Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Devan Menikah Lagi??


__ADS_3

"Tuan muda, bukan kah ini nona Cahya"


Pesan itu diterima Devan saat dia sedang mengajak adiknya berjalan-jalan di pusat kota Semarang, karena selama ini adiknya tinggal diluar negeri.


Pesan itu membuat Devan sangat kaget, dikirim oleh karyawan nya yang dulu pernah bersama menangani masalah pengunjung yang pura-pura jatuh dari salah satu wahana disana.


Pesan yang dia terima disertai foto dan video Cahya yang tertawa bahagia sedang bertepuk tangan dan bernyanyi bersama banyak anak-anak, Devan selama ini terus mencari keberadaan anak dan istrinya itu, tidak menyangka kalau mereka yang akan datang sendiri padanya.


Cahya tidak tau kalau perkebunan itu adalah milik keluarga Devan, dia masih asyik mengikuti acara itu, Devan mengebut untuk cepat sampai ketempat istrinya.


Setelah sampai dia langsung berlari mencari anak dan istrinya, terlihat Cahya yang sedang tersenyum manis sambil menyemangati Rafa yang sedang melakukan flying fox.


Devan terpaku melihatnya sambil terus berjalan mendekati istrinya, sungguh dia merindukan senyuman itu, dia juga melihat banyak anak lain sepantaran Rafa yang berada disekitar Cahya.


"Ibu guru, aku takut"ucap seorang anak, Cahya lalu berjongkok agar sejajar dengan anak itu


"Jangan takut, ada ibu guru disini, kamu harus berani ya, ibu guru tau kamu pasti bisa, kamu harus menghadapinya agar kamu tau kalau kamu pasti bisa melaluinya" ucap Cahya lalu mengelus kepala anak itu.


Cahya lalu membantu anak-anak lain untuk bersiap.


"Mama tadi lihat kan, aku sangat hebat ma, aku tidak takut!" teriak Rafa dari kejauhan dan berlari menuju mamanya.


Devan semakin mendekati Cahya, saat itu Cahya belum menyadari nya, Devan memegang bahu Cahya yang membuat Cahya refleks menoleh.


Cahya menoleh kaget, tidak lama Rafa juga sampai padanya dan langsung memeluknya, sepertinya Rafa sedikit pangling pada ayahnya karena 2 tahun tidak bertemu jadi dia tidak langsung mengenali ayahnya.


Cahya tidak bisa bereaksi apapun, dia hanya diam ketakutan, dia takut Devan akan membawa Rafa, Devan terus memandangnya, Cahya semakin erat memegang Rafa.


"Mas Devan" teriak seseorang pada Devan, terlihat seorang wanita menggendong anak bayi sekitar umur 5bulan.

__ADS_1


Mereka menoleh kepada yang memanggil Devan, Cahya berfikir kalau itu istri baru Devan, dia berusaha kuat menahan perasaannya dengan terus memegang Rafa erat.


"Kenapa sangat cepat berlari, kami berpencar mencari mu, mas Renal entah dimana" ujarnya pada Devan.


"Ibu Cahya, ayo kita ke arena selanjutnya karena di arena ini anak-anak sudah selesai semua" ujar rekan kerja Cahya sesama guru mengagetkan Cahya.


Cahya langsung berniat pergi dari sana tapi tentu Devan tidak membiarkan nya, Devan memegang tangan Cahya.


"Mama, bukankah ini ayah" ucap Rafa setelah melihat wajah orang yang memegang tangan mamanya.


Devan langsung menggendong Rafa,


"Iya, ini ayah sayang" ucap Devan lalu menciumi Rafa,


Cahya ingin mengambil Rafa tapi Devan tidak memberikan nya, Cahya hampir menangis, dia ketakutan kalau Rafa akan dibawa pergi Devan, dia juga bingung tidak tau harus berkata apa.


Rekan-rekan kerjanya mendekatinya melihat hal itu, dan menanyakan yang terjadi, tapi Cahya tentu tidak bisa menjelaskan.


"Salam kenal, saya adalah ayah Rafa" ujar Devan singkat.


Setelah perkenalan itu, Cahya kembali diminta untuk meneruskan pekerjaan nya, bagaimanapun dia guru yang bertanggung jawab atas murid-muridnya dan harus menjaga mereka, tapi dia juga bingung karena Rafa masih ada dalam gendongan Devan.


"Rafa ayo ikut mama, acaranya belum selesai sayang" Cahya berusaha membujuk Rafa karena Devan masih tidak mau menurunkan Rafa dari gendongan nya.


"Ayah, Rafa mau bermain dulu, tolong turunkan Rafa" ucap Rafa


"Tidak, Rafa sekarang bersama ayah dulu, nanti lagi Rafa bisa bermain kesini kapanpun Rafa mau" ujar Devan.


Cahya semakin ketakutan mendengarnya, Cahya lalu mengambil paksa Rafa dari gendongan Devan, mereka jadi seperti rebutan anak, Devan lalu menangkap tubuh Cahya dengan sebelah tangan nya dan memeluknya sambil terus menggendong Rafa, Cahya kaget dan berusaha berontak.

__ADS_1


"Diam Ayy!!" teriak Devan yang membuat Cahya langsung diam membeku, Devan lalu meminta karyawannya untuk membantu anak-anak murid Cahya karena dia akan membawa Cahya jadi Cahya tidak bisa melanjutkan pekerjaannya.


"Aku tidak mau, sekarang kembalikan Rafa" ujar Cahya


Devan tidak memperdulikan nya dan langsung berjalan cepat sambil terus menggendong Rafa, dia yakin Cahya akan mengikutinya karena Rafa ada padanya, dan benar saja memang Cahya mengikutinya, yang diikuti wanita yang menggendong anak bayi yang bersama Devan tadi.


Devan langsung berjalan ke parkiran, dan disana sudah ada adiknya menunggu, Devan menyuruh perempuan yang menggendong bayi itu untuk masuk ke mobil dan memasukkan Rafa ke mobilnya juga, Cahya masih terus berusaha mengambil Rafa tapi terus dihalangi Devan.


"Rafa, di jok belakang ada mainan Rafa yang selalu ayah simpan disana, mainkan selama diperjalanan biar Rafa tidak bosan, sekarang berangkat kerumah kakek dan nenek bersama om, jangan menangis karena nanti ayah dan mama menyusul" ujar Devan pada Rafa


"Renal, langsung pulang kerumah" ujarnya pada adiknya, Devan langsung menutup pintu mobil tidak memberi kesempatan Cahya untuk kembali mendekati anaknya, Devan tidak ikut masuk kedalam mobil.


Karena keributan itu banyak yang mendekat tapi para karyawan Devan mengatakan kalau itu masalah keluarga jadi mereka tidak boleh ikut campur.


Cahya masih berusaha mengejar Rafa, dia menangis dan berlutut karena tidak bisa mengejar anaknya, Devan mendekatinya dan mengelus rambutnya, tapi Cahya menghindar dan berbalik menghadap Devan dengan marah.


"Kembalikan Rafa!!" teriaknya masih terus menangis.


Devan memanggul Cahya karena Cahya terus menangis hingga menjadi tontonan banyak orang, Cahya tidak bisa diajak bicara baik-baik, jadi Devan memaksanya ikut dengannya dengan cara dipanggul karena kalau digendong Cahya pasti berontak dan bisa melarikan diri, Cahya berteriak minta diturunkan tapi Devan tidak mendengarkan nya, Devan membawa Cahya ke penginapan yang masih ada di area perkebunan itu.


Devan menurunkan Cahya di ranjang setelah sampai kedalam kamar di penginapan itu, Cahya mundur sambil memegangi kakinya yang dia tekuk, seolah melindungi tubuhnya.


Devan memandang tajam kearah Cahya, dia tidak peduli Cahya yang ketakutan padanya, dia terus mendekatinya, Cahya lalu menyembunyikan wajahnya dengan menunduk dan menutup dengan kedua lengannya.


Devan mencium kepala Cahya, Devan sebenarnya sangat marah pada wanita didepan nya ini, wanita yang selalu lari dari masalah dan meninggalkan nya, tapi saat wanita ini ada didepan nya, hanya nafsu membara yang dia rasakan, nafsu yang tidak bisa disalurkan dengan benar selama Cahya kabur, dia hanya bisa melakukan nya sendiri yang tentu saja rasanya berbeda.


Devan memaksa Cahya menerima tubuhnya saat itu juga, Cahya tentu tidak mau karena dia berfikir Devan sudah menikah lagi, dia tidak mau berbagi suami, itulah alasan dia pergi selama ini.


"Tiiiddak!!" teriak Cahya terus melawan.

__ADS_1


__ADS_2