Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Drama Perbucinan


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Kamu mau menggoda siapa dengan berpenampilan seperti itu" ujar Devan tidak suka melihat istrinya tampil Cantik.


Cahya mendekati suaminya lalu mencium nya dan mengajaknya keluar untuk mengikuti acara.


"Tidak bisakah kita dikamar saja Ayy?" bujuk Devan pada Cahya dan memeluk istrinya itu.


"Tidak sayang, ayo kita keluar kalau tidak malam ini tidak dapat jatah" ujar Cahya genit, Devan tersenyum mendengarnya, dia kemudian mencium istrinya.


Mereka lalu keluar kamar bersama, sesampai diruang tamu yang sudah disulap menjadi tempat acara ulang tahun yang sangat meriah itu, semua memandang ke arah Cahya yang membuat Cahya sedikit canggung.


"Aku bilang juga apa? kenapa kamu berpenampilan menarik begini?" ujar Devan lalu berjalan menggandeng Cahya, sebagai penjelasan buat semua, kalau wanita di sebelahnya adalah miliknya.


"Wooww, bintang kita pada acara ini telah kembali" ucap pembawa acara itu.


"Kalau melihat nyonya muda seperti ini ternyata aku sangat kalah jauh, pantas saja tuan Devan tadi langsung menolak ku mentah-mentah" sambung pembawa acara itu melanjutkan ucapan nya yang langsung membuat semua tamu tertawa.


Cahya hanya tersenyum kecil dan mengangguk sebagai tanda memberi salam pada semua nya, dia lalu berusaha mencari Rafa, saat terlihat ternyata Rafa sedang bermain bersama anaknya Renal, Cahya langsung mendekatinya, dia juga sekalian berkenalan dengan istri Renal.


"Mbak sangat berbeda kalau begini, pantas saja mas Devan tidak bisa berpaling" ujar Renal yang langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya dan juga dari Devan.

__ADS_1


"Jaga matamu!" teriak Devan


Devan mengajak Cahya dan Rafa untuk makan, tapi ternyata Rafa sudah makan jadi Devan makan berdua dengan Cahya, ibu Retno menghampiri mereka, dari tadi sepertinya beliau sibuk menyapa tamu undangan, ibu Retno membawa Cahya untuk dikenalkan pada teman-temannya, walau Devan tidak mengizinkan tapi tetap saja ibu Retno tidak peduli.


"Hey bocah tengil, dia mungkin istrimu tapi dia juga menantuku" ujar ibu Retno yang langsung menggandeng Cahya untuk mengajaknya menemui para tamu.


Devan kesal melihatnya apalagi Cahya tersenyum ramah pada semua tamu, dia lalu menariknya menjauh dan duduk di kursi pojok sambil membawa beberapa snack dan minuman.


"Ayy, ayo ganti bajumu, kamu terlihat sangat jelek" ujar Devan, dia masih tidak suka kalau istrinya menjadi pusat perhatian banyak tamu undangan, Cahya hanya tersenyum mendengarnya.


Acara telah selesai dan tamu undangan sebagian sudah pada pulang, Cahya berniat mengurus anaknya tetapi seperti dulu, Cahya selalu dilarang melakukan apapun, ibu Retno yang ingin mengurus cucunya apalagi mereka sudah lama tidak bertemu.


Cahya dan Devan kembali ke kamar untuk mandi dan berganti baju, mereka lalu mengobrol, Devan mengajak Cahya tinggal di Bandung setelah pulang dari luar negeri untuk memeriksa kondisi rahim Cahya.


"Aku berencana membuka cabang Cafe di Bandung, disanalah kota pilihan aku untuk membuka cabang luar kota aku juga berencana membuka cabang diluar negeri bersama Renal, nantinya dia yang akan bertanggungjawab untuk cabang luar negeri"Devan menjelaskan alasan nya dan berharap Cahya mau mengikuti keinginannya.


"Aku harus kembali dulu secepatnya ke desa Samigaluh tempat aku tinggal selama ini, Rafa belum menerima ijazah kelulusan sekolah TK nya, desa itu tidak terlalu jauh dari sini, cuma beberapa jam, kenapa kamu tidak bisa menemukan ku? sepertinya kamu tidak mencari ku ya?" ucap Cahya mulai menceritakan keberadaannya selama ini, dia bersandar pada dada Devan sambil memeriksa ponselnya.


"Kota ini sangat besar Ayy, aku bahkan sempat mencari kamu ke perkebunan karet tempat kabur kamu yang dulu, ternyata disekitaran sana tidak ada, aku pikir kamu perginya lebih jauh, lalu kenapa kamu memilih tinggal di desa itu?" tanya Devan


"Dulu aku pernah KKN di desa itu waktu kuliah jadi aku sedikit tau tentang desa itu"jawab Cahya masih terus serius membalas semua pesan masuk di ponselnya karena dari semalam dia tidak sempat membuka ponsel.

__ADS_1


Devan membelai rambut istrinya, dia kembali membujuk Cahya untuk keluar negeri memeriksakan rahim nya, Cahya masih belum mau, dia takut kecewa, dan takut Devan kecewa juga kalau hasilnya tidak seperti yang diharapkan.


"Kecewa itu manusiawi sayang, kita hanya harus terus berusaha, kita akan segera ke desa Samigaluh tapi hanya untuk mengambil ijazah Rafa, setelah Rafa mulai sekolah SD, kita ke luar negeri untuk memeriksa kondisi kamu saat ini, setelahnya kita tinggal di Bandung" ucap Devan yang tangan nya mulai tidak terkendali, sudah kembali menyusup ke dalam baju istri tersayangnya itu, Cahya menerima setiap sentuhan Devan dan tidak melawan lagi.


"Tidak bisa, aku tidak mau meninggalkan Rafa disini, kalaupun aku mau mengikuti semua rencana mu, Rafa harus ikut bersama kita" jawab Cahya lalu menghadap ke Devan untuk mulai negosiasi.


"Sayangku, kita tidak boleh mengorbankan masa depan Rafa, dia harus bersekolah, kita tidak tau berapa lama di luar negeri" Devan gemas pada istrinya yang terus membantah ucapan nya, dia lalu mengacak rambut istrinya.


Tok tok tok


"Mama, ayah,, ayo makan malam!" teriak Rafa dari luar membuat tangan Devan yang sedang bergerilya itu menghentikan aksinya, Cahya langsung bangun dan membuka pintu.


Disaat mereka makan bersama dengan seluruh keluarga, tentu saja Devan dan Cahya menjadi bahan ledekan, apalagi Devan yang terus menempel pada Cahya, mereka tidak habis pikir kenapa ada orang yang sudah dewasa atau bisa dibilang tua, berkelakuan seperti remaja yang sedang jatuh cinta, tapi Devan tidak memperdulikan mereka, dan hanya terus makan dengan tetap memandang ke arah istrinya.


"Makan yang benar Devan, tidak ada yang akan mengambil Ayya darimu" ucap ibu Retno


"Memang tidak ada yang mengambilnya tapi dia punya kaki yang sewaktu-waktu bisa kabur lagi" jawab Devan sarkasme.


"Aku tidak akan pergi kalau tidak ada alasan kuat, aku pergi untuk membiarkan mu mencari pengganti ku karena kekurangan ku, tapi karena kamu yang memaksaku kembali, jadi tidak ada kesempatan lagi untukmu mencari yang lain, mulai sekarang hanya aku yang boleh di sisimu, bahkan hanya untuk melirik wanita lain, kamu tidak aku izinkan"jawab Cahya sambil melihat kearah suaminya.


Devan tersenyum mendengarnya dan langsung membelai rambut Cahya, ibu Retno bengong, Renal terbatuk-batuk, dan yang lain tersenyum malu sendiri mendengarnya, makan malam mereka harus diselingi dengan drama perbucinan Cahya dan Devan.

__ADS_1


"Sudah diam kalian dan selesaikan makan dengan tenang" ujar ayah Devan, beliau sendiri secara diam-diam langsung memegang tangan ibu Retno yang membuat sang empunya kaget.


"Apa!? jangan ketularan mereka ya, inget umur!" teriak ibu Retno pada suaminya.


__ADS_2