
Cahya tidak ikut ke kamar, dia memilih tiduran di sofa, sementara Devan tidur di kamar bersama Rafa, walaupun mereka masih sah suami istri tapi waktu yang terlalu lama memisahkan mereka pasti ada rasa canggung di hati Cahya.
Cahya mengingat perkataan Devan yang ingin cepat membawanya pergi dari sini, sebenarnya dia berfikir untuk kembali ke Bandung saat Rafa sudah lebih besar, agar dia bisa melanjutkan kuliahnya dan bisa bekerja ditempat yang lebih baik.
Cahya masih takut kalau Habib masih mengharapkan nya dan akan mendatanginya lagi, dia juga takut kalau Habib akan kembali menyakiti Devan, cara terbaik adalah dia tidak akan bersama keduanya.
Cahya ingin meminta pisah dengan Devan, tapi bagaimana kalau nantinya malah Rafa diambil, dia tidak akan sanggup tanpa Rafa.
Devan keluar dari kamar, Cahya lalu duduk melihatnya dan menanyakan apakah Rafa sudah tidur,
"Memang mau apa kalau dia sudah tidur?" goda Devan
Entah kenapa Devan bisa biasa saja, dari dulu setelah terpisah jauh dan bertemu kembali, Devan selalu bisa santai seperti biasa dan tidak ada rasa canggung.
Cahya tidak menjawab godaan Devan, dia ingin menyusul Rafa, saat dia bangun, Devan memegang tangan nya meminta nya untuk duduk kembali membicarakan tentang kedepan nya.
"Kamu tidak berniat tinggal disini selamanya kan?" tanya Devan
"Tentu tidak, aku berencana kembali saat Rafa sudah lebih besar,,, Devan,,, lebih baik kita berpisah, kita jalani kehidupan kita masing-masing, kamu tetap bisa menemui Rafa karena bagaimanapun dia anakmu, tapi dia akan tetap tinggal bersamaku nantinya"
Devan tidak menjawab apapun, dia hanya diam, dia tidak percaya Cahya meminta hal itu disaat mereka baru bertemu, dia bahkan tidak melakukan kesalahan apapun, dia juga terus mencari Cahya selama ini.
Devan sungguh menderita selama ini, ada kalanya dia bahkan ingin menyerah, selama ini dia tinggal bersama orang tua dan mertuanya secara bergantian, dia tidak ingin mama Cahya kesepian karena anak nya pergi entah kemana.
Dengan posisi dan kekayaannya dia bisa mendapatkan siapapun selama ini, orang yang dia tunggu dan dia harapkan dari dulu selalu lari darinya, bahkan saat mereka sudah menikah dan harus terpisah lagi, saat bertemu kembali pun, kenapa ini yang Cahya minta.
"Aku sudah lelah Ayy, tolong jangan mengucapkan omong kosong!" Devan marah mendengar permintaan Cahya.
"Kita bisa hidup damai seperti dulu, Habib tidak akan berhenti menyakitimu kalau aku masih bersamamu"
"Tenaga ku sudah habis Ayy, aku tidak mau berdebat apapun saat ini,, kamu hanya harus mengikuti suami mu, itu kewajiban mu" Devan marah tapi berusaha menahannya.
__ADS_1
Cahya memeriksa Rafa, saat terlihat Rafa yang tidur nyenyak dia meminta Devan pergi karena dia akan menemani Rafa tidur.
"Apa kamu lupa tugas dan kewajiban mu?" tanya Devan,, terlihat pandangan matanya yang berbeda.
"Kamu menghindari kewajiban mu selama ini, tidakkah kamu harus menebus nya mulai sekarang" Devan langsung menangkap Cahya, memegang kepalanya dan langsung menciumnya, tidak peduli akan penolakan Cahya, dia terus menyerang bibir itu, bibir yang sangat dia rindukan, Devan memojokkan Cahya ke tembok tanpa melepas ciuman nya, tangan nya mencari buah kembar itu, titik favoritnya di tubuh Cahya.
"Diam kalau tidak mau Rafa bangun" ancam Devan sesaat setelah melepaskan ciuman nya, dia menuju ke gunung kembar itu, dia menarik paksa baju Cahya, buah itu tersembul keluar menantangnya, terlihat lebih besar karena Cahya sudah melahirkan dan mempunyai anak, Devan langsung melahapnya.
Cahya merintih pelan, tidak dipungkiri dia juga merindukan sentuhan Devan, karena terbawa suasana dia semakin membusungkan dadanya, tangan Devan sudah melepaskan celananya dan mengangkat rok Cahya, dia memaksa masuk ke lubang sempit Cahya, lubang yang sudah lama tidak dia kunjungi.
Cahya mendorong Devan kuat dan kembali membenarkan baju dan rok nya.
"Tidak Devan, tidak bisa, tidak boleh, aku serius, mari kita berpisah secara baik-baik" ucap Cahya
Devan memandang tajam Cahya, dia tidak akan bisa ditolak, tanpa membalas perkataan Cahya, dia lebih membabi buta menarik baju dan celana Cahya, tanpa peringatan apapun dia memaksa memasuki Cahya, sangat susah, cahya menjerit kesakitan, sudah bertahun-tahun dia tidak terjamah, Devan menutup mulut Cahya kuat-kuat, agar tidak membangunkan Rafa.
Gerakan Devan penuh penyiksaan, dia tidak peduli Cahya yang kesakitan, kalau mau membicarakan kesakitan, dia juga sakit selama ini menunggu dan mencari Cahya.
"Mandilah,, setelah itu kamu bisa minta pisah lagi dariku"ucap Devan seolah mengejek Cahya.
Devan lalu pergi ke kamar untuk memeriksa Rafa, saat terlihat Rafa yang masih tidur, dia lalu tiduran di samping Rafa, dia tersenyum bahagia, anak dan istrinya telah ada disampingnya.
Devan tidak terlalu memperdulikan permintaan Cahya yang ingin berpisah darinya, karena dia tidak akan membiarkannya pergi darinya.
Selesai mandi Cahya masuk kamar untuk mengambil baju, dia kaget ada Devan tiduran disana disebelah Rafa, Devan memandang Cahya yang hanya memakai handuk, terlihat Cahya yang susah berjalan karena kelakuan nya barusan.
Cahya tidak memperdulikan Devan, dia mengambil bajunya dan keluar lagi untuk memakai baju dikamar mandi, lalu dengan sedikit menahan sakit dia mempersiapkan bahan masakan, karena takut Rafa bangun tidur akan minta makan.
Devan memeluknya dari belakang yang membuat Cahya kaget,
"Sudah Ayy,, kamu tidak perlu memasak, setelah Rafa bangun, aku akan mengajaknya membeli makan diluar, kamu istirahat saja, nanti malam kamu harus bersiap, persiapkan tubuh dan tenaga mu, aku akan melakukan nya terus menerus untuk mengganti libur mu selama ini yang tidak melakukan tugas sebagai seorang istri" ucap Devan di telinganya lalu menggigit pelan telinga itu.
__ADS_1
Cahya mendorong Devan karena kaget dengan tindakan Devan,
"Devan, aku sudah bilang aku minta kita,,," Cahya tidak melanjutkan ucapan nya karena ada suara yang memanggilnya.
"Mama sedang apa? kenapa tidak temani Afa tidur?"
"Rafa sudah bangun, ayo main sama ayah, sebentar lagi kita mandi terus bersiap jalan-jalan,, Rafa mau kan?" Devan yang menjawab dan mendekati anaknya lalu menggendongnya.
Cahya tidak tau harus bagaimana, Devan tidak mungkin melepaskan nya, tapi dia tidak akan tenang kalau terus bersama Devan, bayang-bayang Habib akan selalu menghantui mereka, Cahya tidak mau Devan kembali terluka.
Cahya menyimpan kembali bahan masakan, tidak jadi memasak, dia lalu mendekati anaknya yang sedang bermain bersama ayahnya.
"Mama sakit apa?" tanya Rafa
"Mama tidak sakit" jawab Cahya heran mendengar pertanyaan Rafa
"Kata ayah, mama sakit,, jadi tidak bisa ikut jalan-jalan sama Afa, tapi mama jangan sedih,, mama istirahat nanti pulangnya Afa sama ayah bawakan makanan yang banyak untuk mama"ucap Rafa
Cahya tidak menjawab apapun, dia melihat ke arah Devan yang ternyata dari tadi juga Devan memandangnya.
Devan sangat merindukan istrinya itu, dia lalu mendekati istrinya dan tiduran lalu meletakkan kepalanya ke pangkuan istrinya itu.
"Ayah awas, tidak boleh!" teriak Rafa, lalu menarik ayahnya itu agar menjauh dari mamanya, lalu dia yang duduk dipangkuan mamanya.
"Rafa kok gitu sama ayah?" tanya Devan
"Tidak boleh ayah, kan ayah sudah besar jadi jangan manja" jawab Rafa
Devan gemas mendengarnya, dia lalu menggelitik perut Rafa mengajaknya bercanda, mereka tertawa bersama, lalu Devan memeluk anak dan istrinya itu.
"Semoga hanya tinggal kebahagiaan untuk kami, dan semoga kami tidak akan pernah terpisahkan lagi" batin Devan berdo'a.
__ADS_1