Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Bab 52. Jebakan Devan


__ADS_3

"Ayy, kamu mau menikah?" tiba-tiba mama nya bertanya pada Cahya malam itu,


"Siapa yang mau nikah ma, aku pengen kuliah, kata mama aku boleh kuliah"


"Kamu terus berduaan sama Devan, itu tidak baik ayya, apa kata orang nantinya?"


"Tapi ma, aku belum mau menikah"


"Apa Devan belum melamar mu?"


"Melamar bagaimana? kalau ngajak nikah sering, tapi aku belum mau"


"Mending nikah saja ayya, kamu tetap bisa kuliah walau sudah menikah"


"Tidak akan bebas ma kalau sudah punya suami, pasti banyak batasan, tidak boleh begini, tidak boleh begitu, dan harus ngurus suami juga, tidak ma, aku belum siap"


Devan menelepon kalau dia sakit minta tolong dibawakan obat, lalu memberikan alamatnya, Cahya menolak, dan bilang minta saja ke suruhan nya yang waktu itu, tapi Devan bilang suruhan nya itu sudah pulang ke Jawa dan dia tidak kuat untuk keluar kamar.


"Jangan mengada-ada, tadi sore dari sini masih sehat, aku minta tolong ke mama yang kesana" Cahya mengirim pesan


"Kamu jangan tidak sopan begitu ke orang tua, masa nyuruh?"


"Kalau aku kesana sama saja aku masuk kandang buaya,, aku tidak mau, bisa habis aku nanti"


Devan tersenyum membaca pesan Cahya,


"Tapi kamu suka kan sama buaya nya?"

__ADS_1


"Pokoknya aku tidak mau kesana"


"Kamu tega, aku pusing banget ayy, tolonglah"


"Kamu tidur saja, besok pagi juga sembuh, makanya kepala jangan dipake berpikir yang kotor, jadi sakit,, sudah sana tidur, aku juga mau tidur, bye"


Cahya menyudahi pesan nya dan mematikan ponselnya, dia sudah yakin kalau itu semua cuma permainan Devan.


Pov Devan


Devan sudah di apartemen nya lagi setelah dari rumah Cahya, dia masih galau karna Cahya tidak juga mau dinikahinya, dia lalu menelfon mama nya untuk minta saran,


"Paksa saja" begitulah saran mama nya


Devan tidak tau harus bagaimana memaksanya, hingga dia berfikir untuk membawa Cahya ke apartemen nya dan akan memaksanya walau bagaimanapun caranya.


"Apa dia tidak mencintaiku ya?" batin Devan


Devan menjadi ragu dengan cinta Cahya, dia tidak yakin kalau Cahya benar mencintainya, dari dia yang tidak pernah mau mendekatinya lebih dulu padahal sudah pacaran lama, walaupun Devan sempat pergi karena keadaan darurat tapi mereka tidak putus.


Lalu sekarang Cahya juga tidak mau diajak menikah, Devan jadi berfikir yang bukan-bukan, dan makin meragukan cinta Cahya.


Devan ingat kalau Cahya menginginkan sebuah rumah, dia besok berencana membeli rumah untuk mereka tempati setelah menikah nantinya.


Pagi harinya Devan menjemput Cahya lebih pagi untuk mengantarnya ke tempat kerja, dan setelah mengantar Cahya dia langsung pergi untuk mencari dan membeli rumah, ternyata membeli rumah tidak segampang itu apalagi yang siap huni.


Sudah waktunya menjemput Cahya, dia lalu menuju tempat kerja Cahya terlebih dulu untuk menjemputnya tapi yang tidak dia sangka dia akan melihat Cahya mengobrol dengan seorang lelaki, tapi itu bukan Roni dan pakaian nya juga bukan seragam pegawai seperti Cahya.

__ADS_1


Terlihat Cahya tersenyum sambil mengangguk, entah apa yang mereka bicarakan, Devan langsung keluar mobil dan langsung menghampiri Cahya


"Ayo pulang ayy"


Cahya lalu berpamitan pada pria itu, Devan memegang tangan Cahya dan menariknya dan langsung masuk ke mobil.


"Tangan aku sakit Devan, kamu kenapa?"


"Aku sudah bilang kemarin, kenapa sekarang kamu sama pria lain lagi dan malah berbeda dari yang kemarin?"


"Kamu jangan keterlaluan seperti itu, apa aku serendah itu di matamu? aku menunggu mu tadi, dia cuma menemani ku sambil mengobrol, dia itu Atasan tempat aku kerja, dan dia juga sudah punya tunangan"


Cahya sedikit kesal pada Devan, dia lalu memalingkan wajahnya ke jendela.


"Tapi dia memandang kamu sangat dalam, dia pasti ada rasa sama kamu, aku ini pria ayy, aku tau apa yang dipikirkan pria"


Cahya tidak menjawab lagi, dia masih kesal, lalu Devan mulai menyalakan mobilnya dan pergi dari sana.


Cahya yang masih kesal dia tidak melihat ke Devan dia malah bermain ponsel, dia juga tidak memperhatikan jalan, hingga saat dia merasa aneh karena ini bukan jalan menuju rumahnya.


"Kita mau kemana?"


"Sudah ikut saja"


"Aku tidak mau Devan, cepat berhenti sekarang juga!"


Devan tidak mendengarkan dan terus melaju.

__ADS_1


__ADS_2