
Cahya berpamitan kepada atasan dan seluruh rekan kerjanya, karena dia akan keluar dari pekerjaan untuk memulai kuliah.
Cahya masih berusaha menghindari Devan, bahkan dia mempercepat kepergian nya ke Jogja agar Devan tidak mengantarnya, kalau Devan mengantarnya, dia jadi tau tempat kos dan Kampus nya.
Tentu saja Devan sangat kecewa saat datang untuk mengantarnya tapi Cahya sudah berangkat.
Waktu terus berlalu dan tak terasa kuliah Cahya sudah memasuki semester ke 7, dia jarang pulang ke Bandung atau ke Jawa, kalau pulang dia akan memilih hari yang acak, tidak selalu lebaran atau liburan, agar tidak bisa ditebak Devan kapan dia pulang, jadi kecil kemungkinan mereka bertemu.
Hari itu dia kuliah seperti biasa, dia tinggal di sebuah kos-kosan yang dekat dengan kampus nya jadi dia hanya cukup berjalan menuju kampus nya itu, memang biayanya mahal tapi dari pada jauh dan harus menggunakan transportasi, tetap saja sama pada akhirnya.
"Ayya, makin cantik saja, pulang kuliah kita nongkrong di cafe baru deket kampus yuk" Ajak teman nya
"Maaf Tuti, aku tidak bisa, aku belum selesai mengerjakan tugas"
"Masih lama juga dikumpulin nya, aku malah belum mulai mengerjakan, ayo kita santai dulu, nanti banyakan dari kelas kita yang kesana, dan kamu tau? pemilik cafe itu sangat ganteng, disana juga ada boba kesukaan kamu"
Karena tidak enak menolak ajakan teman nya, dia lalu ikut bersama teman-teman nya untuk nongkrong di cafe
"Ayya, kamu mau pesen apa?" tanya Tuti
"Dia sudah pasti boba, mau rasa apapun juga dia mau, asalkan tidak rasa cintaku padanya, ampun bos, ditolak selalu diriku" Ucap teman cowoknya
"Malah curhat ni bocah" ucap Tuti
Cahya hanya tersenyum kecil, dia lalu duduk dan mulai melihat menu, dia memilih boba kesukaan nya dan snack.
"Kenapa tidak ada ya pemiliknya yang ganteng itu, biasanya pasti ada, apa di dalam ya?" ucap Tuti kecewa
"Kamu itu ya, bukan nya kamu sudah punya pacar?" tanya salah satu teman mereka
"Pacar ya pacar tapi boleh lah cuci mata"
Tidak lama pesanan mereka datang, tapi belum ada minuman pesanan Cahya
"Maaf untuk boba nya belum selesai di buat, tolong tunggu sebentar" ucap pelayan itu
"Baik mas, terimakasih" ucap Cahya
Mereka lalu mulai memakan dan meminum pesanan mereka, sambil memainkan ponsel mereka masing-masing.
"Ayy, kenapa kamu selalu menolak Habib? dia itu bintang kelas kita untuk cowok dan kamu bintang cewek, akan sangat cocok kalau kalian bersama?" tanya Tuti menunjuk teman nya yang tadi curhat selalu ditolak Cahya
__ADS_1
"Aku masih kepengen focus kuliah"
"Tenang Ayya, aku akan menunggumu sampai kita lulus" ucap teman nya yang bernama Habib itu
"Halah modus, omongan cowok tidak ada yang bisa dipercaya" ujar Tuti
"Kamu tidak perlu menunggunya, karena aku sudah menunggu nya lebih lama" Devan yang mengantar minuman itu, Cahya tidak melihat kemunculan nya, dia tidak sadar Devan sudah ada dibelakangnya, mengucapkan itu sambil memegang bahu Cahya dan meletakkan minuman pesanan Cahya di meja, Devan menatap tajam Habib.
"Ayya, kamu mengenalnya?" tanya Tuti
Cahya hanya membatu, dia tidak sanggup menoleh karena dia sudah paham suaranya, ini sungguh sangat mengagetkan baginya.
"Ayy, teman mu bertanya" Devan lalu duduk disebelah Cahya dan terus menatapnya.
Cahya tidak menyangka Devan ada disini, dia pikir Devan melupakan nya karena sudah 3 tahun lebih mereka tidak bertemu.
Teman-teman nya tidak menyangka kalau Cahya mengenal pemilik cafe ini.
"Apa kabar Van" Cahya mengulurkan tangan nya untuk pura-pura menyapa
Devan menarik tangan itu dan membuat Cahya tertarik ke arah Devan, lalu
Cup
Tabrakan bibir itu tidak terhindarkan, Cahya kaget dan langsung menjauh dari Devan, dia juga sangat malu karena dilihat banyak teman nya.
"Kamu tidak sopan ya!" teriak Habib marah melihat itu dan langsung mendekati Devan dan memukulnya
Para Cewek langsung teriak kaget, tapi Devan membalas Habib sambil mengatakan sesuatu,
"Kenapa? dia kekasihku, aku tentu boleh melakukan itu" Devan menatap ke Habib
"Apa?" kata Tuti dan Habib berbarengan sambil melihat ke arah Cahya meminta penjelasan
"Mantan, dia mantan aku, kita sudah lama tidak bertemu" jawab Cahya gugup
"Kapan kita berpisah? kamu yang pergi meninggalkan aku, dan terus menghindari ku" balas Devan
__ADS_1
Cahya tidak tau harus menjawab apalagi, karena memang itu benar, dia akhirnya memilih pergi setelah memberikan uang pada Tuti
"Tolong bayarkan pesanan aku, aku ada perlu, aku duluan ya semuanya, bye" Cahya pergi tanpa menoleh atau berpamitan ke Devan
Tentu Devan mengejarnya karena dia sangat merindukan Cahya, karena selama ini mama Cahya pun tidak mau memberikan alamat tempat tinggal Cahya, tentu saja karena sudah dilarang oleh Cahya untuk tidak memberi tau Devan, dan setelah dia terus mencoba hanya dikasih alamat kampus nya oleh mama Cahya, sepertinya mama Cahya kasian karena sudah lama tapi Devan masih berharap pada anaknya.
"Ayy tunggu, kamu mau lari kemana lagi? apa tidak cukup kamu selalu lari dariku?" Devan memegang tangan Cahya saat dia berhasil mengejarnya.
Cahya berusaha melepaskan tangan nya, disana ada banyak mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang
"Devan lepas, disini banyak orang"
"Kamu terus menyiksaku dengan terus lari dariku, kenapa kamu setega ini, pembuktian apa lagi yang kamu butuhkan? aku sangat mencintaimu, bahkan kalau harus menunggu 10 tahun lagi aku sanggup, tapi tolong jangan lari lagi dariku"
Cahya sedikit tersentuh dengan kata-kata Devan
"Lepas dulu" ucap Cahya berusaha melepaskan tangan nya
"Buat apa? agar kamu bisa lari lagi?"
"Bukan begitu, disini sangat ramai, aku tidak mau terjadi skandal, aku berusaha menjaga nama baik aku selama ini, dan ini tahun terakhir, tolong jangan mengacaukan nya"
"Aku akan melepaskan tapi kamu jangan lari"
Mereka lalu duduk di taman kampus
"Ayy, jangan pernah lari lagi dariku" ucap Devan dengan suara yang sangat memelas
"Aku tidak lari, aku memberikan kesempatan padamu untuk melepas kan aku dan memulai hidup barumu tanpa aku"
"Aku sudah bilang, aku tidak mengizinkan kamu melepas ku, sekarang ayo pergi dari sini"
"Kemana? sudah sore Van, aku mau pulang"
"Ikuti aku" Devan meraih tangan Cahya dan mengajaknya pergi dari sana, dia membawa Cahya ke sebuah taman bunga yang cantik, Cahya tersenyum senang melihatnya, selama ini dia focus kuliah sangat jarang dia pergi main.
Cahya mendekati bunga-bunga itu, dia mencium salah satu mawar merah, tapi dia lalu merasa aneh karena taman itu sangat sepi dan tidak ada pengunjung lain.
"Ini bukan hari libur jadi tentu disini sepi, tapi kamu jangan takut, aku tidak akan memakan mu disini" Devan menjelaskan karena melihat Cahya menoleh kesana kemari.
__ADS_1