
Cahya yang cintanya kembali, hatinya berbunga-bunga, pagi itu dia lebih rapi dari biasanya, dan menggunakan riasan tipis, padahal dia biasanya polos dan hanya memakai lipgloss.
"Siapa ini, cantik banget mbak? mau ngegebet Dosen ya?" ujar Tuti pagi itu
"Memang cuma kamu doang yang bisa?"
"Tentu saja mbak Cahya yang paling cantik, seorang bintang dari Kampus kita"
"Tidak usah berlebihan, iya nanti jadi kok aku traktir"
Mereka berangkat bersama, dan di Campus nya Cahya menjadi perhatian karena tampil lain dari biasanya, memang dia cantik alami tapi kalau ditambah riasan, dia makin terlihat modis
"Memang ya, orang akan makin cantik kalau sudah ketemu pawangnya" ujar Tuti Karena melihat Cahya diperhatikan banyak orang
Habib mendekati mereka, dia terus melihat ke arah Cahya, dia mau menanyakan sesuatu tapi Tuti yang banyak omong langsung bercerita
"Iya Habib ganteng, yang kemarin itu pacar Ayya, jadi kamu sudah tidak ada harapan, mending kamu sama aku saja" ujar Tuti bercanda, karena dia juga sudah mempunyai pacar
"Kamu selalu bilang ingin fokus ke kuliah tapi kenyataan nya semua karena kamu sudah mempunyai pacar, kenapa kamu seperti itu dan tidak mengakui sudah punya pacar?" Habib marah dan merasa dipermainkan, lalu pergi dari sana
Tuti ingin mengejarnya dan menjelaskan semua karena dia sudah tau semua dari Cahya, tapi dia ditahan Cahya
"Biar aku yang menjelaskan padanya"
Cahya mencari Habib yang ternyata ada di kursi kelas nya hari ini, Cahya mendekatinya
"Hai, boleh aku duduk?"
Habib tidak membalas, lalu Cahya duduk di kursi sebelah Habib
"Terimakasih karena kamu mau berteman denganku, terimakasih atas bantuan mu selama ini, dan terimakasih untuk perasaan mu padaku, aku pacaran sama dia sudah sangat lama, kami tidak pernah berkabar, karena aku meninggalkan nya, aku ingin dia melupakan ku, tapi ternyata dia tidak pernah melupakan ku dan mencari ku sampai kesini"
"Aku tidak pernah ada niatan mempermainkan mu, alasan ku menolak mu memang karena aku mau focus kuliah, tapi kalau sekarang keadaan nya seperti ini, aku tidak bisa apa-apa lagi"
"Dia sudah menungguku dari saat aku SMA, aku juga mencintainya, aku tidak akan memberikan lagi harapan padamu, maafkan atas semua kesalahan ku"
Habib tidak bergeming bahkan saat Cahya pergi dari sana dan menuju kursinya sendiri, sepertinya Habib masih sangat kecewa.
Sepulang kuliah dia dan tuti lalu menuju cafenya Devan, disana ramai tapi untung ada meja kosong di pojok
__ADS_1
"Ayya, aku pesen ya, kamu mau apa?"
"Kenapa lama sekali Ayy" Devan mendekatinya dan langsung duduk disampingnya, untungnya Tuti duduk di kursi depan nya
"Kenapa kamu membawa dia?" tanya nya pada Cahya dan menunjuk Tuti
"Jangan tidak sopan ya, kalau aku tidak mengajak Ayya kemari, kamu tidak akan menemukan nya, sekarang traktir aku selama seminggu untuk ucapan terimakasih" ucap Tuti sewot
"Iya juga ya, aku traktir kamu selama Ayya masih kuliah disini tapi sana duduknya jauh-jauh"
Cahya tertawa mendengarnya, dan terlihat Tuti yang sangat jengkel,
"Dasar tidak sopan, kalian pikir dunia ini hanya milik kalian? seenaknya saja" Tuti kesal lalu langsung memesan banyak makanan, dan hanya memesan boba untuk Cahya
"Kamu tidak salah? aku juga lapar, kenapa kamu cuma pesan minum buat aku?" ucap Cahya ke Tuti
"Kamu mau apa ayy?" tanya Devan
"Nah itu baru benar, kamu kan istri yang punya cafe, kamu bisa minta apapun"ujar Tuti
Cahya malu mendengarnya dan tersenyum sambil menutup matanya dengan tangan nya, dia tidak menyangka, Tuti akan mengingat dan meledeknya.
"Tunggu disini aku akan mengambilkan kamu makanan" ucap Devan
Tuti melihatnya melongo dan pasrah
"Aku lapar tapi pengen muntah melihat kalian, ampun deh, suami istri yang lama tidak ketemu, serasa tidak ada orang lain disini" Tuti menggerutu tapi tetap melanjutkan makan nya
Cahya membuka laptop nya untuk mengerjakan tugas-tugas sambil menunggu makanan nya datang, Tuti yang masih makan juga sambil memainkan ponselnya.
"Ayya, kasian Habib, dia sepertinya sangat kaget" ucap Tuti tapi dia masih melihat ke arah ponselnya
"Mau bagaimana lagi" jawab Cahya
"Seandainya aku tidak membawamu kesini kemarin, kamu tidak akan bertemu suami mu itu lagi, jadi kamu bisa bersama Habib"
Brakkk
Terdengar bunyi barang yang seperti terjatuh, itu Devan yang meletakkan makanan Cahya dimeja dengan keras
__ADS_1
"Maksudnya apa?" tanya Devan pada Tuti
Cahya dan Tuti kaget, Tuti juga tidak bisa menjawab pertanyaan itu, lalu Tuti melihat kearah Cahya meminta bantuan Karena terlihat Devan sangat marah
"Makasih makanan nya, tadi Tuti cuma bercanda, jangan dimasukkan ke hati, jangan khawatir dengan yang mendekatiku, kalau aku sukanya kamu, yang lain bisa apa?"Ucap Cahya sambil mengambil makanan nya, dia tersenyum malu dengan ucapan nya sendiri,
"Hueekkkk,, kebanyakan baca novel ni bocah" ujar Tuti
Devan menahan nampan yang akan diambil Cahya, Devan lalu duduk di dekat Cahya lalu mau menyuapinya sambil berkata,
"Kamu sudah pintar berbicara ya?"
"Aku bisa Devan, disini banyak orang, malu"
"Ini hukuman untuk kamu karena teman mu mengucapkan omong kosong"
"Dia yang ngomong kenapa aku yang dihukum?" tanya Cahya
"Sudah diam, cepat buka mulutmu" ucap Devan sambil mendekatkan sendok yang berisi makanan ke depan Cahya.
Cahya risih dan menghindari suapan Devan, melihat kemesraan sejoli yang ada didepan nya membuat Tuti kesal, dia lalu pamit pergi lebih dulu
"Aku duluan Ayya, sepertinya disini aku hanya sebagai obat nyamuk, nanti kirim link tugas ke aku" pamitnya pada Cahya
"Terimakasih makanan nya tuan dan nyonya" Ucap Tuti iseng dan langsung berlalu dari sana.
Cahya mengambil sendok yang dipegang Devan, dan dia mulai makan, karena dia sangat lapar, jam makan siang sudah sangat terlewat, Devan memperhatikan nya, Cahya menyadari dan menyuapi Devan, tentu saja Devan mau.
Mereka makan sepiring berdua, Devan terus memperhatikan Cahya, dia merasa hari ini bahkan dari kemarin dia merasa kalau Cahya berbeda dari Cahya yang dulu
"Kamu sudah berubah, tidak seperti kamu yang dulu"ujar Devan
"Apa kamu tidak berubah?, semua orang pasti berubah, tapi cintaku padamu tidak akan berubah"
Cahya geli mendengar nya dan tertawa malu lalu menutupi wajah nya dengan laptop di depan nya, Devan jadi tersenyum melihatnya,
"Kamu sekarang sudah bisa menggombal rupanya"
"Kamu yang ngajarin" ucap Cahya
__ADS_1