
"Aappaa?!"
Cahya kaget dan langsung bangun bahkan membuat Devan yang tidur disebelahnya juga menjadi terbangun karena kaget.
"Kamu dimana? mau aku ke sana?" tanya Cahya terdengar sangat khawatir
Cahya menutup dan menyimpan kembali ponselnya, dia lalu tiduran lagi dan menarik Devan yang tadi juga duduk disebelahnya untuk kembali tiduran, Cahya lalu menyembunyikan wajahnya kedalam dada suaminya
"Ada apa Ayy?" tanya Devan lalu memeluk istrinya dan membelai rambutnya
"Dena, dia bilang batal melakukan resepsi pernikahan nya dan akan kembali ke Indonesia nanti jam 10, kita sudah sengaja menunggu disini hanya untuk pernikahannya, tetapi malah seperti ini, sebenarnya Dena kenapa? dia tidak mengatakan dengan jelas, dia terdengar seperti terburu-buru" Cahya lalu semakin erat memeluk suaminya, seperti mencari ketenangan.
Tok tok tok
"Sayang, apa kamu sudah memesan sarapan sepagi ini?" tanya Cahya
"Tidak, tunggu sebentar aku periksa dulu"
Devan lalu membuka pintu untuk melihat siapa yang datang, Cahya kaget karena mendengar keributan dan langsung bangun untuk memeriksa.
"Ada apa sayang?" tanya Cahya pada suaminya
"Ini suami Dena datang mencari Dena"
"Apa yang terjadi?" tanya Cahya panik
"Dena tidak pulang dari kemarin sore, dia pergi ke rumah sakit sendirian dan tidak kembali" jawab Devan
James sudah pergi lagi karena tidak menemukan Dena di sana, Cahya panik dan langsung kembali menghubungi Dena tetapi ponselnya sudah tidak bisa dihubungi lagi.
"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Dena tidak bisa dihubungi" gumam Cahya sambil mengirimkan pesan pada Dena, tetapi tetap saja tidak bisa.
"Sayang, ayo kita kembali ke Indonesia sekarang" pinta Cahya pada suaminya.
"Jangan dulu Ayy, kamu masih belum sembuh, kemarin kamu memaksa untuk pulang, jadi kita tidak tau kondisi kamu sekarang" jawab Devan lalu menggendong Cahya untuk kembali ke ranjangnya
"Aku sudah tidak apa-apa, lagipula aku tidak merasa sakit di bagian manapun, apa kamu mau memeriksanya kalau tidak percaya?" ujar Cahya lalu mendekatkan wajahnya pada suaminya yang terlihat gugup sampai membuat Cahya tertawa
__ADS_1
"Ha,,,ha,,,ha, sayang kamu kenapa? biasanya kan kamu seperti itu? kenapa sekarang kamu seperti takut padaku?" Cahya terus tertawa hingga,
"Akkkhhmmm"
Devan ******* bibir istrinya dan memeluk tubuh istrinya lalu perlahan merebahkannya, mereka terus berciuman.
"Ayy, jangan nakal ya, sekarang kamu istirahat dulu, kalau besok kamu tidak sakit lagi baru kita berangkat" ucap Devan setelah melepaskan ciumannya, Devan masih takut untuk melakukan lebih dari itu, dia tidak mau Istrinya kembali sakit karena nya.
Devan memeluk istrinya, lalu membelai lembut rambutnya, seperti seorang ibu yang menidurkan anaknya, Cahya juga memeluk suaminya erat.
"Sayang, maafkan aku" ucap Cahya pelan
"Kamu kenapa? bukankah aku yang bersalah padamu?" tanya Devan heran
"Tidak sayang, kamu tidak pernah berbuat salah padaku, akulah yang selalu berbuat salah padamu, seandainya saja dulu aku tidak pernah pergi darimu, kejadian buruk itu tidak akan pernah datang padaku, jadi aku tidak akan pernah mengenal kak Reza, dia jadi harus selalu melindungi ku yang lemah ini, dulu juga aku pemalu hingga Habib datang dan selalu menjaga ku,, mungkin karena sifat ku membuat mereka mencoba melindungi ku, tetapi aku malah menyakiti perasaan mereka,,,, terlebih padamu,, aku banyak sekali melakukan kesalahan, maafkan aku sayang" Cahya memainkan jarinya membelai lembut dada suaminya.
"Ayy, aku tidak menyangka kamu akan bertumbuh, ternyata istriku sekarang sudah dewasa, kamu memang sangat kekanak-kanakan, selalu berbuat semau mu, dan selalu menghindari masalah, tapi ternyata kamu sudah menyadari hal itu, jadi mulai sekarang jangan ulangi lagi" Devan membelai lembut rambut istrinya
Dengan belaian lembut dari suaminya membuat Cahya tertidur, Devan memandangi wajah istrinya yang tidur dalam dekapan nya, Devan tersenyum dan mencium keningnya
"Ayy, terimakasih karena tetap memilih bersamaku, mari kita saling melengkapi segala kekurangan kita dan saling mengingatkan segala kesalahan kita, semoga kita bisa menjadi keluarga yang bahagia lahir dan batin, aku sudah memaafkan segala kesalahanmu sayang" Devan mencium pipi Cahya sebelum akhirnya dia juga memejamkan matanya untuk menyusul istrinya ke alam mimpi.
Reza bersiap kembali ke Indonesia, dia melihat kembali fotonya bersama Cahya, tadinya foto itu sudah dia buang kedalam tempat sampah tetapi dia ambil kembali, Reza membersihkannya lalu tersenyum melihat potret kebersamaan mereka dulu,
"Yayang, hidup berbahagialah sayang, kakak akan selalu menjaga mu dari jauh, mulai sekarang entah bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku" Reza lalu memasukkan foto itu kedalam tasnya
Reza bahkan lupa dengan janjiannya dengan Dena dan hampir saja meninggalkan nya, untung Dena datang tepat waktu,
"Kenapa kamu meninggalkan ku, bukankah kemarin kamu yang mengajak ku untuk pergi bersamamu?" ujar Dena ngos-ngosan karena habis berlari.
__ADS_1
"Siapa kamu?" tanya Reza dan melihat ke arah Dena, dia tidak menyadari kalau itu wanita yang kemarin dia temui, karena saat ini Dena memakai masker dan kerudung pendek ala Masha and the bear.
"Ini aku Dena, kemarin kita bertemu di rumah sakit, bukankah kemarin kamu bilang akan membawaku ke rumah mu"
"Iya,, iya,,, aku ingat wanita sok kuat itu, tapi kenapa sekarang kamu berpenampilan seperti ini?"
"Aku kabur dari suamiku, tentu saja aku harus seperti ini supaya tidak dikenali"
"Sesuka dirimu saja, tapi apa kamu sudah memikirkannya dengan baik? apa kamu tidak akan menyesal kehilangan suamimu?"
"Untuk saat ini, seperti nya ini adalah pilihan terbaik untukku, ayo cepat kita pergi" ujar Dena, lalu berjalan cepat menuju pesawat, karena takut ada yang menyusul nya.
Di perjalanan itu, Dena bahkan tidak menanyakan kemana tujuan mereka, Dena hanya ingin cepat pergi dari suaminya, begitu juga dengan Reza yang hanya diam, sebenarnya dia masih sangat berat melepaskan Cahya tetapi kalau dia tidak cepat pergi dia akan semakin susah merelakan nya.
Mereka berdua terlarut dalam pikiran mereka masing-masing, perjalanan yang jauh akhirnya membuat mereka tertidur.
Dena membuka matanya dan kaget karena dia bersandar pada bahu seseorang, saat dia menoleh terlihatlah Reza yang sedang tertidur, Dena lalu memperbaiki duduknya dan melihat ponselnya.
Dena memandangi foto pernikahan nya dengan James, dia menahan air matanya, impiannya untuk memiliki pernikahan yang indah sudah musnah, James belum mau memiliki anak, dia masih ingin hidup bebas dan meniti karirnya
"Lalu kenapa kamu menikahi ku?" tanya Dena pada James
"Bukankah kamu yang memaksaku, aku mencintaimu,, itulah sebabnya aku menuruti kemauan mu, tetapi aku belum ingin mempunyai anak, jadi hilangkan dia dari hidup kita, baru kita bisa melangsungkan resepsi pernikahan kita, kamu juga tau sendiri, belum lama ini kita baru bisa mendapatkan restu dari orang tuaku, mereka juga pasti tidak mau menerima bayi itu"
Kenangan itu membuat Dena tidak bisa lagi menahan air matanya,
"Aku hanya punya permen, tidak mempunyai coklat tapi setidaknya ini rasanya manis" Reza menyodorkan permen pada Dena, sebelum mengambil permen itu, Dena lebih dulu menghapus air matanya.
"Aku mengikuti pria yang bahkan tidak aku kenal sebelumnya, apa yang akan terjadi padaku setelah ini? semoga tidak lebih buruk dari pada aku harus tinggal dengan suami dan mertua yang tidak menginginkan keturunan mereka" batin Dena sambil membuka permen yang diberikan Reza.
__ADS_1
"Wanita ini pergi begitu saja dari keluarga nya dan mengikuti ku yang bahkan tidak dia ketahui asal usulnya, entah aku harus waspada atau aku harus senang karena ada yang membutuhkan perlindungan ku lagi, entahlah aku tidak tau,, yang pasti aku tidak akan pernah jatuh hati lagi, aku tidak mau kejadian yang sama akan terulang kembali" batin Reza lalu mencoba kembali tidur.