
Diperjalanan, terlihat Cahya yang masih murung, Devan lalu pura-pura bersedih karena tidak diperhatikan Cahya
"Aku yang babak belur menyelamatkan seseorang, tapi kenapa orang itu malah bersedih untuk orang yang telah mengurungnya"
Cahya menoleh pada Devan dia lalu tiduran dan meletakkan kepalanya dipangkuan Devan
"Aku tidak menyangka kalau Habib akan seperti itu, dia sungguh sangat kasian kan?" ujar Cahya
Devan membawa Cahya ke rumahnya yang ada di Jogja, mereka tidak langsung ke Bandung, tapi ayah Devan langsung kembali ke Jawa(Semarang).
Setelah sampai rumah Cahya membersihkan luka-luka Devan,
"Apa sangat sakit?"tanya Cahya
Devan hanya menggeleng dan terus memperhatikan Cahya
"Ada apa?" tanya Cahya
"Apa kamu bahagia disana? kenapa tadi kamu seperti tidak mau pergi dari sana?
"Disana aku layaknya Rapunzel yang terkurung di menara, hanya saja itu di villa,, aku merindukan pangeran ku" Cahya tersenyum manis ke Devan
"Kamu yakin pangeran itu bukan Habib?" tanya Devan penuh selidik, sepertinya dia cemburu.
"Dia juga pangeran, dia sangat sopan dan sangat menjagaku, dari dulu dia selalu melindungi ku, tapi dia bukan pangeran yang ditakdirkan untuk ku, karena aku sudah punya pangeran Devan" ujar Cahya sambil tersenyum
Devan tersenyum mendengarnya, lalu berusaha mencium Cahya, tapi Cahya menghindar dan beralasan akan membersihkan diri.
Malam itu Cahya seperti membuat jarak dia tidak mau saat Devan berusaha mendekatinya, Devan tidak berfikir yang bukan-bukan, karena dia pikir Cahya pasti capek.
Mereka hanya semalam menginap disana, dan siang nya kembali ke Bandung.
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
Flashback
__ADS_1
Keluarga Wicaksono, keluarga terhormat dan berpangkat, anak sulung mereka yang bernama Armand Wicaksono menyukai gadis yang berasal dari Jawa, Ranti Suseno.
Ranti Suseno adalah kakak dari ayah Devan, saat itu Ranti tidak menerima pinangan dari keluarga Wicaksono karena dia sudah memiliki dambaan hati.
Karena merasa tidak terima lamaran nya ditolak oleh keluarga Suseno, Armand menculik Ranti saat sepulang dari sekolahnya, saat itu Ranti masih bersekolah kelas 3 SMA, Ranti berusaha melarikan diri tapi naas, dia tertabrak mobil saat berusaha kabur.
Kejadian itu sangat menggemparkan tapi karena kurangnya bukti, kepolisian tidak menghukum Armand, sudah pasti tidak ditemukan bukti atau apapun karena Armand adalah anak dari anggota kepolisian pada saat itu.
Saat ini Armand Wicaksono telah menjadi seorang Jenderal polisi, yang telah mempunyai anak bernama Habib Wicaksono, jadi Armand Wicaksono adalah ayah dari Habib.
Sudah pasti karena kejadian dimasa lalu, keluarga Wicaksono dan keluarga Suseno menjadi musuh bebuyutan.
Keluarga Suseno adalah pengusaha besar, mereka memiliki perkebunan, peternakan, sawah, dan masih banyak lagi yang lain yang tersebar di penjuru Jawa Tengah.
Walau keluarga Suseno bukan dari kalangan orang-orang berpangkat tapi mereka mempunyai kolega dari orang-orang berpangkat, karena keluarga Suseno sangat berpengaruh, keluarga Suseno juga memiliki Rumah Singgah terbesar di seluruh Jawa tengah.
Flashback End
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Ayy, kamu kenapa?" tanya Devan
"Tidak apa-apa, mungkin aku hanya capek"
"Kamu berbeda Ayy, kamu berubah, kamu seperti tidak memperdulikan ku, apa sebaik itu dia padamu, hingga membuatmu bersikap seperti ini padaku?"
"Bukan begitu, aku hanya merasa kalau dia seperti itu karena aku, jadi aku hanya merasa bersalah"
"Kenapa itu menjadi salahmu, apa kamu harus menerima perasaan semua orang!" Devan menjadi kesal
Cahya tidak menjawab apapun, dia juga merasa aneh kenapa dia jadi lebih sensitif, mungkin karena dia sedang hamil.
Devan yang masih kesal terus mendiamkan Cahya, tapi Cahya tau bagaimana membujuknya.
"Aku merasa lelah, bisakah kita istirahat di sebuah hotel dulu"
__ADS_1
"Kenapa kamu terburu-buru mengajak ke Bandung kalau kamu lelah? apa se lelah itu mengurus Habib?" Devan masih terus marah dan cemburu, tapi Cahya tidak menjawab nya dan langsung berjalan ke arah mobil.
Mereka berhenti disebuah hotel, saat memasuki kamar, Devan yang masih kesal langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur, sementara Cahya ke kamar mandi dulu, Devan kaget saat Cahya merangkak diatas tubuhnya dari bawah kakinya yang tidak sepenuhnya di atas kasur itu.
Cahya tertawa melihat kekagetan Devan, dia terus menaiki tubuh Devan, memandangnya lalu mencium nya.
Cahya melepaskan ciuman itu,
"Mengurus Habib tidak lelah, karena aku hanya menemaninya bercerita dan menyuapinya, tapi mengurus mu lebih melelahkan" ucap Cahya yang lalu kembali mencium Devan
Mereka melepaskan rindu, melakukan penyatuan itu lagi, Cahya yang masih selalu dominan dalam berhubungan karena dia tidak mau perutnya tertindih, mereka saling berpelukan erat sesaat setelah semburan kenikmatan itu menghampiri mereka.
"Aku bilang juga apa? mengurus mu lebih melelahkan, kenapa kita seperti suami istri yang menyelesaikan masalah harus dengan begini?" ucap Cahya yang masih belum turun dari tubuh Devan
"Kamu yang mengajak ku kesini"jawab Devan
"Karena kamu marah! kalau tidak begini kamu pasti akan terus marah, itu tidak baik saat menyetir, Devan sayang, aku hanya mencintaimu, tubuh dan hatiku hanya milik mu, kamu jangan khawatir, aku beneran hanya merasa bersalah pada Habib, tidak ada perasaan lain" ucap Cahya lalu kembali mencium Devan
Cahya lalu turun dari atas tubuh Devan tapi Devan langsung naik diatas tubuh Cahya bertumpu pada kakinya agar tidak menindih perut Cahya
"Mau lagi" ucap Devan langsung mencium Cahya, Devan semakin turun ke bawah, setelah leher Cahya habis tertutupi tanda merah, dia menuju ke tempat yang paling dia suka yaitu buah kembar, dan tentu tidak luput dari lidah nya.
"Devan, nanti perutku tertindih" ucap Cahya sambil mengatur nafasnya karena dia terus mendesah menerima setiap sentuhan Devan
"Tidak Sayang aku akan hati-hati, kamu sangat enak sayang,, aahhhh" Devan mengerang saat dia memasuki bagian dalam Cahya, dia terus mengulum buah kembar itu dan tangan satunya meremasnya, sambil pinggulnya bergoyang, mereka mabuk kepayang, sudah lama mereka terpisah karena Cahya diculik, sungguh ini pelepasan rindu yang sesungguhnya bagi Devan.
Cahya semakin mendesah dan menjerit pelan, dia sepertinya sudah kembali mendekati puncaknya, Cahya memeluk kepala Devan erat dan menekan nya di dadanya,
"Deeevvaannnn,, aaahhhhh"
Sesaat Devan memberi waktu Cahya mengatur nafasnya tapi tidak melepaskan nya, dia kembali menggoyang pinggulnya, yang membuat Cahya kembali mabuk dibuat Devan, Devan ******* Bibir Cahya penuh nafsu membara, tangan nya terus bermain di buah kembar itu hingga dia merasakan puncaknya akan tiba, dia berharap kali ini mereka akan berbarengan menikmatinya.
Devan mempercepat gerakan nya, mereka melenguh bersama saat kenikmatan itu datang menghampiri mereka, Devan lalu turun dari tubuh Cahya, dia berusaha agar perut Cahya tidak tertindih, Devan memeluk Cahya dan mencium keningnya
"Terimakasih, rasa mu selalu nikmat, minggu depan kita harus menikah, kamu harus selalu ada di sisiku" ucap Devan
__ADS_1
Cahya hanya mengangguk dan mempererat pelukan mereka, Devan menyelimuti tubuh mereka, sepertinya tidak mungkin langsung melanjutkan perjalanan, mereka akan tidur dan beristirahat dulu disana.