Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Panggilan Sayang


__ADS_3

Cahya menoleh ke suaminya, kamar itu remang-remang karena lampu dimatikan, lampu meja pun tidak dinyalakan, hanya sedikit sorot lampu dari luar lewat lubang ventilasi.


Cahya miring menghadap suaminya itu, dia melihat Devan yang menangis, Cahya kaget dan terasa sakit di dadanya, baru kali ini dia melihat tangis suaminya, dia jadi ikut menangis.


"Maaaaffff" ujar Cahya lalu memeluk suaminya erat, dia menangis di pelukan suaminya yang juga sedang menangis itu.


"Maaf, aku tidak menyangka ini akan sangat menyakitimu, aku hanya menundanya, aku tidak selamanya berniat meminum pil itu, aku hanya ingin segera menyelesaikan kuliahku" ucap Cahya


Tapi suaminya itu masih juga diam tidak menjawab apapun, walau sudah berhenti menangis tapi dia masih tidak bereaksi apapun, Devan sangat marah dan kecewa pada istrinya, karena hal sebesar ini tidak dibicarakan berdua.


"Jangan pernah keluar kamar sebelum kamu hamil"


Sebuah kalimat yang membuat Cahya bagai disambar geledek.


Devan sangat marah, tapi dia tidak sanggup memarahi istrinya, saat tadi istrinya merintih kesakitan dia merasa tidak tega, tapi dia juga harus menghukum istrinya, karena dalam hal ini istrinya memang salah.


"Apa yang kamu pikirkan, kamu sudah menikah jadi prioritas kamu adalah aku dan anak-anak, kenapa kamu malah menunda punya anak, kenapa juga kamu tidak membicarakan hal sebesar ini padaku? apa kamu tidak mengganggap ku?"


"Sayang, jangan seperti itu, bukan seperti itu maksud aku, aku mohon maafkan aku" ujar Cahya berusaha membujuk suaminya, dia menciumi dada suaminya itu karena posisi mereka masih berpelukan dengan kepala Cahya ada di dada suaminya.


"Jangan menggodaku, kamu dihukum seperti yang tadi aku bilang, jangan keluar kamar sebelum kamu hamil atau sebelum aku izinkan" tegas Devan


"Sayang aku mohon, aku janji tidak akan menyentuh pil itu lagi, tapi biarkan aku keluar, kasian Rafa" Cahya masih berusaha membujuk suaminya dengan suara yang mengiba dan bernada manja.


Devan menindih istrinya kembali, dia sangat gemas mendengar nada suara istrinya, dia sadar istrinya sudah kesakitan, dia juga hanya akan menggodanya.


"Kamu yang menggodaku, jangan salahkan aku kalau aku melakukannya lagi" Devan mengucapkan sambil mencium leher istrinya, dan kembali membuat tanda disana.


"Aaaahhhhh sayang" Cahya kembali merintih


"Aku bukan menggoda mu, aku meminta pengampunan mu, ampuni aku sayang ku" tambah Cahya.


"Bisa-bisanya disaat terpojok seperti ini kamu memanggil ku seperti itu, panggilan yang selalu aku harapkan tapi kenapa harus saat ini kamu mengucapkan nya?" Devan makin gemas, dia melupakan rasa marah dan kecewanya melihat tingkah istrinya itu.


"Janji jangan sentuh pil itu lagi?"bisik Devan ditelinga istrinya sambil sedikit menggigit nya.


Cahya hanya mengangguk karena geli.


Devan luluh juga dengan istrinya, dia tidak sanggup marah lama-lama, tapi dia juga mengancam kalau sampai istrinya itu meminum pil itu lagi, sudah tidak ada ampun lagi.


"Ayo kita memiliki banyak anak, setidaknya jangan kurang dari 3, jadi harus mulai sekarang, karena aku akan terus semakin tua" ujar Devan yang masih berada diatas tubuh istrinya.

__ADS_1


"Biarkan aku menyelesaikan kuliah ku dulu, tinggal sebentar lagi"Cahya masih berusaha memohon


"Tidak sayang ku, kamu hanya harus dikamar ini melayani ku" sang raja sudah memberi titah


"Sayang, selama ini aku juga melayani mu, tiap malam kamu minta jatah, aku tidak melupakan kewajiban ku selama ini kan?, aku akan terus melakukan apapun yang kamu mau, tapi aku mohon, biarkan aku menyelesaikan kuliah dulu, tinggal satu semester, kalau pun aku cepat hamil, aku masih ada waktu, masih akan selesai sebelum melahirkan" jelas Cahya


"Nanti kamu kecapean" ucap Devan


"Tidak, aku kuat,, waktu hamil Rafa malahan aku sambil bekerja, kamu turun dulu iiihhhh" Cahya menggerakkan badan nya yang sejak tadi terus berada dalam kungkungan suaminya.


Devan tidak mendengarkan, dia malah kembali bermain di dada istrinya, dia sangat suka bermain disana, dia akan menyesapnya dan memainkan dengan lidahnya, rasanya sangat manis.


Cahya yang sudah merasakan sakit di bagian bawahnya karena terus digempur suaminya, berusaha mendorong suaminya itu, takut Devan akan kembali memompanya.


"Sayang sudah" ucap Cahya yang masih tidak didengarkan karena suaminya itu masih terus melakukan kegiatan yang dia sukai itu.


"Apa kamu takut hamil?" jawab Devan


"Bukan begitu, lagipula kan bisa besok lagi" elak Cahya yang mendorong kepala suaminya agar menjauhi dadanya dengan kedua tangan nya.


"Kamu berani ya!" Devan kesal karena Cahya mendorong nya yang sedang melakukan kegiatan yang dia sukai itu.


"Tidak, aku tidak capek, sampai pagi juga aku bisa"tantang Devan


"Iya percaya, suami ku ini memang paling kuat"Cahya kembali meraih kepala suaminya dan memeluknya, dia harus ingat, kalau suami nya terus marah, bisa-bisa nanti dia tidak boleh keluar kamar beneran.


Devan Tersenyum, dia gemas dengan kelakuan istrinya, dia lalu mencium kening istrinya dan turun dari tubuh istrinya itu, Cahya langsung bangun dan memakai bajunya, Devan menariknya kembali membuatnya terjatuh di dada suaminya.


"Kamu masih tidak boleh kuliah selama seminggu ini, aku akan berusaha semakin keras, jadi kamu cukup dirumah dulu, apalagi Rafa sakit, apa kamu tega meninggalkan nya, kamu boleh keluar kamar tapi tidak untuk keluar rumah?"


"Aku memang berniat izin beberapa hari sampai Rafa sembuh" Cahya menjawab lalu mencium pipi suaminya, dia lalu buru-buru keluar kamar, takut burung suaminya keburu bangun lagi.




Pagi itu tidak biasanya Cahya bangun terlambat, sepertinya dia benar sangat kecapean, dia bahkan tidak menyadari Rafa yang sudah bangun lalu di gendong ayahnya.



Devan tidak membangunkan istrinya, dia malah menyelimutinya agar lebih nyaman, Devan merasa damai melihat wajah polos istrinya saat tidur, dia sangat mencintai istrinya itu, sekecewa apapun pada istrinya, dia tidak mungkin sanggup marah lebih lama.

__ADS_1



Devan membuat sarapan di dapur ditemani Rafa, untungnya pagi itu Rafa sudah tidak demam lagi, hanya tinggal batuk pilek, penyakit anak kecil pada umumnya.



"Kenapa tidak membangunkan ku?" ucap Cahya yang ternyata sudah bangun dan langsung menuju dapur, dia lalu mencium Rafa dan langsung membuat susu coklat hangat kesukaan nya.



"Kenapa hanya Rafa yang mendapat morning kiss?" protes Devan melihatnya.



Cahya mendekati suaminya dan langsung menciumnya, tidak mau banyak protes biar urusan cepat selesai



"Sayang, aku lihat Rafa sudah tidak demam, boleh ya aku kuliah?"



Devan tersenyum, lalu menutupi mulutnya dengan tangan, dia belum terbiasa dipanggil sayang oleh istrinya, sejak semalam istrinya memanggilnya begitu.


"Ada sisi baiknya juga ternyata aku marah semalam, aku akan sering marah kalau begini"batin Devan



"Tidak Ayy, aku sudah bilang jelas tadi malam, seminggu ini kamu dirumah" walau hatinya bahagia, dia berusaha menutupi nya.



Cahya manyun mendengarnya


"Sia-sia aku memanggilnya sayang,, huuhhhh" batin Cahya



Tidak lama terdengar suara telefon yang langsung diangkat Devan,


"Apa? baik aku akan segera kesana" ucap Devan di telepon, entah dengan siapa dia berbicara.

__ADS_1


__ADS_2