
Sinta dan Roy ketakutan melihat Devan, mereka awalnya hanya ingin membuat Devan dan Cahya pingsan, mereka meminta seseorang disana mencampurkan obat tidur yang dicampur obat perangsang pada minuman Devan dan Cahya, lalu mereka akan mengambil keuntungan saat mereka pingsan, Devan akan dibawa Sinta dan Cahya dibawa Roy tapi ternyata rencana itu gagal, Devan menyadari keanehan dengan datangnya Sinta tiba-tiba yang menyiram gaun Cahya.
Obat yang seharusnya diberikan untuk Devan dan Cahya hanya dimasukkan kedalam gelas yang diminum Cahya, karena saat itu sudah terlihat dari kejauhan Cahya dan Devan mendekat, orang suruhan itu menjadi panik dan langsung memasukkan obat itu dalam satu gelas.
Jadi sudah pasti dosis yang diminum Cahya sangat tinggi, sehingga tubuhnya tidak kuat menerima nya apalagi tanpa dia sadari dia dalam kondisi hamil.
Sinta terus memohon diampuni tapi tentu saja tidak ada ampun untuk mereka, Roy yang lebih dulu dihajar, yang disusul Siska, tapi karena dia perempuan, bagaimanapun Devan dan para asistennya tidak bisa menyakitinya secara langsung, Siska dilaporkan ke polisi dan dimasukkan kedalam penjara.
Devan kembali ke rumah sakit, dia meminta mama nya kembali karena dia yang akan menemani Cahya.
"Mandi dan makanlah dulu, kamu harus sehat dan kuat baru bisa menjaga istrimu" ucap bu Retno
"Aku tidak bisa ma, aku yang membuatnya seperti ini" ujar Devan yang berusaha menahan tangisannya, Devan masih terus menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa istrinya.
"Tenang Devan, ini bukan salahmu"ibu Retno juga tidak sanggup menahan tangisan nya, dia memeluk anaknya itu.
"Kamu tenang saja, sekarang banyak metode pengobatan, kalau perlu bawa dia berobat keluar negeri, Ayya pasti akan segera sembuh, dan akan segera memberi kamu banyak anak"ibu Retno terus menguatkan Devan.
Devan terus memegangi tangan istrinya yang masih belum sadarkan diri itu, dia bahkan belum makan dan tidur, hingga ibu Retno terus memaksanya untuk makan
"Kamu mau sakit juga? siapa yang akan menjaga Ayya nantinya? kalau Ayya sadar dan melihatmu sakit, apa kamu pikir Ayya akan senang?!" ibu Retno menjadi emosi melihat anaknya itu.
Devan akhirnya mau makan, dia makan pelan sambil terus memandangi istrinya, Devan lalu ketiduran dibawah ranjang Cahya, karena disana disiapkan ranjang juga untuk yang menemani pasien.
Saat terbangun dia melihat tangan istrinya bergerak, dia langsung memeriksa istrinya itu, tapi mata Cahya masih terpejam, Devan lalu memanggil dokter dan memberi tau kejadian barusan.
__ADS_1
"Itu hanya gerakan bawah sadar" jelas dokter, jawaban yang membuat Devan sedikit kecewa.
Devan masih terus menemani Cahya, hari itu pemeriksaan rutin, Devan meminta pada semua dokter dan suster yang mengetahui kondisi rahim Cahya untuk tidak memberi tau kan kondisi nya pada Cahya saat nanti sudah sadar, Devan tidak mau Cahya shock.
Devan keluar sebentar untuk mengambil minuman, dan saat itu Cahya membuka matanya, dia menangis mendengar hal yang barusan dia dengar, tadi Cahya siuman saat dokter memeriksa nya, saat dia mencoba membuka matanya dia mendengar apa yang Devan katakan, dia tidak jadi membuka matanya.
Saat terdengar bunyi pintu terbuka, Cahya kembali memejamkan matanya, Devan mendekati Cahya dia kaget melihat air mata Cahya lalu mengusap nya.
"Cepatlah bangun sayang, apa kamu tidak merindukan ku" ucap Devan dan tidak lama dia kaget karena Cahya benar-benar membuka matanya.
Devan langsung memanggil dokter, segera Cahya diperiksa, dia sangat bahagia karena Cahya sudah siuman.
Setelah semua dokter dan perawat keluar ruangan itu, Devan langsung mengajak mengobrol Cahya perlahan, Devan ingat pesan dokter untuk jangan dulu membiarkan Cahya terlalu banyak berbicara, jadi Devan hanya bercerita tentang Rafa.
Cahya menahan perasaan nya yang sangat berkecamuk, dia ingin bertanya pada Devan tentang apa yang terjadi padanya tapi dia urungkan niat itu, dia ingat ucapan Devan tadi jadi dia sadar kalau suaminya itu tidak akan mengatakan yang sebenarnya.
Sudah beberapa hari setelah Cahya siuman, tapi dia masih terus dirawat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, malam itu saat dia meminta dibelikan jajanan oleh Devan, dia sengaja keluar kamar untuk bertanya kondisi sebenarnya pada suster jaga.
"Suster maaf, saya merasa sudah sehat dan ingin melihat rekam medis saya karena sebentar lagi akan keluar dari rumah sakit" ucap Cahya mencoba berbicara setenang mungkin
Suster itu sepertinya bukan suster yang biasa merawatnya, karena suster itu dengan tidak banyak berfikir langsung memberikan nya.
Cahya tidak mengerti maksud dari rekam medis tersebut, karena takut Devan akan segera kembali dia lalu memotret rekam medis tersebut dan segera kembali ke ruangannya.
Devan tidak pernah membicarakan dengan jelas sebenarnya dia kenapa atau sakit apa sampai dirawat terus dirumah sakit padahal dia sudah merasa sehat.
__ADS_1
"Ayy maaf lama, ini tadi ngantrinya panjang" ucap Devan sembari membawa jajanan yang diminta Cahya,
mereka lalu makan bersama-sama.
Cahya meminta untuk segera keluar dari rumah sakit karena dia sudah merasa sehat, Devan lalu berkonsultasi dengan dokter yang menangani Cahya, sebenarnya Devan ingin agar Cahya tetap dirawat sampai rahimnya benar-benar sembuh tapi dari awal pun dokter sudah bilang hal itu bisa dilakukan rawat jalan.
Devan hanya bingung kalau harus rawat jalan, apa yang harus dia jelaskan pada istrinya tentang kondisinya, kalau seperti sekarang bisa dengan alasan agar sembuh total baru keluar dari rumah sakit tapi kalau sudah keluar dan harus rawat jalan, pasti Cahya akan terus bertanya-tanya tentang kondisinya.
"Sebenarnya aku kenapa? setelah aku pingsan malam itu sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu tidak mau memberi tahu padaku?" tanya Cahya kembali menanyakan hal itu.
"Tidak ada apa-apa sayang, kamu hanya kecapean, disini dulu beberapa hari lagi ya, biar tubuh kamu makin fit" jawab Devan yang masih terus menutupi kejadian yang sebenarnya.
Devan meminta izin sebentar untuk pulang pada Cahya karena ada barang yang akan diambil, setelah kepergian Devan, Cahya diam-diam keluar dari Rumah Sakit, dia menuju rumah sakit yang lain, dia melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit lain dengan memperlihatkan rekam medis yang sudah dia foto tadi malam.
Dokter disana menjelaskan segalanya, karena suatu obat membuat rahim nya rusak dan butuh waktu untuk menyembuhkan nya seperti sedia kala, Cahya sangat kaget mendengarnya, dia mulai menghubungkan segalanya, malam itu setelah minum dan menyelesaikan makan malam nya, dia menyadari kalau entah di minuman atau di makanan nya mengandung obat itu sehingga dia pingsan.
Tapi kenapa Devan tidak menceritakan semua padanya, apa yang ingin Devan tutupi atau sembunyikan.
__ADS_1
"Mungkinkah Devan kecewa dengan kondisiku"batin Cahya