Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ke-18 (Season 2)


__ADS_3

Kehancuran hati Sid berbuah manis, meski kedua pasangannya dimasa lalu mengkhianatinya dengan laki-laki lain. Tapi, kali ini Sid sangat bahagia dan bersyukur karena telah diberkati dengan istri seperti Kiran.


"Maaf, sekali lagi tolong maafkan aku. Aku pikir...-"


"Sudah cukup," potong Sid sambil membingkai wajah Kiran dengan kedua telapak tangannya.


"Sudah ada kau yang melengkapi hidupku dan juga hatiku. Sudah ada tiga orang anak juga dari cinta kita, jangan ada masa lalu yang disembunyikan lagi setelah ini." Ucap Sid sambil memeluk Kiran.


Entah mengapa, ucapan Sid justru menjadi awal sebuah kecurigaan untuk dirinya sendiri.


Mengapa dia mengatakan jangan ada masa lalu lagi, apakah... Masih ada yang disembunyikannya?


"Kenapa?" Sid melambai-lambaikan telapak tangannya didepan wajah Kiran.


Kiran menggeleng cepat, "Tidak ada!" Sambil melingkarkan tangannya ke leher Sid dan menatapnya sambil tersenyum.


Setelah selesai bercerita mungkin Sid lelah, sedikit sedih juga bila mengingat masa lalunya yang penuh kesedihan.


Sid melirik Kiran yang sudah kembali merebahkan diri disampingnya. Rasa gelisah mulai menguasai hatinya.


Bibirnya masih ingin menceritakan satu rahasia lagi di masa lalunya yang entah kini masih menjadi bukti kenangan atau tidak.


"Kiran," Sid menggeleng cepat dan berucap lagi.


"Rana!" Kiran melirik Sid dengan pandangan kesal. Sid menyengir kuda dan segera membelai wajah Kiran dengan tangannya.


"Rana itu siapa?" Ketus Kiran dengan pertanyaannya.


"Kau, itu panggilan baru untukmu!"


Plak


Kiran memukul paha Sid sekeras mungkin membuat Sid meringis kesakitan.


"Sakit, Rana!" Pekik Sid sambil mengelus pahanya yang dipukul Kiran.


"Lagipula dari siapa terinspirasi nama panggilan seperti itu, hmm?!" Cibir Kiran sambil mencubiti perut Sid yang sejak menikah dengannya menjadi sedikit berisi namun masih terlihat gagah di usianya yang sudah akan menginjak usia empat puluh lima tahun itu.


Sid menegakkan duduknya dan menatap langit-langit kamarnya.


"Boleh aku bercerita sedikit lagi?" Kiran mengangguk dan bersiap mendengar cerita suaminya itu.


"Dulu aku sempat ingin memberi nama Rana jika kita punya anak perempuan, hasilnya kita punya anak perempuan tapi kembar, jadi aku bingung untuk memberi mereka nama."


Kiran menegakkan duduknya dan berganti posisi di hadapan suaminya.


"Rana dan Rani bukannya bisa?" Sid mengangguk.


"Lalu kenapa tidak diberi nama itu saja?" Sid menggeleng cepat.


Kiran mengerutkan dahinya kebingungan.


"Aku tidak ingin nama yang sudah pernah aku berikan pada anak lain." Ucap Sid.


Kiran mengerutkan dahinya, kebingungan dan penasaran dengan ucapan Sid.

__ADS_1


"Anak lain? Memangnya anak siapa?" Tanya Kiran. Sid tertegun, terkejut dengan ucapannya dan merasa jantungnya kini berpacu lebih cepat.


"Tidak, maksudku.. Aku tidak ingin nama yang sering digunakan anak lain!" Jawab Sid sambil menyengir kuda.


Kiran mengangguki Sid. Lalu Sid meraba dadanya dan mengusapnya agar jantungnya tak terlalu berdegup kencang lagi.


"Aku pikir kau punya anak lain dari wanita diluar sana." Ucap Kiran yang membuat Sid membelalakan matanya seketika.


"Apa?!" Sentak Sid yang membuat Kiran langsung terlonjat kaget. "Apa kau menuduhku berselingkuh?!" Sid membentak Kiran lagi.


Kiran menatap Sid dengan tatapan terkejut, baru kali ini Sid membentaknya dan meneriakinya seperti itu.


"Sid, aku hanya bercanda kenapa kau membentakku?" Kiran menatap Sid masih dengan tatapan bingung.


Sid mengatur napasnya, mencoba meredakan emosinya.


"Ya Tuhan, maaf sayang, maafkan aku. Aku pikir kau..." Sid meraih kepala Kiran dan mengecup puncak kepalanya lembut.


"Maaf, maafkan aku." Ucap Sid lagi sambil memeluk Kiran.


Sid sangat terkejut, satu kata saja yang barusan diucapkan Kiran membuatnya hampir terkena masalah lagi dan akan membuat Kiran sangat marah lagi padanya.


Ya Tuhan, ampunilah aku yang masih belum jujur dalam segala hal. Tolong, beri aku keberanian untuk mengatakan satu hal itu padanya.


Kiran masih merasa kesal dengan bentakan Sid, hingga ia tidur dengan membelakangi Sid dan tidak mengucapkan selamat malam padanya.


Sid yang mengerti bahwa Kiran masih kesal atas sikapnya tadi mencoba membujuk Kiran dengan memeluknya dari belakang.


Meski kesal, jujur saja Kiran tidak suka jika Sid tidur jauh darinya. Saat Sid memeluknya Kiran tersenyum senang dan mengelus tangan Sid yang melingkar di perutnya.


Kiran membalikan tubuhnya menghadapa Sid dan membalas pelukan Sid.


...****************...


Pagi hari di hari libur, keluarga Sid merasa senang saat Sanya sudah bersiap untuk meninggalkan rumah mereka.


Namun, sejak tadi menunggu Sanya turun yang pastinya akan berpamitan untuk pergi, Sanya tak kunjung turun.


Sid dan yang lainnya kebingungan.


Sementara di luar rumah terdengar suara ketukan pintu dan suara teriakan gadis remaja.


"Permisi!"


Kiran menoleh pada Sid, lalu bergegas membukakan pintu. Sebelum pintu dibuka terdengar sebuah cekcok antara suara wanita dewasa dan suara gadis perempuan remaja.


Kiran akhirnya membukakan pintunya karena penasaran. Setelah pintu terbuka Kiran terkejut saat melihat Sanya bersama seorang gadis remaja yang wajahnya seperti putri kembarnya.


Sempat Kiran pikir, bahwa salah satu dari si kembar yang dibawa Sanya.


"Kiran, ini putriku. Rana." Sanya memperkenalkan putrinya. Pada saat mendengar nama putrinya, Kiran sangat terkejut.


Lalu Kiran melirik Sid yang tampak wajahnya memucat dengan pandangan pada gadis itu.


"Rana, ini bibi Kiran dan itu... Paman Sid."

__ADS_1


Ayah Deva dan ibu Aisha sama terkejutnya melihat wajah gadis itu yang sepertinya berusia tidak jauh dari Siran.


"Rana ini..."


"Dia putriku dengan... suamiku." Potong Sanya cepat.


Kiran masih terus melirik Sid dan memperhatikan air mukanya yang sedikit berubah saat melihat Rana.


"Sid, bisa kita bicara sebentar?" Ajak Kiran sambil meraih tangan Sid dan menariknya menuju ke kamar.


Ibu Aisha memperhatikan keduanya dan menatap mereka cemas. Begitu juga dengan ayah Deva. Sementara Sanya dan Rana masih kebingungan ada apa dengan Sid dan Kiran.


"Semoga tidak ada masalah lagi antara mereka, sudah cukup untuk kemarin." Kata ibu Aisha sambil meraih tangan ayah Deva.


Di kamar Kiran sudah menangis terisak dihadapan Sid.


"Apa yang akan kau jelaskan sekarang?" Tanya Kiran sambil menunjuk Sid.


"Katakan, Sid! Apa dia putrimu juga?" Sid menggeleng lalu merengkuh kedua bahu Kiran.


"Bukan," jawab Sid sambil membingkai wajah Kiran yang tentu saja Kiran memberontak ingin melepaskannya.


"Bukan anak orang lain?" Tanya Kiran lagi dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata.


Sid menggeleng, lalu mencoba meraih Kiran lagi yang sudah terlepas dari genggamannya.


"Kiran, coba dengar dulu!" Sid menahan tangan Kiran yang memberontak.


"Apalagi? Wajah, nama, bahkan sikap yang mirip apa itu tidak dapat membuktikan dia anak siapa?" Kiran terus menyerang Sid dengan berbagai pertanyaan dan dugaan.


"Kiran, dulu aku dan dia memang melakukan..."


"Cukup! Kalian pernah melakukannya, bukan tidak mungkin jika dia anak hasil hubungan kalian!" Tuduh Kiran.


Kiran menjatuhkan dirinya didepan pintu dan memeluk lututnya serta menundukan wajahnya. Tangisnya pecah dengan air mata yang tak terkira.


Sid berjongkok dihadapan Kiran dan meraih Kiran lagi lalu memeluknya.


"Lepaskan!" Teriak Kiran sambil mendorong Sid hingga terjungkal.


"Kiran, aku mohon jangan berpikir begitu, semua memang dulu terjadi tapi itu lama sekali, jauh setelah itu. Bahkan Sanya hamil setelah dia lama menikah dengan pria itu."


"Cukup Sid!" Kiran berteriak lagi.


Keduanya tak sadar di bagian pinti yang terbuka ayah Deva sudah mendengar segalanya.


"Siddharth, KAU MEMANG LAKI-LAKI YANG BODOH DAN TIDAK TAHU DIRI!!!"


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Bersambung...

__ADS_1


Gak ngerti deh, semoga kalian ngerti... 😁😁😁


__ADS_2