Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Takdir Reza


__ADS_3

"Devan, jangan lepaskan sedetikpun perhatian mu dari Ayya,, sepertinya Ratu masih berkeliaran di sekitar kalian" ibu Retno mengirim pesan pada Devan


"Bukankah sudah selesai kemarin ma?"


"Dia ternyata sangat licik, saat mama meminta video full nya dengan ditukar uang dia sudah berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi, untung saja mama masih terus mengawasi nya, orang suruhan mama mengatakan wanita itu ada di sebuah pantai, dan tanpa sengaja suruhan mama melihatmu dan Ayya, apa benar kamu berada di pantai?"


"Iya ma, Ayya ingin kesini jadi aku membawanya sebelum kembali ke rumah malam ini"


"Cepat kembali sebelum terjadi apa-apa yang tidak kita inginkan"


Devan lalu mengajak istrinya untuk segera pulang karena sudah menjelang malam,


"Aku belum menghabiskan es kelapa nya" jawab Cahya yang sedang asyik meminum es kelapa muda


"Bisa bawa saja Ayy, habiskan di mobil'


Cahya lalu menurut karena Devan sudah mengangkat buah kelapa yang sedang dia nikmati, Devan tidak memberi tahu tentang Ratu yang berada di sekitar nya.


"Cewek,,,,!!" panggil segerombolan orang menggoda Cahya, mereka bahkan tidak peduli dengan adanya Devan disisi Cahya, melihat hal itu membuat Devan sangat marah dan langsung melemparkan kelapa yang dia pegang kearah para gerombolan orang itu.


Perkelahian tidak terhindarkan, Ratu mendekati Cahya dan menarik rambutnya dengan keras, Cahya tidak bisa melawan karena Ratu datang tiba-tiba dari arah belakangnya, tapi saat Ratu berusaha untuk memukul perut Cahya, untung saja Cahya bisa menghindar dan memukul dada Ratu.


Ratu sangat murka karena aset berharga nya yang sudah dia modifikasi sedemikian rupa dipukul oleh Cahya, dengan cepat dia kembali menyerang Cahya tetapi dia dikagetkan dengan kedatangan tiba-tiba seorang pria yang melindungi Cahya, pria itu mendorong tubuh Ratu hingga terpental.


"Kak Reza?" Cahya melihat kearah orang yang membantunya, Reza tidak merespon karena Ratu sudah kembali bangun dan kembali mencoba menyeruduk nya dengan menghunuskan pisau belati, untung saja Reza bisa menghindar dan dengan cepat meringkus Ratu.


Devan berlari mendekati istrinya, bantuan dari ibu Retno sudah datang jadi dia bisa berhenti melawan para gerombolan orang yang menyerangnya, Devan langsung memeluk Cahya dan mengusap lembut kepalanya, tadi dia melihat sekilas kalau Ratu menjambak rambut istrinya, Devan hampir terluka karena tidak focus melawan gerombolan itu karena mencoba berlari untuk menyelamatkan istrinya, untung saja dia melihat Reza yang datang menyelamatkan Cahya, membuatnya kembali melawan gerombolan itu sebelum bantuan datang karena takut gerombolan itu mendekati istrinya.


Mereka semua berhasil di ringkus, dan segera digiring ke kantor polisi, Devan dan Cahya mendekati Reza untuk mengucapkan terimakasih.


"Kakak kenapa ada disini?" tanya Cahya dan melihat ke sekitar Reza mencoba mencari keberadaan Dena


"Aku datang kesini karena melihat video viral itu, perjalanan jauh dan juga aku perlu waktu untuk menemukan keberadaan mu, apa masalah video itu sudah selesai? dia tidak benar-benar berhianat darimu kan?" Reza bertanya dengan menatap tajam kearah Devan


"Sudah selesai kak, Devan dijebak wanita itu dan hal yang kita pikirkan tidak terjadi, kakak mana Dena?"


"Dena menunggu di hotel, aku tidak membawa nya karena dia sakit, mungkin kelelahan karena perjalanan jauh"


"Terimakasih" Devan mengulurkan tangannya pada Reza, dari dulu pria ini yang selalu menyelamatkan istrinya.


"Jangan pernah lagi membuat adikku berada dalam bahaya" Reza menatap tajam kearah Devan dan masih belum membalas uluran tangan Devan.


"Baik, maafkan aku, tapi kejadian seperti ini aku berjanji tidak akan terulang kembali" jawab Devan yang masih mengulurkan tangannya, dan kali ini Reza membalas uluran tangan Devan.


"Sayang, aku mau bertemu Dena terlebih dahulu sebelum pulang, boleh kan?" Cahya memegang tangan suaminya, karena takut suaminya tidak mengizinkan.

__ADS_1


"Iya ayo" jawab Devan lalu membenarkan rambut istrinya yang berantakan terkena tiupan angin.


Mereka lalu menuju ke hotel tempat dimana Reza dan Dena menginap, pertemuan dua sahabat itu sudah tentu sangat heboh dan menjadi berisik membuat Devan dan Reza menutup telinga mereka.


"Dena, perut kamu kenapa? apa kak Reza langsung melakukan nya? kenapa kalian tidak mengundangku ke pernikahan kalian" Cahya mengelus perut Dena dan sedikit manyun melihat kearah Reza, dia pikir Reza dan Dena sudah menikah.


Reza dan Dena menjadi sedikit canggung, hingga Devan yang mengerti kecanggungan itu langsung mencairkan suasana dengan mengumumkan kehamilan istrinya yang kedua.


"Ayy, sebentar lagi juga perutmu akan membesar, aku tidak sabar melihatnya, apa saat itu badan mu juga membesar?"


"Saat Yayang hamil, pipinya lama-kelamaan menjadi sangat cubby membuatnya semakin terlihat imut dan manis" Reza yang menjawab membuat dua pasang mata menatap nya tajam penuh aura pembunuhan.


"Aku ini kan kakaknya, apa salahnya aku berbicara seperti itu?" Reza menyadari kecemburuan Devan dan Dena dia langsung mencari kata-kata yang bisa menenangkan mereka.


"Ayya, kamu hamil lagi? tapi kenapa tidak kelihatan?" tanya Dena penuh antusias, dia juga membelai lembut perut Cahya yang masih sangat rata itu.


"Masih sangat muda usia kehamilannya" jawab Cahya sambil tersenyum lalu kembali mengobrol dengan Dena.


Reza terus memperhatikan Cahya membuat Devan menjadi kesal dan bergumam,


"Jaga matanya,,, jaga perasaan pasanganmu"


"Jaga mata? seperti nya kata-kata itu tidak pantas diucapkan oleh orang yang bahkan sudah satu kamar dengan perempuan lain" jawaban Reza membuat Devan tidak berkutik lagi.


"Dena, kapan kamu akan kembali ke Bandung? bagaimana kalau ayahmu mencari dirimu?" Cahya mulai berbicara serius


"Jadi maksudnya kamu belum bercerai? terus kalian?" Cahya melihat kearah Dena dan Reza secara bergantian.


"Maaf, maaf,, bukan maksud aku mau mencampuri urusan kalian, sekali lagi maaf" Cahya merasa tidak enak karena dia terlalu blak-blakan dalam berbicara, dia lalu mencoba untuk mencari topik lain.


"Kalian berencana berapa lama di sini?" Cahya menanyakan hal lain lalu membuka ponselnya karena ingat kalau Reza ingin melihat Rafa.


"Secepatnya,, karena kami datang kesini hanya karena mengkhawatirkan dirimu" Ujar Dena lalu memegang kedua pipi Cahya dengan kedua tangannya lalu memandangi wajah sahabatnya itu.


"Ayya, aku tau apa yang menimpamu dari kecil, begitu berat hidupmu, kamu sangat kuat dan tabah, itulah yang membuat dirimu sekarang menerima banyak cinta, kamu layak mendapatkan nya, jangan terlalu bersedih kalau nanti kamu menghadapi masalah, ingat lah orang-orang disekitar mu yang banyak menyayangimu, kamu selalu menjadi sahabat terbaikku" ucap Dena lalu menekan pipi Cahya ketengah yang membuat bibirnya maju seperti bebek, Dena tertawa melihatnya.


"Ada apa? kenapa kamu begitu serius sekali, apa ada masalah?" tanya Cahya dan terus menatap Dena, dia sadar kalau sahabatnya sedang memikirkan sesuatu.


"Sayang, bisa tolong belikan aku sesuatu? aku pengen camilan" pinta Cahya pada Devan yang sedang melihat ponselnya, tetapi dengan sigap Reza yang lebih dulu pergi,


"Mau kemana?" tanya Dena pada Reza, dia merasa heran karena Cahya meminta pada suaminya tetapi Reza yang lebih dulu tanggap, sebenarnya Devan juga langsung bergegas, hanya saja lebih cepat Reza karena posisi duduknya lebih mudah untuk bangun dari duduknya.


"Ah,,, aku juga ingin membeli sesuatu" jawab Reza canggung, dan langsung berlalu pergi, yang disusul Devan setelah dia menanyakan apa yang diinginkan oleh Cahya.


"Sekarang katakan padaku, ada apa sebenarnya?" tanya Cahya setelah para pria keluar dari kamar hotel itu

__ADS_1


"Sepertinya Reza belum bisa melupakan perasaan nya padamu" Dena berucap dengan senyum getir nya.


Sejenak Cahya terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Dena, tadi Cahya sengaja menyuruh Devan untuk pergi supaya Dena lebih leluasa bercerita, tetapi pada awalnya dia ingin berbicara pada Reza juga, tidak disangka reaksi Reza seperti itu saat Cahya bilang menginginkan sesuatu.


"Dena, apa kamu sudah benar-benar melupakan suamimu?"


Mendengar pertanyaan Cahya membuat Dena terdiam, dia memang sudah melupakannya karena apa yang dilakukan oleh suaminya adalah sesuatu yang sangat fatal jadi lebih baik bagi Dena untuk melupakan suaminya, awalnya dia memanfaatkan Reza untuk melupakan suaminya, dengan sentuhan Reza dan perhatian serta tanggung jawabnya membuat Dena dengan mudah jatuh hati pada Reza.


"Tetapi tidak untuk Reza, dia masih belum bisa melupakan perasaan nya padamu, aku tentu tidak bisa menyamai dirimu dalam hal apapun, tetapi apakah dia tidak akan pernah bisa menerima apa adanya diriku? aku sudah lelah Ayya,, dia memang sudah berusaha melupakan dirimu tetapi sepertinya dia tidak sanggup" Dena menumpahkan segala permasalahan yang dihadapi nya membuat Cahya merasa bersalah.


"Dena, kami memang mempunyai ikatan, ikatan yang kuat dan tidak akan mungkin kita bisa saling melupakan, kak Reza berkorban begitu besar demi aku, dia juga yang dulu selalu menjaga dan melindungi diriku, salahku karena tidak memikirkan perasaan nya, aku terus bergantung padanya, aku benar-benar menganggap kalau dia adalah kakak yang selalu melindungi ku, maafkan atas kesalahanku dahulu" Cahya menggenggam tangan Dena karena terlihat Dena mulai berkaca-kaca.


"Dena, kalau seandainya aku belum mengenal Devan saat aku mengenal kak Reza, aku juga pasti akan jatuh hati pada kak Reza, karena wanita normal mana yang sanggup menolaknya,,, tetapi tidak untukku Dena, karena di hatiku sudah ada Devan dan selalu hanya ada dia dari dulu dan selamanya,,,, kamu tidak perlu khawatir padaku, karena aku tidak akan menjadi duri dalam hubungan kalian, aku tetap sahabatmu, dan kak Reza selalu menjadi kakakku, tetapi aku tidak bisa membantumu untuk merubah perasaan kak Reza, karena yang bisa melakukan hal itu hanya kamu sendiri" Cahya lalu tersenyum pada Dena yang sedari tadi terus menatap dan mendengarkan apa yang dia katakan.


"Teruskan berjuang, kamu itu adalah Dena sang Dewi penarik hati para pria, itukan julukan mu saat dulu kita masih sekolah" Cahya mengusap lembut bahu Dena.


"Iya, tapi dari dulu, hanya kamu yang selalu menjadi focus para pria itu, kamu nya saja yang terlalu cuek hingga tidak menyadarinya" Dena terlihat sudah lebih rileks.


"Yayang, lihatlah yang aku bawa untuk mu, ini adalah bakso pedas yang sangat kamu suka, makanlah sebelum dingin" Reza menatap sendu pada Cahya.


"Terimakasih kakak, aku sangat senang karena kakak masih mengingat salah satu makana yang aku suka" Cahya tetap bersikap seperti biasanya, tidak lupa menyuapi Dena terlebih dahulu karena Cahya menghormati Dena sebagai pasangan Reza, apapun masalah didalam hubungan mereka, tetap saja Dena adalah pasangan Reza dan Cahya adalah adiknya Reza, setidaknya begitulah yang dipikirkan oleh Cahya.


Tidak lama Devan juga kembali membawa banyak sekali camilan, dan tentu saja ada es krim yang menjadi makanan favorit nya akhir-akhir ini.


Cahya hanya makan beberapa suap bakso yang dibawakan oleh Reza dan memilih es krim yang dibawa oleh Devan, Cahya hanya ingin menunjukkan pada Reza untuk tidak berharap lagi padanya, karena selalu Devan yang akan dipilih oleh Cahya.


Mungkin terdengar sangat jahat dan egois, tetapi begitulah kenyataannya, Cahya tidak mungkin bisa untuk bersama Reza, dia sadar begitu besar pengorbanan yang dilakukan oleh Reza, tetapi tidak mungkin dia membohongi perasaannya, kalaupun mereka terpaksa bersama hanya karena Cahya ingin membalas kebaikan Reza, dan mengikuti keinginannya untuk hidup bersama, sudah pasti Reza juga tidak akan pernah bahagia bersamanya kalau tanpa rasa cinta di hati Cahya.


"Kakak, apa kakak mau es krim? ini suamiku membawanya banyak sekali, aku tidak mungkin bisa menghabiskan nya sendiri" Cahya menawarkan pada Reza dengan mengulurkan salah satu es krim yang ada didalam kantong plastik berisi


"Yayang, aku tau maksudmu, inilah takdir yang harus aku terima dan jalani, aku tidak akan mungkin bisa bersama mu sebagai pasangan, itu yang ingin kamu sampaikan padaku kan? baik Yayang adikku sayang, aku akan mengikuti apapun keinginan mu, aku juga akan terus berusaha untuk menerima Dena dengan setulus hatiku" setelah mengucapkan itu, Reza menerima es krim yang diberikan oleh Cahya.


Devan dan Dena yang melihat dan mendengarkan menjadi ikut terharu, mereka menatap pasangan mereka masing-masing.


"Reza, hatimu begitu luas, aku akan menemanimu sampai kamu benar-benar bisa menerima sepenuhnya" batin Dena lalu menghabiskan bakso yang dibawakan oleh Reza karena Cahya tidak menghabiskannya.


"Terimakasih Ayy, ternyata cintamu begitu kuat padaku" batin Devan lalu mendekati istrinya dan langsung ikut memakan es krim yang sedang Cahya jilat, dia tidak memperdulikan tatapan aneh dari Dena dan Reza.


"Iiiyyyuuuhhhh,, kalian menjijikkan, cepat keluar dari sini, aku mau tidur!" teriak Dena, mereka lalu tertawa bersama begitu juga dengan Reza, dia juga tertawa walaupun ada kegetiran di dalam hatinya, tapi setidaknya dia lega karena Cahya mempunyai pasangan yang sangat mencintainya.


Cahya dan Devan tidak jadi pulang karena sudah terlalu malam, mereka juga memesan salah satu kamar di hotel itu.


"Aaagggghhhh,,, aaahhhh,, aaahhhh,,!!" Cahya baru saja menutup pintu belum juga satu detik, tetapi Devan langsung menekuk lututnya dan masuk kedalam rok Cahya saat istrinya itu berbalik dari menutup pintu, tanpa peringatan dan permisi Devan langsung menyerbu apa yang ada didalam rok istrinya.


Devan juga tidak mengerti, kenapa dia terus bernafsu saat hanya berdua saja dengan istrinya, dia semakin dalam dan terus masuk dalam jeratan pesona istrinya.

__ADS_1


"Ssaayyyaaang,,, aahhhhhh,, mari kita membersihkan diri terlebih dahulu" Cahya merintih dengan terus meremas rambut suaminya.


__ADS_2