
Cahya hanya diam saat memasuki kamar hotel yang dia tempati beberapa hari ini, Devan terus berusaha menjelaskan tetapi sepertinya Cahya tidak peduli dan tidak mengatakan apapun, Devan kesal lalu kembali mengingat Cahya yang memegang tangan Habib, Devan lalu membawa Cahya ke depan wastafel dan mencuci tangannya, dia tidak mau ada jejak orang lain di bagian tubuh istrinya walau hanya ditangan.
Devan lalu memeluk istrinya dan terus menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tetapi Cahya seperti tidak menanggapi dan hanya mengangguk atau menggeleng,
"Jangan seperti ini Ayy, aku benar-benar dijebak, saat itu aku langsung sadar"
"Tidak apa-apa, semua sudah terlewati, tidak ada yang bisa dilakukan lagi, aku mengantuk dan merasa lelah, biarkan aku tidur" Cahya berusaha melepaskan pelukan Devan.
"Ayy, lebih baik kamu marah saja, aku tidak suka kalau kamu seperti ini!"
Cahya masih terus diam dan mempersiapkan selimutnya, dia sudah bersiap tidur bahkan tidak mengganti baju nya dengan baju tidur, Devan mendekatinya dan langsung merebahkan tubuhnya yang dari tadi masih sibuk membuka lipatan selimut, Cahya tidak melawan dan hanya diam, sikap yang sangat tidak disukai Devan.
"Jangan seperti ini Ayy, aku mohon padamu, aku akan segera mendapatkan bukti bahwa video itu tidak sepenuhnya benar"
"Mau benar atau tidak, itu tidak masalah buatku, sekarang biarkan aku tidur"
Cahya memejamkan matanya karena Devan masih menindih dadanya, Devan sadar istrinya sedang hamil jadi dia harus menahan diri untuk tidak berbuat sesukanya, tetapi kali ini dia sangat kesal karena istrinya kembali bersikap seperti ini, ditambah dia mengingat saat Cahya memegang tangan Habib dan senyuman serta lambaian tangan Cahya untuk Habib, Devan akhirnya tidak bisa mengontrol lagi rasa cemburunya.
Cahya tidak bereaksi apapun terhadap sentuhan nya, tidak terdengar rintihan dan desahannya, tidak ada rengekan manja dari istrinya itu, Devan semakin mempercepat gerakannya, Cahya hanya terpejam dan memegang erat bantal yang dia pakai untuk menahan rasa yang diberikan suaminya, Devan ingat kalau istrinya sedang hamil dia lalu menyudahi kegiatannya karena tau istrinya sedang tidak ingin.
Cahya memakai kembali bajunya dan langsung tidur, dia ingin melupakan masalah yang datang dan berharap ketika bangun dia akan melupakan segala kesedihan hari ini, Devan memeluk Cahya dan menciumi wajah nya,
"Istirahat dulu sayang, aku berjanji akan segera menyelesaikan masalah ini"
Setelah Cahya tidur, Devan mencari tahu informasi mengenai video itu, dia menginginkan video nya secara full tapi yang membuatnya kaget ternyata Ratu telah bertindak lebih jauh, karena saat ini ternyata Ratu sudah berada di rumah orang tuanya.
"Kenapa mama tidak memberi tahu padaku lebih cepat" Devan menelepon ibu Retno
"Mama tidak mau kalau sampai Ayya mengetahuinya, dia akan kembali meninggalkan dirimu kalau ada masalah besar seperti ini"
"Tidak ma, dia masih bersamaku dan dia juga sudah tau karena sudah melihat video itu juga, apa wanita itu sudah mengatakan apa yang dia inginkan?"
"Dia mau kamu menikahi nya karena kalian sudah,,,,, sudahlah tidak perlu mama jelasnya, semua orang pasti berfikiran sama setelah melihat video itu, mama hanya tidak menyangka Van, kenapa kamu seperti itu? mama sering menawarkan padamu, kalau kamu mau menikah lagi mama mempunyai banyak kenalan yang mempunyai banyak anak perempuan, tetapi kenapa kamu memilih wanita seperti itu, lalu alasan dengan omong kosong kalau kamu hanya mau bersama Ayya?!
"Tidak mama, jangan salah paham dulu, video itu dipotong, aku tidak benar-benar melakukan hal itu, aku mendorongnya dan bahkan melukai kakiku, saat itu aku dijebak olehnya, aku pernah bercerita kepada Renal tentang masalah ini, hanya saja aku tidak tau kalau ternyata mereka juga memasang kamera, tolong percaya padaku"
"Kapan kamu akan kembali? dia menunggu dirimu, dan tidak akan pernah pergi sebelum menemui mu dan menikah denganmu"
"Aku tidak mungkin melakukan hal itu, dan Ayya sedang mengandung ma, aku tidak mau terjadi apa-apa pada kandungannya"
"Apa?? Ayya mengandung??!"
"Iya ma, jadi kalau bisa tolong selesaikan dia, jangan sampai aku harus turun tangan, aku tidak mau meninggalkan Ayya dan tidak mungkin juga membawanya ke sana, aku akan terus berusaha dari sini untuk mendapatkan video lengkapnya"
"Baiklah, mama percaya padamu, mama akan melakukan segala cara untuk mengusir nya kalau memang kamu tidak pernah berhubungan dengan nya"
"Baik ma, terima kasih"
Devan memeriksa ponsel Cahya, banyak sekali notifikasi dari sahabat dan keluarga yang menanyakan tentang kebenaran video itu, sangat susah bagi Devan untuk menghentikan beredar luas nya video itu, apalagi banyak yang menyimpan dan meng-upload ulang.
"Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan video lengkapnya, baru aku bisa membersihkan nama baikku" Devan sangat geram, disaat dia sedang berbahagia kenapa harus datang masalah seperti ini.
"Devan, mama sudah mengusirnya tetapi dia terlihat sangat marah, mama yakin dia akan melakukan sesuatu yang lebih besar, terus jaga Ayya, jangan sampai terjadi apapun padanya, mama akan mengerahkan orang-orang kepercayaan mama untuk melindungi dan membantumu di sana tapi jangan sampai Ayya masuk dalam konflik, mama khawatir dengan kandungannya mengingat kondisi dia sebelumnya" ibu Retno kembali menelfon Devan.
__ADS_1
"Mama tenang saja, karena kandungan Ayya aman, dia sangat kuat"
"Dia kuat kalau tidak ada masalah, lagipula wanita mana yang kuat suaminya melakukan hal semacam itu, entah itu benar atau tidak, pada kenyataannya itu lah yang dia lihat, dia hanya berusaha tegar dan menekan perasaannya seperti biasa, cepat selesaikan sebelum dia kembali meledak dan pergi lagi"
"Baik ma" Devan menyimpan semua ponsel dan laptop di atas meja, lalu mendekati istrinya dan ikut masuk kedalam selimut istrinya, menciumi istrinya dan memeluknya baru dia mencoba untuk tidur.
Cahya membuka matanya saat Devan sudah tidur, dia bergerak pelan untuk mengambil ponselnya, dia heran karena tidak ada apapun di sana, setelah dia melihat dengan lebih teliti, ternyata semua pesan masuk sudah terhapus, Cahya sadar kalau itu pasti ulah Devan.
Cahya berusaha mencari tau wanita yang bersama Devan di dalam video, terlihat cantik dan manis jadi wajar kalau suaminya sempat tergoda, Cahya mengirimkan pesan pada akun media sosial perempuan itu, tidak susah untuk mencari akun perempuan itu karena dia menyertakan akunnya pada video yang dia unggah.
"Aku istrinya Devan, sekarang katakan padaku, tidak usah malu lagi karena kamu merasa sudah pernah tidur dengannya, coba katakan berapa lama dia bisa bertahan di atas ranjang?" Cahya langsung pada intinya
"Kalau denganku yang masih muda dan cantik ini, tentu saja bisa 5 kali, kalau denganmu yang kecil dan jelek, dia pasti tidak bernafsu, itulah yang membuatnya melakukan hal itu dengan diriku"
Membaca balasan dari Ratu membuat Cahya sedikit lega, karena berarti wanita itu hanya mengarang, karena kalau dengannya dia tidak bisa menghitung.
Pada awalnya Cahya hanya ingin membiarkan dan menerima saja, karena bagaimanapun memang kesalahannya meninggalkan Devan yang pasti membutuhkan pelampiasan hasrat nya, tetapi dia hanya ingin tau kebenarannya terlebih dahulu, apalagi Ratu yang tidak tau malu menyebarkan video itu, terlihat sangat janggal, karena kalau memang hal itu pernah terjadi kenapa tidak langsung menemui Devan untuk meminta pertanggung jawaban, kalau seperti ini malah terkesan dia meminta publik untuk membantunya karena dia tidak bisa melakukannya sendiri.
"Kamu sangat percaya diri sekali ya? dan apa yang membuatmu mengatakan kalau aku kecil dan jelek?"
"Memang seperti itu, aku sudah melihat semua fotomu, foto-foto yang sok imut dan manis, aku tau kalau semua itu hanya editan, kalau kamu berani temui aku" Ratu menantang Cahya
"Baiklah, kita bertemu di restoran Mawar Berduri yang ada di sebelah hotel WW, aku menunggumu besok di sana tepat jam 12 siang, dan aku tidak mau menunggu" setelah menulis balasan itu, Cahya lalu menyudahi berkirim pesan pada Ratu.
Cahya juga tersenyum seperti biasanya membuat Devan kaget karena dia pikir istrinya masih marah padanya, Cahya mengambil kembali bajunya dan memakai nya kembali walau lagi-lagi dia digangguin suaminya, Cahya yang sudah tidak memakai baju dan hanya memakai kaos dalaman tersenyum dan mendorong tubuh Devan sampai terjatuh di ranjang.
Cahya naik keatas tubuh Devan dan menciumi wajah suaminya itu, tentu saja Devan sangat senang karena istrinya sudah kembali lagi, Cahya hanya menggoda Devan karena setelah mendapatkan bajunya dia kembali bangun dan memakainya.
"Kalau sudah selesai, lalu kemarilah sayang,,, aku sudah sangat tidak sabar, lagipula aku tidak akan pernah mengizinkan mu pergi dengan tampilan sempurna seperti ini, karena hanya aku yang boleh melihatnya" Devan terlentang dan sudah membuka kemejanya, tetapi Cahya masih diam dan menyemprotkan parfum agar lebih menggoda.
"Aku mau menemui sainganku, sudah tentu aku harus tampil cantik, supaya dia tau sedang berhadapan dengan siapa saat ini" Cahya sudah duduk diatas tubuh Devan dan mencolek dagunya, tetapi hanya itu yang dia lakukan dan kembali turun dari ranjang untuk segera berangkat, Devan masih mencerna apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Apa maksud kamu sayang?" Devan langsung bergegas mendekati istrinya yang sedang memakai perhiasan, entah dari mana dia mendapatkan nya dan dari mana, dia sampai lupa untuk menanyakan maksud istrinya dengan saingannya.
"Tumben kamu memakai perhiasan, kapan kamu membelinya?" tanya Devan heran dan takjub dengan penampilan istrinya sekarang yang mirip artis Korea, terlihat manis dan imut dan juga sangat cantik mempesona.
"Kamu ini selalu bisa membuat kejutan, kamu bisa melakukan segala hal hanya tidak mau melakukan nya" Devan semakin tidak tahan dan terus menahan istrinya.
__ADS_1
Cahya mengalungkan tangannya pada leher Devan dan mulai berbicara,
"Sayang, aku bukan lagi Cahya yang selalu merasa rendah diri, aku adalah Cahya nyonya Devan, aku sudah menemukan cahaya dalam hidupku, aku hidup dalam kegelapan karena nasib buruk yang menimpaku saat kecil, sekarang aku sudah menemukan cahaya itu, jadi aku akan mempertahankan cahaya milikku"
"Apa yang kamu bicarakan? aku tidak mengerti, cahaya apa maksudnya, bukankah kamu yang namanya Cahya?" Devan bingung tapi segera menggendong istrinya dan terus mencium nya.
"Sayang lepas,,, bajuku nanti kusut" Cahya melepaskan ciuman Devan, Cahya memegang kedua pipi suaminya dengan kedua tangannya,
"Aku akan menemui Ratu"
Perkataan Cahya membuat Devan kaget dan memeluk tubuh Cahya lebih erat,
"Tidak sayang, jangan seperti itu, tunggulah sebentar lagi, aku akan menemukan video lanjutannya, jangan lakukan hal bodoh lagi" Devan terus mendekap istrinya yang masih dalam gendongannya, Devan lalu membawa Cahya ke ranjang.
"Dia mencoba merebut cahaya hidupku, tentu aku harus melawannya" ucap Cahya yang membuat Devan tersipu malu, Cahya jarang mengungkapkan perasaannya atau mengucapkan kata manis padanya jadi dia sangat senang mendengarnya.
"Apa Ayy, aku apa?" tanya Devan masih dengan senyum tersipu, Cahya gemas dan menggigit pipi Devan
"Aaakkkhh, kenapa sekarang kamu sangat senang menggigit pipiku?" Devan protes tapi dia sendiri langsung menyingkap rok istrinya dan dengan cepat memasukkan tangannya pada lapisan terakhir perlindungan Cahya pada aset pribadi nya.
"Sayang,, lakukan sepuasnya tapi nanti setelah aku menemui wanita itu, sekarang biarkan aku pergi, aku akan memarahinya agar tidak lagi melakukan hal gila yang membuat suamiku tidak tidur hingga membuatku harus tidur kedinginan tanpa pelukannya" Cahya terus menyerang pertahanan hati Devan.
"Tidak sayang, walau kamu merayuku dengan cara apapun, aku tidak akan mengizinkan dirimu pergi" Devan meremas aset berharga istrinya yang selalu membuatnya mabuk kepayang setiap saat.
"Aaagggghhhh" Cahya mendesah karena sentuhan Devan dan berusaha menjauh agar Devan tidak keterusan.
"Jangan rendahkan dirimu dengan mendatangi wanita gila itu, semua orang tau siapa pemenangnya, tetapi kalau kamu pergi, semua orang akan tau wajah asli dari nyonya Devan, aku tidak mau mereka membayangkan dirimu dalam khayalan mereka, hanya aku yang bisa melihat mu seperti ini"
"Sayang, aku sudah berjanji padanya, atau kamu takut ya kalau aku akan menyakiti wanita itu? aku jadi curiga sekarang, tadinya aku berusaha percaya padamu tapi kalau seperti ini,,, eekkhhmmm" Devan menutup mulut istrinya yang mulai berbicara omong kosong.
"Dia saja bisa melakukan hal gila padaku, aku tidak mau dia menyakitimu, ingat sayang kamu sedang mengandung" ujar Devan setelah melepaskan ciumannya, lalu tangannya mengelus perut Cahya.
"Temani aku ke sana, kalau kamu takut aku menyakitinya kamu bisa memantaunya dari jauh"
"Jangan terus menguji kesabaran diriku Ayy, hal ini tidak bisa dijadikan candaan,,, yang aku khawatirkan itu istriku!!" Devan berteriak karena Kesal melihat istrinya yang tidak mendengarkan ucapannya.
__ADS_1