Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Dia milik ku


__ADS_3

🏖️🏖️🏖️🏖️🏖️🏖️🏖️🏖️🏖️🏖️


Sesampai di pantai Cahya dan Wati bermain pasir dan berfoto, lalu mereka bermain ombak,


"Wati"


Mereka serentak menoleh, di sanalah pacar Wati berada dan seorang cowok yang sangat familiar di hati Cahya, wajah orang yang dulu selalu jahil dan selalu mengganggunya.


Cahya tidak memperhatikan lebih lama, dia membenci orang itu, yang ada dipikiran nya, dia adalah orang jahat.


"Ayya, apa kabar?" tanya Wawan memulai obrolan


"Baik" menjawab sekenanya dan hanya menoleh sekilas, lalu melanjutkan main pasir dan ombak


"Ayya, ayo kita minum es kelapa dulu, aku haus" kata Wati


Cahya langsung beranjak menuju penjual es kelapa dan mencari tempat duduk, sambil menunggu Wati memesan


"Ayya, sekarang kamu kelas berapa?" tanya Wawan


"Dulu kan kita sekelas, ya pasti sekarang juga sama"


"Iya ya, aku lupa"

__ADS_1


Dia bilang lupa?,, begitu pikir Cahya, mungkin dia juga lupa kalau dulu dia sangat jahat padanya.


"Kamu lapar tidak? kita pesen makanan ya sekalian"


"Tidak usah makasih, aku belum lapar" jawab Cahya dengan nada dingin nya.


"Ayya, kamu kapan balik lagi ke Bandung, nanti aku antarkan ke stasiun ya"


"Tidak usah terimakasih, aku mau diantar bibi aku"


"Wati, ayo kita pulang" tiba-tiba Cahya sudah merasa males untuk di situ berlama-lama,


"Yang benar saja, kita baru main sebentar, aku juga baru bertemu pacar aku"


"Kayaknya kamu sengaja mengajak aku kesini biar kamu bisa pacaran ya?"


Tiba-tiba ada bunyi telfon masuk, Cahya me ngecek ponsel nya, ada panggilan dari nomer yang tidak dia kenal, karena males mengangkat akhirnya dia tolak panggilan itu, tiba-tiba masuk chat,


"Ayy angkat, ini aku Devan" bunyi chat itu


"Dari mana tahu nomer aku?"balas Cahya


"Tidak penting, sekarang angkat telfon nya"

__ADS_1


"Tidak mau"jawab Cahya lalu menyimpan kembali ponselnya.


Devan ternyata juga sudah sampai dari tadi di pantai itu, tapi dia tidak tau keberadaan Cahya ditempat seluas itu, dia sudah mulai frustrasi karena dia ingat kalau ada yang mau mendekati Cahya.


"Ayya, boleh minta nomer ponsel kamu?" kata Wawan kembali memulai obrolan.


" Tidak usah, tidak penting juga nomer aku"


"Kamu kenapa sih jutek banget ke aku?"


"Kamu pikir saja sendiri"


"Apa yang harus aku pikir lagi?" teriak Wawan kesal,


"Dari dulu aku menyukaimu, tapi kamu malah selalu ketakutan padaku, dan sekarang pun kamu seperti ini, harus bagaimana lagi aku memikirkan nya? selama ini aku hanya memikirkan kamu, aku selalu inget terus bagaimana kamu menangis saat aku mengganggu dengan menulis ejekan di papan tulis, apa kamu tau aku hanya mau perhatian mu!" Wawan menjelaskan panjang lebar tentang perasaan nya sambil sedikit berteriak.


Cahya pun bingung harus menjawab apa, yang dia pikir Wawan sangat jahat padanya ternyata menyimpan sesuatu hal,


"Ayy" panggil seseorang


semua serentak menoleh ke sumber suara, ternyata itu Devan, dia mendengar teriakan Wawan jadi dia mendekat.


Cahya serba bingung, entah apa yang harus dilakukan nya, dia tidak bisa menjawab Wawan, dan sekarang Devan datang sementara dia tadi tidak mau mengangkat telfon nya, dia takut Devan berfikiran aneh, dan menganggap dia tidak mau mengangkat telfon karena sedang bersama Wawan.

__ADS_1


Devan semakin mendekati Cahya dan langsung memegang tangan nya dan mengajaknya untuk keluar, tapi Wawan juga melakukan hal yang sama, dia memegang tangan satunya, melihat hal itu Devan marah dan langsung mendorong Wawan, sambil berteriak,


"Jangan sentuh, dia milik ku!!"


__ADS_2