
"Mas Devan kembali dijebak, dia pernah juga mengalami hal ini, saat itu Mbak Cahya belum ditemukan, untuk mengatasi ereksi berkepanjangan nya karena obat perangsang, mas Devan melukai pahanya dengan cara menyayat nya untuk mengalihkan rasa sakit pada bagian sensitifnya" Renal bercerita pada istrinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Siti
"Sari mengatakan akan membawa kita pada klien yang seorang koki untuk bekerjasama, tempat nya sangat jauh dari sini, saat memasuki sebuah tempat yang mirip villa, tas dan ponsel kami diminta untuk ditinggalkan diluar dan dititipkan, karena mereka bilang itu adalah SOP yang diterapkan ditempat itu, memang koki yang akan bekerja sama dengan kita terkenal perfeksionis" Renal mulai bercerita saat suara jeritan dan tangisan kakak iparnya sudah tidak terdengar lagi.
"Kami dibawa ke sebuah ruangan, Sari bilang sang koki akan segera menemui kami, Sari keluar dari ruangan itu lalu tidak lama diluar terdengar kegaduhan, kami keluar untuk melihat keadaan, ternyata itu pertengkaran pegawai disana, entah apa yang terjadi tapi sepertinya itu juga termasuk rencana Sari" Renal lalu minum sebelum akhirnya kembali bercerita.
"Salah satu karyawan itu terluka, akhirnya kami berusaha menolong, tapi Sari bilang cukup salah satu yang menolong karena koki akan segera datang, Sari meminta mas Devan kembali masuk ruangan dan meminta ku untuk membawa karyawan yang terluka itu keluar dari sana dan membawanya ke dalam mobil untuk dibawa kerumah sakit" Renal berhenti bercerita, Renal mengingat lagi hal yang tadi dia alami.
"Entah apa yang terjadi pada mas Devan didalam ruangan itu, karena aku tidak diperbolehkan masuk, hingga tidak lama mas Devan berusaha mendobrak pintu, saat akhirnya berhasil keluar mas Devan langsung berlari menghampiri ku dan langsung mengajak pergi dari sana, terdengar teriakan Sari seperti sangat marah pada mas Devan tapi entah apa yang terjadi" Renal memegang keningnya, merasakan pening karena kelelahan.
"Kami dihadang oleh banyak orang, tapi untung kami bisa melarikan diri tapi Villa itu sangat jauh, mobil yang kami pakai untuk perjalanan kesana adalah mobil Sari jadi tidak mungkin kembali dengan mobil itu, orang-orang di jalan juga tidak mau menolong kami, mungkin mereka pikir kami penjahat karena pakaian kami berantakan setelah tadi melawan orang-orang di dalam villa" Renal kembali minum, Renal lalu meminta dibawakan makanan karena dari siang dia dan Devan belum makan.
Setelah makanan dihidangkan, Siti tidak sabar ingin mendengarkan cerita lebih lanjut.
"Kami berjalan cukup lama hingga bertemu angkutan umum, untung saja aku selalu menyimpan uang disaku dan tidak semua aku simpan di dompet, karena tas dan ponsel kami masih ada di villa itu, tapi ternyata kami salah menaiki angkutan umum tersebut, hingga akhirnya kami menjadi berputar-putar, untung saja ada orang baik yang memberi tahukan angkutan umum yang benar kepada kami saat aku bertanya"
"Memang sebelumnya kalian tidak bertanya saat menaiki angkutan umum?" tanya Siti
"Tidak ada yang mau menjawab, mereka ketakutan pada kami, mas Devan yang menahan rasa sakit menjadi merah padam wajahnya, aku terus memapahnya, sepertinya mereka pikir kami buronan atau semacamnya" pungkas Renal
"Lalu?" tanya Siti lagi
"Lalu kita sampai disini, Siti Maemunah, kamu sangat kepo sekali, sudah aku mau makan dulu" ujar Renal lalu makan dengan lahapnya
"Sebenarnya mas Devan kenapa? apa yang terjadi padanya, aku masih belum mengerti" ucap Siti
Renal tidak langsung menjawab, dia masih terus makan karena dia kelaparan dan juga kelelahan, tidak lama pintu kamar terbuka dan keluarlah Devan.
__ADS_1
"Kenapa kalian masih ada disini?" tanya Devan kaget melihat mereka diruang makan.
"Aku khawatir mas, apa semua baik-baik saja?" tanya Renal
"Jadi kalian mendengar tadi,,, " Devan tidak melanjutkan ucapan nya.
"Tidak apa-apa mas, tidak usah malu, kita semua sudah dewasa" Renal sebenarnya menahan tawanya melihat ekspresi wajah kakaknya.
"Kamu makan apa?" tanya Devan
"Ini Siti yang mengambilkan dari lemari makanan, mas tidak marah kan aku minta makan?"
"Masih ada tidak? aku juga lapar" ujar Devan
"Masih ada mas, sepertinya cukup untuk satu orang lagi, mau aku ambilkan?" Siti yang menjawab
"Tidak perlu, aku bisa ambil sendiri" ujar Devan
"Ok baiklah, aku memang tidak bisa memasak tapi ingat ya, kamu juga tidak bisa mendapat jatah malam mu mulai sekarang" jawab Siti sewot
"Utututu cintaku, aku hanya bercanda, maksudku kamu bisa belajar dari mbak Ayya biar kamu pintar memasak juga, nanti aku belikan laptop terbaru seperti yang kamu mau" Renal mulai merayu istrinya.
Devan tidak memperdulikan mereka berdua, dia mengambil makanan dan dengan lahap langsung menghabiskan nya, dia langsung membersihkan piringnya dan mulai mengupas buah-buahan, Devan takut istrinya terbangun dan kelaparan.
"Mas Devan, mana mbak Ayya?" tanya Siti dengan polosnya
"Dia sudah tidur, kalian cepatlah pulang" jawab Devan.
Renal melotot pada Siti, karena kesal Siti tidak paham situasi, Renal lalu memohon untuk tidur disini malam ini karena ini sudah sangat larut malam, akan sangat susah mencari kendaraan umum, mobil mereka ada di lokasi cafe karena mereka berangkat ke villa menggunakan mobil Sari.
__ADS_1
"Kasihan baby mas" ujar Renal
"Sekarang dimana baby?" tanya Devan
"Ada dikamar tamu mas, sudah tidur dari tadi" jawab Siti
"Ya sudah, kalian cepatlah beristirahat" ujar Devan lalu berjalan ke kamarnya, membawa piring berisi buah-buahan yang sudah dia potong-potong.
Devan masuk kedalam kamar, Cahya masih tidur dan sepertinya efek obatnya belum hilang karena saat Devan terus menciuminya, Cahya tetap tidak bereaksi.
"Maafkan aku sayang" gumam Devan lalu ikut tidur disebelah istrinya, kali ini dia tidak memeluknya, karena dia tidak mau mengganggu istrinya, dia hanya menggenggam tangan istrinya.
Saat tengah malam Cahya terbangun, dia menggeliat lalu melihat Devan yang tidur dengan memeluk tangannya, Cahya tidak langsung menarik tangannya, dia memandangi suaminya, dia masih belum tau apa yang tadi terjadi pada Devan.
Cahya mencoba bergerak tapi bagian bawahnya terasa sakit, dia lalu hanya diam karena kalau bergerak akan terasa lebih sakit, hingga akhirnya dia tertidur kembali.
Devan bangun terlebih dulu, dia memandangi wajah istrinya, wajah yang menurutnya sangat manis, bahkan tanpa polesan apapun, tidak lama Cahya juga membuka matanya.
"Selamat pagi" ucap Devan lalu mencium kening istrinya.
Cahya tersenyum yang membuat nya terlihat semakin manis dimata Devan, Devan langsung mencium istrinya itu.
"Apa masih sakit?" tanya Devan setelah melepaskan ciuman nya, Cahya mencoba bergerak dan ternyata masih terasa sakit.
"Aahhh"Cahya mencoba duduk sambil menahan rasa sakit, Devan lalu membantunya.
"Kamu mau kemana? sudah tiduran saja" ujar Devan
"Aku mau ke kamar mandi" jawab Cahya sambil berusaha menggeser tubuhnya, Devan lalu membantunya dengan menggendongnya ke kamar mandi.
__ADS_1
"Perlu aku bantu didalam?" tanya Devan, Cahya hanya menggeleng dan menutup pintu kamar mandi.
Cahya kesakitan saat buang air kecil, dia hanya bisa menahan tangisannya.