
Cahya disuruh kuliah sama mama nya dari pada langsung bekerja seperti sekarang, di umur yang terlalu muda,
"Ayya, kamu kuliah dulu saja dari pada kerja seperti sekarang, nanti kamu bisa bekerja di tempat yang lebih enak, di kantoran"
"Tidak perlu ma, biaya kuliah sekarang sangat mahal, aku tidak mau terus membebani mama, apalagi Giat sebentar lagi juga mulai masuk SMA"
"Mama sanggup, memang itukan kewajiban mama"
"Nanti lagi ma, aku pikir-pikir dulu, aku sudah nyaman seperti ini"
"Masih ada beberapa bulan untuk awal semester, pikirkan dulu ya"
Cahya bingung, sebenarnya dia mau tapi dia kasihan sama mama nya, karena bukan hanya dia yang butuh biaya.
Pagi itu dia libur jadi bersantai di rumah sambil beres-beres dan juga berkebun karena sudah lama tanaman bunganya tidak terurus, saat dia sibuk dengan tanaman nya tidak lama Devan datang,
"Ayy, bukain pager nya, ini aku bawakan boba kesukaan kamu"
"Tangan aku lagi kotor kena tanah"
"Ayy, tolong sebentar"
Karena ada yang lewat, Cahya lalu membuka kan pagarnya, karena tidak enak dilihatin orang.
Devan duduk di kursi teras, dan Cahya masih sibuk dengan tanaman nya karena sebagian kering dan layu,
"Bunga nya tidak pernah kamu urus, pada mati kayak begitu?" tanya Devan
"Aku sibuk kerja"
"Kenapa kamu kerja, tidak kepengen kuliah?"
"Belum kepengen, atau mungkin berusaha tidak kepengen, kasihan mama, biaya kuliah mahal"
"Apa kamu betah kerja?"
__ADS_1
"Haruslah, aku sudah bukan anak sekolahan lagi, mau apa dirumah juga"
Devan lalu mendekati Cahya dan mengelus rambutnya, Cahya kaget dan menghindar,
"Rambut kamu sudah sangat panjang, kamu juga makin cantik"
"Aku bukan ABG lagi, aku sudah tidak akan malu-malu atau terpengaruh dengan gombalan lagi"
"Ternyata kamu sudah dewasa ya, aku baru sadar"
"Sudah pasti kamu tidak sadar, kamu tidak ada disini dan tidak memperdulikan ku"
"Maaf ayy, aku bukan tidak peduli padamu,, aku,,,"
Belum sempat Devan menyelesaikan ucapan nya, sudah dipotong sama Cahya,
"Sudahlah, jangan terus diulang, semua sudah berlalu"
"Lalu kenapa kamu masih terus bersikap dingin ke aku?"
"Ayy, aku tidak akan pernah meninggalkan mu"
Cahya tidak menjawab, dia sudah menyelesaikan berkebun nya, dia lalu cuci tangan dan masuk ke rumah,
Devan mengucap salam dan ikut masuk ke rumah, Cahya menyetel TV, tapi seperti biasa dia malah bermain ponsel
"Tidak perlu aku buatkan minum, itu kamu sudah bawa" kata Cahya menunjuk boba yang di bawa Devan
"Ini ada buat tante juga, kemana tante?"
"Belum pulang kerja" jawab Cahya tapi tidak melihat ke arah Devan, karena dia sibuk dengan ponselnya.
Devan mendekat dan duduk di sebelah Cahya, tapi Cahya langsung bergeser dan mengambil bantal agar jadi penghalang,
"Ayy, aku sangat merindukan kamu"
__ADS_1
Cahya tidak membalas apapun, lalu Devan mengambil bantal penghalang mereka dan makin mendekati Cahya tapi langsung ditahan dengan kedua kaki Cahya
"Mau apa?!" ucap Cahya
"Kamu makin imut kalau kaget dan ketakutan" Devan tertawa pelan dan memegangi kaki Cahya, dia semakin mendekat lalu memangku kaki itu, Cahya berusaha berontak tapi tentu dia tidak bisa.
Cahya canggung dengan posisinya, karena mau tidak mau dia jadi menghadap ke arah Devan,
"Ayy, kamu masih mencintaiku kan?"
Cahya tidak langsung menjawab, dia memegangi ponselnya erat, dia sudah lama tidak berdekatan dengan Devan, dia merasa canggung dan hatinya berdebar, rasa yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Jawab aku" Devan terus memandangi Cahya dan meminta jawaban,
"Kalau aku tidak mencintaimu lagi bagaimana?"
"Cukup kamu katakan kalau kamu tidak mencintaiku lagi, aku akan pergi sekarang juga"
"Aku tida,,,,"
Eeekkhm
Malah itu yang keluar dari mulut Cahya dan tidak bisa menyelesaikan ucapan nya, Devan sudah ******* bibirnya, dia tidak membiarkan Cahya menyelesaikan apa yang akan Cahya ucapkan, Cahya tidak pernah bisa berontak dari Devan, mencoba juga tidak pernah berhasil, karena memang dia mencintainya, jadi tubuhnya tidak bisa menolak karena hati nya menginginkan nya juga.
Mereka saling merindukan, saat mereka kehabisan nafas, mereka melepaskan ciuman itu,
"Sekarang katakan kamu tidak mencintaiku" ucap Devan sambil mengatur nafasnya
"Aku tidak,,,,,"
Devan kembali mencium Cahya lebih ganas, dia tidak mau mendengar hal yang tidak mau dia dengar, Cahya semakin kehabisan nafas, dia tidak kuat lagi, dia menggigit bibir Devan agar menghentikan nya.
"Sekarang katakan dengan benar" ucap Devan tapi bibirnya masih menempel pada bibir Cahya, mereka saling menatap, dengan kaki Cahya masih dipangkuan Devan.
"Aku mencintaimu"
__ADS_1
Devan tersenyum mendengarnya dan kembali mencium nya, tapi ciuman kali ini sangat lembut.