Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Ayang, Bukan Ayya!!


__ADS_3

💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙


Devan masih diam, dan tidak mengatakan kalau dia lah suami Cahya, dia ingin Cahya yang mengatakan hal itu, tapi Cahya pun masih diam.


"Sikat ni Roy, janda ni, ingat kata Ayu ting-ting, Janda semakin didepan" ujar Sinta pada pemuda yang sepertinya tertarik pada Cahya.


Saat Devan ingin mengatakan dialah suaminya Cahya, lagi-lagi ada saja halangan nya, kali ini gelas yang dipegang Sinta terjatuh dan mengenai rok Cahya, Devan reflek bangun dari duduknya ingin membantu istrinya, Sinta juga berusaha membantu membersihkan.


"Tidak apa-apa, aku akan membersihkan nya sendiri"ujar Cahya lalu berjalan cepat ke kamar mandi.


Saat selesai membersihkan roknya, dia dihalangi jalan nya oleh Siska yang ternyata dari tadi mengikutinya, Siska terus bertanya siapa suami Cahya.


"Apa itu penting buatmu? sepertinya tidak ada hubungannya dengan kamu mau siapapun suami aku" jawab Cahya.


"Bukan begitu, aku hanya merasa prihatin padamu kalau kamu beneran janda, pantas saja kakak kamu terus menjagamu" ujar Sinta yang masih saja mengira kalau Devan dan Cahya adalah kakak dan adik.


Cahya tidak menjawab lagi, dia malas menjawab hal itu, dia kembali ke meja untuk menyelesaikan makan nya, Devan terlihat khawatir melihat raut wajah istrinya, dia merasa pasti ada sesuatu yang tidak beres.


Cahya lalu ingin kembali ke kamarnya tanpa mengajak Devan, dia juga hanya menganggukkan kepalanya saat berpamitan pada semua orang, saat Devan ingin mengikutinya Sinta ada dibelakang nya dan menghalangi jalan Devan.


"Caca sudah besar Devan, dia bisa kalau hanya ke kamarnya sendiri, kenapa kamu harus selalu protektif padanya, kamu kakaknya bukan suaminya" ujar Sinta


"Aku suaminya!"teriak Devan kemudian,


Mereka kaget mendengarnya, kenapa dari kemarin Devan atau Cahya tidak mengatakan yang sebenarnya, hingga membuat orang mengira kalau mereka kakak dan adik, sepertinya Sinta dan Boy yang paling kaget dan seperti tidak percaya, tapi Devan menunjukkan foto pernikahan mereka yang selalu ada di dompetnya supaya mereka percaya, setelah itu baru Devan berjalan cepat menyusul istrinya.


Devan berusaha merangkul Cahya tapi Cahya menghindar dan berlari kecil menghindari Devan, tapi Devan terus berjalan cepat mengejarnya, dan saat Cahya tertangkap, Devan langsung menggandengnya.


Semua itu tidak luput dari pandangan Sinta dan Roy, mereka tidak suka melihatnya, terutama Sinta yang lalu pergi dari sana, sepertinya dia sangat kecewa.


Devan dan Cahya kembali ke kamar untuk berkemas, saat Cahya sibuk merapikan barang-barang mereka, Devan menarik Cahya hingga jatuh ke pangkuan Devan.


"Ada apa?" tanya Cahya yang lalu melingkar kan tangan nya pada belakang leher Devan.


"Kenapa kamu harus semanis ini, membuat orang lain banyak menyukai mu" ujar Devan lalu mencium pipi Cahya


"Kamu juga kenapa sangat tampan, membuat perempuan lain mengagumi mu" balas Cahya lalu mencium suaminya.


Mereka saling tersenyum, Devan lalu mencium istrinya lama, Cahya melepaskan ciuman itu, dia ingat untuk menelepon Rafa, mereka lalu menelfon Rafa bersama.

__ADS_1


"Ayah, Afa makan es cream" ucap Rafa terlihat sedikit belepotan


"Jangan banyak-banyak makan es cream nya ya" jawab Devan


Setelah cukup lama mereka mengobrol lewat video call, telepon dimatikan karena Rafa ingin bermain lagi.


Devan kembali memeluk istrinya dan langsung merebahkan tubuh istrinya di sofa, dia lalu menciumi perut istrinya itu.


"Ayy, ayo kita periksa, apa disini sudah ada adik Rafa" ujar Devan


"Belum sayang, sabar ya" jawab Cahya


"Maafkan aku" ujar Cahya kemudian sambil membelai rambut suaminya yang masih menciumi perutnya itu.


"Kamu sudah tidak mengkonsumsi pil itu lagi kan?" tanya Devan.


"Tidak" jawab Cahya


"Kita disini seminggu lagi ya, kamu ambil tugas online saja" pinta Devan


"Tidak sayang, ayolah kita pulang" ujar Cahya


"Kamu masih belum mau berpisah dari Sinta ya" ujar Cahya.


"Apa sekarang kamu cemburu" tanya Devan jahil tapi


Cahya tidak menjawab, lalu menutupi wajahnya dengan bantal dan memegangnya erat tidak mau wajah cemburunya dilihat Devan


"Kenapa kamu sangat imut bahkan saat sedang cemburu" ucap Devan yang berusaha mengambil bantal yang dipegang erat Cahya untuk menutupi wajahnya itu.


Setelah berhasil mengambil bantal itu, Devan mendekat kan wajahnya pada wajah istrinya,


"Hanya ada kamu di hati ku, kamu pikir bertahun-tahun aku selalu mencari mu, bertahan dengan pikiran hanya karena kamulah yang boleh menerima hati dan tubuhku, apa hanya karena secuil batu sandungan lalu aku akan berpaling?" ujar Devan


"Sayang, pulang ya, aku tidak mau disini lebih lama, aku tidak nyaman disini" ucap Cahya kemudian.


"Sehari lagi saja ya" Devan terus menciumi istrinya


Cahya merasa ada hal buruk yang akan terjadi kalau mereka terus berada disini, dia menyadari Sinta yang menyukai suaminya, dia percaya pada suaminya tapi entah kenapa dia merasa tidak nyaman melihat Sinta, apalagi Sinta menyukai Devan jauh sebelum Cahya mengingat Devan.

__ADS_1


"Sayang, kamu dulu waktu pertama ketemu aku memang ingat apa asal tebak?" tanya Cahya pada suaminya


"Waktu itu? rahasia"jawab Devan sambil terus menciumi leher istrinya


"Aahhh sayang, jawab dulu!" teriak Cahya setengah mendesah


"Aku ingat saat kamu masih kecil, kayaknya seumur Rafa sekitar 3 tahun, kamu sangat gemuk dan lucu, sering menangis kalau aku tinggal, kamu selalu menempel padaku" ujar Devan yang mulai bercerita, dia menyudahi acara cium-mencium istrinya, dia lalu memeluk istrinya sambil bercerita.


"Kamu pasti mengarang cerita karena aku tidak ingat kan?" ujar Cahya merasa tidak percaya


Devan tertawa mendengarnya, saat itu memang Devan sering mengajak main Cahya kecil, dia sudah lebih besar jadi ingat samar-samar, tapi tentu saja dia tidak tau wajah Cahya setelah besar kalau tidak melihat foto yang ditunjukkan oleh bibinya Cahya waktu itu.


"Aku tidak tau pelet apa yang membuat mu terlihat begitu bercahaya terang hingga membuat ku hanya terfokus padamu"ujar Devan lalu mencium kening istrinya.


"Kalau kamu sejak kapan menyukaiku?" kali ini Devan yang bertanya pada istrinya


"Aku tidak ingat" jawab Cahya


"Kamu curang ya!" teriak Devan sambil menciumi wajah istrinya, Cahya tertawa lalu memegang wajah suaminya dengan kedua tangan nya, memandangi suaminya itu dan tersenyum.


"Panggil aku sayang, kamu curang tidak pernah memanggil ku begitu dan selalu memanggil namaku" ujar Cahya sambil manyun yang membuat Devan gemas dan langsung mencium bibir istrinya itu.


"Dari awal aku selalu memanggil mu begitu, Ayy itu kan ayang" ucap Devan setelah melepaskan ciuman itu.


"Bukan, itu kan Ayya, nama panggilan aku"


"Bukan itu maksud aku, dari dulu aku memanggil mu begitu karena kamu itu ayang ku"tegas Devan


"Aku tidak percaya"Cahya tetep keukeh pada pemikiran nya.


"Kalau kamu tidak percaya, aku bisa apa yang penting aku sudah menjelaskan" sekarang gantian Devan yang manyun karena perkataannya tidak dipercaya Cahya.


Cahya tersenyum melihat suaminya yang merajuk karena dia tidak mempercayainya, Cahya lalu bangun menyadari hari yang sudah semakin siang dan dia belum menyelesaikan membereskan semua barang nya karena akan segera pulang.


Devan kembali menariknya dan menindih istrinya itu, dia ngambek karena diabaikan saat sedang kesal.


"Kamu mau kemana? setelah membuat suamimu kesal dan tidak mempercayai ucapan nya, seenaknya saja mau pergi, tidak bisa begitu sayang, aku harus menghukum mu untuk itu" tanpa menunggu jawaban Cahya, Devan langsung menyerang istrinya itu.


"Ahhh sayang, aku harus beres-beres, ayo kita pergi dari sini"ucap Cahya yang sudah berada dalam kungkungan suaminya itu lagi.

__ADS_1


Tentu Devan tidak mendengarkan, dia terus menggagahi istrinya, dia begitu tergila-gila dengan segala hal tentang istrinya apalagi tubuh istrinya itu, dia selalu ingin menyentuh nya.


__ADS_2