
Sid terbangun dengan kepala yang terasa sakit, lalu seluruh pandangan matanya terasa gelap. Bukan karena pusing, akan tetapi ruangan dimana saat ini dirinya berada memang sangat gelap.
"Dimana ini?" Gumamnya sambil bangun dan berusaha mencari tahu dirinya ada dimana.
Samar-sama Sid mendengar ada sebuah suara, yang mungkin suara seorang wanita yang sedang menangis.
Suara itu semakin dekat, seperti sedang dibawa kehadapannya. Tiba-tiba lampu dihidupkan.
Bruk
Seseorang didorong hingga tersungkur dihadapan Sid. Sid mengenali orang itu yang ternyata adalah wanita yang tak lain istrinya sendiri.
"Kiran!" Serunya sambil membangunkan Kiran yang sudah diikat oleh rantai juga mulutnya ditutup sebuah kain.
Kiran menatap Sid dengan mata yang sudah memerah akibat menangis menahan sakit disekujur tubuhnya yang memerah juga akibat rantai yang melilit tubuhnya.
"Ya, dia istrimu tersayang!" Rian muncul dengan membawa sebuah berkas dengan map berwarna biru.
"Lepaskan dia!" Teriak Sid sambil menunjuk Kiran.
"Aku akan melepaskannya, tapi tidak semudah itu. Tanda tangani ini dulu." Sambil melemparkan berkas itu kehadapan Sid.
Sid mengambil berkas itu, ternyata berkas itu adalah surat pengalihan properti saham perusahaan terbesar milik Sid.
Kali ini kebimbangan melanda Sid, ia bingung harus apa dan bagaimana.
"Jika kau tidak ingin menandatangani ini, maka kalian berdua tidak akan selamat. Lihat itu!" Sambil menunjuk ujung ruangan yang terdapat pipa air. "Airnya akan mengalir dan menenggelamkan kalian!"
Sid bertambah bingung. Lalu melirik Kiran, salah seorang anak buah Rian membuka penutup mulut Kiran.
"Sid, jangan biarkan itu jatuh ketangannya. Jika kita harus mati, maka kita akan mati bersama disini!" Ucap Kiran dengan suara lemah.
Sid memikirkan kata-kata Kiran, lalu melihat lagi berkas ditangannya. Beberapa kali Sid mengusap berkas itu, kemudian mengambil pulpen yang sudah terselip didalam mapnya dan menandatanganinya.
"Sid! Apa yang kau lakukan? Ayah pasti akan sangat kecewa!" Protes Kiran. Sid melirik Kiran, kemudian meletakan jari telunjuknya di bibir Kiran.
"Ayah akan lebih kecewa jika aku tidak bisa membawamu kembali dengan selamat."
Sid kemudian melihat Rian. Rian merogoh saku celananya dan memberikan kunci gembok yang terletak pada rantai yang melilit tubuh Kiran.
Setelah itu, Sid membawa Kiran pergi keluar. Diluar Sid tersenyum sinis pada Kiran.
"Apa? Kau puas? Sekarang kita jatuh miskin!" Ketus Kiran yang langsung membuat Sid terkekeh.
__ADS_1
"Kau akan pergi jika aku jatuh miskin? Tapi aku tidak akan miskin hanya dengan menandatangani itu." Ucap Sid dengan menurunkan Kiran dari gendongannya.
Sid menutup pintu bawah tanah dan menguncinya, kemudian memutar sebuah keran yang dipastikan akan langsung mengalir deras didalam ruang bawah tanah.
Setelah itu, ia tersenyum puas.
"Apa kau...?"
"Tidak semudah itu menipu seorang Siddharth, mereka tidak pandai dalam membuat taruhan dan juga berkas itu."
"Maksudnya?" Kiran bertanya sambil mengerutkan dahinya.
"Berkas itu palsu, mungkin Rian mengambilnya dari salah satu karyawan kantorku. Dan keran ini, sebelum aku masuk dibawa oleh anak buah Rian dalam keadaan pingsan aku sudah melihatnya dan mengetahui bahwa keran ini yang akan membuat air mengalir kedalamnya." Jelas Sid.
Kiran menganggukan kepalanya, ia bangga dengan Sid yang dianugerahi otak cerdik yang bisa memastikan sesuatu dalam keadaan bahaya dan terdesak.
"Sekarang kita pulang? Ayah dan bunda sudah menunggu di apartemen." Kiran mengangguk. Sid menggendong lagi Kiran menuju ke mobil.
Didalam perjalanan, Kiran menutup matanya mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Sejak Rian membawanya ke Selandia Baru, tubuhnya merasa tersiksa akibat lilitan rantai besar yang dipakaikan Rian padanya.
"Kau kenapa?" Tanya Sid menyadari istrinya tampak kesakitan dan lemah.
Kiran membuka matanya kembali, menjawab pertanyaan Sid dengan gelengan kepala.
"Sudah makan?" Kiran menggeleng lagi.
Sid menoleh, membalas senyuman Kiran.
"Kita makan dulu?" Kiran menggeleng lagi.
"Aku ingin makan dirumah saja."
Sesampainya di apartemen, ayah Deva dan Ibu Aisha ternyata belum pulang. Sid tidak merasa cemas, karena mungkin keduanya masih mencari keberadaan Kiran.
Iapun menelepon ayah Deva, lalu menghela napas lega karena keduanya sedang dalam perjalanan pulang.
...****************...
Berhari-hari berada di Selandia Baru, membuat Kiran dan Sid tidak nyaman karena putra dan putri mereka tidak ada bersama mereka.
Hari ini mereka memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan melepas rindu pada ketiga anak mereka.
Benar saja, sampai dirumah dua Zoya sudah marah-marah saat Sid dan Kiran pulang bersama ayah Deva dan ibu Aisha.
__ADS_1
"Ayah jahat! Ibu, Baba, dan Nani juga!" Hardik Ira. "Berlibur sendiri, tidak mengajak kami!" Sambungnya.
"Bukan begitu sayang, kami tidak berlibur!" Kiran membujuk Ira. Sedangkan Kal dia sudah bersama ayahnya didalam kamar.
Semakin bertambah usia membuat Kal semakin bijak, akan tetapi berbeda dengan dua Zoya yang semakin besar semakin seperti anak kecil dan semakin sering usil pada ayah dan ibunya.
Tapi, hal tersebut jadi hal yang paling membuat keluarga tersebut semakin tak ingin terpisah jauh barang seharipun.
...****************...
Pagi-pagi sekali, telepon rumah sudah berdering kencang. Bukan hanya membuat kesal, akan tetapi saat telepon rumah diangkat, seluruh penghuni rumah dibuat kalang kabut. Kecuali Kiran, Kal, Ira dan Ima.
Keempat pendatang yang telah lama dirumah itu kebingungan melihat ketiga orang utama di rumahnya seperti diserang ribuan belalang.
"Bagaimana ini? Dia akan datang!" Seru ibu Aisha dengan wajah panik. Ayah Deva tak berbeda dari istrinya tersebut, sama-sama panik dan berjalan kesana kemari entah apa penyebabnya.
"Ayah, begini saja!" Sid menimpali. "Aku akan pergi kerumahku sementara, bersama Kiran dan anak-anak bagaimana?" Usul Sid.
"Apa?! Itu hanya membuatmu lega sendiri! Lalu aku bagaimana? Si bodoh itu pasti akan membuat ibumu menjambakku setiap malam!" Umpat ayah Deva sambil menunjuk ibu Aisha.
"Sid, jika ada yang pindah itu harus ayah dan bunda! Kau tetap disini dengan Kiran dan anak-anak!" Tegas ibu Aisha. "Si penggoda itu, dia pasti akan terus menggoda ayahmu!" Sambungnya.
Kiran semakin tak mengerti, keempatnya diam saja memperhatikan.
"Tidak! Anak centil itu pasti akan mengganggu ketenanganku, jika aku yang berada disini!" Protes Sid.
Beberapa jam perdebatan, ketiganya tak sadar bel rumah berbunyi. Kiran yang mendengar segera membukanya dengan cepat karena bel terus berbunyi.
Saat membuka pintu, dua wanita sudah berdiri dengan penampilan yang membuat Kiran terkejut.
"Hallo, kami datang kesini untuk berlibur di kediaman ini! Seperti lima belas tahun yang lalu!" Ucap dua wanita berpenampilan menor itu, membuat mata siapapun yang memandangnya sakit.
Tanpa dipersilahkan masuk, dua wanita itu menerobos masuk kedalam rumah. Menghampiri Sid dan ayah Deva.
Tanpa permisi, yang lebih tua memeluk ayah Deva dan menciuminya. Yang lebih mudapun sama, menciumi Siddharth dengan sangat banyak.
Tak disadari juga, ada yang tertinggal diluar rumah. Seorang wanita yang sangat anggun dan menawan. berbeda dengan dua wanita yang sudah lebih dulu masuk.
Sid terus meronta, berusaha melepaskan diri dan setelah lepas menghampiri Kiran serta memeluknya.
"Jangan mendekat! Istriku sangat kejam, dia bisa memisahkan kepala dari leher kalian!" Ancam Sid sambil mengeratkan pelukannya pada Kiran.
Dua wanita itu terkejut, merasa takut pada Kiran.
__ADS_1
"Hmm..." Wanita masih berada diluar berdeham.
Seluruh orang menoleh, terkejut melihat sosok itu. Kecuali dua wanita tadi yang tampak tersenyum biasa saja.