
Pov Wati
Setelah ditolaknya lamaran dia ke Devan, tentu dia sangat marah
"Kalau aku tidak bisa memilikimu, siapapun yang kamu pilih akan aku habisi"
Hari itu dia sengaja menemui Wawan
"Apa kamu tidak merasa aneh, anaknya menghilang tapi tidak lapor polisi dan tenang-tenang saja?"
"Pasti ada yang mereka sembunyikan" lanjutnya
"Tapi tidak mungkin dia bersama Devan, karna dia cukup lama dirumah sakit waktu itu, hampir bersamaan dengan aku keluar penjara, untung orang tua ku menebus ku jadi cuma sebentar di penjara"
Jadi setelah Wawan dan teman-teman nya mengeroyok Devan waktu itu, mereka di giring ke kantor polisi dan ditahan.
"Terasa janggal tentang Cahya, bahkan lebaran malah kakek nya ke Bandung, bagaimana kalau kita selidiki di Bandung?" kata Wati
"Kita kan tidak tau alamatnya"
"Tenang, aku punya ide" jawab Wati dengan muka liciknya
Dia selama ini selalu di samping Cahya dari kecil, dia yang selalu menghina Cahya juga, dia cemburu karna walau fisik Cahya tidak secantik dia tapi dia selalu lebih unggul.
__ADS_1
Wati datang kerumah kakek Cahya, dia pura-pura bersimpati atas hilangnya Cahya yang belum ditemukan,
"Kakek, sebenernya ayya dimana ya, kasian dia ya kek, dia pasti kesepian di suatu tempat"
"Dia baik-baik saja, kamu tenang saja"
"Bukan kah dia menghilang kek, kenapa kakek tahu dia baik-baik saja,"
"Maksud kakek, dimanapun dia berada, dia pasti baik-baik saja, sudah dulu ya, kakek masih ada kerjaan, maaf"
Wati pergi tapi tidak mendapat informasi apapun tentang Cahya, dia hanya semakin yakin kalau keluarganya telah menyembunyikan nya.
Wati ingat dengan nama sekolah Cahya, karna dulu pernah bercerita saat mereka mengobrol tentang sekolah baru mereka.
Paginya dia berpindah hotel untuk lebih mendekati daerah sekolahan Cahya, dia terus berusaha mencari hingga dia sampai di sekolah itu.
Dia mendatangi kantor sekolah, lalu menanyakan alamat murid yang bernama Cahya, dengan alasan, dia adalah teman nya dulu dari kampung, di datang ke Bandung sendirian jadi ingin menemui nya untuk meminta bantuan.
Tapi masalahnya ada beberapa yang bernama Cahya dari semua kelas
"Apa mau dipanggil kan saja? nanti kalau ketemu langsung kan lebih gampang mencarinya"
"Tidak pak, ada hal yang tidak bisa dibicarakan di sini, takut mengganggu belajarnya juga, bagaimana kalau saya lihat data nya, siapa tau ada Cahya yang saya maksud"
__ADS_1
Dengan tidak merasa curiga gurunya memperlihatkan data itu di komputer, lalu Wati mencari nama lengkap Cahya, dia lalu memotret nya
"Sudah pak, terimakasih"
Wati lalu keluar dari sekolah itu, lalu menuju alamat yang tertulis disana, diperjalanan dia menghubungi Wawan
"Sekarang aku ada di Bandung, aku sudah mendapatkan alamatnya"
"Wan, kalau seandainya dia ada disini kamu mau apa? lanjut Wati
"Aku akan kesana"
"Ingat Wan, kamu jangan main kasar lagi, kita harus main cantik, Cahya sangat lembut, jangan pernah lakukan ancaman untuk mendapatkan nya, itu tidak akan berhasil seperti terakhir kali"
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Apa kamu itu tidak bisa berfikir, lihat Devan yang mendekatinya perlahan"
"Apa kamu sudah sampai di rumahnya, lalu apa kamu bod** ini kan waktu sekolah, dia pasti di sekolah"
"Kamu yang bod**,, aku sengaja kesana untuk menanyakan pada tetangga nya tentang dia dulu bukan mau langsung mendatanginya"
"Pak, nanti tolong jangan pas di titik alamatnya, bapak bisa mundur 2 atau 3 rumah" ucap Wati ke supir mobil yang dia naikin
__ADS_1
"Sudah dulu Wan nanti aku kabari lagi"