
Sudah beberapa hari Cahya menghindari Devan, tapi hari ini dia tertangkap, Cahya selalu pulang berbarengan dengan kelas lain dan bersembunyi di antara mereka, tapi Devan yang tidak putus asa mencari dan menunggunya akhirnya tau dimana kelasnya.
Cahya tidak bisa menghindar lagi, terlihat sorot mata kecewa, marah dan kerinduan di mata Devan, dia baru saja menemukan Cahya tapi tidak lama dia sudah menghindari nya lagi, tentu Devan menjadi marah dan kecewa.
"Ikut aku, kalau kamu tidak mau terjadi keributan" bisik Devan
Cahya hanya bisa mengikutinya, Devan membawanya entah kemana menaiki mobilnya, Cahya tidak berani bersuara, dia sadar dia salah, tapi lama-lama dia menjadi takut lalu mulai bertanya
"Kita mau kemana?"
Devan tidak menjawab, membuat Cahya semakin ketakutan, dia melihat ke luar jendela, tentu saja dia tidak tau ada dimana, selama ini dia hanya di sekitaran Campus nya.
Ternyata Devan membawanya ke sebuah rumah, mungkin itu rumah yang selama ini dia tinggali, rumah itu kecil tapi sangat asri, dan berderet tanaman mawar yang sebagian sudah berbunga, Cahya ragu untuk mengikuti Devan.
Tapi Devan menarik tangan nya, membuka kunci pintu dan membawa Cahya masuk, Cahya ketakutan dan ingin berbalik tapi Devan langsung menutup pintu dan menguncinya, dia melemparkan kuncinya ke sembarang arah.
Devan langsung mendorong Cahya ke tembok, tapi tangan nya melindungi kepala Cahya,
"aahhh" Cahya kaget
Devan menatapnya tajam, tidak lama dia langsung ******* bibir Cahya dengan rakus, tidak memberikan waktu untuk Cahya menolak, dia menahan kuat Cahya yang berontak, hingga Cahya kehabisan tenaga, dia terus menggigit Devan tapi Devan tidak perduli dan terus melakukan aksinya.
Devan sudah kehilangan akal, dia sangat marah karena Cahya selalu menghindarinya setiap ada masalah, selama ini dia sudah sangat sabar menunggunya tapi Cahya tidak pernah berubah, mungkin cara ini bisa membuat Cahya berubah.
Devan terus menyerang bibir Cahya bahkan tangannya sudah tidak bisa diam, mulai menggerayangi tubuh didepan nya, dia tidak memperdulikan pukulan dan cakaran Cahya, dia terus melakukan apa yang dia mau.
Devan terus menciumi Cahya, dia melepas ciuman itu dan turun ke leher Cahya
__ADS_1
"Devan, lepasin" ucap Cahya masih berusaha melepaskan diri, tapi mulutnya di tutup dengan tangan kiri Devan, sementara tangan kanan nya terus menggerayangi tubuh Cahya,
"aakkhhh"
Cahya mendesah saat Devan meremas dadanya, dan semakin membuat nafsu Devan berkobar, dia terus meremasnya, Cahya yang terus di sentuh Devan menjadi ikut terbawa perasaan, dan terus mendesah.
Devan menutup mulut Cahya dengan mulutnya, dia terus **********, memainkan lidah nya, dan tangan nya masih terus memainkan buah dada Cahya.
Cahya sudah pasrah, dia sudah kehabisan tenaga, dia mulai menangis, tapi Devan tidak memperdulikan nya, dia sudah cukup lama menahan ini semua, dia ingin mengikuti alur Cahya dalam berpacaran dan mengikuti kemauan Cahya tapi ini sudah diambang batas kesabaran nya, dia sudah tidak bisa lagi terus ditinggal lari dan dihindari.
"Devan, aku mohon lepaskan aku, bukan begini caranya" ucap Cahya lirih saat Devan melepaskan ciuman nya, Cahya berbicara sambil terus mengatur nafasnya, Devan memandangnya sayu masih penuh dengan nafsu
"Bagaimana caranya?" tanya Devan
"Kamu mau dikamar!" Devan mengucapkan itu sambil menarik tangan Cahya menuju kamarnya, Cahya yang sudah lemas karena dari tadi terus melawan tidak bisa banyak melawan lagi.
Devan berusaha menahan dirinya apalagi saat Cahya terus menangis, dia lalu memeluk Cahya dengan erat.
Devan memeluk Cahya lama, sampai Cahya tidak menangis lagi, dia membelai rambut Cahya, sungguh Devan sangat menyayangi Cahya, dia pun ingin menangis karena melakukan ini, tapi tidak ada cara lain, dia ingin Cahya selalu ada didekatnya.
"Kamu akan menghindari ku lagi? mulai sekarang kalau kamu menghindari ku lagi, aku akan menangkap mu, dan bisa saja aku melakukan lebih dari ini, apa kamu mengerti?" ujar Devan.
Terdengar seperti ancaman, dan saat Cahya tidak menjawab dia melepas pelukan nya dan mensejajarkan wajah mereka.
"Kamu mengerti yang aku maksud?" tanya nya lagi
Cahya hanya mengangguk, dia sudah tenang dan berhenti menangis, devan lalu mencium kening Cahya lalu membawa kepala Cahya kembali ke pelukan nya.
__ADS_1
"Kamu istirahat dulu di sini, aku akan menyiapkan makanan" ucap Devan lalu dia melepas pelukan nya, kembali mencium kening Cahya dan bangun keluar kamar.
Devan sangat percaya diri didepan Cahya tapi sampai dapur dia terduduk dan memegangi dadanya, dia tidak menyangka dia akan seberani ini, dia lalu tersenyum dan mengambil air dingin di kulkas, dia baru merasakan badan nya yang sakit karena pukulan dan cakaran Cahya tadi.
Dia lalu membuat makanan kesukaan Cahya, bihun kuah pedas yang dia beri toping sosis dan bakso, tidak lupa dia membuat susu coklat hangat.
Saat dia memanggil Cahya ternyata Cahya di kamar mandi, dia lalu mengetuk pintu,
"Ayy, ayo makan dulu"
""Iya, sebentar"
Devan lega mendengar suaranya, dia pikir Cahya akan menangis lagi di kamar mandi.
Mereka lalu makan bersama.
__ADS_1