
Sid mengangkat salah satu kakinya, kemudian menarik kedua telinganya dengan kedua tangannya.
Kiran tersenyum melihat itu, namun Sid menunjukan raut wajah kesalnya. Ingin melawan, tapi Sid tahu diri dengan posisinya sekarang.
"Sebenarnya apa salahku? Kenapa aku dihukum begini?" Sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang berkali-kali terhuyung hampir terjatuh.
Kiran tidak menjawab, ia malah mendudukan dirinya lagi diatas kursi kebanggan Sid.
"Kau lupa ya?" Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Kemudian menunjukan sebuah kertas pernyataan.
Sid menurunkan kaki dan tangannya, kemudian mendekati Kiran agar bisa membaca surat yang ditunjukan Kiran.
"Eits, siapa yang menyuruhmu menurunkan kakimu? Angkat kembali!" Dengan cepat melakukan hal yang tadi dilakukannya.
Kiran tersenyum puas, kemudian menunjukan apa yang tertulis dalam surat itu.
"Jadi?"
"Aku yang akan mengambil alih perusahaan ini! Dan kau!" Menunjuk dada Sid dengan jari telunjuknya.
"Kau akan kuberikan posisi sebagai asisten pribadiku!" Tegasnya sambil membuka pintu dan berlalu entah kemana.
Sid menghela napas lega, menurunkan kakinya lagi dan melepaskan tangannya dari telinganya.
"Aku tidak menyuruhmu menurunkan kakimu! Angkat kembali!" Berteriak, sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
__ADS_1
Sid memejamkan matanya, kemudian menghela napas kasar dan untuk ketiga kalinya mengangkat kakinya ke atas dan menarik kedua telinganya.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk, lalu munculah seseorang yang dari dulu selalu Sid hindari. Ikhsan.
"Pak, apa yang sedang anda lakukan?" Ikhsan terlihat menahan tawanya.
Sid menatapnya geram, ia tak habis pikir kenapa makhluk astral ini bisa ia pertahankan di perusahaan. Akibatnya, hari ini Sid harus menanggung malu dengan posisinya di depan rival abadinya itu.
"Aku sedang berolahraga! Apa yang kau lakukan disini? Jika tidak ada hal penting pergilah cepat!" Dengan nada ketus.
"Bu Kiran menyuruhku meletakan ini di mejanya." Menunjukan sebuah dokumen, kemudian meletakannya diatas meja kerja Kiran.
Ikhsan dengan sengaja melihat Sid dengan cukup lama, membuat Sid semakin kesal.
Tanpa di sengaja, pintu ditutup Ikhsan dengan sangat keras membuat Sid kehilangan keseimbangan karena terkejut.
Bruk
Tubuhnya jatuh hingga bibir Sid mencium lantai. Tepat saat itu, Kiran datang dan melihat langsung apa yang terjadi.
Sid meringis kesakitan, membuat Kiran membelalakan matanya terkejut dan tak percaya.
"Kau sangat miskin sekali, ya? Sampai harga dirimu hilang! Lantai kau cium!" Kiran berucap dengan nada mengejek.
__ADS_1
Menyadari Kiran yang sudah ada di sana, Sid langsyng berdiri kembali.
"Duduk!" Kiran menunjuk kursi di depan mejanya. Sid dengan cepat duduk disana karena merasa kakinya pegal dan pinggangnya sakit.
Sid menatap wajah Kiran, ia ingin sekali membelai wajah Kiran dengan lembut. Namun mengingat sikap Kiran yang menjadi galak, Sid bergidik ngeri.
Apa di rumah dia akan seperti ini padaku?
Memalukan!
Apa aku harus tunduk padanya
di depan anak-anak?
...****************...
Sepanjang perjalanan pulang Sid kembali dibuat risih, dikala ia harus berganti profesi sebagai supir Kiran.
Sebenarnya Kiran tidak memperlakukannya sebagai sopir, hanya saja Kiran ingin sedikit tegas.
Kali ini Kiran meletakan Sid sebagai sopir, dengan posisinya duduk di bangku belakang. Tepat sekali seperti seorang sopir dan majikan.
"Bersikaplah biasa saja di rumah!" Ucap Kiran datar. Membuat Sid menoleh padanya sekilas.
"Baik, nyonya." Dengan nada kesal.
__ADS_1
"Kau!"
Bersambung...