Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Rafa


__ADS_3

4 Tahun Kemudian


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Tidak terasa sudah 4 tahun Cahya meninggalkan suami dan mamanya, sekarang dia tinggal di pedalaman Kalimantan, dia tinggal disebuah rumah kecil di desa itu, bersama anaknya yang berumur lebih dari 3 tahun.


"Rafa,, hari ini mama tidak akan menyadap karet, jadi hari ini mama bisa bermain dengan Rafa sepuasnya, Rafa hari ini mau apa?"


"Mama, aku mau beli mainan kayak punya Deri, mobilnya bagus ma, bisa jalan sendiri, tidak seperti punya Afa yang harus ditarik" rengek anaknya yang bernama Rafa itu.


"Nanti tunggu mama gajian ya kalau mau beli itu, sekarang bagaimana kalau kita bikin pisang goreng coklat kesukaan Rafa lalu nanti kita main petak umpet"


"Asyik, Afa mau ma, yang banyak coklatnya ya"


"Ok, sekarang bantu mama ya" ucap Cahya lalu mengelus rambut anaknya.


Dia tinggal di desa itu setelah pergi dari Bandung menggunakan uang saat dia menjual baju pernikahan nya, tapi dia hanya mampu mengontrak rumah kecil itu untuk waktu satu bulan, lalu dia berusaha mencari pekerjaan, untung ada yang menawarinya bekerja di perkebunan karet.


Cahya sangat akrab dengan tetangga nya mungkin karena keadaan, walau dia sebenarnya pendiam dan pemalu tapi dia mencoba berbaur dengan orang sekitar agar tidak terlalu kesepian jauh dari keluarga dan suaminya, apalagi dia punya anak, kadang kala anaknya dia titipkan di tetangganya atau kadang dia bawa bekerja.


Hari itu dia tidak bekerja karena di tempat kerjanya ada acara penyambutan pemilik perkebunan yang baru, menurut Cahya itu tidak terlalu penting, dia bekerja untuk mencari uang, jadi kalau hanya untuk acara pesta atau makan-makan dia lebih memilih menemani anaknya dirumah.


Sore itu Rafa bermain dirumah teman nya yang mempunyai mainan mobil remote control yang dia inginkan yang tadi diceritakan ke mama nya.


"Deri, boleh aku meminjam mainan mobilmu sebentar" pinta Rafa


"Tidak, ini masih baru, nanti bisa rusak, kamu minta saja sama ayahmu" tolak Deri


"Ayahku belum pulang, kata mama bekerja diluar kota, nanti kalau pulang aku pasti dibelikan" ucap Rafa


Deri adalah anak mandor di perkebunan tempat Cahya bekerja.


Karena tidak dipinjami mobil, Rafa lalu berniat pulang, dia berjalan menunduk karena sedih tidak dipinjami mobil-mobilan, tanpa sengaja dia menabrak kaki seseorang.


"Maaf, Afa tidak sengaja" ujarnya pada sang tertabrak tanpa melihat yang dia tabrak.


Rafa lalu pulang kerumahnya yang tidak terlalu jauh dari rumah itu, karena rumah yang dia tinggali adalah rumah kontrakan punya orang tua Deri.

__ADS_1


Rafa mencari mama nya yang ternyata sedang melipat baju, dia menekuk lehernya langsung duduk dipangkuan mamanya.


"Ayah kapan datang, kalau ayah datang pasti aku dibelikan mobil kayak punya Deri" Rafa merajuk, sungguh Cahya sedih mendengarnya, dia menangis dalam hati.


"Sabar ya sayang, nanti mama belikan kalau sudah gajian, mama janji, asalkan Rafa tidak bersedih lagi dan tidak banyak makan es cream lagi"


"Iyaaa, Afa janji ma"


"Besok mama kerja, kamu mau dirumah Deri atau mau ikut?"


"Aku ikut ma, Deri tidak meminjamkan mobilnya"


"Tidak boleh seperti itu, kalian kan berteman, jadi tidak boleh marah sama Deri, nanti juga dipinjamin"


Malam semakin larut, Cahya lalu menidurkan Rafa, dan ikut tidur karena besoknya dia harus bekerja.


Pagi itu Cahya bersiap untuk bekerja, dia memakai penutup wajah dan topi, Rafa juga dia pakaikan topi, dia lalu mulai bekerja seperti biasa saat sampai, dia menyapa semua teman nya.


Hingga dia melihat sesosok orang yang sangat dia kenal bahkan sangat dia rindukan, sedang berbicara dan sedikit bercanda dengan 2 orang wanita cantik, dia kenal dengan salah satu wanita itu, kalau tidak salah dia adalah anak dari pemilik perkebunan sebelumnya.


Cahya berusaha menghindar dan tidak menemui orang itu, dia bahkan berusaha menyembunyikan Rafa kebelakang nya, dia lalu berlalu dari sana.


Rafa tidak ikut masuk ke perkebunan, dia bermain di kantor perkebunan karena ternyata disana ada Deri yang ikut ayahnya bekerja, Cahya meminta untuk tidak keluar dari area bermain dan jangan masuk ke perkebunan sendirian, Rafa hanya mengangguk, karena memang sering seperti itu, dia sering bermain bersama Deri di kantor ayah Deri.


Rafa terus melihat Deri yang memainkan mobil remote control nya, dia tidak berani meminjam karena takut tidak diperbolehkan lagi, tiba-tiba Devan mendekatinya


"Kenapa tidak bermain?" tanya Devan tapi tidak dijawab Rafa


Devan terus memandangi Rafa, sudah pasti ada ikatan batin hingga dia begitu tapi dia tidak menyadarinya.


Rafa lalu menjauhinya, dan mendekat ke Deri


"Deri, siapa dia? apa kamu mengenal nya?" tanya Rafa pada Deri


"Dia Om dari kota" jawab Deri


Devan menanyakan tentang Rafa ke ayah Deri, dia menanyakan orang tuanya, kenapa anak sekecil itu bisa bermain di perkebunan, kalau Deri sendiri sudah lebih besar dan disana bersama ayahnya.

__ADS_1


"Dia tidak punya ayah, hanya tinggal bersama ibunya, entah apa yang terjadi, padahal ibunya masih sangat muda"


Devan hanya mendengarkan tanpa curiga kalau itu adalah anaknya, dia lalu berlalu dari sana dan akan meninjau ke perkebunan langsung.


Cahya memikirkan Devan yang bercanda dengan wanita-wanita itu, Cahya sadar sudah pasti Devan akan melupakan nya, Devan sudah mendapat apa yang dia mau, untuk apa dia terus mengingat nya, dia punya segalanya, jadi orang sepertinya sudah pasti tidak berarti apa-apa, apalagi dirinya, sungguh tidak sebanding dengan wanita-wanita itu.


Hari sudah siang, sudah waktunya istirahat, dia lalu menuju ke Rafa dan terlihat Rafa yang sedang bermain dengan mobil mainan Deri, Cahya lalu mendekatinya dan mengajaknya pulang, Cahya tidak konsentrasi untuk bekerja lagi jadi dia meminta izin pulang lebih dulu dengan alasan sakit.


Cahya menggendong Rafa untuk pulang, terlihat Devan memasuki pintu ruangan itu, Cahya panik karena dia belum siap bertemu Devan apalagi dengan keadaan nya seperti ini, dia semakin menutup wajahnya dengan topi yang dia pakai.


Mereka hanya saling melewati, Cahya langsung buru-buru pergi dari sana hingga Deri memanggilnya


"Ibu Ayya, topi Rafa ketinggalan"


Cahya pura-pura tidak mendengar dan mempercepat langkahnya, Devan sudah pasti langsung menoleh karena mengenal nama itu, dia berusaha mengejar Cahya tapi sudah kehilangan jejak.


Devan lalu bertanya ke ayah Deri asal usul Cahya,


"Kalau tidak salah dia dari Bandung, tapi dia tidak menceritakan lebih jauh, dia sopan dan ramah jadi kami warga sini menerimanya"


Devan kaget dan yakin kalau itu adalah istrinya yang selama ini dia cari, Devan lalu meminta diantarkan ke tempat tinggal Cahya.


Sesampai dirumah kecil itu, terlihat sangat sepi, lalu tanpa diketuk pintu itu terbuka dan keluarlah Rafa sambil memegang mainan, mereka berpandangan tapi Rafa tidak terlalu peduli dia lalu bertanya pada ayah Deri


"Ada apa ayah Deri? mama nya lagi mandi"


"Tidak apa-apa, ini ada tamu yang ingin bertemu sama mama nya Rafa"


Devan berlutut agar sejajar dengan rafa, tak terasa matanya berkaca-kaca, saat ingin memegang Rafa dia tidak bisa karena Rafa mundur tidak mau dipegang.


"Jangan pegang Afa, kan kita bukan teman"


"umur kamu 3 tahun?" tanya Devan


"Iya, tapi sudah lebih sedikit, jadi sebentar lagi Afa boleh sekolah, tapi kata mama, Afa tidak boleh berbicara kalau bukan sama teman"


Cahya lalu memanggil anaknya, dia tidak tau kalau Devan ada didepan rumahnya, Cahya sudah mandi dan berniat memandikan Rafa karena ingin mengajaknya membeli mobil yang Rafa inginkan.

__ADS_1


"Rafa ayo mandi, mau ikut mama tidak, kita kan,,," ucap Cahya sambil membuka pintu, dia tidak menyelesaikan ucapan nya karena dia melihat Devan berlutut didepan anaknya.


__ADS_2