
Dena datang bersama James, Devan yang tadinya berencana pergi memilih menunda kepergian nya dan menemani Cahya mengobrol bersama pasangan baru tersebut.
"Dena, sudah berapa hari kamu kembali ke sini?"
"3 hari yang lalu, kenapa kamu pindah ke hotel, bukankah lebih nyaman kalau tinggal di apartemen?"
"Ada suatu kejadian yang membuat kami tinggal di sini untuk sementara waktu" jawab Cahya, dia tidak mungkin menceritakan semua kejadian yang membuat nya harus tinggal di hotel.
"Kalian akan tinggal di negara ini selamanya?" tanya Cahya pada Dena
"Sepertinya kami akan menetap di negara ini, James tidak bisa meninggalkan keluarganya, lagi pula dia mempunyai pekerjaan tetap di sini" jawab Dena lalu bertanya balik pada Cahya tentang rencana nya.
"Kami akan segera kembali ke Indonesia, urusan Devan disini sudah selesai, sebenarnya kami masih disini hanya karena menunggu hari pernikahan mu, setelah nanti selesai acara, kami akan langsung kembali ke Indonesia"
"Aku jadi terharu" ucap Dena yang merasa sangat bahagia karena sahabatnya tidak pernah berubah dan tetap perduli padanya.
"Ayya, aku pulang dulu ya, masih banyak yang harus aku persiapkan"
"Kenapa buru-buru? kamu kan baru sampai, aku bahkan belum menyajikan minuman untuk mu"
"Tidak perlu, aku harus cepat, hari ini mau fitting baju pengantin"
"Baiklah, kamu hati-hati dan ingat pesan aku, jangan terlalu kelelahan"
"Tenang saja Ayya, aku sudah punya bodyguard kok" jawab Dena mengedipkan matanya kearah suaminya.
Setelah kepergian Dena dan suaminya, Devan langsung menarik Cahya kesamping nya, Devan langsung mendorong istrinya di sofa dan langsung menindihnya
"Sayang, apa yang kamu lakukan? bukankah tadi kamu bilang mau ada urusan?"
"Urusanku adalah mengurus kamu, ayo lanjutkan yang tadi" ucap Devan langsung mencium Cahya
Tok tok tok
Terdengar bunyi pintu kembali diketuk oleh seseorang, membuat Devan menjadi kesal,
"Siapa lagi kali ini, kenapa banyak sekali gangguan hari ini" gerutu Devan, mereka lalu bangun, setelah membantu istrinya merapikan rambut dan bajunya, Devan lalu membuka pintu.
"Tolong aku mas, kenapa dari tadi tidak mengangkat telepon dariku!?"
"Kamu kenapa Renal? kenapa sangat panik?" tanya Devan yang menjadi ikut panik
"Siti mas, dia marah padaku lagi"
"Hubungan nya apa sama aku? itu masalah pribadi, jadi aku tidak boleh ikut campur, lalu kenapa tadi kamu memintaku ke cafe, apa hubungannya sama Siti?"
"Siti cemburu mas, ada karyawan baru di cafe, aku juga tidak tau kenapa, wallpaper ponsel aku tadi malam berganti menjadi fotonya, aku tidak menyadari itu karena tadi malam setelah menutup cafe aku tidak memeriksa ponselku lagi"
"Apa ponsel kamu selalu kamu pegang?"
"Iya mas, selalu aku pegang kalau tidak pasti ada disaku"
"Berarti itu ulah kamu sendiri, tidak mungkin wallpaper ponsel kamu bisa berganti sendiri"
"Tidak mas, aku bersumpah tidak melakukan hal itu, memang Siti kadang kala rada lemot tetapi aku sangat mencintainya, tadi malam dia berkata akan melabrak karyawan baru itu, tapi bagaimana kalau karyawan itu juga hanya difitnah? karyawan baru itu masih sangat muda, dia sangat polos" ujar Renal
"Siti sekarang dimana? kenapa kamu kesini?" tanya Cahya yang dari tadi hanya mendengarkan, dia sepertinya mulai menghawatirkan Siti.
"Tadi saat aku berangkat bekerja dia masih dirumah, dia bilang akan menyusul, tetapi aku tunggu tidak kunjung datang, sebelumnya aku ajak berangkat bersama tapi tidak mau" jawab Renal
"Kenapa kamu malah kesini? sana susul istri kamu, tenangkan dia" ujar Cahya merasa heran karena Renal malah meninggalkan istrinya yang sedang bersedih karena cemburu
__ADS_1
"Cemburu itu sangat menyiksa, bisa membuat perempuan menjadi over thinking" ujar Cahya menggebu-gebu, yang membuat Devan dan Renal bengong dibuatnya
"Bukan mas Devan kok mbak, kenapa mbak marah dan ngegas?"
"Siapapun itu sama saja, lelaki tidak ada yang bisa dipercaya" Cahya terus menerus mengomel seolah dia yang dapat masalah
"Ayy, tenang sayang, aku disini dan aku selalu bisa dipercaya, kamu aneh ya? masalah orang lain bisa lancar mengeluarkan pendapat, kalau kamu yang mengalami kenapa malah cuma diam dan langsung kabur?" ujar Devan pada istrinya yang terlihat sangat kesal itu
"Sekarang pergi dari sini dan temani istri mu!" teriak Cahya semakin kesal, entah dia kesal kenapa, padahal ini masalah orang lain.
"Aku takut mbak, itulah alasan aku datang kesini, untuk meminta pendapat dari kalian, kan kalian sudah sangat khatam dengan segala jenis permasalahan" ucap Renal lalu menyandarkan tubuhnya di sofa dengan helaan nafas panjang.
"Kamu sungguh datang kepada orang yang sangat tepat, jelaskan Ayy sebagai perempuan yang sering kabur saat mendapat permasalahan, coba jelaskan saat ini Renal harus bagaimana?" ucap Devan sarkasme melihat kearah istrinya.
Cahya tersenyum mendengarnya lalu memberikan cium jauh pada suaminya,
Mmwwaahhhh
Devan kaget melihat istrinya yang berani bertindak seperti itu didepan orang lain, Devan gemas langsung mendekati dan menubruk istrinya yang membuat Cahya tertawa sambil menjerit riang.
"Hei,, hei,,,hei,,, kalian!!" teriak Renal melihat pasangan didepannya
"Kenapa kalian seperti ini didepan orang yang sedang mendapat masalah!" teriak Renal lagi karena harus melihat adegan manis disaat hatinya galau, Devan lalu memangku Cahya dan tidak membiarkan istrinya menjauh darinya.
"Yang harus kamu lakukan saat ini hanya terus menempel pada istri mu, bujuk dia dengan kasih sayang, saat dia terus menolak tetap saja kamu paksa, lakukan paling sedikit 5 ronde, pasti dia diam karena kelelahan, baru ajak bicara" ujar Devan yang membuat Cahya langsung menoleh kearah Devan
"Owh itu trik kamu ternyata?!" ucap Cahya kesal lalu mencubit perut suaminya.
Devan tertawa terbahak-bahak sambil terus memeluk Cahya dari belakang karena dari tadi Cahya masih dipangkuan nya.
"Renal, sekarang temani istri kamu, dengarkan dulu apapun yang istrimu katakan, setelah dia tenang baru kamu peluk dia dan jelaskan dengan lembut" ucap Cahya yang terus berusaha lepas dari pelukan suaminya.
"Yang jelas lakukan 5 ronde dulu!" ujar Devan yang langsung mendapat cubitan keras dari Cahya di dadanya.
"Sayang, kenapa sangat aneh aku rasa? ponsel bisa berubah wallpaper dengan sendirinya, sudah jelas itu tidak mungkin, pasti ada seseorang yang sengaja menggantinya" ucap Cahya yang sudah lepas dari pelukan suaminya dan sekarang sedang membuka ponselnya.
"Siti, kamu sekarang dimana? ayo kita jalan-jalan" ajak Cahya menelfon Siti
Devan mau merebut ponsel istrinya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya,
"Tidak sayang, tidak boleh!" teriak Devan, tetapi Cahya langsung mencium Devan sambil mendengarkan jawaban Siti, membuat Devan terdiam dan menikmatinya
"Aku sedang mengurung diri di kamar, aku malas keluar, mbak bisa jemput aku?" pinta Siti
Cahya berusaha melepaskan ciumannya dengan Devan, dan menahan bibir Devan dengan tangan nya.
"Ok, tunggu sebentar lagi, nanti aku akan menjemputmu" ujar Cahya lalu mematikan panggilan teleponnya, Cahya kembali mencium suaminya, sepertinya dia sedang merayu suaminya agar di izinkan pergi bersama Siti.
"Tidak sayang, jangan pergi kemanapun" ucap Devan lalu mendorong Cahya hingga terlentang di atas sofa dan langsung menindihnya.
"Kasihan Siti, dia butuh teman bercerita, aku tidak akan pergi lama, nanti malam kamu boleh bekerja keras lagi, aku sudah siap" ujar Cahya memainkan matanya menggoda suaminya.
"Kamu sudah selesai datang bulan nya?? ayo sekarang Ayy" rengek Devan lalu langsung membuat tanda merah di leher istrinya.
"Sepertinya sudah, tadi pagi aku belum yakin tapi rasanya sudah tidak lagi" Cahya berbicara sambil memejamkan matanya karena Devan sudah menyusup ke dalam bajunya.
"Sayang, biarkan aku pergi dulu, kamu boleh ikut, sekalian kita dinner double date dengan Siti dan Renal, kita belum pernah melakukannya, kita kan sebentar lagi akan kembali ke Indonesia" Cahya mengelus kepala Devan yang sedang asyik bermain dengan buah kembarnya, kegiatan yang selalu tidak bosan Devan mainkan setiap hari.
"Aaayyooolah saaayyaaang" pinta Cahya sambil mendesah merasakan lidah Devan yang terus memainkan buah kembarnya.
"Iya ayo, kita lanjutkan di ranjang" jawab Devan sekenanya karena dia masih focus dengan kegiatannya.
__ADS_1
"Bukan begitu sayang, ayo kita bersiap, Siti sudah menunggu" Cahya berusaha menjauhkan kepala suaminya dari dadanya.
"Sayang ayolah" pinta Cahya
"Dua ronde dulu" ucap Devan langsung menggendong istrinya ke ranjang, Cahya menyesal memberi tau suaminya kalau dia sudah selesai datang bulan, seharusnya nanti malam dia baru bilang.
Siti dan Renal masih saling diam dan duduk berjauhan saat di restoran tempat mereka dinner, Siti duduk di dekat Cahya dan Renal dengan Devan
"Cepatlah berbaikan, aku mau duduk didekat istriku" ujar Devan malas melihat pertengkaran Renal da Siti
"Mas Renal" panggil sebuah suara
"Rere? kamu makan malam disini juga?" jawab Renal
"Iya, tapi aku sendirian, boleh gabung tidak?"
"Apa tidak terlihat kursinya sudah penuh? masih banyak kursi kosong dimeja lain, kami sedang makan malam bersama pasangan kami masing-masing, mohon maaf ini acara pribadi" jawab Cahya tegas sambil melihat kearah perempuan yang menyapa Renal, karena saat melihat kedatangan perempuan itu, Siti langsung memandang penuh kebencian, dan Cahya paham akan hal itu.
"Maaf mbak, saya tidak bermaksud mengganggu, saya hanya terbiasa dengan kebaikan hati mas Renal, selama ini,,," perempuan itu terhenti berbicara karena Siti bangun dari duduknya, mendekati perempuan itu dan langsung menampar pipi nya.
"Dasar perempuan gatal, sok pura-pura polos, aku tau akal bulus mu!" pekik Siti penuh kemarahan
Cahya mendekati Siti dan menenangkan nya, sementara perempuan itu menangis tersedu-sedu,
"Maafkan saya, saya tidak tau kalau sudah menggangu kalian, seharusnya saya sadar diri"
Mendengar itu gantian Cahya yang menampar perempuan itu, Cahya paham dengan kelakuan perempuan itu, pura-pura lemah tak berdaya untuk menarik perhatian orang lain.
"Jangan pernah mengganggu adik-adik ku lagi, sekarang pergi dari sini" ujar Cahya lalu menuntun Siti kembali duduk.
Devan kaget melihat istrinya yang bertindak seperti itu, dia tidak menyangka kalau istrinya sangat menyayangi adik-adik iparnya, bahkan berani bertindak tegas untuk membantu adiknya.
"Aku sudah sangat paham dengan wanita yang pura-pura lemah seperti itu, kalian para lelaki kenapa selalu gampang tergoda dengan wanita manja nan lemah, sungguh menjengkelkan" ucap Cahya sambil duduk dan memberikan minum pada Siti.
"Apa itu termasuk aku Ayy?" tanya Devan yang masih terus bengong karena takjub dengan istrinya yang terlihat berbeda.
"Tentu saja!" jawab Cahya
"Renal, pecat perempuan itu, jangan membiarkan terlalu lama, itu juga kalau kamu tidak mau kehilangan Siti" ujar Cahya memandang tajam ke arah Renal.
__ADS_1
"Dia tidak bersalah mbak, jangan salah paham padanya" jawab Renal tidak suka dengan tindakan kakak iparnya