
"Ssaayyyaaang,,,aahhhhhh,,, lepaskan aku dulu"
Devan masih tidak mengizinkan istrinya pergi, dia sudah kembali melucuti pakaian istrinya dan meminta istrinya bergoyang di atas tubuhnya, Devan berusaha membuat istrinya nyaman terlebih dahulu, baru setelah nya akan dia gas terus menerus.
"Aaagggghhhh,, aaahhhh,, aaahhhh!" Cahya menjerit keras dan mengejang, membuat Devan semakin bergairah, dia sangat senang karena istrinya sudah seperti biasanya, tidak seperti tadi malam yang seperti tidak mempunyai rasa.
"Sayang, ini akan sangat lama, ayo kita pergi dulu, setelah pulang baru lakukan lagi,,. aaaakkkhhhh" Cahya terus merintih dan berteriak penuh kenikmatan, Devan tidak mungkin melepaskan istrinya, dia terus mengulur waktu supaya istrinya tidak jadi menemui Ratu, Devan tidak mau sesuatu yang berbahaya akan menimpa istrinya.
"Ssaayyyaaang,, sudahlah,, aku mohon,, aaagggghhhh" Cahya kembali lemas setelah menggoyang suaminya, dia terus berusaha supaya suaminya cepat mendapatkan pelepasannya, tapi saat merasakan milik suaminya yang masih terus berdiri kokoh di dalam bagian terdalam dirinya membuat Cahya kembali manyun karena ini pasti akan sangat lama, sementara waktu janjiannya bertemu Ratu sudah terlewati.
Cahya terkulai di atas tubuh Devan, dia sudah tidak mau bergerak lagi, dan terus berusaha untuk turun dari tubuh Devan, hal yang mustahil berhasil dia lakukan kalau Devan tidak mengizinkan, Devan malah melakukan gerakan yang akhir-akhir ini di sukai oleh Cahya.
"Aaaaaaggghhhh,,,, aaaaaaggghhhh,,,aaahhhhhh!" Devan terus menggerakkan pinggulnya ke atas, Cahya hanya bisa pasrah menerima dan memeluk erat Devan, bibirnya tidak henti merintih,
"Saaayyanngg,,, aaahhhh,, aahhhhh ini sangat enak" Cahya mabuk kepayang dia terus berbisik dan merintih penuh kebahagiaan dan kenikmatan.
Devan meraih wajah istrinya lalu menciumnya dengan penuh semangat, Cahya terus meremas rambut suaminya karena dia merasa akan segera kembali mendapatkan kenikmatan yang luar biasa, dan benar saja dia kembali mengejang, Devan memeluk tubuh Cahya lebih erat supaya istrinya itu tidak berusaha lagi untuk melepaskan diri.
Cahya sudah sangat pasrah dan tidak lagi meminta suaminya untuk menahan diri dan berhenti, karena hal itu sungguh tidak mungkin terjadi, lagipula dia sudah sangat lemas, entah kenapa Devan menjadi semakin kuat, dalam satu ronde saja bisa sangat lama.
Cahya sudah masuk dalam negeri penuh kebahagiaan yang diciptakan oleh Devan, dia sendiri sudah tidak berupaya untuk keluar lagi, dia hanya terus menerima dan menikmati setiap suguhan yang Devan berikan.
Cahya melirik sekilas pada jam dinding, terlihat waktu sudah menunjukkan angka yang sangat terlambat dari waktu yang dia janjikan dengan Ratu, sementara Devan belum selesai dengan urusannya, Cahya sadar kalau Devan melakukan nya dengan sangat perlahan, entah kenapa dan apa maksudnya, karena durasi waktu nya menjadi semakin lama tetapi tidak mengurangi rasa nikmat nya, karena Devan pintar mengimbangi dengan gerakan dan sentuhan lain dari tangan dan permainan lidahnya.
"Ssaayyyaaang aahhhhhh,, berhenti,," Cahya menggeliat karena Devan sudah kembali memainkan lidahnya pada bagian terdalam dirinya, Cahya pikir karena durasi waktu yang sudah lama membuat Devan sudah puas dan tidak meminta tambah, tetapi dia terus minta tambah, hingga tidak terasa waktu sudah sore, Devan baru berhenti dan memeluk istrinya dan mencium kening nya setelah entah beberapa kali menyirami kebun Cahya.
Sepertinya Cahya sudah tidak ada lagi tenaga yang tersisa, dia sangat lemas dan terus memejamkan matanya, Devan menciumi mata itu mencoba untuk membuat nya terbuka
"Ayo mandi dulu sayang, kita harus makan sore dulu setelah itu baru kita lanjutkan lagi" ucap Devan dan membuat Cahya langsung membuka matanya,
"Sayang, apa kamu gila??!!" pekik Cahya
"Iya benar Ayy, aku sudah sangat gila terhadap dirimu sayangku, tidak mungkin kamu baru menyadari hal itu,, karena dari dulu juga aku selalu gila terhadap dirimu, setiap hari bertambah gila, dan tahap inilah kegilaan ku saat ini, mungkin akan terus bertambah, tetapi pasti suatu saat kekuatanku akan melemah juga, apalagi saat umur ku semakin tua, tetapi kegilaan ku padamu tidak akan pernah berkurang" Devan terus mengendus leher istrinya yang sudah tidak ada tempat lagi untuknya membuat tanda merah.
Devan membawa Cahya ke dalam kamar mandi, sekarang tugas nya setiap hari, setelah selesai menyalurkan kegilaan nya pada tubuh istrinya, dia juga harus membersihkan tubuh istrinya karena ulahnya, Cahya selalu sangat kelelahan dan lemas karena dirinya, jadi dia dengan sukarela dan tentu saja dengan penuh semangat membantu Cahya untuk mandi.
Devan menggendong istrinya ke luar kamar mandi, walau Cahya bilang dia bisa jalan sendiri,
"Simpan semua tenaga mu hanya untuk melayani ku, biarkan semua hal aku yang melakukan nya" ujar Devan lalu mendudukkan tubuh istrinya didepan meja rias.
"Aku membebaskan dirimu mulai sekarang mengenai hal ini, kamu boleh berdandan seperti apapun itu, tapi ingat sayangku, semakin kamu terlihat cantik maka semakin aku tidak akan membiarkan dirimu selangkah pun pergi dari sisiku" Devan berbisik ditelinga Cahya
"Aku hanya ingin tau, sampai kapan kamu akan bosan bersikap seperti ini padaku, karena aku yakin kalau suatu saat kamu pasti akan bosan kalau berlebihan seperti ini" ucap Cahya lalu mulai memakai skincare nya dan berdandan tipis karena Devan mengajak nya makan diluar.
"Kalau aku bosan dengan cara ini, aku akan terus mencari cara lain, dan begitu seterusnya, banyak sekali gaya yang belum kita lakukan, kita harus terus mencari gaya dan suasana baru jadi kata bosan itu tidak akan pernah menjadi kendala untuk hubungan kita" ujar Devan menjelaskan lalu menciumi wajah istri tercinta nya yang selesai berdandan.
"Sayang,, kamu menghancurkan dandanan ku" Cahya kesal lalu menghindar untuk kembali merapikan dandanannya.
"Aku membebaskan dirimu untuk berdandan karena aku akan menghancurkannya seperti barusan kalau sekiranya dandanan dirimu terlalu berlebihan" Devan mencium kening Cahya dan berlalu karena dia belum memakai baju
"Dandan yang cantik sayangku, maka kita tidak akan pernah keluar kamar selamanya,,, ahahahah" Devan tertawa riang sembari memakai bajunya.
"Ini sudah sangat tipis sekali, harus bagaimana lagi aku memakainya?" Cahya berkata pelan dan karena geregetan dia mematahkan pensil alisnya
"Ah patah,, iiihhh menyebalkan" Cahya kesal lalu dengan cepat menyelesaikan dandanannya dan segera memakai baju karena dia sudah sangat lapar.
"Cepat sayang, nanti keburu kemalaman" Cahya berjalan cepat ke luar hotel dan disusul oleh Devan tapi tangannya ditarik kembali oleh Devan saat Devan melihat penampilan nya,
__ADS_1
"Kenapa kamu seperti ini? ayo cepat kembali lagi dan ganti bajumu"
"Tidak mau, aku sudah sangat lapar, lagian kamu barusan sangat lama dikamar mandi" tadi saat memakai baju tiba-tiba perut Devan terasa sakit, melihat suaminya yang di dalam kamar mandi membuat Cahya dengan cepat berdandan dan memakai baju yang dia pakai saat ini, dan dengan cepat langsung memakai sepatu, begitu terdengar pintu kamar mandi terbuka, tanpa melihat kearah suaminya, Cahya langsung membuka pintu untuk keluar.
"Sayang cepatlah, aku tunggu diluar!" dengan cepat Cahya keluar karena kalau suaminya melihat dia berdandan dan berpakaian seperti itu pasti suaminya tidak mengizinkan nya keluar.
"Ini bahkan sangat sederhana sekali"ucap Cahya dan menggandeng tangan suaminya untuk segera menuju mobil,
"Ayo cepat sayang, aku sudah sangat lapar" Cahya sedikit menarik tangan suaminya
"Baiklah sayang, sepertinya kamu menantang ku, rasakan apa yang akan aku lakukan padamu nanti malam" bisik Devan membuat Cahya merinding.
Mereka makan malam disebuah restoran, yang tanpa Devan sadari, ternyata istrinya kembali menghubungi Ratu untuk bertemu ditempat itu, Cahya mencari tempat duduk yang luas supaya ada tempat untuk Ratu membuat Devan heran,
"Ayy, kenapa memilih meja ini, kita hanya berdua"
"Hanya ingin saja sayang" jawab Cahya singkat, dia lalu menuju sebuah perosotan kecil yang ada di pojok ruangan itu, dia melihat ada anak yang terjatuh jadi ingin menolongnya.
"Tuan Devan yang terhormat, kita bertemu lagi disini" sapa seseorang yang membuat Devan malas melihatnya, Devan bangkit dari duduknya dan ingin mendekati istrinya yang sedang bermain bersama anak kecil yang tadi terjatuh, terlihat Cahya mencoba untuk menghibur anak kecil itu supaya tidak menangis lagi.
"Istri anda yang mengajak ku bertemu disini, seperti nya dia sangat penasaran dengan wanita yang berhasil menggoda suaminya"
"Oowwhh wooww" Cahya menutup mulut nya dengan kedua tangannya melihat seseorang yang duduk di depan suaminya.

"Sayang???" Cahya melihat kearah suaminya seolah bertanya untuk lebih memastikan dugaannya, Devan mendekati istrinya dan mengajak nya pergi.
"Aku menjadi tidak selera makan, ayo cepat pergi dari sini" Devan menarik tangan Cahya tetapi Cahya kembali duduk dihadapan wanita itu, Cahya tersenyum ceria dan terlihat cantik dan manis.
"Hai, kamu pasti Ratu,, pantas saja suamiku tergoda padamu, kamu memang sangat wow sekali" Cahya meletakkan kedua tangannya di kedua pipinya lalu melihat kearah Ratu,
"Apa mau mu saat ini?" Cahya menunjukkan wajah serius nya
"Kurang ajar, ternyata dia memang sangat manis dan imut, aku pikir dia sudah tua, pantas saja Devan mencoba bertahan dariku, sebagai pria normal dia hanya sempat terpesona pada tubuhku" batin Ratu melihat aura Cahya yang memang terlihat berbeda, dibalik tampilan yang imut dan manis, tetapi ada juga anggun dan berkharisma.
__ADS_1
"Kamu tentu sudah melihat video itu, apalagi yang bisa aku minta, seandainya saja itu terjadi padamu, memang apa lagi yang akan kamu minta?!" Ratu terlihat sewot karena dari penampilan, dia merasa sudah sangat terbanting, bahkan saat ini dia menjadi tontonan sekitar karena pakaian nya, mereka ada di kota yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan moral masyarakat, walau berpakaian seperti itu sudah tidak asing lagi di kota besar tetapi berbeda dengan ditempat ini.
"Iya, aku sudah melihatnya, terlihat kamu sangat kepanasan sekali, apa saat itu kamu puas dengan suamiku?" Cahya memainkan matanya seolah menggoda Ratu.
"Ayy,, sudah ayo pergi dari sini, ini sudah sangat tidak benar, jangan meladeninya, biarkan orang-orang ku yang akan mengurusnya, mereka akan datang sebentar lagi" Devan menarik tangan Cahya tetapi Cahya malah menggenggam tangan suaminya dan meminta Devan untuk diam.
"Diam saja dulu sayangku, apa kamu tidak mau melihat pertempuran ini, kamu yang sedang kita perebutkan, jadi diam dulu dan bawa pulang siapa pemenangnya"
"Ayyyaaa,, jangan main-main!" Devan kesal dan langsung mencium istrinya tidak peduli dengan pandangan Ratu dan orang sekitarnya.
"Sabar dulu, apa kamu tau sayang? Ratu bilang kamu melakukan nya 5 ronde dengannya, apa itu benar?" Cahya mengedipkan matanya membuat Devan makin gemas dan tidak memperdulikan apa yang diucapkan istrinya, dia hanya focus pada wajah istrinya yang terlihat berusaha menunjukkan pada Ratu kalau tidak ada yang bisa merebut miliknya.
"Jangan habiskan energi mu sayang, sudah cukup sampai disini, bahkan anak kecil pun tau siapa yang terbaik, iya maafkan aku karena sempat tergoda padanya, tapi bukankah aku kembali disaat yang tepat, jadi sudahi saja dan jangan hiraukan dia, aku lapar sekali, yang tadinya aku menginginkan banyak hidangan lezat disini, sekarang aku hanya ingin cepat memakan dirimu"
"Ratu, aku mendengar dari suamiku kalau video itu dipotong? jadi kalau benar seperti itu, aku pastikan kamu akan menerima akibatnya karena berani mencoreng nama baik suamiku!" Cahya terlihat menakutkan dibarengi dengan pesona imut yang tidak bisa lepas dari dirinya.
"Ohh iya aku hampir lupa" Cahya lalu mendekati Ratu dan berbisik,
"Devan itu sangat ganas, dia tidak akan mungkin cukup hanya dengan 5 ronde" Cahya lalu tersenyum manis dan kembali duduk.
"Ayyyaaa,,!!" panggil seseorang, mereka langsung menoleh pada asal suara yang memanggil Cahya
"Mama, kenapa mama kesini, apa mama bersama Rafa?"
"Tidak sayang, Rafa di rumah" ibu Retno membelai lembut rambut Cahya
"Sayang, jangan habiskan tenaga mu untuk mengurusi hal rendahan seperti ini, mama tidak mau cucu mama kenapa-napa" ibu Retno lalu mengelus perut Cahya yang masih rata karena memang kehamilannya masih sangat muda.
"Devan, bawa Ayya pergi dari sini, mama akan menyelesaikan semuanya"
Devan langsung bergegas untuk membawa Cahya pergi, dia bahkan tidak melihat kearah Ratu sedikitpun dari tadi.
"Kamu ini anak mama ya, dari dulu juga dikit-dikit ke mama, waktu aku masih kuliah juga kamu sengaja kan waktu itu membawaku ke rumah karena kamu tau kalau mama akan datang? apa segala hal kamu ceritakan pada mama?"
"Memang benar, aku memang anak mama, bahkan dari kecil aku selalu dikatakan sebagai kutu buku dan anak mami, tapi bagi aku tidak masalah, lagipula aku tidak terlalu tergantung kepada mama, aku hanya meminta bantuannya dikala aku benar-benar butuh, seperti sekarang ini, aku tidak mau berurusan dengan wanita gila itu, jadi aku meminta tolong pada mama"
Cahya hanya manggut-manggut dan tidak lama pandangannya mengarah pada ice krim yang dijual disebuah gerobak pinggir jalan, Devan mengerti lalu membelikannya.
"Sedikit saja, kamu harus makan nasi, ayo kita mencari makan dulu, biar kamu kuat menghadapi ku malam ini, kamu tidak lupa pada ucapan ku tadi kan?" Devan mencubit pipi istrinya yang terlihat sangat menggoda karena sedang menjilati es krim nya.
__ADS_1