
Kiran mengambil pistol yang berada di tangan paman Aryan, lalu dengan cepat menembak-nembakannya pada anak buah paman Dendi yang sudah mengepung rumah kakek Lucas.
Dengan hebatnya, tembakan itu tepat sasaran mengenai bagian-bagian tubuh anak buah paman Dendi.
Sid menoleh pada Kiran, begitu juga paman Aryan. Keduanyapun langsung mengikuti apa yang dilakukan Kiran, menembaki satu-persatu anak buah paman Dendi.
Hampir seluruh anak buah paman Dendi sudah tak berdaya, akibat tembakan dari ketiga pemberani tersebut. Terutama Kiran, yang dengan hebatnya terus melawan mereka.
"Ayo cepat! Kita harus segera mengikuti Dendi, sebelum dia mencelakakan mereka!" Ketiganya berlari menuju mobil, namun beberapa anak buah paman Densi datang menghadang mereka.
"Minggir! Aku tidak segan menembak kalian!" Kiran kembali mengangkat senjatanya, melawan para penjahat tersebut.
Karena tak kunjung bergerak untuk pergi, Kiran mengangkat senjatanya dan kali ini sasarannya adalah kepala.
Dor...
Tembakan berhasil mendarat di kepala anak buah paman Dendi. Sid dan paman Aryan juga menembaki yang lainnya hingga tak ada satu anak buah paman Dendi yang tersisa lagi.
Setelah itu, ketiganya masuk ke dalam mobil untuk segera menyusul ke pulau terpencil tempat yang mungkin sudah dicapai oleh kakek Lucas yang membawa Kal.
"Helikopter, Sid!" Kiran menunjuk helikopter yang terparkir di halaman rumah kakek Lucas.
"Kau benar! Sid, kita harus naik helikopter agar bisa mencapai pulau itu sebelum paman Dendi lebih dulu mencapai mereka!" Ketiganya turun kembali dari mobil, lalu bergegas menaiki helikopter.
Ternyata mereka terlambat, karena paman Dendi sudah sampai di pulau terpencil tersebut dengan nenek Anjum, kakek Narja, serta keluarga Sid sudah menjadi tawanannya. Bahkan Kal sudah berada di gendongan paman Dendi.
"Kal!" Teriak Kiran dengan wajah panik dan khawatir.
"Hallo, kalian terlambat!" Sapa paman Dendi dengan senyum penuh kemenangan.
"Kau tidak akan menang meskipun membuat mereka menjadi tawananmu!" Paman Aryan bersuara, lalu melangkah mendekati paman Dendi.
Paman Aryan mengambil sebuah balok besar, lalu mencoba memukulkannya pada paman Dendi. Pukulan berhasil, anak buah paman Dendi segera memberikan perlawanan. Kiran dan Sid ikut maju, mencoba melawan gerombolan yang tinggal sedikit itu.
"Ayo, Sid!" Seru Kiran.
Saling tembak menembak terjadi, membuat keadaan pulau terpencil itu dipenuhi darah. Selama lima belas menit akhirnya ketiganya dapat melumpuhkan seluruh anak buah paman Dendi.
Kal sudah berhasil diambil oleh paman Aryan, terlihat paman Dendi sudah tergeletak di pasir pantai dalam keadaan dipenuhi luka.
Namun itu tak berlangsung lama, saat paman Dendi meraih balok yang tadi dipakai oleh paman Aryan untuk menyerangnya dan memukulkannya pada paman Aryan.
"Paman!" Sid berlari mendekati paman Aryan, untuk mengambil Kal namun terlambat karena paman Dendi berhasil mengambilnya terlebih dahulu.
Dor...
Sebuah tembakan mengenai kaki Sid, dan membuatnya terjatuh.
"Sid!" Kiran berlari meraih suaminya.
Kakek Lucas dan yang lainnya sudah sangat geram, sehingga berusaha memberontak dari tawanan anak buah paman Dendi.
__ADS_1
Mereka berhasil lepas, lalu saling berpegangan satu sama lain untuk melawan anak buah yang tersisa.
"Sid! Tidak, kau tidak boleh begini! Kau harus kuat!"
"Ki... Kiran... Selamatkan Kal." Kiran mengangguk cepat, saat ini bukan waktunya berdebat. Ia harus menyelamatkan anaknya serta keluarganya dari musuh yang merupakan paman kandungnya sendiri.
"Terima ini, pamaaaannn!" Kiran berlari mengejar paman Dendi, lalu mengambil pistol dan menembak punggungnya.
Bibi Resha berlari meraih Kal yang sudah hampir jatuh, lalu mengeluarkan pisau dari dalam sakunya dan menusukkan pisau itu ke perut paman Dendi.
Namun, paman Dendi masih belum sepenuhnya lemah. Ia mengambil alih pisau itu dan menusukannya pada bibi Resha.
"Kiraaannn!" Bibi Resha langsung terjatuh, dengan Kal yang dipeluknya. Paman Dendi dengan sisa kekuatannya mencoba merebut Kal, berhasil ia langsung membawanya menuju ke sebuah tebing.
Kiran berlari sekuat tenaga, dan mengejarnya.
"Berhenti!" Ucap paman Dendi ketika sudah berada di atas tebing. "Atau aku akan melemparnya dari sini!"
Langkah Kiran terhenti, ia cukup takut jika pamannya akan benar-benar melemparkan Kal dari atas tebing. Kal menangis, tangannya meronta-ronta ingin diambil oleh ibunya.
"Paman, aku mohon berikan dia padaku! Kenapa kau membuatnya menjadi alat atas keserakahanmu?" Kiran terisak.
"Letakan senjatamu!" Perintahnya tak menghiraukan ucapan Kiran.
"Paman aku mohon, jangan lakukan ini! Berhentilah melakukan hal seperti ini, kami adalah keluargamu. Biarkan keluarga kita damai, biarkan ibu Aisha dan ayah Deva bahagia." Kiran meletakan pistolnya dan memohon pada paman Dendi.
"Tidak! Berikan Aisha, atau aku akan melemparnya dari sini!" Sambil melayang-layangkan Kal yang tak berhenti menangis.
"Jangan mendekat! Sebelum Aisha berada di tanganku aku tidak akan melepaskannya!" Tegasnya sambil menyeringai.
"Aku disini, kenapa kau berteriak-teriak? Berikan Kal padanya!" Sahut ibu Aisha yang baru datang dari arah belakang Kiran.
"Wow, ternyata kau datang juga untuk menyerah ya?" Sinis paman Dendi.
"Aisha jangan lakukan ini!" Ayah Deva dengan kondisini yang masih lemah juga berada disana bersama Sid.
"Bunda, jangan!" Ibu Aisha menggeleng.
"Biarkan aku menyelamatkan cucuku dan keluargaku."
"Tidak, bu! Ibu ingin kami selamat dan bahagia, tapi ibu sendiri akan masuk ke dalam neraka dan menderita?" Kiran menahan ibu Aisha yang akan melangkah mendekati paman Dendi.
"Kalian mencegahnya, jika begitu anak ini akan menjadi korban kalian sendiri!" Sambil tertawa sinis dan jahat.
"Tidak, berikan dia padaku." Ucap ibu Aisha dengan suara bergetar. "Aku akan ikut denganmu." Sambungnya sambil melirik ayah Deva.
Ayah Deva menggeleng, mencoba mencegah ibu Aisha. Kemudian ayah Deva berjalan mendekati ibu Aisha.
"Kenapa? Kenapa tidak membunuhku saja? Lenyapkan aku saja, aku tidak bisa jika melihat kau pergi bersama pria lain." Isaknya sambil duduk di atas batu dan memeluk kaki ibu Aisha.
"Aku tidak bisa melihat keluargaku hancur, biarkan aku yang hancur." Ayah Deva semakin mengeratkan pegangannya, takut jika wanita yang baru kembali itu akan pergi lagi dengan pria lain.
__ADS_1
"Tidak, kenapa harus dirimu? Kau sudah banyak menderita, ini semua karena aku. Karena jati diriku yang adalah seorang mafia keluarga kita terus mendapatkan masalah, seharusnya aku lenyap saja dari dunia ini daripada harus melihat kalian hancur seperti ini." Mata Kiran membelalak, mendengar penuturan ayah Deva.
Mafia? Jadi ayah Deva adalah seorang mafia?
"Itu dulu, Deva. Kau jadi seorang mafia karena diriku, karena perginya aku. Kau sudah banyak berkorban untukku, hari ini aku akan berkorban demi kalian semua." Ibu Aisha melepaskan pelukan ayah Deva di kakinya, lalu melangkah mendekati paman Dendi.
"Lihat, Deva? Kau lihat ini?! Dia datang sendiri padaku, deritaku melihat Aishaku bersamamu sekarang akan berpindah padamu yang akan menderita melihat Aishamu ini bersamaku." Ibu Aisha tak berucap sedikitpun, ayah Deva tak mampu berkata-kata lagi.
Kiran dan Sid terdiam, mereka sudah tak tau harus berkata apalagi. Bukan tak ingin membawa polisi dalam hal ini, tapi jika polisi tahu mungkin saja bukan hanya paman Dendi yang ditangkap tapi seluruh keluarga mereka juga akan tertangkap.
Sid tahu, bahwa keluarganya adalah sekumpulan mantan mafia. Terutama ayah Deva dan kakek Lucas.
Ibu Aisha meminta Kal dari gendongan paman Dendi. Paman Dendi memberikannya pada ibu Aisha, lalu menyerahkannya pada Kiran.
Sebelum kembali pada paman Dendi ibu Aisha menghampiri lagi ayah Deva.
"Deva, keep smile. Me always love you. Meskipun aku tak lagi disampingmu tapi cinta dan hatiku tetap milikmu." Ibu Aisha meraih dagu ayah Deva, menegakkan posisi wajahnya dan membuat tatapan mata mereka saling beradu. "Jika Tuhan menghendaki maka aku akan kembali padamu dengan caranya sendiri."
Ibu Aisha membingkai wajah ayah Deva, membelainya lembut. Ayah Deva memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang begitu dirindukannya.
Satu kecupan ibu Aisha berikan pada kening laki-laki yang sudah hampir tiga puluh tahun lebih ini menjadi pemilik hatinya.
Lalu berdiri, dan beralih pada Sid.
"Bunda, jangan lakukan ini." Ibu Aisha menggeleng, lalu memeluk Sid.
"Ibu tidak bisa mempertaruhkan keturunan keluarga kita." Beralih lagi ke arah lain, dua gadis yang baru datang bersama sepasang suami istri dan seorang wanita yang seumuran dengannya.
"Lakshmi." Ucap ibu Aisha pada salah satu gadis yang ternyata adalah putrinya sendiri.
"Ibu mau kemana? Kenapa? Kenapa ibu akan pergi lagi? Baru saja aku senang karena akan mendapat kasih sayang seorang ibu, tapi kenapa ibu akan pergi lagi?" Lakshmi terisak.
"Maaf, tapi ibu akan selalu ada disini." Menunjuk dada Lakshmi. "Di hatimu."
Ibu Aisha beralih lagi pada sahabatnya, ibu Rhea.
"Maaf." Lirih ibu Rhea dengan suara lemahnya.
"Sahabatku, kau tidak bersalah dalam hal ini." Keduanya saling berpelukan.
Setelah itu, ibu Aisha melambaikan tangan pada nenek Alya ibunya sendiri dan pada kakek Lucas ayahnya.
Lalu berjalan mendekati paman Dendi yang berada di pinggir tebing. Ibu Aisha merangkul bahunya sambil tersenyum, rangkulan itu berubah jadi cengkeraman yang membuat paman Dendi kesakitan.
Senyuman jahat ibu Aisha berikan pada pria jahat dihadapannya itu.
Dan...
Bersambung...
Apa yang akan dilakukan ibu Aisha???....
__ADS_1