
Cahya menahan rasa sakitnya dan keluar kamar, dia melihat Siti yang sedang membersihkan dapur, lalu perlahan Cahya mendekatinya.
"Siti, kamu sudah makan?"
"Belum mbak, mas Renal tidak mau memakan sayur asem buatan ku"
"Mari kita buat ulang, aku akan membantumu"
"Mbak sudah sembuh?"
"Sudah, kamu tenang saja, sekarang keluarkan semua bahan sayur asem dari kulkas, aku ajari cara memotongnya satu persatu" ujar Cahya
Setelah semua bahan siap, Cahya mengajari cara memotongnya terlebih dahulu,
"Bahan yang empuknya lama seperti melinjo harus dipisahkan, setiap sayuran itu kecepatan matangnya berbeda, untuk daun melinjo nya dimasukkan terakhir karena cepat empuk, dan untuk asamnya jangan terlalu banyak, nantinya hanya terasa asamnya saja, karena sayur asem itu namanya saja yang asem tapi semua harus terasa, seperti gula dan garamnya" Cahya menjelaskan panjang lebar pada Siti.
"Ayy, jangan banyak bergerak, kamu istirahat saja dulu" ujar Devan mendekati istrinya, tadi dia mandi jadi tidak tahu saat Cahya keluar dari kamar.
"Tidak apa-apa, ini tidak berat lagipula Siti yang memasak, aku hanya mengajarinya" jawab Cahya, Devan lalu duduk di sofa bersama Renal, mereka membicarakan kelanjutan dari rencana pembukaan cafe mereka.
"Apa ponsel dan tas kita sudah ditemukan?" tanya Devan pada Renal
"Belum, orang suruhan kita masih berusaha mencari, Sari menyukaimu hingga dia nekat melakukan ini, Sari adalah wanita simpanan dari koki yang akan bekerja sama dengan kita, villa itu memang milik sang koki tapi sudah beberapa hari ini koki itu pergi liburan bersama keluarga nya" Renal mulai menjelaskan, dia sudah menghubungi orang kepercayaan nya untuk mengusut semua yang terjadi.
"Cari sampai dapat, karena didalam laptop dan ponsel kita, berisi semua informasi tentang pembuatan dan pembukaan cafe" ujar Devan
Kring kring kring
Ponsel Cahya berbunyi, Devan mengambilkan dan memberikan pada istrinya.
"Sudah selesai, sudah saya kirim kemarin, apa ada yang kurang?, baiklah akan segera saya kerjakan dan kirimkan sebelum malam ini" Cahya lalu menyimpan kembali ponselnya setelah panggilan telepon itu terputus.
__ADS_1
"Ada apa mbak?" tanya Siti
"Biasa, pekerjaan"
"Mbak sudah kenal sama Heri?"
"Belum kenal, baru berbicara lewat telefon"
"Dia sangat ganteng mbak, sebelum kenal sama mas Renal aku naksir pada Heri, tapi orangnya sangat cuek dan dingin, dia seperti tidak menyukai wanita"
"Tapi dia baik saat menelfon"
"Kalau untuk pekerjaan memang dia sangat profesional mbak, tapi kalau sudah urusan pribadi, dia menjadi berubah, dia dulu satu kampus sama aku, bahkan kita ke negara ini juga bareng karena pertukaran pelajar, tapi sekarang dia sangat sukses dan sudah menjadi editor senior di kantor tempat mbak bekerja"
Cahya hanya mendengarkan tapi tidak terlalu memperdulikan, dia sedang menggoreng ikan, lalu membuat sambal, tidak lama semua masakan sudah matang, mereka lalu memanggil para suami.
"Sambal nya enak, istriku sudah pandai memasak" ujar Renal
"Coba sayur asem nya, itu Siti yang membuat khusus untukmu Renal" ujar Cahya
"Iya benar, rasanya seperti makanan manusia, kamu sudah pintar istriku sayang" rayu Renal pada istrinya.
Selesai makan, para istri duduk di sofa karena para suami yang membersihkan meja dan mencuci piring, Cahya memperhatikan suaminya yang sibuk mencuci piring, dia tidak berani menanyakan apa yang terjadi pada suaminya kemarin, karena Cahya paham pasti itu hal yang tidak baik karena tadi malam Devan terlihat kesakitan.
Walau Cahya juga kesakitan karena Devan tapi Cahya paham kalau Devan tidak sengaja melakukannya, saat Cahya masih melamun dengan terus memperhatikan suaminya, Siti membuyarkan lamunannya.
"Kita beruntung memiliki suami seperti mereka, mama Retno sangat berhasil dalam mendidik anak-anaknya" ujar Siti, Cahya hanya bisa mengangguk membenarkan.
Devan langsung mendekati Cahya saat dia sudah menyelesaikan semuanya, tanpa aba-aba Devan langsung mengangkat Cahya dengan menggendongnya lalu membawanya masuk kedalam kamar.
"Aaahhh, Devan turunkan, apa kamu tidak malu dilihat mereka!" teriak Cahya
__ADS_1
"Kenapa aku harus malu? kalian kalau mau pulang langsung saja, jangan lupa tutup pintunya" ujar Devan pada adik-adiknya tanpa menoleh dan terus berjalan menuju kamarnya.
Renal dan Siti hanya bengong melihat kelakuan kakak mereka, Devan dan Cahya sering terpisah jadi saat bertemu mereka menjadi seperti anak muda yang dimabuk cinta.
"Setidaknya jangan seperti itu didepan orang lain" ujar Renal tapi tentu saja Devan tidak peduli dan langsung menutup pintu kamarnya.
Devan menurunkan Cahya di ranjang mereka, Cahya lalu duduk ditengah ranjang, Devan langsung mendekatinya, Devan tiduran dan meletakkan kepalanya di pangkuan Cahya.
"Ayy, Kamu mau mendengar apa yang terjadi padaku kemarin?" tanya Devan
"Tidak perlu kalau memang kamu tidak mau bercerita, aku merasa ini seperti dejavu, waktu itu aku yang jadi korbannya lalu sekarang kamu, sebenarnya salah kita apa, kenapa para wanita itu tidak menghargai ku, sudah jelas mereka tau kalau kamu itu suamiku tapi kenapa? apa mereka pikir aku tidak pantas untukmu?" jawab Cahya, sudah bawaan dari kecil kalau dia itu selalu rendah hati dan tidak percaya diri.
Wanita lain akan marah saat ada pelakor tapi Cahya malah merasa kalau semua ini karena dia yang terlihat tidak pantas untuk Devan.
"Kenapa pikiran kamu sangat berbeda? Ayy,, jangan terus rendah hati, kamu tidak sadar begitu mempesonanya dirimu? kamu adalah Cahya yang sangat bercahaya, membuat banyak orang tertarik padamu, para wanita itu hanya iri padamu, kamu berbeda dan kamu itu sangat murni dan manis, tidak bisa dibandingkan dengan mereka yang hanya terlihat bagus fisik dan rupanya" ujar Devan yang lalu memiringkan kepalanya menghadap perut istrinya.
Devan memeluk erat istrinya dan menciumi perut istrinya itu.
Cahya membelai rambut suaminya, membuat Devan makin merasa nyaman dipangkuan istrinya, dia berusaha menahan birahinya, entah kenapa dia selalu langsung merasakan nafsu birahinya memuncak saat disentuh Cahya, tapi kali ini Devan menahannya karena dia sadar istrinya masih sakit karena perbuatannya semalam.
"Apa aku tidak usah melanjutkan rencana ku untuk membuka cafe saja ya Ayy? tapi bagaimana dengan Renal, dia sudah sangat berharap bisa mempunyai cafe" ujar Devan memulai obrolan lain untuk mengalihkan hasratnya.
"Kalau kamu menginginkan nya, lakukan saja, aku akan berusaha untuk menahan nya" ucap Cahya yang paham dengan apa yang dirasakan suaminya.
"Tidak Ayy, aku tau kamu masih sakit, tapi boleh aku memeriksa nya, kalau parah kita harus memeriksakan nya ke dokter"
"Apa kamu tidak malu!" Cahya sedikit berteriak karena Devan sudah memegang pahanya.
"Ayya istriku sayang, setiap malam bahkan kadang siang aku selalu melihatnya, lalu kenapa saat ini kamu malu? sudah diam tiduran, dokter ganteng ini akan memeriksa kondisi kamu"
"Aaahhhh!" pekik Cahya karena Devan sudah mendorongnya hingga terlentang dan kepala Devan langsung menyusup kedalam roknya.
__ADS_1