Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Nyonya Devan


__ADS_3

Devan lalu duduk disebelah istrinya, Cahya memang terlihat biasa saja tapi Devan paham kalau istrinya tidak menyukai situasi ini, Devan sudah sangat hafal dengan sifat istrinya yang pandai menyimpan perasaannya.


"Makan yang banyak sayang, biar kamu cepat bertumbuh besar" ujar Devan tanpa malu dilihat oleh Sari, Devan menyuapi Cahya, Cahya hanya tersenyum lalu memakan makanannya.


"Maaf, aku lupa kalau masih ada yang harus aku kerjakan, duluan ya" ujar Sari lalu pergi dari sana.


"Ayy" panggil Devan yang terus memperhatikan istrinya yang terlihat serius makan, tapi Cahya hanya menoleh sebentar.


"Ayy, jangan seperti ini, kamu terlihat menakutkan kalau begini"


"Memang aku selalu menakutkan" jawab Cahya sambil terus makan, dia lalu menyuapi Devan dengan tanpa ekspresi.


Kring kring kring


Ponsel Cahya berbunyi, panggilan dari atasan nya yang dia belum pernah bertemu karena baru memberi pekerjaan lewat online dan itupun belum dia kerjakan.


"Ada undangan sesama editor di Kantor, bisakah untuk datang? sekalian perkenalan" ujar sang penelefon yang belum diketahui namanya


"Hari apa ya bapak, maaf dengan siapa saya berbicara?" tanya Cahya


"Panggil saja Heri, aku juga dari Jakarta, semoga kamu betah ya bekerja, tulisan kamu sangat bagus jadi atasan langsung suka, beliau meminta saya untuk menghubungi mbak Cahya karena tau kita berasal dari negara yang sama, dan jangan panggil bapak karena aku belum menikah, kamu bisa datang kan besok siang?"


"Iya baik, saya akan mengusahakan untuk datang" jawab Cahya.


Panggilan telepon itu terputus, Cahya lalu melanjutkan makannya, dia masih cuek pada Devan padahal suaminya itu tidak melakukan kesalahan apapun, tapi Devan tidak marah karena dia sadar istrinya sedang cemburu, dia malah tersenyum karena dengan begitu berarti Cahya memang mencintainya.


Setelah selesai makan mereka berniat pulang, Devan membawa laptop yang tadi dia beli mengusul Cahya yang sudah jalan duluan, Cahya tidak memperhatikan jalan dan menabrak seseorang.


"Aahhh!" teriak Cahya kaget, karena dari tadi dia melamun, Cahya meminta maaf sambil menunduk, dia tidak memperhatikan siapa yang dia tabrak, Devan membantu Cahya tapi Cahya langsung berjalan cepat setelah meminta maaf pada orang yang dia tabrak.


"Ayy, kamu salah arah" ujar Devan menahan ketawanya melihat istrinya ngambek karena cemburu.

__ADS_1


Cahya langsung berhenti dan melihat kearah suaminya dengan wajah manyun nya yang malah membuat Devan gemas melihatnya.


Cuuppp


Tidak peduli ditempat umum, Devan mencium istrinya karena terlihat menggemaskan dengan bibir nya yang maju karena sedang manyun, Cahya kaget dan membelalakkan matanya lalu melihat sekitar, walau tidak ramai tapi tetap saja ada beberapa orang berlalu lalang.


Devan tersenyum melihat tingkah istrinya, dia lalu menggandeng istrinya itu untuk menuju apartemennya, dia hanya bercanda kalau Cahya salah arah, padahal sebenarnya tidak, dia hanya ingin membuat istrinya berhenti dan menggandengnya.


"Sudah jangan marah lagi, dia cuma rekan kerja aku yang akan bersama membuka cafe, dia teman nya Renal" Devan menjelaskan siapa Sari pada istrinya.


"Tapi aku senang kalau kamu cemburu, berarti kamu memang mencintaiku" ujar Devan menghentikan langkahnya dan melihat ke arah istrinya lalu mencium keningnya.


"Devan, ini tempat umum"bisik Cahya


"Kenapa memang, yang aku cium kan istri aku sendiri" jawab Devan.


Mereka sudah sampai kedalam apartemen mereka, Cahya langsung memulai menulis setelah berganti baju, Devan terus mengganggunya dengan tiduran dengan kepalanya dipangkuan Cahya, sesekali memainkan dan meremas buah kembar istrinya yang membuat Cahya geli dan tidak konsentrasi.


"Kamu kenapa masih terus memanggil namaku, kamu tidak sopan, aku ini suami kamu" ujar Devan terus menggerayangi tubuh istrinya yang membuat Cahya langsung menutup laptopnya karena percuma saja, dia tidak bisa mengerjakan apapun kalau seperti itu.


"Sayangku, cintaku, suamiku, tolong kasih aku waktu sebentar saja, setengah jam saja ya, setelahnya kamu bebas mau melakukan apapun, aku janji" ujar Cahya lalu mencium suaminya sekilas.


"Tidak mau, aku maunya sekarang"


"Sayang, nanti nya aku keburu mengantuk dan kecapean kalau itu dulu"


"Kamu pilih aku atau kerjaan kamu?"


"Tidak bisa seperti itu, itu sungguh berbeda, lagipula besok kamu bekerja kan? jadi istirahatlah biar besok kamu tidak mengantuk" bujuk Cahya


"Aku tidak bisa tidur kalau tidak memelukmu"

__ADS_1


"Selama aku pergi kamu memeluk siapa? kamu pasti tetap tidur kan?"


"Aku tidak bisa tidur, dan terus mengkonsumsi obat tidur, kalau aku tidur aku sering mengigau dan tidak nyenyak" jawaban Devan yang membuat Cahya kembali merasa bersalah, dia lalu mengalah dan menuruti kemauan suaminya.


Cahya menyimpan laptopnya dan ke kamar mandi untuk bersiap tidur, atau entah bersiap untuk apa, karena tidak mungkin Devan membiarkannya tidur kalau belum memberi jatah malam hari nya.


Cahya kembali memakai baju haramnya, untuk menyenangkan suaminya, dan tentu saja Devan memang sangat suka, walau akhirnya dia berkata,


"Lebih baik tidak usah pakai baju" ujar Devan dan langsung menyerang istrinya dan melucuti semua pakaiannya.


Cahya tertidur di pelukan Devan, dia selalu kecapean dengan aksi Devan, bahkan sering kewalahan hingga merasa sangat lemas dan langsung tertidur setelah Devan menyelesaikan tugas malam yang sangat Devan sukai itu.


"Terimakasih sayang" Devan mencium kening istrinya, walau istrinya tidak mungkin menjawab Karena sudah tidur lelap, Devan lalu memeluk istrinya dan menyusul istrinya memasuki alam mimpi.


Cahya bangun terlebih dahulu, lalu memandangi wajah suaminya, dia membelai wajah suaminya yang langsung terbangun dan menggenggam tangan istrinya.


"Tidurlah sebentar lagi, hari ini aku berangkat agak siang" ujar Devan lalu kembali memeluk Cahya erat.


"Sayang, aku mau bikin sarapan, kamu mau dibikinkan apa?"


"Apa saja" jawab Devan yang matanya masih terpejam, Cahya mengetuk-ngetuk pelan dada Devan.


"Kamu mau makan apa?"


"Mau makan kamu" jawab Devan lalu membuka matanya dan langsung menindih tubuh istrinya.


Cahya membelai dada suaminya, dia lalu meminta maaf karena membuat Devan menderita dengan kepergiannya selama ini, Devan tidak menjawab dan hanya terus menyusuri leher istrinya, Cahya memeluk kepala suaminya, Devan kembali melakukan nya di pagi hari itu, dia sebenarnya masih sangat trauma dengan kepergian Cahya, dia terus menyentuh istrinya untuk membuatnya tenang dan percaya kalau memang benar istrinya sekarang ada disisinya.


"Ayy, janji ya jangan pernah pergi lagi" ujar Devan setelah kembali menghangatkan rahim istrinya, Devan memeluk erat istrinya, Cahya hanya sanggup mengangguk karena dia masih dalam kungkungan Devan, mereka sedang merasakan terjangan kenikmatan.


Mereka mandi bersama, Devan meminta Cahya untuk tiduran atau duduk saja, dia yang akan membuat sarapan.

__ADS_1


"Nyonya Devan cukup diam saja, hamba akan melayani nyonya" ujar Devan yang langsung menuju dapur, Cahya tersenyum melihat tingkah suaminya.


__ADS_2