Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Sangat Menyukai


__ADS_3

💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙


"Cahya, kenapa kamu ada disini, kapan kamu mudik?" tanya ibu Retno


"Kemarin tante"


"Apa kamu bareng Devan pulang nya?"


"Tidak tan, tidak bareng, kemarin Devan sempat kerumah aku, tapi aku tidak tau kenapa dia jalan kembali ke kota, aku pikir dia pulang ke rumah"


"Jadi semua ini salah kamu?"


"Maaf tante" Cahya mulai menangis


"Jadi bener ini semua salah kamu?"


"Maaf"hanya itu yang bisa Cahya ucapkan


"Sebenarnya dia salah apa ke kamu? apa salah kalau dia sangat menyukai mu? tante tau semua, karena sebelum pergi dia menceritakan semua, dia pergi kerja, untuk belajar mandiri, padahal dia di rumah juga tidak kurang suatu apapun, kalau kamu tidak menyukainya, jangan kamu kasih harapan"


"Maaf" hanya itu yang terus Cahya katakan, karena memang semua ini salahnya.


"Sekarang kamu pergi dari sini, kalau kamu hanya ingin menyakitinya"


Cahya keluar dari rumah sakit, untuk meredakan kemarahan ibu Retno, Cahya lalu duduk di kursi taman rumah sakit, dan tiba-tiba,


"Ayy, kenapa kamu ada disini?" panggil seseorang,


Cahya menoleh ke sumber suara, dan ada Devan berdiri disana.


Cahya yang masih menangis bingung, karena dia pikir Devan ada didalam ruangan itu, dia belum paham apa yang terjadi, dia mendekati nya.


"Katanya kamu kecelakaan?"tanya Cahya


"Iya, tapi aku tidak apa-apa"


"Terus kenapa di sini?"


"Yang tabrakan sama aku yang lebih parah, tangan nya patah, ngomong-ngomong kenapa kamu ada disini?" tanya Devan lagi


Cahya bingung harus menjawab apa,


"Aku menjenguk teman ku yang lagi sakit"


"Jangan bohong ayy, kamu kesini karena khawatir sama aku kan?"


"Tidak, tentu saja tidak, aku pergi dulu ya, semoga kamu cepat pulih"


Saat Cahya akan berbalik pergi, Devan langsung menarik tangan nya dan kemudian menarik tubuh Cahya kepelukannya, Cahya menangis lagi tapi dia berusaha melepaskan pelukan itu.


Cahya tadi sangat ketakutan sekarang dia malu, tapi juga lega.

__ADS_1


"Tolong diam lah sebentar saja, aku sangat takut, aku pikir aku tidak akan bisa melihatmu lagi, aku pikir kamu menolak ku karena kemarin kamu tidak mengakui aku di depan teman-teman mu"


"Maaf " ucap Cahya terisak


"Maaf juga kamu kecelakaan, ini semua salah ku,," lanjut Cahya


"Kenapa ini salah mu, ini karena aku yang kurang hati-hati"


"Devan" panggil seseorang yang tidak lain adalah mama nya


"Kalian sedang apa?"


Mereka langsung melepas kan pelukan, Cahya langsung menjauh tapi Devan menarik nya kembali ke dekatnya.


Cahya tertunduk diam, dia takut ibu Retno akan memarahinya lagi


"Cahya, kamu masih disini?"


"I,, iya tan, maaf"


"Devan, kamu antarkan dia pulang dulu, ini sudah malam, biar mama yang menyelesaikan administrasinya"


Cahya tidak tahu harus berkata apa, dia hanya mengangguk untuk berpamitan pada ibu Retno, saat sudah di dalam mobil Devan bercerita, sebenarnya yang salah adalah pemotornya karena ngebut, dan motor itu yang menabraknya dari belakang, Devan kaget langsung banting stir.


"Kalau dia yang salah kenapa kamu harus bertanggung jawab"


"Aku hanya kasian saja"


"Ini sudah malam ayy, ini bukan di kota yang masih rame di malah hari, disini belum banyak penerangan dan masih sepi"


"Ayy"


"Iya" jawab Cahya sambil melihat ponselnya.


dia mengabari mama nya kalau lagi di perjalanan pulang.


"Apa Wawan masih mengejar mu selama ini?"


"Selama ini aku tidak pernah membalas pesan nya"


"Kenapa dia bisa tahu kalau kamu pulang?"


"Mungkin dari Wati"


"Kenapa kamu bicara seperti itu ke dia"


"Bicara apa?" jawab Cahya, masih sibuk dengan ponselnya


"Kenapa kamu bilang aku bukan pacar kamu, bukan kah kamu harusnya bilang belum, tapi kamu malah menjawab aku bukan pacarmu!?"


"Apa bedanya?"

__ADS_1


Tiba-tiba mobil berhenti


"Ayy, lihat aku" dia sudah menghadap ke Cahya dan membuka sabuk pengaman nya untuk berbicara serius


"Kenapa kamu terus menghindari ku?"


"Aku tidak begitu" jawab Cahya agak canggung dengan posisi Devan yang memandanginya


"Sekarang jawab, apa kamu menyukai ku?"


"Kenapa kamu begitu curang, kenapa kamu menanyakan nya sekarang?"


"Aku sengaja biar kamu tidak bisa kabur lagi, sekarang jawab aku, kalau kamu memang tidak menyukai ku, ini akan jadi kali terakhir aku menganggu dan menemui mu lagi"


"Aku akan jawab kalau sudah di Bandung lagi"


"Harus sekarang"


"Kenapa?


"Aku sudah cukup tersiksa tanpa kepastian mu selama ini"


"Aku akan menjawab mu saat aku sudah kembali ke Bandung" jawab Cahya menegaskan


"Tidak cukup kah kamu menyiksaku?"


"Bukan kah tadi kamu bilang tidak akan menemui ku lagi, kalau aku tidak menyukai mu? aku masih meminta waktu, bukan kah itu tanda nya aku masih ingin bertemu dengan mu" jawab Cahya sambil tersenyum malu, itu membuat Devan ikut tersenyum juga.


"Kalau kamu jawab sekarang, aku akan terus bersamamu, aku tidak akan pergi lagi, aku akan cari pekerjaan di Bandung"


"Tidak usah,, kamu tetap bekerja di Jakarta saja"


"Kenapa? kamu takut khilaf ya kalau deket aku?"


Cahya malu mendengarnya dan menutup matanya dengan sebelah tangan nya, dan tiba-tiba


Cup


Devan mencium tangan itu, tangan yang Cahya gunakan untuk menutupi wajahnya.


Cahya membeku sesaat, tapi langsung mendorong Devan menjauh


"Kamu apa-apa an"


"Apa kamu tau, selama di Bandung waktu itu, aku sangat menahan diri untuk tidak masuk kamarmu, aku bisa saja melakukan nya, tapi aku selain menyukai dan mencintaimu, aku juga menyayangimu, aku tidak akan menyakitimu"


Cahya sangat malu dan memalingkan wajahnya menghadap jendela mobil.


"Ayo cepat berangkat, sudah semakin malam" ujar Cahya berusaha menutupi rasa malunya.


"Siap sayang ku" jawab Devan bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2