Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Menghadapi Trauma Bersama


__ADS_3

Ibu Retno lalu keluar kamar, menyuruh mereka untuk makan dulu, Cahya mau melangkah mengikuti tapi tiba-tiba tangan nya ditahan Devan


"Diam disini tiduran, kamu masih sakit perut kan?"


"Kamu pikir aku bisa?, sudah ayo cepat keluar" ujar Cahya dan langsung keluar


Devan lalu mengikutinya, Cahya mencari ibu Retno yang ternyata ada di dapur menyiapkan piring dan saat melihat Cahya, dia menyuruhnya duduk dulu.


Cahya diam mematung dia sangat panik dan kaget, dia seperti sudah tertangkap dan tidak akan ada jalan keluar lagi, dia juga takut dikira cewek nakal karena belum menikah sudah tidur bersama pria.


Devan memeluknya dari belakang, Cahya tentu kaget karena dia sedang melamun, dia sedikit berteriak dan membuat ibu Retno menoleh, Cahya makin panik karena Devan masih terus memeluknya, Cahya hanya bisa tertawa canggung karena dilihat bu Retno saat sedang dipeluk Devan.


"Devan lepaskan, kamu bisa-bisa nya disaat seperti ini masih seperti ini" bisik Cahya sambil terus berusaha melepaskan pelukan Devan


Devan tidak peduli, dia sengaja melakukan nya dan memaksa Cahya hari ini kerumahnya juga karena dia sudah tau mamanya akan datang.


Mereka lalu duduk dimeja makan bersama, tapi Cahya canggung dan tidak makan


"Kenapa tidak makan Cahya? apa masakan mama tidak enak?"


Cahya kaget mendengarnya apalagi bu Retno berkata seperti itu


"Ah,, tidak tante aku lagi sakit perut jadi agak kurang nafsu makan"


Devan lalu keluar dari dapur dan mengambil plastik besar yang tadi dia beli di minimarket dan memberikan nya pada Cahya, walau ragu tapi Cahya tetap mengambilnya


" Ini banyak cemilan, kamu makan itu saja" ujar Devan lalu Cahya melihat isinya, yang ternyata banyak cokelat dan permen, Cahya heran lalu bertanya

__ADS_1


"Kamu pikir aku anak kecil?"


"Aku lihat di internet katanya kalau cewek datang bulan, suka makan cokelat "


"Itu cuma teori, tapi ya sudah terimakasih" Cahya menutup kembali plastik itu setelah mengambil satu cokelat.


"Makan nasinya dulu walau cuma sedikit Ayya,, nanti kamu masuk angin" ujar bu Retno


Cahya hanya bisa menurut, tidak mungkin dia membantah.


Setelah selesai makan, Cahya mau membantu merapikan meja tapi dilarang bu Retno dan menyuruhnya duduk di ruang tamu bersama Devan Karena akan ada yang dibicarakan.


Cahya sudah tidak karuan mendengarnya, ini pasti vonis hukuman mati untuknya, dia tidak bisa berbicara dengan Devan karena Devan seperti sangat senang dengan kondisi seperti ini.


Saat mereka duduk bersama, Cahya berusaha berbicara pada Devan walau dia sudah yakin Devan akan terus bercanda dan tidak bisa diajak serius.


"Kenapa harus menolak kan itu memang yang aku inginkan" benar-benar jawaban yang sudah diduga Cahya


"Kamu tau aku belum si,,, ekhmmm"


Cahya tidak bisa meneruskan perkataannya karena Devan tiba-tiba mencium nya, Cahya berusaha berontak dengan memukuli dan mendorong Devan, tapi Devan tidak memperdulikan nya, bu Retno melihat itu dan langsung berdehem, tapi Devan masih tidak mau melepas ciuman itu, hingga Cahya dengan sekuat tenaga mendorong nya.


Cahya lalu menghadap bu Retno sambil mengatur nafasnya, dia benar-benar sudah tidak punya lagi alasan untuk terus menolak menikah dengan Devan kalau sudah seperti ini.


Bu Retno sudah duduk di sofa depan mereka


"Jadi mau hari apa pernikahan kalian? harus di minggu ini"

__ADS_1


Cahya memang sudah menyangka kalau pembicaraan ini masalah pernikahan, tapi dia tidak menyangka harus secepat ini.


"Hari ini juga aku siap ma" jawab Devan


"Tante maaf, aku belum bisa sekarang, aku belum selesai kuliah, tolong izinkan aku menyelesaikan dulu kuliah"


"Tidak akan ada habisnya Ayya, kamu minta waktu untuk lulus SMA dulu, lalu sekarang minta waktu selesai kuliah dulu, nanti kamu akan minta waktu lagi karena kamu pengen kerja dulu"


Cahya kaget karena bu Retno tau semua, sepertinya Devan tipe anak mama yang selalu curhat ke mamanya.


Cahya tidak tau harus menjawab apa lagi, ini benar-benar eksekusi mati untuknya.


"Jangan merasa pernikahan itu beban dan menakutkan Ayya, lakukan saja yang terbaik versi kamu, kita memang tidak tahu nasib apa di kehidupan masa depan nanti, tapi jangan takut untuk memulai" bu Retno berusaha menasehati Cahya.


Cahya masih diam, seperti biasa saat dia tertekan perasaannya dia akan berusaha menghindar lalu pergi dan melarikan diri tapi Devan memegangi tangan nya, mengelusnya dan menciumnya


"Percaya padaku Ayy, aku tidak akan pernah meninggalkan mu"


Cahya tidak tau harus berbicara apa lagi, dia memilih pamit pulang


"Maaf tante, aku pamit dulu, sudah semakin malam, terimakasih atas makanan nya"


Cahya lalu mengambil tas nya, Devan mengikutinya karena akan mengantarkan, diperjalanan itu Cahya terus diam, dan pura-pura tidur agar tidak diajak berbicara oleh Devan


Sebelum sampai Devan menepikan mobilnya, dia membuka sabuk pengaman nya dan langsung berbisik di telinga Cahya


"Ingat perkataan ku waktu itu? kalau sampai kamu lari lagi menghindari ku, aku akan menangkap mu, dan kamu akan habis saat itu juga" setelah mengucapkan itu Devan mencium pipi Cahya lalu melanjutkan perjalanan, dia paham kalau Cahya tertekan perasaan nya, dia pasti akan menghindarinya lagi, jadi dia berusaha memperingatkan nya kali ini, Devan sudah tidak mau lagi ditinggal lari Cahya.

__ADS_1


Devan tau kalau Cahya trauma pernikahan, tapi trauma itu harus dihadapi, dan dia akan menemani Cahya menghadapinya.


__ADS_2