
Tok tok tok
Terdengar pintu kamar hotel yang mereka tempati diketuk dari luar, saat itu Cahya sedang mandi dan Devan masih tiduran di sofa setelah pergumulan panjang dengan istrinya.
Devan membuka pintu, ternyata Sinta disana, dia mencari Cahya karena ingin meminta maaf pada nya karena telah menganggap nya janda.
"Tidak perlu dipikirkan, istriku bahkan tidak memperdulikan atau bahkan ingat akan hal itu, dia bukan orang pendendam" jawab Devan yang merasa tidak nyaman karena saat itu Sinta memakai baju yang sangat sexy dan seperti mencoba masuk kamarnya, Devan tidak mau Cahya salah paham melihat nya.
"Aku mengundang kalian makan malam, datanglah ke kamarku di nomor 123" ujar Sinta
"Maaf kami tidak bisa,, sudah dulu" Devan lalu menutup pintu tidak mau berlama-lama.
"Siapa yang datang?" tanya Cahya, dia baru selesai mandi dan mendengar bunyi pintu ditutup.
"Tidak, hanya orang iseng"Devan tidak mau istrinya salah paham jadi dia menjawab sekenanya.
Siang itu mereka memesan makanan lewat Room Service karena malas keluar kamar, Cahya kembali meminta untuk segera pulang tapi Devan minta semalam lagi saja disana, mau tidak mau pada akhirnya Cahya hanya bisa menuruti kemauan suaminya.
Setelah selesai makan siang, Devan mengajak Cahya jalan-jalan ke Mall di dekat sana, Devan membelikan gaun untuk Cahya, walau Cahya menolak tapi tetap dipaksa Devan untuk mencoba biar tau mana yang cocok untuk Cahya, Devan sendiri memilih setelan jas yang warnanya senada dengan gaun Cahya.
Mereka kembali ke hotel karena hari sudah mulai malam, mereka lalu mandi dan bersiap makan malam, Devan meminta Cahya memakai gaun yang dibeli tadi.
Cahya terlihat sangat berbeda, dia terlihat makin cantik dan anggun, ternyata Devan memaksa masih ingin disana karena dia sudah menyiapkan makan malam romantis dengan istrinya itu.
Mereka jadi pusat perhatian.
"Sangat serasi, mereka pasti pengantin baru" ujar seseorang yang melihat mereka.
"Ternyata ini yang kamu rencanakan? aku malu, mereka terus melihat ke arah kita" ujar Cahya,
Devan tersenyum, dia tidak menjawab perkataan istrinya itu, mereka lalu makan hingga tiba-tiba Sinta datang dan entah disengaja atau tidak, dia menumpahkan minuman di gaun Cahya.
Sinta minta maaf, tapi tentu Cahya tidak marah, dia hanya langsung pergi untuk membersihkan gaunnya yang di ikuti oleh Devan.
Setelah membersihkan gaun Cahya, mereka kembali untuk menyelesaikan makan malam, ternyata Sinta sudah tidak ada disana, Devan merasa ada yang aneh, tapi Cahya biasa saja dan kembali memakan makanan yang tadi belum dia habiskan, dan saat melihat Cahya minum belum sempat Devan melarang, Cahya sudah menghabiskan nya.
"Kenapa?" tanya Cahya yang langsung kembali makan saat melihat Devan terlihat ingin mengatakan sesuatu.
__ADS_1
Benar saja tidak lama Cahya terlihat gelisah, dia terus memegangi dan menggaruk lehernya, Devan langsung membawa Cahya kembali ke kamarnya, dari kejauhan ada dua pasang mata yang menatap kesal pada mereka.
Mereka tidak menyangka kalau rencana mereka akan gagal total karena Devan menyadari kalau ada hal yang mencurigakan.
"Bagaimana ini? dia menyadari nya, pasti dia curiga pada kita terutama padamu" ujar Boy pada Sinta
"Kamu tenang saja, tidak ada bukti jadi kita aman" jawab Sinta
Didalam kamar, Cahya merasa sangat kepanasan dan membuka gaun nya, tidak lama Cahya jatuh pingsan, Devan panik dan langsung membawa Cahya kerumah sakit setelah memakaikan nya baju.
"Obat yang dia minum hampir membuatnya gagal jantung kalau sedikit saja telat ditangani" ujar dokter yang menangani Cahya, Devan kaget mendengarnya, ternyata itu adalah obat perangsang, biasanya orang akan mengalami terjangan hasrat yang tinggi tapi entah kenapa berbeda pada Cahya.
"Apa istri anda sedang hamil?" tanya dokter itu
Devan ragu menjawabnya karena dia tidak tau, mereka belum memeriksanya.
"Dokter" teriak suster di sebelah Cahya yang merapikan selimut nya, terlihat Cahya kejang hingga selimut itu sedikit bergeser, mereka lalu berusaha menanganinya, Devan panik dan menangis melihatnya.
Devan diminta keluar agar para dokter focus menangani Cahya, cukup lama Devan menunggu, hingga dokter itu keluar dari ruangan.
"Masa kritisnya sudah terlewati, tapi maaf janin nya tidak bisa diselamatkan dan butuh waktu lama untuk memulihkan rahim istri anda bahkan ada kemungkinan rahimnya rusak total, obat itu sangat kuat, sepertinya dosis yang dia minum sangat banyak, untuk dosis normal biasanya hanya akan mempengaruhi hasrat seksual, tapi ini sangat tinggi dosisnya dan dalam kondisi istri anda yang diduga hamil masih sangat muda jadi inilah yang terjadi" dokter itu menjelaskan
"Kami sebenarnya tidak bisa mendeteksi nya, ini hanya kemungkinan" dokter itu kembali menjelaskan
Devan lemas seketika, dia menyalahkan dirinya sendiri, seandainya dia menuruti kemauan Cahya untuk segera pulang dari hotel itu, tentu hal ini tidak akan terjadi.
Devan masuk ke ruangan istrinya, terlihat istrinya yang dipasang alat bantu pernapasan, Devan tidak kuasa menahan tangisnya, dia memegang tangan Cahya dan terus meminta maaf.
Devan dipenuhi amarah dan dendam tapi dia juga tidak bisa meninggalkan istrinya, dia mengirim pesan pada orang suruhan nya, dan para asisten yang selama ini membantunya.
"Selidiki siapa yang membuat istriku seperti ini, dan seret ke gudang XX"
Cahya masih belum sadarkan diri, Devan terus menjaganya, hingga dia mendapat kabar kalau orang yang memasukkan obat itu telah ditemukan.
__ADS_1
Devan menghubungi mama nya, dia meminta tolong pada mama nya untuk menjaga Cahya, karena harus ada salah satu yang menjaga Rafa dirumah dan diputuskan ayahnya yang menjaga Rafa, Devan sendiri langsung menemui orang yang membuat istrinya harus menderita.
Terlihat lelaki muda yang ketakutan, dia memohon diampuni karena dia hanya disuruh.
"Bawa kesini orang yang menyuruh nya!" teriak Devan
Lelaki itu terlihat ketakutan karena dia sudah berjanji tidak akan membocorkan hal itu, tapi kali ini nyawanya menjadi taruhan,
Sinta dan Boy diseret ketempat itu
"Apa mereka yang menyuruhmu?" tanya Devan pada lelaki itu
Dengan takut-takut dia mengangguk, tapi Devan tetap memukul kuat pria itu walau dia hanya disuruh.
"Apa kamu tau apa yang telah kamu perbuat? istriku kesakitan dan bahkan anak yang belum sempat kami tau kehadirannya, telah kau hilangkan!" teriak Devan penuh amarah, dia terus memukuli lelaki itu.
Dia berhenti karena ditahan oleh para asistennya, mereka tidak mau Devan menjadi pembunuh, salah satu asisten itu lalu menyuruh yang lain untuk membawa lelaki muda yang sudah terluka itu ke rumah sakit.
Devan kemudian melihat dengan tatapan membunuh kearah Siska dan Roy yang terlihat sangat ketakutan itu, mereka tidak menyangka Devan akan sekejam itu.
__ADS_1
"Istriku menderita karena kalian, dan anak ku menghilang, sekarang kalian putuskan siapa yang akan aku lenyap kan dan siapa yang akan aku buat menderita!!" teriak Devan