
Sudah beberapa hari Cahya tidak datang ke cafe Devan, dia banyak tugas di Campus nya, selama ini dia selalu dibantu habib dalam mengerjakan tugas-tugas nya tapi karena habib marah padanya, dia harus berusaha lebih keras sendiri.
"Ada yang kamu tidak mengerti?" tiba-tiba Habib datang mendekatinya dan menawarkan bantuan
Cahya ragu menjawab nya, dia butuh bantuan tapi dia sekarang menjadi ragu untuk meminta bantuan, karena dia takut menyakiti Habib lagi.
"Terimakasih, aku akan berusaha sendiri dulu"
Ada yang memotret kedekatan mereka tanpa mereka sadari, Habib tetap menjelaskan semua walau Cahya menolak bantuan nya.
Cahya selesai dengan tugasnya, hari sudah sore, dia dan Habib lalu keluar Campus bersama, saat di depan Campus dia mengucapkan terimakasih pada Habib, tapi Devan yang cemburu langsung mendatangi mereka dan langsung memukul Habib.
"Devan, apa yang kamu lakukan?!" teriak Cahya, lalu Cahya membantu Habib yang jatuh tersungkur karena dipukul Devan, dan melihat luka Habib karena bibirnya berdarah karena pukulan devan.
"Kamu apa-apaan, lepaskan dia" Devan menarik tangan Cahya
"Kamu yang kenapa tiba-tiba memukul dia?"
"Awas ya kamu, ini belum selesai, kalau kamu masih terus mendekatinya!" teriak Devan pada Habib
Devan lalu menarik tangan Cahya dan membawanya pergi dari sana
"Kamu tidak datang lagi menemui ku karena sedang bersama pria lain?"
"Maksud kamu apa, aku sama dia satu angkatan dan satu jurusan tentu saja kita sering bersama saat belajar, dia juga yang selama ini membantuku"
"Sudah kamu tidak usah kuliah lagi"
"Kamu egois!" teriak Cahya lalu dia pergi dari sana menuju tempat kost nya
Devan marah-marah, dia tadi didatangi mahasiswi yang memperlihatkan foto Habib bersama Cahya, setelah itu dia langsung mencari Cahya dan malah melihat Cahya bersama Habib, dia menjadi semakin marah.
Cahya tidak mengerti yang terjadi, baginya sudah cukup menjelaskan, jadi dia tidak perlu menjelaskan apapun lagi.
Cahya sudah berusaha untuk lebih mengekspresikan cintanya pada Devan, tapi Devan malah tidak percaya padanya.
__ADS_1
Devan makin kesal pada Cahya, karena dia tidak juga mendatanginya, lalu Tuti datang kesana bersamaan mahasiswi yang kemarin memperlihatkan foto Cahya bersama Habib
"Ayya mana?" tanya Devan ke Tuti
"Dia lagi bersama Habib" jawab mahasiswi yang kemarin menunjukkan foto itu, dia pikir Devan bertanya padanya,
"Tidak, itu tidak benar, Cahya bahkan tidak berangkat ke Campus karena dia sakit, kamu lihat dimana kalau dia bersama Habib?" Tanya Tuti menyelidik
"Mungkin aku salah lihat, maaf" lalu mahasiswi itu langsung pergi dari sana
"Cahya sakit? kemarin dia baik-baik saja"
"Sudah berapa hari dia sakit, tapi selalu menahan nya karena tidak mau terlalu ketinggalan banyak tugas, dari dulu memang dia seperti itu"
"Apa dia sangat dekat dengan Habib?"
"Habib memang sangat menyukai Cahya, tapi Cahya selalu menolaknya, Habib lah yang selalu membantu Cahya setiap dia kesulitan, Habib itu sangat tulus kepada Cahya tapi Cahya selalu membuat benteng yang tidak mungkin bisa didekati Habib, kita pikir dia seperti itu karena dia anak pintar dan tidak mau mengecewakan mamahnya, tapi ternyata itu karena kamu"
"Jadi kamu kalau sampai menyakiti atau menyia-nyiakan nya, kamu yang akan rugi, sementara Cahya, masih banyak yang mengantri untuk membahagiakan nya"
Tuti menjelaskan panjang lebar, dia merasa ada yang aneh dari Cahya, karena biasanya dia sangat kuat, tapi kenapa hari ini dia bisa tumbang.
"Tadinya aku mau makan disini tapi sepertinya aku sudah tidak lapar lagi" ucap Tuti lalu dia pergi dari sana
Devan memikirkan ucapan Tuti, dia sadar sepertinya dia sudah cemburu buta, dia mau mencari Cahya juga tidak tau dimana tempat kos-kosan nya
Cahya tiduran dikamarnya, kepalanya terasa berat padahal tadi sudah minum obat, lalu Tuti datang melihatnya
"Ayya, kamu sudah mendingan belum?"
__ADS_1
"Kepala aku berat banget, sangat pusing"
"Kamu sudah minum obat? aku belikan bubur ya"
"Tidak usah, terimakasih,, aku mau tiduran saja"
Tuti mau menceritakan kejadian tadi di cafe Devan tapi diurungkan niatnya, dia tidak tega melihat Cahya yang kesakitan.
Devan terus menghubungi ponselnya tapi ponselnya dalam mode silent, dia juga sangat sakit kepala, jadi sampai paginya tidak melihat ponselnya.
Paginya Tuti mendatanginya kamar Cahya untuk melihat keadaan nya, tapi ternyata Cahya sudah bersiap untuk berangkat kuliah
"Kamu beneran sudah sehat?"
"Aku sudah ketinggalan satu hari, sudah tidak terlalu pusing"
Saat mereka sampai, terlihat Devan ada di dekat pintu masuk, Cahya belum mau menemuinya jadi dia meminta tolong pada Tuti untuk mengatakan kalau dia tidak masuk lagi
"Kamu mau apa disini?" tanya Tuti
"Ayya mana?"
"Dia belum masuk" Tuti lalu masuk lebih dulu, saat melihat Devan sudah pergi, Cahya baru menyusul Tuti.
"Sebenarnya ada apa? terakhir aku lihat kalian seperti pengantin baru, kenapa sudah berantem lagi?"
"Tidak ada apa-apa, dia terlalu posesif dari dulu, bahkan sering cemburu buta, mungkin karena kemarin aku tidak sehat, aku jadi kesal padanya"
"Sepertinya dia sangat mencintaimu"
Cahya tidak menjawab lagi karena terlihat Habib datang, Cahya merasa bersalah padanya karena dia dipukul Devan karena cemburu buta, tapi sepertinya Habib biasa saja dan malah menyapa Cahya
"Ayya, kamu datang, kamu sudah sembuh?"
"Iya, sudah mendingan" jawab Cahya canggung sambil mengangguk.
Tidak lama dosen datang jadi mereka langsung diam dan duduk rapi.
__ADS_1