
Devan membawa Cahya ke sebuah hotel, Devan langsung membersihkan diri, mereka tidak membawa baju jadi Devan hanya memakai jubah mandi, Devan lalu menyuruh istrinya untuk mandi juga.
"Aku tidak membawa baju ganti, lagipula aku sedang datang bulan, aku tidak bisa mandi kalau tidak ada ganti" ujar Cahya malas lalu tiduran di sofa.
"Kamu mandi dulu, nanti sebentar lagi ada yang mengantarkan baju dan semua kebutuhan kamu"
"Aku malas" jawab Cahya masih tidak mau bangun dari tiduran nya
"Sepertinya kamu mau aku memandikan mu" jawab Devan, mendengar itu Cahya langsung bangun dengan malas menuju kamar mandi.
Benar saja seperti yang Devan katakan, saat Cahya selesai mandi, semua baju dan barangnya sudah ada di sana, setelah memakai baju, Cahya mendekati suaminya yang sedang sibuk dengan laptop nya, seperti nya sedang memeriksa pekerjaan dan bisnisnya.
Cahya duduk disebelah Devan dengan canggung, dia merasa bersalah pada Devan karena telah membuat masalah besar, Devan menoleh melihat istrinya.
"Ada apa? apa kamu lapar?" tanya Devan
Cahya menggeleng lalu semakin bergeser mendekati suaminya, Cahya menyandarkan kepalanya pada bahu Devan, membuat sang empunya bahu tersenyum melihat tingkah istrinya, Devan menahan senyumnya dan berpura-pura tetap focus pada pekerjaan nya.
"Maafkan aku" ucap Cahya pelan, tapi karena tidak ada juga jawaban dari suaminya, Cahya lalu menggerakkan wajahnya di bahu Devan, seperti seekor anak kucing yang mencari perhatian.
Devan mencoba menahan diri untuk tidak langsung menanggapi istrinya itu, dia mau melihat seberapa jauh istrinya mencoba meminta maaf atas kesalahannya kali ini.
"Sayang, maafkan aku" ucap Cahya sambil terus berusaha menarik perhatian Devan dengan semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Devan, Cahya lalu bangun karena merasa tidak ditanggapi oleh Devan
"Eh, eh, eh, mau kemana anak kucing ku yang manis?" batin Devan, dia pikir Cahya akan pergi menjauh, ternyata Cahya bukan pergi tapi langsung duduk diatas pangkuan Devan, kakinya dia kaitkan pada pinggang Devan dan tangannya memegangi pipi Devan.
"Maaf" ucap Cahya lagi dengan wajah imutnya yang terlihat memelas, Devan tidak sanggup lagi melihatnya, langsung memeluk istrinya itu lalu menciumnya, Devan melepaskan ciuman nya dan memeluk tubuh istrinya erat, wajah Devan yang berada di dada istrinya tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung membuat tanda merah di dada istrinya.
"Aaaakkkhhh sayang, aku sedang datang bulan" rintih Cahya
"Ini masih ada kan?" ucap Devan menunjuk mulut Cahya dan langsung menciumnya, Cahya berusaha melepaskan ciuman itu.
"Sayang, kamu sudah memaafkan aku kan?" tanya Cahya memastikan tetapi suaminya tetap tidak menjawab.
"Sayang,. aaahhhh,, jawab dulu" ucap Cahya sambil terus mendesah
"Akan aku pertimbangkan permintaan maaf mu, aku ingin lihat dulu seberapa keras kamu mencoba meminta maaf" jawab Devan lalu bibirnya langsung mengulum buah kembar favoritnya.
"Devan sudah cukup, aku sedang datang bulan" Cahya sedikit mendorong kepala suaminya agar menjauhi dadanya
"Apa kamu tidak mau dimaafkan?" tanya Devan
"Bukan begitu, kamu tau kan aku,,, eekkhhmmm" Cahya tidak bisa melanjutkan ucapan nya lagi, seperti biasa, Devan sudah menutup mulutnya dengan ciuman panas dan terus memainkan lidahnya.
Devan mungkin mengalami kerugian besar hari ini, tetapi kerugian sebesar apapun tidak berarti baginya, yang penting Cahya masih ada disampingnya, Devan begitu tergila-gila pada istrinya, dia tidak membiarkan istrinya libur melayani nya walau sejenak kecuali sedang sakit.
Devan akan terus meminta dilayani karena baginya itu adalah penenang untuknya, Devan sangat trauma dengan seringnya Cahya meninggalkannya, membuatnya ingin selalu didekat istrinya dan selalu menyentuhnya, dengan begitu hatinya tenang karena Cahya benar ada disisinya.
Cahya melayani suaminya, Devan melenguh penuh nikmat saat istrinya berhasil membuatnya mendapatkan pelepasan walau tidak dengan cara seperti biasanya.
"Devan sudah ya, mulutku capek" ucap Cahya melihat kearah suaminya yang baru mendapat pelepasannya
"Masa capek baru sekali?" tanya Devan jail
__ADS_1
"Devan, aku bukan dirimu, dasar cabul" ucap Cahya kesal, milik suaminya besar jadi mulutnya sedikit sakit karena terus mengulumnya dari tadi.
"Tidak apa-apa aku cabul, yang penting yang aku cabuli cuma kamu" jawab Devan menarik kembali istrinya kedalam pelukannya
"Ayy, mulai sekarang akan ada hukuman kalau kamu memanggil ku dengan namaku"
"Kenapa begitu?"
"Karena kamu kebiasaan menjadi tidak sopan padaku, aku pernah bilang, jangan panggil namaku tetapi kamu terus seperti itu, jadi mulai sekarang akan ada denda atau hukuman kalau kamu masih tidak berubah" ujar Devan
"Tapi kalau cuma berdua kan?" tanya Cahya
"Every time"jawab Devan semakin mempererat pelukannya.
"Istriku sayang, kamu mau makan apa?" Devan lalu bertanya hal lain karena hari semakin malam dan mereka belum makan
"Apa saja" jawab Cahya yang mulai bergerak untuk bangun, tetapi Devan tidak mungkin membiarkan istrinya itu bangun, Devan terus menahan tubuh istrinya dalam dekapannya.
"Devan, aku,,, aakkhhhhh!" pekik Cahya karena Devan meremas dadanya dengan sedikit keras
" Aku bilang akan ada hukuman kalau kamu memanggil ku hanya namaku saja, oh iya Ayy, ini kenapa membesar dan mengeras?" tanya Devan yang terus meremas lembut buah favorit nya itu.
"Karena aku sedang datang bulan" jawab Cahya sekenanya karena untuk menjelaskan alasan sebenarnya dia juga tidak tau pastinya.
Devan terus memainkan buah kembar istrinya itu, membuat sang empunya merem melek, hingga terdengar suara ketukan pintu
"Siapa sih, mengganggu saja" ucap Devan setelah melepaskan mulutnya dari buah kembar istrinya.
Devan memeriksa siapa yang datang, dan ternyata layanan kamar karena tadi Devan memesan makanan, Cahya membenarkan bajunya lalu turun dari ranjang untuk makan.
"Devan sayang, itu maksud aku, Devan sayang ku,, tadi aku belum selesai berbicara, kamu sangat sensitif sekali" ucap Cahya terus menahan tubuh suaminya, Cahya sangat lapar, akan lama urusannya kalau Devan kembali menyentuhnya, untung saja Devan lalu duduk kembali karena dia juga sepertinya lapar.
"Devan, sampai kapan kita disini?" tanya Cahya lalu minum susu coklat hangat yang ada didepannya, Devan tidak menjawab tapi langsung mendekati nya dan menghisap ujung bibir Cahya yang terdapat sisa susu, Cahya melotot kaget.
"Terus saja memanggil ku dengan namaku, seperti nya kamu sengaja begitu supaya aku terus menyentuhmu dan memberimu hukuman, tapi ingat Ayy, ini juga berlaku kalau kita sedang berada diluar, aku tidak akan segan melakukannya walaupun di tempat umum" ujar Devan santai lalu kembali duduk di kursi nya dan kembali makan, Cahya hanya manyun lalu kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Sayangku, cintaku, suamiku terlove-love,, sampai kapan kita disini?" tanya Cahya dengan wajah yang dibuat seceria mungkin
"Iya benar seperti itu, kamu cepat belajar ternyata, mungkin sekarang kamu terpaksa dan tidak terbiasa tetapi lama-kelamaan kamu akan terbiasa dengan sendirinya" ujar Devan
"Kita disini sampai acara pernikahan Dena selesai, bukankah kamu ingin menghadiri acara itu? kalau tidak besok juga kita bisa kembali ke Indonesia" Devan menjawab pertanyaan istrinya.
Mereka menyelesaikan makan malam, lalu tidur bersama saling berpelukan walau tidak melakukan kegiatan panas seperti biasanya.
Kring kring kring kring
"Ayya, kamu harus datang ke acara nikahan aku di hotel XXC hari minggu, nanti aku kirim baju Bridesmaid nya 3 hari sebelum acaranya supaya kalau kebesaran atau kekecilan masih ada waktu untuk memperbaiki"
__ADS_1
"Iya Dena, aku pasti datang, tetapi aku bawa pawang aku ya?"
"Tentu saja Ayya, aku sangat paham siapa suami kamu, ini ada oleh-oleh dari Indonesia, ini aku berada didepan apartemen kamu tetapi kenapa tidak kamu bukakan pintu dari tadi, kamu tidak sedang dibawah suami kamu kan?" tanya Dena menggoda temannya
"Aku sudah tidak tinggal disana lagi, sekarang aku di hotel, aku lupa namanya, nanti aku kirim alamatnya"
"Cepat Ayya, takutnya aku tidak ada waktu luang lagi, soalnya banyak yang harus aku persiapkan"
"Siap pengantin, jangan terlalu kecapean kamu harus jaga kesehatan, aku tutup dulu telepon nya ya, nanti aku akan segera kirim chat alamat hotel yang aku tinggali sekarang" Cahya menutup panggilan telepon dari Dena
"Siapa Ayy?" tanya Devan yang baru keluar dari kamar mandi
"Dena" jawab Cahya singkat.
Cahya menyimpan kembali ponselnya setelah mengirimkan alamat hotel yang dia tinggali pada Dena, Cahya lalu mandi sebelum Dena sampai supaya nyaman saat nanti mengobrol.
"Ayy, sebelum Dena sampai, aku keluar dulu ya sebentar" pamit Devan pada istrinya yang sedang menyisir rambutnya.
"Mau kemana?" tanya Cahya pada suaminya
"Aku mau ke cafe Renal, dia bilang ada sesuatu yang harus diurus" jawab Devan lalu memegangi rambut istrinya
"Kamu sudah keramas, berarti nanti aku bisa kan?" ujar Devan dan memainkan matanya menggoda Cahya
"Tidak, ini hanya keramas biasa" jawab Cahya
"Berani aku periksa? ini sudah hampir seminggu Ayy, bisa kering aku lama-kelamaan kalau begini" ucap Devan sudah memegangi paha istrinya
"Kamu sangat jorok, kamu mau memeriksa apa? aku beneran belum selesai sayang, kalau sudah selesai akan aku langsung sodorkan padamu" ucap Cahya lalu tersenyum malu dengan ucapan nya sendiri.
"Janji ya?"
"Iya sayang, cepat sana kamu berangkat biar cepat kembali lagi, aku tidak mau jauh darimu lama-lama" ucap Cahya menggombal yang langsung dibalas tindakan oleh Devan.
Eeeehhhhmmmm,
__ADS_1
Devan mencium istrinya dengan penuh gairah, mereka berciuman cukup lama hingga terdengar bunyi bel pintu, mereka yakin itu pasti Dena.