menghampiri paman Dendi yang mungkin seluruh tubuhnya tak berdaya lagi.


Ayah Deva berhasil menaikan ibu Aisha lagi keatas tebing, lalu memeluknya dengan sangat erat.


"Aisha, terima kasih kau tidak pergi meninggalkan aku lagi." Ibu Aisha membalas pelukan ayah Deva tak kalah erat.


"Aku tidak akan sudi hidup bersama pria lain yang telah menghancurkan kebahagiaan keluargaku."


Semua menuruni tebing, mengikuti ibu Rhea dan Kiran. Bibi Resha yang sudah sadarkan diri dibantu oleh Reihan suaminya ikut mendekat.


"Kau lihat, paman? Kau lihat semua ini? Apa yang kau dapatkan, hah?! Kau hanya dapat kematian dan kehancuran atas semua tindakanmu itu!" Isak Kiran. "Meskipun kau sudah jahat pada kami semua, tapi kau tetap paman kandungku yang sudah membantu ibu membesarkanku sedari kecil! Aku juga akan bersedih saat kepergianmu ini!"


Ibu Rhea hanya berdiri dengan tatapan kosong, saat paman Dendi menggerakan tangannya meraih kakinya baru ia menunduk melihat paman Dendi.


"Kau sudah merenggut seluruh kebahagiaanku, kak. Suami, ibu, ayah, anak-anakku ikut kau hancurkan. Srkarang terimalah ini sebagai hukumanmu!" Ibu Rhea mengangkat pistolnya, lalu menurunkannya ke arah dada paman Dendi.


"De... Dengar du... dulu, Rhe... Rhea... A... Andra... Ma... masih... hidup." Napas paman Dendi terengah-engah, ibu Rhea menatapnya tajam lalu dengan satu gerakan, ia menembakan pistol itu ke dada paman Dendi.


Dor...


Paman Dendi akhirnya menghembuskan napas terakhirnya, ibu Rhea menjatuhkan pistolnya dan terduduk lemas.


Tangis mulai keluar dari bibirnya, ia merengkuh tubuh tak berdaya itu da menangisinya.


"Kenapa kau melakukan ini, kak?! Kenapa?! Andra tidak punya kesalahan apapun padamu! Kenapa dulu kau melenyapkannya?!" Lirihnya.

__ADS_1


Kiran menghampiri ibunya, dan memeluknya. Semua yang melihat itu ikut menangis, bukan karena rasa kasihan dan bersalah mereka pada paman Dendi melainkan menangisi hidup ibu Rhea yang sudah sangat banyak mengalami penderitaan sedari pernikahannya bersama Kallandra Putra Farella, ayahnya Kiran.


"Rhea." Seseorang menepuk bahu ibu Rhea, seorang pria yang memiliki wajah yang mirip dengan Kiran.


Ibu Rhea menoleh, begitu juga Kiran.


"Ayah!" Kiran tak percaya dengan sosok yang berdiri dihadapannya itu jika Andra tidak segera memeluk keduanya.


"Kau kemana saja, hah?! Ku pikir kau sudah tiada selama ini!" Teriak ibu Rhea sambil menangis.


"Ayah bersamaku, bu." Rafa dari kejauhan menjawab.


"Rafa? Ayah bersamamu? Apa maksudnya, aku tidak mengerti?!" Kiran menatap ayah Andra dan Rafa bergantian penuh heran.


"Rafa adalah anak dari ayahmu, dia kakak tirimu." Sid menjelaskan. "Ayahmu bersama Rafa selama ini, dia tidak tiada. Saat paman Dendi menghabisinya sebenarnya ayah tidak mati. Karena ayahku membawanya ke rumah sakit." Sambung Sid sambil membantu Kiran berdiri.


"Rhea, cukup sudah penderitaan kita. Mulai hari ini semua harus bahagia, tidak akan ada penderitaan lagi." Tegas ayah Andra.


"Sudah, ayo kita pulang. Meskipun Dendi adalah seorang penjahat, tapi kita harus memakamkannya dengan layak." Semua mengangguk setuju.


...----------------...


Prosesi pemakaman telah dimulai, semua hanya diam ketika paman Dendi dimakamkan.


Ibu Rhea terlihat sedih, begitu juga Kiran dan Mira. Mau seperti apapun paman Dendi, bagi ibu Rhea ia tetap kakaknya.


"Aisha, tidak peduli dia saudaraku atau bukan. Dia sudah berlaku jahat dan hampir mencelakakan kita semua, dia pantas mendapatkan hukuman. Ini adalah karma dari kejahatannya. Aku yang seharusnya minta maaf atas nama kak Dendi dan keluargaku." Ucap ibu Rhea yang berhasil menghangatkan hati semua orang yang berada disana.


"Saling memaafkan adalah contoh kebaikan yang sangat besar, ibu memaafkan kami maka kami juga akan memaafkan ibu." Siddharth menengahi.


"Menantuku memang pintar dan bijak, aku bersyukur memiliki menantu seperti dirimu. Dan aku bersyukur putriku dimiliki oleh laki-laki yang tepat, yang membuatnya mejadi ratu di rumahnya bukan pembantu." Puji ibu Rhea.


"Jika seorang wanita menikah dengan laki-laki yang tepat maka ia akan jadi ratu di rumahnya, sebaliknya jika seorang wanita menikah dengan laki-laki yang salah maka ia akan menjadi pembantu dirumahnya." Ayah Deva menimpali.


"Kau benar, Deva. Aisha menikahi laki-lai yang sangat salah, sehingga tubuhnya kurus kering begini karena Aisha seperti pembantu dirumahmu!" Ejek ibu Rhea.


Sontak ayah Deva memberikan tatapan tajam, yang lainnya hanya tertawa melihat ayah Deva selalu menjadi bahan ejekan ibu Rhea.


"Sudah, sudah! Ayo pulang, ini sudah hampir malam." Ujar Kiran sambil menyengir kuda.


Akhirnya forum di tengah-tengah tempat pemakaman itu dibubarkan. Mereka bergegas menuju mansion ayah Deva karena ayah Deva yang menyuruh semua orang menginap saja di mansion.


Sampai di mansion semua berkumpul di ruang keluarga yang besar tersebut. Bukan karena ingin berbincang-bincang, melainkan untuk mengobati luka semua orang. Kecuali bibi Resha yang tengah di rawat di rumah sakit akibat luka tusukan yang cukup parah.


Ibu Aisha sedang mengganti perban ayah Deva, di kesempatan tersebut ayah Deva selalu menggoda wanita yang sudah menginjak usia tua tersebut.

__ADS_1


"Pelan-pelan, ini rasanya tidak sakit." Ibu Aisha langsung mendelik tajam.


"Kau bilang tidak sakit, kan?" Ayah Deva mengangguk, ibu Aisha membuka perbannya dengan gerakan kencang. Ayah Deva mulai merasa tegang, lalu mengaduh kesakitan.


"Sakit, Aisha!" Ringis ayah Deva.


"Tadi kau bilang tidak sakit?!" Ketus ibu Aisha.


Kiran dan Sid yang berada di sebelahnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah antar pasangan tua itu yang sepertinya suka sekali berdebat.


"Sudah tua, masih suka berdebat dan mencari perhatian." Gerutu Sid. Kiran yang sedang mengobati luka di tangan Sid mengangguk setuju.


"Apa mereka selalu berdebat seperti itu?" Kiran bertanya, namun tangan dan matanya fokus pada perban yang sedang dipakaikannya pada Sid.


"Hmm.." Sid berdeham. "Kau tahu, dulu mereka selalu berdebat tentang hal-hal sepele. Mereka berdebat seharian jika ayah berada di rumah sampai telinga kami panas mendengar perdebatan mereka seharian." Kiran melongo, ternyata mertuanya adalah pasangan yang unik.


"Kalian membicarakan kami, ya?" Ayah Deva agak berteriak.


"Apa? Tidak, Ayah terlalu percaya diri!" Cibir Sid yang membuat semua terkikik.


"Ayo, Kiran! Lebih baik kita ke kamar saja." Sid berdiri, Kiran langsung membantunya. Mereka berjalan menuju kamar.


"Pergilah, kau pasti ingin menengok bayi kembar kalian bukan?" Sid menoleh, dan menatap tajam ayahnya.


Ayah Andra dan ibu Rhea hanya mampu tersenyum geli. Ayah Andra kemudian mendekati ibu Rhea dan menyandarkan kepalanya di bahu ibu Rhea.


"Aku merindukanmu, apa kau tidak merindukanku?" Bisik ayah Andra.


Mira dan Lakshmi saling menatap kesal.


"Semua orang bermesraan, kita bagaimana?" Tanya Lakshmi dengan bibir mengerucut.


"Kau benar, tidak tua tidak muda semua bermesraan! Ayo, lebih baik kita ke kamar saja! Kita harus membuat ulah untuk membuat mereka tidak bisa bermesraan!" Usul Mira.


Merekapun memasuki kamar, tak lama keluar dengan tawa cekikikannya.


**The end...


-


-


-


-

__ADS_1


Tapi bohong 😋**


__ADS_2